Friday, 23 December 2011

Siapa Orang Pertama Yang Harus Kita Bahagiakan ?


Sebagian dari kita, baik yang masih anak-anak, sudah remaja, maupun menginjak usia dewasa, kemungkinan masih ada yang belum mengetahui mengenai salah satu hal penting ini. Hal penting tersebut seperti tertera dalam judul tulisan ini. Siapakah orang pertama yang harus kita bahagiakan ? Setiap orang dapat memiliki jawaban yang berbeda, mungkin ada yang menjawab orang tua, saudara, pacar atau istri, anak-anak (untuk yang sudah menikah atau memiliki anak), teman atau sahabat, atau mungkin diri kita sendiri. Setiap orang berhak mengemukakan jawaban apapun dengan bebas sesuai dengan apa yang dia anggap paling benar atau tepat.
Beberapa bulan lalu, setelah perjalanan cukup panjang hidup saya yang kurang terarah, saya akhirnya mulai belajar untuk mengarahkan hidup saya kembali ke jalur yang saya inginkan. Dalam upaya kembali ke jalur yang saya inginkan tersebut, saya menemukan kebenaran yang berharga ini. Sebenarnya saya tidak menemukannya secara tiba-tiba atau sendirian, saya menemukannya setelah melakukan perenungan serta introspeksi atas kehidupan yang telah saya jalani selama hampir 1,5 tahun sebelumnya dan terinspirasi dari suatu film yang saya tonton. Melalui kedua hal tersebut, saya akhirnya sadar bahwa orang pertama yang harus kita bahagiakan adalah orang yang akan kita lihat wajahnya saat kita sedang berdiri dihadapan cermin. Ya, benar, orang tersebut adalah diri kita sendiri. Sebelum dapat membahagiakan orang lain, kita harus belajar membahagiakan diri kita sendiri.

Wednesday, 21 December 2011

Saya Tidak Ditentukan Oleh Hal-Hal Ini


Saya yakin, banyak orang yang kehidupannya sangat dipengaruhi atau bahkan boleh dikata dikendalikan oleh hal-hal yang ada di sekelilingnya. Mereka merasa seolah tidak berdaya mengelola atau mengendalikan kehidupan mereka sendiri. Mereka begitu terpengaruh dan bergantung kepada segala sesuatu yang ada disekitarnya. Beberapa waktu lalu, saya pun sempat seperti itu. Namun beruntung beberapa hari terakhir ini saya kembali tersadar akan jati diri saya yang sebenarnya serta karakteristik yang sebelumnya ada pada diri saya.
Saya beruntung dapat kembali tersadar akan jati diri saya tersebut, sehingga saya dapat mulai membebaskan diri saya dari pengaruh-pengaruh segala sesuatu yang ada disekitar saya. Saya mulai kembali belajar untuk mengambil segala keputusan berdasarkan pada apa yang saya percayai itu benar. Saya mungkin memang meminta pendapat atau perspektif dari orang lain, tetapi saya harus tetap merupakan orang terakhir yang paling bertanggung jawab untuk membuat sebuah keputusan bagi diri saya sendiri. Sehingga dengan begitu, apapun hasil dari keputusan yang saya buat, entah baik atau buruk, sukses atau gagal, dan beragam kemungkinan hasil yang lain, saya pulalah yang akan dan harus bertanggung jawab penuh. Ketika saya sudah ambil keputusan itu berdasarkan apa yang benar-benar saya yakini sebagai sesuatu yang benar dan baik bagi diri saya, maka saya tidak perlu menyalahkan orang lain, keadaan, maupun lingkungan saya atas dampak atau hasil apapun yang muncul dari keputusan tersebut.

Saya Tidak Mendukung Brand (Merek) Apapun !


Jurusan kuliah yang saya ambil adalah Teknik Informatika, namun saya tidak pernah puas hanya belajar hal-hal yang berhubungan dengan komputer. Semasa kuliah hingga sekarang, saya sangat senang belajar hal-hal lain seperti manajemen, psikologi, ekonomi, motivasi, kepemimpinan, dan lain-lain. Akhir-akhir ini, salah satu hal yang juga sedang saya pelajari adalah mengenai dunia bisnis, khususnya bagaimana membangun bisnis yang berhasil, pemasaran, kepemimpinan bisnis dan segala sesuatu yang terhubung dengan bisnis.
Awal saya mulai menyukai atau terbuka pandangan saya terhadap dunia bisnis adalah ketika saya berada di semester lima masa kuliah saya. Saya tanpa sengaja menemukan sebuah buku yang menceritakan perjuangan dua orang pendiri salah satu perusahaan teknologi informasi besar dunia. Kisah perjuangan mereka dari awal hingga akhirnya meraih sukses besar sangat menginspirasi saya. Sejak saat itu pula saya memiliki satu impian untuk mengembangkan usaha di bidang teknologi informasi yang nantinya juga diharapkan dapat menjadi perusahaan tingkat dunia yang memiliki ribuan atau puluhan ribu karyawan.

Monday, 19 December 2011

Faster !


Selama beberapa waktu terakhir ini, saya benar-benar menyadari bahwa ritme kerja saya jauh lambat daripada sebelumnya. Hal ini dapat ditinjau atau diketahui dari banyaknya proyek atau ambisi pribadi yang hingga kini belum tuntas. Saya merasakan bahwa cukup banyak aktivitas yang saya lakukan kurang atau bahkan tidak efektif sama sekali. Beruntung saya masih dapat menyadarinya.
Berbekal kesadaran tersebut, saya secara perlahan namun pasti mulai berupaya untuk meningkatkan kembali kinerja saya menuju ke puncak tertinggi kinerja yang seharusnya. Berupaya semakin meningkat dan terus meningkat. Berupaya lebih produktif dalam bekerja serta menghasilkan lebih banyak uang.
Saya berlatih mengambil keputusan yang lebih cepat dan tepat, berlatih menyingkirkan pikiran-pikiran yang kurang atau bahkan tidak penting sama sekali, berlatih mengurangi aktivitas yang tidak memberikan manfaat bagi diri saya. Saya berupaya semakin efektif dan semakin efektif. Berupaya semakin produktif dan terus produktif dalam menghasilkan karya, produk, dan tentu saja uang yang melimpah. Dalam banyak atau aspek dalam hidup saya, saya benar-benar terus berupaya mendorongnya agar berjalan lebih cepat, lebih cepat, dan terus semakin cepat. Namun tentu saja tidak hanya sekedar cepat, tetapi mampu menghasilkan sesuatu dengan kualitas yang terbaik.
Faster than anything ! Faster than before ! Increase my productivities ! Generate more money ! Forca !

Sunday, 18 December 2011

Mendayagunakan Waktu Dengan Maksimal


Beberapa bulan yang lalu (hampir satu tahun, jika saya tidak salah ingat), saya pernah menulis tentang manajemen waktu serta penjadwalan kegiatan harian di blog ini. Namun hingga saat ini, saya sendiri ternyata masih belum sepenuhnya dapat menjalankan kembali apa yang saya tuliskan tersebut. Apa yang tuliskan merupakan gambaran dari kebiasaan yang sebelumnya saya jalankan dengan baik, sebelum beberapa cara berpikir yang salah dan sejumlah godaan serta pilihan yang tidak tepat membuat saya menyimpang dari jalur.
Sekitar hampir dua bulan terakhir, saya habiskan untuk melatih diri saya dan memahami kembali seluruh prinsip-prinsip manajemen waktu, manajemen kegiatan harian, manajemen pikiran, dan sebagainya. Perlahan tetapi pasti seluruh upaya untuk mulai menampakkan hasil, meskipun belum sepenuhnya seperti hasil yang saya inginkan, namun saya akan terus belajar untuk menaikkan kembali standar saya serta kinerja saya kembali ke puncak.
Hari ini, saya pun disadarkan kembali tentang pemanfaatan waktu saya setiap hari, khususnya memanfaatkan waktu-waktu luang dengan sangat baik untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, baik bagi diri pribadi maupun orang lain. Beberapa bulan yang lalu, saya mengeluh kepada diri saya sendiri maupun kepada sejumlah kecil teman, bahwa saya seolah kehabisan waktu. Namun hari demi hari sejak saat itu, khususnya hari ini, saya semakin sadar bahwa ternyata tidak memanfaatkan waktu-waktu saya untuk kegiatan yang menghasilkan manfaat dalam segala macam bentuknya. Saya menyadari bahwa ternyata menghabiskan terlalu banyak waktu saya untuk memikirkan pikiran yang kurang bermanfaat, melakukan aktivitas yang tidak bermanfaat, membaca terlalu banyak informasi yang tidak bermanfaat, serta sejumlah kegiatan yang tidak bermanfaat.

Friday, 16 December 2011

Sebuah Puisi Tanpa Makna


Keras, sekeras batuan karang yang tetap tegar diterpa ombak yang ganas ditepi pantai
Mempesona, laksana pesona bintang-bintang di tengah malam yang cerah
Berlari, seperti ombak yang berkejar-kejaran di laut
Memanas, melebihi panas api kompor penjual Nasi Goreng
Menerjang, laksana terjangan lahar Merapi yang menghanguskan segala sesuatu yang dilaluinya
Kuat, sekuat baja yang terkuat sejagat raya
Membara, melebihi bara di tungku tukang sate
Ber-energi, sebesar energi yang dihasilkan oleh reaksi berantai terurainya atom-atom Uranium dan Plutonium
Cepat, secepat kecepatan gerak cahaya di udara bebas
Menghanyutkan, seperti aliran air banjir yang menghanyutkan segala sesuatu
Berkilau, laksana indahnya kilauan berlian terindah di seantero jagat raya
Menarik, sekuat daya tarik magnet terkuat di alam semesta

Tuesday, 13 December 2011

Belajar Ngotot


Tanpa terasa, saya sudah terlalu lama tidak pernah ngotot alias ngeyel alias sangat gigih berjuang sampai semua yang ingin saya raih atau yang saya percaya pasti dapat diraih benar-benar terwujud. Beberapa bulan ini saya belajar dan sampai sekarang masih terus belajar untuk mengembalikan semua kengototan alias ke’ngeyel’an alias semangat juang terbaik saya. Saya merindukan kemenangan dan keberhasilan yang luar biasa. Saya sangat, sangat, merindukan kembali menjadi nomor satu. Saya rindu kembali menguasai atau menjadi yang terhebat dalam bidang yang saya pilih untuk menjadi terhebat.
Terlalu lama memang, namun saya kembali belajar tidak ada kata terlambat dan memang tidak pernah terlambat untuk kembali menjadi nomor satu. Banyak hal memang yang perlu dilakukan agar tujuan yang maha indah ini dapat benar-benar tercapai, seperti kedisiplinan seorang bintang, fokus setajam laser, komitmen seorang juara, mentalitas pejuang sejati seperti para pejuang kemerdekaan, konsistensi seorang juara, kepercayaan diri yang begitu luar biasa, kemauan yang sangat keras untuk belajar seperti kerasnya batu karang di pantai karang, keberanian untuk berjuang sampai menang dan tetap hidup, keberanian untuk terbang tinggi setinggi rajawali. Saya tahu tidak mudah memang, saya harus melawan dan mengalahkan diri saya sendiri agar seluruh ambisi maha dahsyat, yang sedahyat energi yang dihasilkan reaksi berantai terbelahnya atom-atom dalam suatu bom atom. Tidak mudah, tetapi harus belajar memaksa diri, memaksa diri, memaksa diri, untuk menjadi seorang juara sejati, seorang maha bintang dalam hidup saya sendiri, seorang manusia tanpa tanding. Salah individu terbaik dan terhebat sepanjang masa. Berjuang !

Kehilangan ‘Kengototan’ Saya


Selama ini, saya dikenal oleh orang-orang yang mengenal saya maupun oleh rekan-rekan dekat saya sebagai orang yang sangat ngotot berjuang. Tidak pernah mau berhenti sebelum segala yang saya inginkan terwujud. Saya dikenal selalu percaya bahwa segala sesuatu itu mungkin dan dapat diwujudkan, bahkan ketika hampir semua orang yang lain sudah berpikir untuk menyerah atau tidak percaya bahwa sesuatu itu mungkin diwujudkan. Ya, itulah jati diri saya yang sesungguhnya.
Namun, apa yang terjadi saat ini ? Sejauh perenungan saya sendiri serta pengamatan yang saya lakukan terhadap diri saya sendiri, akhir-akhir ini saya tersadar bahwa selama hampir dua tahun ini saya kehilangan ciri khas tersebut. Suatu ciri khas yang menjadikan saya menonjol, dikagumi, dan disegani oleh setiap orang berjumpa dengan saya.

Friday, 9 December 2011

Lupakan Semuanya !


Setiap kegagalan pasti pernah dialami oleh setiap orang. Demikian pula dengan saya. Kesalahan dalam membuat pilihan, mengambil keputusan, berpikir, maupun bertindak membawa saya kepada arah yang salah yang berujung kepada kegagalan dalam bidang-bidang tertentu dalam hidup saya. Menyesal ? Ya. Bersedih ? Tentu. Apakah sampai disitu saja ? Tentu tidak. Saya harus bangkit !
Kegagalan memang tidak enak, menyakitkan, menyedihkan, dan yang paling berbahaya dapat meninggalkan catatan yang tertanam begitu dalam di pikiran kita, jika kita tidak waspada. Selama beberapa bulan terakhir, saya pun menyadari bahaya dari tertancapnya ‘trauma’ kegagalan ke dalam pikiran saya, khususnya pikiran bawah sadar. Kegagalan dapat terus menghantui saya (dan kita semua), sehingga kita menjadi kurang atau bahkan tidak berani melangkah kembali untuk mencoba sesuatu yang baru atau mencari pendekatan-pendekatan baru. Mengetahui hal tersebut, saya belajar dan terus belajar untuk melupakan semua kegagalan yang pernah terjadi dalam setiap langkah perjalanan hidup saya. Ya melupakan semuanya !
Tidak mudah memang melupakan kegagalan, khususnya ketika dampak kegagalan tersebut telah tertanam begitu dalam di pikiran kita. Ada banyak upaya yang perlu kita lakukan untuk menghapus memori tersebut, seperti melakukan atau mencoba meraih sebanyak mungkin kemenangan-kemenangan kecil, memotivasi diri sendiri, memulihkan kepercayaan diri kita, memperbaiki segala hal yang membuat kita gagal di masa lalu serta mungkin masih upaya-upaya lain yang dapat kita gunakan untuk benar-benar menghilangkan efek atau pengaruh kegagalan yang tertanam dalam pikiran kita. Satu hal terakhir yang juga perlu kita ingatkan untuk diri kita sendiri yaitu kita diciptakan bukan untuk gagal, tetapi untuk berhasil serta meraih hal-hal hebat. Jikalau kita memang gagal atau belum berhasil, tetaplah berpikir positif dan terus ingatkan diri kita bahwa diatas semua kegagalan serta masalah kita ada Tuhan yang begitu luar biasa yang tidak akan membiarkan kita terus-menerus berada pada suatu kondisi gagal maupun dalam masalah. Mari belajar tetap percaya dan tetap positif. God bless us everyone.

Wednesday, 7 December 2011

Wake Up ! Rise Up !


Pernah terjatuh ? Saya percaya setiap kita pasti pernah jatuh, demikian pula saya. Bukan hanya pernah terjatuh, tetapi beberapa kali terjatuh.
Apa yang harus dilakukan ketika terjatuh ? Saya percaya bahwa setiap kita juga pasti tahu jawabannya, yaitu bangkit atau berdiri dan kembali melangkah. Namun memang terkadang apa yang terjadi tidak sesuai atau semudah kenyataannya. Jika sekedar bangkit atau berdiri setiap orang saya yakin bisa ? Namun, bukanlah perkara mudah untuk dapat dengan cepat kembali melangkah dengan kecepatan, kemampuan, ketepatan, efektivitas, serta tingkat kebaikan yang sama seperti sesaat sebelum kita terjatuh. Dibutuhkan suatu rentang waktu tertentu bagi seseorang yang pernah jatuh dan mampu bangkit kembali untuk memperoleh seluruh kehebatan, kecepatan, ketepatan, efektivitas, serta kinerja prima seperti sebelum dia terjatuh. Saya menuliskan hal ini bukan sekedar berteori semata, sebab saat ini saya pun sedang mengalami kondisi tersebut. Saya sempat terjatuh dan saat ini sedang dalam upaya membangun kembali seluruh kehebatan, kecepatan, ketepatan, efektivitas, serta kinerja yang luar biasa pada diri saya sendiri.

Thursday, 6 October 2011

Menjadi Bagian Sejarah Dunia

Pagi ini, ketika saya hendak mengirim ke salah seorang teman, saya tanpa sengaja membuka salah satu email newsletter yang berisi artikel gratis dari salah seorang pembicara terkemuka dunia. Saya membukanya dan membaca beberapa bagian secara singkat dan kemudian saya penasaran untuk mencoba mencari sedikit informasi tambahan mengenai pembicara tersebut. Saat melakukan pencarian, saya menemukan akun Twitternya dan kemudian saya buka halaman Twitter tersebut. Untuk dapat memfollow dia, tentu saja saya harus melakukan login. Singkat cerita, saya login dan setelah menekan follow, saya kembali halaman utama akun saya dan menemukan informasi yang tidak saya duga sebelumnya, Steve Jobs, pendiri Apple meninggal dunia.
Didorong oleh rasa penasaran serta untuk memastikan kebenarannya, maka saya membuka beberapa link yang diberikan oleh rekan-rekan saya di Twitter. Link pertama yang saya buka adalah link yang menuju ke halaman utama website Apple, dan disana tertulis dengan jelas bahwa memang Steve Jobs telah tiada. Beberapa link lain yang saya buka yang mayoritas menuju ke situs berita baik lokal maupun internasional menyatakan informasi yang sama.
Setelah membaca sejumlah informasi tersebut, saya menyadari bahwa betapa banyaknya orang di seluruh dunia yang merasa kehilangan salah satu tokoh teknologi yang terkenal jenius dan kreatif ini. Jobs telah menciptakan banyak karya unik semasa hidupnya, mulai dari komputer Apple, iPod, iPhone, hingga iPad. Semua karya yang telah menginspirasi serta dikagumi banyak orang di dunia ini. Selain itu, saya membaca pula banyak pujian serta rasa kagum yang diungkapkan terhadap Jobs atas karya-karyanya, perjalanan hidupnya, serta banyak hal lain terkait dengan Jobs.

Monday, 3 October 2011

Jangan Terlalu Banyak Teori !

Setiap kita yang pernah sekolah (kuliah) atau yang sedang sekolah, selama kita menjalani pendidikan di bangku sekolah (kuliah) pasti pernah menerima pelajaran-pelajaran (baca: teori-teori) bukan ? Saya pun pernah dan saya menyadari bahwa pelajaran-pelajaran tersebut penting. Namun pengalaman hidup saya selama sekitar dua bulan terakhir menyadarkan saya sisi lain dari pelajaran-pelajaran (teori-teori) tersebut.
Saat ini, saya sedang berupaya menyelesaikan suatu tanggung jawab, dimana untuk menyelesaikan tanggung jawab tersebut mengharuskan saya untuk mempelajari ilmu-ilmu baru maupun ilmu-ilmu lama yang sudah agak terlupakan. Saya mengumpulkan sebanyak mungkin bahan bacaan, baik berupa artikel (paper) maupun buku. Saya membaca setiap artikel maupun buku yang sudah berhasil saya kumpulkan. Saya berupaya membacanya dengan sebaik mungkin agar saya dapat mengerti seluruh teori yang saya harapkan dapat membantu saya menyelesaikan tanggung jawab yang sedang saya tangani. Namun seiring semakin banyaknya saya membaca, saya menyadari satu hal, yaitu perkembangan atau progress saya dalam menyelesaikan tanggung jawab tersebut sangat minim. Saya menemukan bahwa perkembangan pekerjaan yang saya sedang coba selesaikan benar-benar sangat minim.
Menyadari bahwa perkembangan pekerjaan yang saya sedang coba selesaikan sangat minim, saya akhirnya mencoba menganalisa atau mempelajari kembali mengapa saya begitu lambat dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut, sementara waktu tenggatnya semakin mendekat. Proses analisa sederhana yang saya jalankan mengarahkan saya pada satu hal, yaitu terlalu banyak membaca teori, tetapi lupa atau kurang bertindak. Dan semakin saya runut lagi ke belakang, ternyata saya menemukan bahwa dalam rentang waktu sekitar dua tahun terakhir saya telah menjadi terlalu bergantung pada pelajaran atau teori. Dari hasil analisa sederhana tersebut, akhirnya saya mengambil keputusan bahwa saya tidak dapat hanya membaca teori demi teori saja, melainkan saya juga perlu memaksa diri saya sendiri untuk segera bertindak menyelesaikan pekerjaan yang perlu saya selesaikan dengan berdasarkan teori atau pengetahuan yang sudah saya miliki.

Wednesday, 28 September 2011

Sebuah Masa Pencarian

Dalam dua tahun terakhir, saya menyadari bahwa banyak hal yang tertunda saya selesaikan. Saya menyadarinya, bukan tidak menyadarinya. Saya sedikit menyesal, namun pada akhirnya saya tidak sepenuhnya menyesal, sebab akhirnya saya menyadari bahwa masa sekitar dua tahun terakhir sepertinya akan menjadi masa paling penting dalam seluruh perjalanan hidup saya selanjutnya. Saya tidak akan pernah menyesali lagi apa yang telah terjadi dua tahun terakhir, justru saya merasa sangat beruntung.
Saya menyebut dua tahun terakhir yang seperti seolah saya habiskan dengan begitu saja tanpa menciptakan atau menghasilkan sesuatu yang benar-benar bermanfaat sebagai suatu masa pencarian. Dua tahun terakhir saya seolah terombang-ambing dan mencoba banyak sekali hal, namun saya justru bersyukur sebab saya memperoleh banyak sekali yang saya yakin tidak akan pernah saya dapatkan seandainya saya tidak mencobanya. Saya memperoleh banyak pengalaman baru, ilmu baru, serta sejumlah hal baru lain yang tidak pernah akan saya dapatkan dari kuliah. Dua tahun terakhir pula adalah suatu masa dimana akhirnya saya menyadari bahwa kecintaan terbesar saya tetaplah di bidang teknologi informasi, khususnya pemrograman.

Monday, 26 September 2011

Indonesia Harus Punya Jalur Khusus Ini ?

Sore hari ini, saya memutuskan untuk keluar sebentar ke suatu tempat untuk menyegarkan pikiran sekaligus tubuh saya (saya masih mencoba memahami lebih lagi kaitan antara kesegaran pikiran dengan kesegaran jasmani). Pada perjalanan sore hari yang menjelang waktu orang pulang kerja, jalanan mulai ramai. Menjelang suatu belokan, mobil yang berjalan di depan saya tampak berjalan secara perlahan. Saya awalnya tidak mengerti mengapa mobil tersebut berjalan secara perlahan, namun setelah saya agak dekat dengan mobil tersebut, barulah saya mengetahui bahwa ternyata di sisi kiri sedang ada penjual makanan mendorong gerobaknya.
Melihat kejadian sederhana tersebut, secara tiba-tiba suatu gagasan melintas di pikiran saya. Saya terpikir, mengapa pemerintah tidak membuatkan saja suatu jalur khusus untuk dilalui oleh para pedagang makanan keliling ? Suatu jalur khusus yang disediakan secara khusus untuk dilalui oleh para pedagang tersebut agar mereka tidak mengganggu laju kendaraan yang sedang melaju. Saya teringat bahwa seringkali para pedagang makanan keliling yang sedang mendorong gerobak jualannya dapat memperlambat kecepatan kendaraan, belum lagi ada beberapa diantara mereka yang terkadang menyeberang jalan seenaknya. Saya pun terpikir, mengapa tidak ada suatu jalur khusus untuk mereka ? Jalur khusus yang dapat membantu mereka melaju tanpa terganggu maupun mengganggu pengguna jalan lain. Jalur khusus yang juga dapat menjaga atau menjamin keselamatan mereka dari tertabrak oleh kendaraan yang ada di jalan.
Gagasan ini memang hanyalah sekedar gagasan yang tiba-tiba saja terlintas di suatu sore kala saya sedang melintas di jalan raya. Namun saya rasa gagasan ini layak juga untuk dipikirkan lebih lanjut oleh pemerintah dan jika memang layak untuk ditindaklanjuti, mengapa tidak ? Bukankah pemerintah kota Jakarta menyediakan jalur khusus untuk busway dan di kota Surabaya jalur untuk kendaraan roda dua dan roda empat juga dibedakan ? Mengapa tidak pula dibuat suatu jalur lagi untuk para pedagang makanan keliling ? Bagaimana menurut kalian ?

Sunday, 25 September 2011

Brand New Name (Selalu Ada Cerita Dibalik Sebuah Nama)

Kita pasti sering mendengar mengenai pentingnya perubahan. Pagi ini, secara tiba-tiba kata perubahan itu muncul dalam pikiran saya, dan didorong oleh kesadaran mengenai pentingnya perubahan serta keinginan diri saya sendiri untuk berubah dan menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya, maka hari ini saya memutuskan untuk menciptakan (baca: mengganti) nama blog saya. Sebuah nama baru yang saya harapkan dapat menjadi ciri baru bagi blog saya maupun bagi diri saya sendiri. Sebuah nama yang akan menjadi sebuah cerita.
Nama lama blog ini, Thinkerman alias Si Tukang Pikir, namun seiring dengan berjalannya waktu saya berpikir dan semakin sadar bahwa berpikir saja tidak akan pernah cukup. Jika saya hanya menjadi tukang pikir, maka kemungkinan besar saya memang akan mampu melahirkan banyak gagasan besar dan hebat, tetapi kemungkinan besar seluruh gagasan hebat tersebut hanya akan menjadi sebuah gagasan yang hebat dan tidak akan memiliki wujudnya yang nyata. Saya sadar bahwa berpikir memang penting, namun sekedar berpikir tidak akan pernah cukup. Berpikir saja tidak akan membantu saya untuk melahirkan karya-karya nyata yang hebat.

Saturday, 24 September 2011

Menang Atas Diri Sendiri

Beberapa bulan yang lalu, saya pernah mendengar kalimat yang menjadi judul tulisan ini. Sejak saat itu hingga sekarang, saya masih sering mendengar atau membaca kalimat tersebut. Kalimat tersebut juga terus terngiang-ngiang di telinga serta terus muncul di pikiran saya.
Saya tidak akan pernah atas orang lain, jika saya tidak dapat menang atas diri saya sendiri. Yang saya maksudkan dengan menang disini bukanlah memenangkan perkelahian, sengketa, cekcok, adu pendapat yang tidak penting, dan segala jenis kemenangan yang negatif lainnya. Namun, kemenangan atas orang lain yang saya maksudkan adalah bagaimana saya dapat memenangkan perasaan mereka, mampu memimpin mereka, mampu mengarahkan cara berpikir dan bertindak, serta mampu berdamai dengan mereka. Saya tidak mungkin menang atas semuanya itu, jika saya tidak menang atas diri saya sendiri dalam semua hal tersebut.
Saya tidak mungkin menang atas orang lain, jika saya belum pernah menang atas diri saya sendiri. Pernyataan terus dan terus terngiang di pikiran saya, hingga akhirnya saya benar-benar menyadarinya. Saya tidak mungkin mampu mendisiplin orang lain, jika saya tidak mampu mendisiplin diri saya sendiri. Saya tidak mungkin mampu memimpin orang lain, jika saya tidak mampu memimpin diri saya sendiri. Saya tidak dapat memahami orang lain, jika saya tidak terlebih dahulu dapat memahami diri saya sendiri. Saya tidak mungkin mampu berdamai dengan orang lain, jika saya tidak mampu berdamai dengan diri saya sendiri. Semua hal tersebut menjadikan saya tersadar dan sekaligus menjadi pemicu awal saya untuk mulai belajar kembali mengenai disiplin diri, kepemimpinan diri, manajemen diri, pengenalan yang mendalam akan diri sendiri, kemampuan untuk berdamai dengan segala masa lalu saya, dan sebagainya.
Saya akhirnya benar-benar percaya bahwa saya tidak akan mampu menang, bersahabat, mengerti atau memahami, memimpin, mendisiplin orang lain, jika saya tidak terlebih dahulu mampu melakukannya terhadap diri saya sendiri. Saya harus berupaya menang atas diri saya sendiri sebelum saya dapat menang atas orang lain. Bagaimana menurut kalian ?

Thursday, 22 September 2011

Belajar dari SpongeBob

Saya sebenarnya tidak terlalu suka (baca: berupaya mengurangi) menonton televisi, khususnya untuk acara yang tidak bermutu dan film kartun, maka dari itu tentu saja saya juga jarang menonton film SpongeBob. Saya sesekali memang menontonnya sambil saya makan, itupun juga karena teman satu kos saya yang gemar menonton film tersebut dan dia sedang menontonnya, jadi saya pun terpaksa ikut menonton. Saya menontonnya hanya sampai acara makan saya usai. Namun dari proses menonton yang hanya sekilas-sekilas tersebut, saya tetap dapat memperoleh suatu hal yang bermakna dari film tersebut. Saya memperoleh suatu hal yang dapat menjadi inspirasi bagi saya dan kemungkinan juga bagi banyak orang.
Tokoh SpongeBob sebenarnya adalah tokoh yang baik, jika kita mau jeli mencermatinya. Dia merupakan tokoh yang setia, loyal, ceria, tekun dan disiplin dalam bekerja, dan juga ceria. Namun kali ini saya lebih menyoroti aspek loyalitas, ketekunan, serta kedisiplinannya dalam bekerja. Saya sempat menonton salah satu episode dimana tokoh SpongeBob diberi cuti kerja oleh majikannya Tuan Crab, tetapi dia tetap memaksa untuk masuk bekerja. Dia ingin tetap bekerja karena dia merasa bosan di rumah dan ingin membantu agar restoran Tuan Crab dapat tetap laris serta menghasilkan banyak keuntungan. Dia tetap ingin bekerja dan tidak ingin libur karena dia tahu bahwa dia lah satu-satunya juru masak di restoran tersebut. Dia tahu jika dia tidak masuk, maka tidak akan ada orang lain yang dapat menggantikan dia untuk memasak menu istimewa di restoran tersebut. Dia tetap memaksa masuk kerja, bahkan secara diam-diam, meskipun bosnya telah mengijinkan dan memaksa dia untuk mengambil cuti sebab dia tidak pernah mengambil cuti.

Monday, 19 September 2011

Rutin Berlatih

Dahulu, pada masa awal saya kuliah, saya mempunyai satu kebiasaan yang selalu jalankan bahkan ketika liburan sekalipun. Kebiasaan tersebut adalah tetap belajar atau tetap berlatih. Setiap kali liburan kuliah saya selalu pulang ke rumah dan sesaat sebelum pulang ke rumah saya biasanya bertanya pada diri saya sendiri beberapa pertanyaan, “liburan kali ini belajar apa ?”, “buku apa yang akan saya baca pada liburan kali ini ?”, dan “bagaimana saya mengisi liburan kali ini ?”. Saya selalu menanyakan pertanyaan-pertanyaan tersebut, bahkan sejak jauh-jauh hari sebelum masa liburan tiba. Kebiasaan tetap belajar tersebut pada akhirnya mampu membawa saya menjadi salah seorang individu yang memiliki semangat serta kualitas yang berbeda.
Namun, selama sekitar tiga tahun terakhir, saya melupakan kebiasaan baik yang saya miliki di awal hingga pertengahan masa kuliah, sehingga kualitas diri saya menurun dan begitu pula dengan kualitas dari setiap hal yang saya kerjakan. Sekitar satu bulan terakhir, saya akhirnya kembali tersadar bahwa saya perlu berupaya keras untuk memulai kembali kebiasaan baik tersebut. Saya perlu berupaya untuk membiasakan diri saya sendiri tetap rutin belajar dan berlatih agar diri saya senantiasa dalam kondisi terbaik serta selalu bertumbuh dan menjadi pemenang dalam setiap situasi.

Monday, 12 September 2011

Siapa Bilang Disiplin Itu Enak ?

Mungkin ada sebagian dari kita yang pernah mendengar kalimat ini, “disiplin itu enak” ? Saya pernah mendengarnya, dan jika saya tidak salah ingat, saya juga pernah mengucapkannya. Namun, akhir-akhir ini saya mencoba membantah sendiri kalimat tersebut. Saya merasakan bahwa disiplin itu tidak enak. Salah besar jika ada yang mengatakan bahwa disiplin itu enak !
Saya harus akui bahwa selama beberapa waktu terakhir (tepatnya hampir dua tahun terakhir), saya telah menjadi kurang disiplin dan bahkan sudah dapat masuk kategori tidak disiplin. Saya terlambat dalam menghadiri beberapa acara yang telah ditentukan, saya terlambat datang pada suatu janji yang telah saya dan orang lain sepakati bersama, saya juga mengingkari serta menunda jadwal yang saya buat untuk diri saya sendiri. Setelah selama beberapa waktu menjalani kehidupan tidak disiplin, saya akhirnya tersadar bahwa saya tidak dapat selamanya seperti. Saya perlu segera kembali hidup disiplin.

Saya Butuh Tetap Bergerak

Setiap kita perlu belajar untuk mengenali diri kita sendiri serta belajar untuk dapat menangani atau memimpin diri kita sendiri. Hal inilah yang selama beberapa waktu terakhir kembali saya sadari. Saya belajar untuk dapat kembali mengenali diri saya yang sepenuhnya. Saya belajar untuk mengenal apakah yang benar-benar memotivasi saya, bagaimana saya dapat tetap termotivasi, apa yang menjadi kecintaan terbesar saya, bagaimana saya dapat menjadikan hari-hari saya berjalan dengan efektif, serta apa yang butuhkan. Pengenalan terhadap diri sendiri adalah sesuatu yang penting, sebab jika kita tidak dapat mengenali diri kita sendiri, maka kemungkinan besar kita tidak akan mampu mengenali orang lain serta berhubungan dengan baik dengan mereka.
Pagi ini, saya belajar sesuatu yang baru mengenai diri saya sendiri. Saya akhirnya menyadari bahwa agar diri saya tetap semangat serta terhindar dari kemalasan, maka saya perlu membuat diri saya tetap aktif dan tetap bergerak. Saya perlu membuat (baca: memaksa) diri saya sendiri untuk selalu aktif, bergerak, dan bergerak. Saya menemukan ketika saya terlalu banyak berpikir, duduk diam dalam waktu lama (bekerja maupun tidak), dan kurang bergerak, saya mengalami suatu kondisi yang disebut “pendinginan” secara fisik dan mental. Kondisi tersebut, jika berlangsung dalam waktu lama, akan menjadikan saya sebagai individu yang mengalami perhentian pertumbuhan secara pribadi.

Tuesday, 6 September 2011

Alasan Orang Menyia-Nyiakan (Membuang-Buang) Waktunya


Don't Sweat the Small Stuff...And It's All Small Stuff: Simple Things To Keep The Little Things From Taking Over Your LifeTulisan ini saya buat berdasarkan perenungan atas pengalaman pribadi saya selama dua tahun terakhir. Sebuah pengalaman yang tidak enak dan baru sekitar satu bulan terakhir saya menyadari dampaknya dalam hidup saya. Saya sia-siakan waktu saya selama dua tahun terakhir untuk hal-hal yang tidak sejalan dengan impian atau tujuan saya serta, hal-hal yang tidak memberikan banyak manfaat dalam hidup saya.
Pagi ini, saya membaca sebentar sebuah buku berjudul “The Don’t Sweat Guide for Graduates” yang jika diterjemahkan kurang lebih memiliki arti: Panduan Mengenai Hal-Hal yang Tidak Perlu Dikhawatirkan oleh Para Lulusan. Satu pelajaran yang saya dapatkan dari membaca singkat buku tersebut adalah orang akan cenderung menyia-nyiakan waktunya karena mereka merasa bahwa memiliki banyak waktu (waktu yang tidak terbatas). Penulis menyampaikan hal ini dalam hubungannya dengan sarannya agar para lulusan sekolah kejuruan, sekolah tinggi, universitas, maupun lembaga pendidikan apapun untuk tetap mempertahankan pekerjaan paruh waktu yang dijalaninya selama menjalani pendidikan sebagai suatu sarana agar mereka tetap memiliki kesibukan setiap harinya dan oleh karena itu mereka akan sadar bahwa tidak boleh atau tidak dapat menyia-nyiakan waktunya sebab esoknya mereka masih memiliki kesibukan yang perlu dilakukan atau dijalani.
Saya menyadari sendiri akan hal ini dalam kehidupan saya. Selama kuliah saya terbiasa aktif sekali di organisasi, selain tentu saja di perkuliahan. Namun di akhir-akhir masa kuliah, ketika secara peraturan, saya sudah tidak diperkenankan mengikuti aktivitas organisasi apapun serta ketika seluruh mata kuliah yang harus saya ambil sudah habis saya lahap, saya akhirnya menyadari bahwa ketiadaan kesibukan membuat saya merasakan seolah saya masih memiliki sangat banyak waktu untuk menyelesaikan tanggung jawab yang perlu saya selesaikan. Perasaan seolah saya masih memiliki sangat banyak waktu tersebut yang pada akhirnya membuat saya mulai menjadi seorang penunda pekerjaan, padahal sebelumnya saya bukanlah tipe orang yang suka menunda-nunda sesuatu. Saya bukanlah tipe orang yang suka melihat suatu pekerjaan dikerjakan dalam waktu yang terlalu lama. Saya adalah penggemar fanatik efektivitas tindakan dan pekerjaan. Namun karena mulai tidak adanya tekanan serta perasaan banyak waktu yang saya miliki membuat saya akhirnya berani sedikit menunda penyelesaian pekerjaan, yang pada akhirnya berdampak pada kebiasaan saya. Saya menjadi gemar menunda-nunda sesuatu, sehingga pada akhirnya tidak banyak hal yang dapat saya selesaikan dalam dua tahun terakhir.

Sunday, 28 August 2011

Indahnya Perbedaan

Inilah indahnya kehidupan kita.Yang tidak kalah indahnya adalah perbedaan dalam kehidupan ini.Yang kaya harus berterima kasih kepada yang miskin dan yang bernasib kurang beruntung.

Karena sangat banyak orang berpenghasilan rendah, mereka yang berpenghasilan dua puluhan juta rupiah atau lebih per bulan di sini dapat julukan kaya dan mampu mempekerjakan pembantu rumah tangga dan sopir. Bayangkan apa yang terjadi jika hampir semua orang di negeri ini kaya seperti di negara maju.

Senada dengan ini, orang yang pintar dan berpendidikan tidak boleh sombong kepada yang bodoh atau kurang berpendidikan. Karena banyak yang kurang pintar, mereka disebut pandai atau berpendidikan sehingga layak memperoleh posisi terhormat di perusahaan dengan gaji besar.

Mereka yang mempunyai pekerjaan tetap harus menghargai belasan hingga puluhan juta orang di negeri ini yang kurang beruntung karena tidak berpenghasilan tetap.Karenanya, mereka mesti menciptakan pekerjaan sendiri agar dapat tetap hidup seperti berdagang kaki lima, buka warung di rumah,dan lainnya.

Tidak adanya tunjangan pengangguran atau bantuan sosial untuk para tunakarya membuat mereka tidak mampu ”menganggur”. Hanya orang yang kaya yaitu yang memiliki banyak aset/tabungan atau memiliki orang tua dan saudara yang bersedia ditumpangi yang mampu menganggur di negara kita. Menganggur adalah sesuatu yang ”mahal”.

Demikian juga dengan mereka yang dikaruniai wajah yang tampan dan cantik.Mereka mesti menghargai orang yang parasnya kurang menarik atau biasa-biasa saja. Yang mayoritas sebaiknya juga tidak memandang rendah minoritas.Karena ada minoritas, kelompok mayoritas mempunyai kepercayaan diri dan bargaining power yang lebih besar. Kesimpulannya, hidup ini sangat indah karena banyaknya perbedaan di antara kita.
(Artikel ini merupakan cuplikan dari artikel lengkap yang terdapat di alamat ini http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/424349/).

Saturday, 27 August 2011

Competition as a Breath of Life

I rarely wrote a full English article, but now I want to try to write it. I want to do it cause I want to sharpen my English skill. This article is the result of the contemplation of my own life.
After almost two years with no fighting and struggling, I realize that I am going to the direction to be ordinary people, not extra ordinary people. But I don’t want that to happen in my life. After very long time, I realize that I need some breakthrough, a lot of motivation, and also ambitions to change my way of life to go to the right way. The way to the extra ordinary life. The way to be an extra ordinary people.
From my contemplation, I know that people need competition. We need competition to keep challenge ourself to learn something new skills and to leverage our skills. We need competition and challenge to force ourself to keep active, to keep learn, to keep motivated, to keep move on. I realize from my own recent life, without competition and/or challenge we will “die” soon. We will stop to learn, stop to have inner motivation to life, stop to grow, and finally we will get stuck.

Friday, 26 August 2011

Dan Semuanya Akan Ditambahkan: Sebuah Cerita Tentang Talenta

Beberapa hari lalu, saya tergerak untuk membaca sebuah cerita legendaris yang terdapat dalam kitab suci. Sebuah cerita yang kemungkinan besar telah sering kita dengar. Sebuah cerita tentang talenta.
Cerita ini merupakan cerita yang luar biasa, sebab banyak hal yang diajarkan oleh cerita singkat ini. Ketika membaca cerita ini, saya seolah tertampar oleh pelajaran-pelajaran yang ada di dalamnya. Saya disadarkan bahwa setiap orang telah diberikan sejumlah talenta yang disesuaikan dengan kapasitas dirinya, seperti tertulis dalam kalimat berikut, “yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya”. Kalimat tersebut menyadarkan saya bahwa setiap kita telah diberi kapasitas masing-masing yang berbeda-beda, dan yang terpenting bukanlah berapa banyak talenta yang kita terima, melainkan apa saja yang telah kita perbuat dengan semua talenta yang telah diberikan pada kita. Saya juga disadarkan bahwa seringkali saya dan kita semua terkadang atau bahkan seringkali iri melihat orang lain yang terlihat lebih pintar atau lebih hebat dari kita, tetapi kita tidak pernah sadar bahwa kita juga memiliki talenta yang telah diberikan dalam diri kita. Kita tidak pernah sadar bahwa yang seharusnya kita lakukan bukanlah iri terhadap talenta orang lain, melainkan mengembangkan setiap talenta yang ada dalam diri kita serta menggunakannya untuk hal-hal yang baik.
Kita sering dan terlalu sering iri terhadap talenta yang dimiliki orang lain, sehingga fokus kita pun teralihkan dan kita lupa untuk mengembangkan talenta yang dianugerahkan pada kita. Kita lupa mengembangkan dan menggunakan talenta kita, padahal dengan mengembangkan serta menggunakan setiap talenta kita yang kita miliki, terdapat kemungkinan kita akan memperoleh atau menemukan talenta-talenta baru yang kemungkinan sudah ada dalam diri kita, namun belum kita sadari. Saya diingatkan bahwa seharusnya yang saya lakukan adalah mensyukuri setiap talenta yang diberikan, mengembangkannya, serta menggunakannya sebaik mungkin, sehingga suatu saat nanti saya memiliki kesempatan untuk memperoleh serta mengembangkan talenta-talenta baru.

Thursday, 25 August 2011

I Love It, More Than Money !

Hampir selama dua tahun terakhir, saya berjalan terombang-ambing dalam kehidupan. Saya mengenal dan dikenalkan banyak hal baru, baik oleh diri saya sendiri maupun oleh rekan-rekan saya. Saya tetap bersyukur dan sangat berterima kasih kepada mereka semua yang telah mengenalkan banyak hal baru kepada saya, khususnya yang terkait dengan cara-cara untuk memperoleh pendapatan (baca: uang). Saya memperoleh banyak pengetahuan serta pengalaman baru yang sangat berharga terkait dengan pekerjaan dan uang, segala sesuatu yang saya percaya akan tetap bermanfaat bagi saya di masa depan.
Kini, saya akhirnya sadar dan merasa bahwa masa selama hampir dua tahun yang telah terbuang tersebut sudah cukup. Saya mensyukuri dan mengambil sangat banyak pelajaran yang berharga dalam hidup saya. Masa selama hampir dua tahun tersebut telah membuka wawasan, pemikiran, serta pengertian saya mengenai sangat banyak hal, seperti pilihan hidup, efektivitas, manajemen diri, serta banyak hal lain. Saya merasa dan tersadarkan bahwa sekarang saatnya kembali berfokus pada hal-hal yang benar-benar penting dan hal-hal yang saya cintai lebih dari sekadar uang. Hal ini berbicara mengenai pilihan karir yang akan saya tempuh di masa sekarang maupun masa depan.
Bagi yang sering mengunjungi blog saya, kemungkinan ada diantara kalian yang sudah pernah membaca sejumlah posting saya sebelumnya yang terkait dengan posting ini, diantaranya Lebih Dari Sekedar Uang !, Kerinduan yang Berbeda, dan Jangan Terlalu Banyak !. Semua posting tersebut berbicara topik yang sama atau hampir sama, yaitu mengenai pekerjaan dan pilihan hidup. Selama hampir dua tahun terakhir, saya sendiri sempat menjajal beragam profesi, mulai agen asuransi jiwa, penjual pulsa, pengajar komputer, penjual perangkat komputer, programmer, dan lain-lain. Saya mencoba banyak hal dan masih ada beberapa hal yang belum saya coba yang telah ditawarkan kepada saya. Saya memang merasakan sejumlah manfaat, khususnya dalam hal pengalaman. Namun, saya akhirnya sadar, bahwa mencoba terlalu banyak hal, apalagi pada saat bersamaan dapat menjadikan kita kurang atau bahkan tidak fokus sama sekali dalam mengejar serta mengerjakan segala sesuatu. Pelajaran ini mengajarkan kepada saya bahwa kita tidak perlu dan tidak harus mengejar terlalu banyak hal atau semua hal. Kita harus tahu, apa yang benar-benar menjadi kerinduan terbesar kita. Suatu kerinduan atau visi yang telah ditanamkan dalam diri kita yang jauh lebih bernilai daripada sekadar uang.

Sunday, 21 August 2011

Bertekun Setiap Hari

Beberapa hari lalu, saya membaca sekilas buku karangan Malcolm Gladwell yang berjudul Outliers. Saya memang hanya membacanya singkat saja, sebab ada urusan lain yang perlu saya selesaikan segera, namun saya mendapatkan satu pelajaran berharga sekaligus diingatkan kembali akan kebiasaan lama saya yang telah sangat membantu saya meraih banyak di masa lalu. Pelajaran apakah itu ? Jawabannya: Ketekunan.
Benar, melalui cerita yang dituliskan dalam buku tersebut mengenai tokoh-tokoh dari berbagai bidang yang telah sukses meraih hal-hal hebat dalam hidupnya serta mampu menjadi panutan atau teladan bagi banyak orang di dunia ini, ternyata ada salah satu unsur yang memungkinkan mereka menjadi seperti itu. Unsur tersebut adalah ketekunan untuk terus belajar serta mengasah kemampuan setiap hari. Tokoh-tokoh yang diceritakan dalam buku tersebut begitu banyak, diantaranya Bill Gates, Larry Ellison, dan Michael Jordan (jika saya tidak salah ingat). Mereka semua bisa menjadi orang yang menonjol dalam bidang mereka masing-masing salah satu alasannya adalah karena mereka tekun berlatih setiap hari dalam bidang yang mereka cintai. Mereka memanfaatkan setiap kesempatan yang ada dalam hidup mereka untuk terus berlatih hingga pada akhirnya mereka mampu menjadi bintang pada bidangnya masing-masing.

Friday, 12 August 2011

Tak Cukup Hanya Teori !

Kemarin, setelah saya merenung beberapa saat, saya memperoleh suatu pemahaman serta pelajaran yang berharga, yaitu jangan hanya berteori atau teori saja tidak cukup. Setelah proses merenung singkat yang saya jalani pada siang dan malam hari kemarin, saya menemukan (menyadari) bahwa ternyata pada beberapa waktu terakhir ini, saya termasuk orang yang terlalu banyak berteori maupun mengacu pada teori. Tanpa bermaksud menganggap remeh arti penting teori-teori yang ada, saya akhirnya menyadari bahwa jika kita menunggu hingga kita benar-benar memahami suatu teori, baru kemudian mempraktekkannya, terdapat kemungkinan bahwa kita hanya akan sampai pada tahapan mencoba memahami teori atau berteori saja, tanpa pernah benar-benar mempraktekkannya.
Saya menyadari hal ini dari pengalaman pribadi saya selama beberapa waktu terakhir. Saya ingat benar bahwa saat saya akan mengerjakan sesuatu, saya mencoba menemukan terlebih dahulu teori yang dapat mendukung dalam upaya mengerjakan tugas atau tanggung jawab saya. Hal tersebut memang bagus, namun juga memiliki sisi lemah. Saat saya menemukan satu teori yang dituangkan dalam bentuk buku, karya ilmiah, artikel, dan sebagainya, saya justru diantarkan ke teori lain yang mendukung dalam setiap teori yang disampaikan dalam bentuk karya tulis yang saya sebutkan diatas. Saya pada dasarnya memang gemar membaca dan selalu penasaran akan teori-teori baru atau ilmu-ilmu baru yang belum pernah saya ketahui sebelumnya serta yang saya anggap menarik. Hal ini mendorong saya untuk juga mencoba mencari teori-teori lain yang disebutkan oleh teori yang sedang saya baca, sehingga pada akhirnya, tanpa saya sadari sebagian besar waktu saya hampir habis hanya untuk menemukan teori demi teori serta mempelajarinya. Suatu kondisi yang bertolak belakang dengan kebiasaan saya beberapa tahun yang lalu.

Tuesday, 9 August 2011

Jangan Hanya Berpikir (dan Tak Semua Hal Harus Dipikirkan)

Sekitar dua tahun yang lalu, saya pernah mengucapkan kalimat ini, “tidak semua hal harus dijawab atau ditanggapi”. Kalimat tersebut terinspirasi oleh sikap seseorang kawan atau rekan kerja saya dalam kehidupan organisasi di kampus. Rekan kerja yang kemudian juga akhirnya menjadi pimpinan (ketua) saya dalam suatu organisasi. Rekan satu ini masih saya ingat hingga sekarang, sebab secara tidak langsung dan tanpa saya terlalu sadari, dia telah membantu saya untuk menjadi individu lebih baik serta menyiapkan saya untuk menjadi penggantinya. Ketika saya akhirnya benar-benar berhasil menjadi penggantinya, saya menerapkan sebagian besar (baca: cukup banyak) pelajaran yang saya peroleh selama bekerja sama dengan rekan tersebut.
Itulah pengantar singkat untuk tulisan ini. Tulisan ini pada dasarnya akan berbicara mengenai pemikiran dan tindakan. Saya secara pribadi sering mendengar dari rekan-rekan saya maupun membaca dari buku-buku atau artikel, kalimat-kalimat berikut ini, “jangan hanya jadi tukang pikir”, “kita perlu berpikir, namun pikiran juga harus segera diikuti dengan tindakan”, “kita perlu tahu kapan saatnya berpikir dan kapan saatnya bertindak”, dan sejumlah kalimat yang sejenis. Saya memiliki kalimat saya sendiri, “tidak semua hal harus dipikirkan, kita perlu tahu apa yang penting untuk dipikirkan, dan apa yang tidak penting” serta “ada hal-hal yang memang perlu kita pikirkan, tetapi ada pula hal-hal yang memang diluar jangkauan berpikir kita, dan biarkan orang lain yang memikirkannya untuk kita”.

Sunday, 17 July 2011

Mengapa Ngeblog ?

Saya pertama kali mengenal dunia blog sekitar lima tahun lalu. Sebelum menulis di blog, saya biasa menulis di buku catatan harian saya. Namun sejak mengenal dunia blog saya mulai beralih menuliskan isi pikiran saya di blog. Awal ngeblog, saya tidak mengetahui dengan pasti mengapa mesti ngeblog dan apa manfaat blogging. Kini setelah lima tahun berlalu, melalui berbagai pembelajaran yang saya lakukan di sepanjang perjalanan, saya akhirnya mengerti serta semakin menyadari manfaat blogging. Saya menemukan manfaat yang besar dari menjadi seorang blogger, apalagi seorang yang profesional. Melalui tulisan ini, saya akan mencoba menjabarkan beberapa manfaat ngeblog yang berhasil saya temukan.
Pertama, dengan ngeblog kita dapat berbagi pemikiran kita dengan orang lain, termasuk prinsip-prinsip serta pengetahuan dan pengalaman. Melalui blog yang kita kelola, kita dapat berbagi bermacam pengetahuan yang telah kita pelajari atau peroleh sejauh ini kepada sebanyak mungkin orang, sehingga paling tidak kita dapat turut berkontribusi untuk membantu mencerdaskan orang lain yang membaca tulisan di blog kita. Selain itu, kita juga dapat berbagi berbagai pengalaman hidup yang telah berhasil kita himpun hingga saat ini maupun pengalaman yang kita pelajari ke orang lain, sehingga kita juga turut berpartisipasi untuk berbagi kebijaksanaan dengan banyak orang agar minimal orang lain tidak mengulangi hal-hal buruk yang pernah kita lakukan serta dapat mengambil pengalaman baik dari kita.

Sunday, 10 July 2011

Sudah Efektifkah Hidup Kita ?

Selama beberapa bulan terakhir ini, saya selalu berusaha untuk menanyakan pertanyaan ini kepada diri saya sendiri. Sudah efektifkah hidup saya ? Sudahkah saya memanfaatkan setiap waktu dalam hidup saya dengan optimal ? Sudahkah saya benar-benar menggunakan hidup saya untuk melakukan hal-hal yang benar bermanfaat ? Proses bertanya seperti ini sungguh sangat bermanfaat untuk menganalisa serta menilai lebih dalam mengenai kehidupan yang kita jalani setiap hari.
Jawaban-jawaban yang kita peroleh sebagai jawaban atas semua pertanyaan tersebut dapat membantu untuk mengetahui apakah kehidupan yang kita jalani benar-benar kehidupan yang benar, bermanfaat, dan tentu saja efektif. Semua jawaban atas pertanyaan tersebut dapat memberitahu kita apakah kita telah memanfaatkan waktu yang kita miliki dalam hidup untuk kegiatan yang bermanfaat, untuk meraih kualitas kerja yang terbaik, untuk meraih segala sesuatu yang mungkin kita raih. Pertanyaan yang tepat serta jawaban yang jujur atas pertanyaan dapat membantu kita untuk menjadi individu yang lebih baik.

Monday, 4 July 2011

Kepintaran

Sebuah tulisan yang saya buat pada Sabtu, 27 Januari 2007. Tulisan ini saya ambil dari catatan harian yang saya buat dan telah saya edit sedikit agar dapat lebih rapi dan enak untuk dibaca. Semoga catatan harian ini bermanfaat.
Saya sering mendengar orang berkata, “orang itu pintar”, “orang itu cerdas”, dan sebagainya. Namun saya akhirnya berpikir, apakah mereka yang berpendapat seperti benar-benar mengetahui definisi kata pintar atau cerdas ? Saya juga sempat bertanya apakah sebenarnya kepintaran atau kecerdasan itu ada ? Jika memang kepintaran atau kecerdasan itu ada, syarat apa sajakah yang harus dipenuhi agar seseorang dapat disebut pintar atau cerdas ?
Jika kita melihat ke belakang dalam sejarah hidup para penemu, ilmuwan, dan orang-orang yang dikenal sebagai orang pintar atau cerdas, kita akan dapat benar-benar mengetahui bahwa pada awalnya mereka juga orang biasa. Semangat mereka untuk terus belajar serta mengembangkan pemikiran serta kemampuan mereka, yang pada akhirnya membuat mereka memperoleh julukan sebagai orang-orang pintar. Dari hal tersebut, kita dapat mengetahui bahwa mereka semua menjadi pintar, seperti sebutan atau identitas yang kita berikan untuk mereka, karena mereka memutuskan di dalam diri mereka sendiri untuk terus rajin belajar dan memperluas pemikirannya.

Wednesday, 29 June 2011

Seorang Pemimpin Tidak Harus Selalu Hadir ?

Beberapa tahun lalu, saya pernah berpendapat dan menasihatkan kepada seseorang bahwa seorang pemimpin harus selalu hadir pada setiap kesempatan. Nasihat serta pendapat yang saya ungkapkan saat itu, khususnya berkaitan dengan kehadiran pemimpin untuk memimpin rapat. Nasihat serta pendapat saya saat itu adalah benar adanya, namun tidak selalu benar pada semua kondisi. Nasihat serta pendapat saya tersebut tidak selalu tepat, termasuk untuk kasus kehadiran pemimpin untuk memimpin rapat.
Sekitar lebih dari dua tahun setelah nasihat serta pendapat tersebut saya ungkapkan, saya telah belajar cukup banyak hal baru. Salah satu yang saya berhasil pelajari serta sadari adalah bahwa pemimpin tidak harus selalu hadir pada setiap kesempatan di hadapan bawahannya. Pemimpin tidak harus selalu, tetapi harus mampu membuat setiap orang yang dipimpinnya merasakan seolah-olah dia hadir disana. Seorang pemimpin tidak harus hadir, tetapi dia harus mampu membuat suatu sistem yang mampu membuat seolah-olah dia hadir disana, di setiap kesempatan dimanapun orang-orang yang dipimpinnya berada. Dengan menggunakan bantuan sistem yang diciptakan atau disusun dengan baik, setiap pemimpin dapat membantu mengefektifkan segala sesuatunya. Sistem yang hebat mampu membuat keseluruhan organisasi tetap berjalan dengan baik sesuai dengan yang dimaksudkan oleh pemimpinnya.

Friday, 24 June 2011

Masih Belajar Bagaimana Sebuah Bisnis Dijalankan


Segala sesuatunya berawal ketika saya membaca sebuah buku berjudul Google Success Story beberapa tahun yang lalu. Sejak saat itu hingga sekarang, impian untuk membangun suatu bisnis yang sukses masih terus menjadi bagian impian saya. Sejak saat itu pula, saya belajar bagaimana caranya membangun bisnis dan pernah belajar beberapa kali berbisnis kecil-kecilan (sekarang juga masih kecil). Bisnis yang saya jalani waktu itu gagal total karena kurang matangnya pemikiran serta perencanaan sebelum memutuskan terjun ke suatu bisnis. Saya masuk ke bisnis tersebut hanya karena sekedar ingin mencoba serta didasari oleh suatu hal yang tidak sesuai dengan pemikiran saya terhadap bisnis lain.
Bisnis saya saat itu gagal total dan sampai saat ini barangnya masih ada banyak, sebab saya menjalankannya tanpa memikirkan dengan matang serta asal bergerak saja. Bisnis yang saya jalani kala itu juga tidak benar-benar sesuai dengan impian asal saya untuk membangun bisnis berlandaskan teknologi tinggi. Saya hanya sekedar dan akhirnya hanya mampu berjalan ala kadarnya, sebelum akhirnya kandas.

THERE’S NO COMPROMISE !

Saya masih dan akan selalu belajar, sebab saya tidak pernah puas atas setiap apa yang pernah saya raih dalam hidup. Saya mensyukuri segala sesuatu yang ada, namun saya belajar memaksa diri saya sendiri untuk tak akan pernah puas dan terus berupaya mencapai sesuatu yang lebih dan lebih lagi. Saya telah belajar bahwa kepuasan adalah awal kehancuran serta penurunan kinerja. Kepuasan menjadi awal dari adanya kompromi terhadap segala sesuatu, khususnya terkait dengan kualitas hasil kerja kita.
Saya akui, bahwa beberapa tahun lalu saya pernah berkompromi terhadap terlalu banyak hal dalam hidup saya. Saya mengkompromikan hasil kerja yang tidak bagus. Saya membuat toleransi untuk kualitas yang rendah atau kurang baik. Saya menoleransi segala hal yang tidak benar, segala hal yang tidak baik, dan segala hal yang tidak disiplin, yang pada akhirnya berimbas terhadap beberapa aspek kehidupan saya sendiri. Tapi semua itu sudah berlalu, dan saya tidak akan pernah membiarkan hal tersebut tetap menghantui saya selamanya. Saya telah melupakan semua standar rendah tersebut sejak akhir tahun lalu, dan mulai awal tahun ini saya belajar serta kembali melatih diri untuk dapat terus dan terus menanjak dalam segala hal. Saya berlatih disiplin diri, berlatih kembali untuk memimpikan hal-hal besar, berlatih kembali untuk fokus dan konsentrasi dalam mengejar seluruh impian, berlatih kembali untuk terus menghasilkan kinerja yang meningkat dari hari ke hari, berlatih untuk tidak berkompromi dengan standar yang rendah, berlatih untuk membenci hasil kerja yang tidak maksimal, dan masih banyak latihan demi latihan yang perlu terus saya jalani untuk kembali ke puncak kemenangan.

Tuesday, 21 June 2011

Agama: Sebuah Bisnis ?

Saya adalah manusia beragama, seperti semua warga negara Indonesia lainnya. Saya mengerti tentang ajaran agama serta mempercayai bahwa Tuhan itu ada. Saya juga berusaha sebaik mungkin mentaati ajaran agama yang saya anut. Namun, setelah sekian lama beragama dan mengamati praktek kegiatan beragama, saya menemukan adanya kemiripan antara lembaga agama atau agama itu sendiri dengan lembaga bisnis atau bisnis.
Saya akan mulai dari ulasan saya mengenai lembaga agama sebelum masuk ke topik yang lebih besar yaitu agama. Lembaga agama yang berasal atau menyebarkan ajaran agama yang saya, sebut saja agama A, saat ini seolah bersaing satu dengan yang lain untuk memperoleh sebanyak mungkin umat untuk beribadah di lembaga agama atau lokasi milik lembaga agama tersebut. Mereka berlomba-lomba dengan menggunakan beragam trik atau strategi untuk menjaring sebanyak mungkin umat agar beribadah di tempatnya. Mereka adakan acara-acara yang meriah, mengundang tokoh-tokoh agama terkemuka, mengundang orang-orang terkenal (baik dari kalangan artis, bisnis, maupun politik), mereka mengkonsep cara penyambutan umat yang datang beribadah di tempatnya, dan berbagai cara lain, semata hanya untuk satu tujuan utama, yaitu menjaring sebanyak mungkin umat untuk mau beribadah di tempatnya.

Sunday, 19 June 2011

The Da Vinci Code Dalam Pandangan Saya

Beberapa tahun lalu, saya masih ingat dengan jelas buku karya Dan Brown ini mampu membuat heboh cukup banyak pihak, khususnya pihak gereja Katolik. Isi buku yang sedikit kontroversial menurut sebagian orang dikhawatirkan dapat membuat iman orang-orang Kristiani goyah, sebab buku tersebut menceritakan beberapa hal yang memang bertentangan dengan kitab suci. Kala itu, saya tidak begitu penasaran dan memang tidak tertarik untuk membaca buku kontroversial ini. Namun, beberapa minggu lalu, saya akhirnya memutuskan untuk mencari tahu mengapa buku tersebut mampu menimbulkan kontroversi dan berita yang begitu heboh di kalangan para pemuka agama Kristiani. Saya sendiri adalah pemeluk Kristiani dan saya percaya bahwa isi kitab suci agama saya adalah benar adanya, tidak seperti apa yang diceritakan dalam buku The Da Vinci Code. Namun tulisan saya kali ini tidak akan membahas pertentangan antara apa yang disampaikan oleh kitab suci dengan apa isi buku tersebut, saya membahas segi lain dari isi buku ini yang sanggup menarik perhatian saya untuk tetap bertahan dan menyelesaikan membacanya.

Friday, 17 June 2011

Mengajar Komputer, Menarik Juga !

Saya tidak pernah terpikir atau bermimpi sekalipun bahwa saya akan mengajar komputer dan akhirnya memutuskan hal tersebut sebagai salah satu profesi yang saya jalani saat ini. Saya sendiri tidak begitu mengerti bagaimana hal tersebut bermula, namun sejauh yang saya ingat, saya pernah berkata kepada salah seorang kawan bahwa jika andai saya harus mengajar, maka saya akan lebih menyukai mengajar komputer. Saya memilih mengajar komputer karena saya berpikir bahwa dengan mengajar komputer, saya mau atau tidak akan dipaksa untuk tetap belajar hal-hal baru yang berhubungan dengan komputer. Selain itu, saya juga berpikir bahwa dengan mengajar komputer saya dapat berbagi apa yang saya ketahui dengan orang-orang lain yang belum tahu dan masih ingin tahu.
Sampai saat ini (saat tulisan ini dibuat) saya sudah hampir dua tahun mengajar, meskipun murid yang saya ajar juga belum terlalu banyak, sebab diawal menjalaninya saya kurang fokus dan tidak benar-benar serius menyisihkan waktu untuk menjalani profesi tersebut.

Thursday, 16 June 2011

Apa Saja yang Dapat Dilakukan Saat Online ?

Kita semua tahu bahwa Internet saat ini telah menjadi salah satu kebutuhan pokok bagi sebagian besar manusia di bumi ini. Dapat dipastikan, setiap hari kita selalu terhubung ke Internet untuk beragam tujuan, baik sekedar browsing informasi, berkunjung ke situs social network, bermain game online, mengirim email, download file, dan sebagainya. Namun apakah hanya itu saja yang dapat kita lakukan saat online ? Ternyata tidak, masih terdapat banyak aktivitas lain yang dapat kita lakukan saat online.
Akhir-akhir ini, seperti mungkin sudah sebagian besar kita tahu, perusahaan maupun pengusaha mulai merambah dunia online. Perusahaan maupun pengusaha mulai memanfaatkan Internet sebagai salah satu media untuk memperbesar usahanya, baik hanya sekedar upaya untuk berhubungan dengan calon customer dan customer, pemasaran online, hingga benar-benar menciptakan produk yang hanya dapat diakses melalui Internet. Fenomena ini terus bertumbuh dan bertumbuh dengan semakin banyaknya perusahaan dan pengusaha yang mulai gencar menyerbu Internet untuk memperluas pasar serta memperoleh pelanggan yang lebih banyak. Fenomena tersebut juga telah menumbuhkan sejumlah peluang usaha baru, seperti situs iklan online, konsultan pemasaran online, situs pembayaran online, dan sebagainya. Intinya sekarang banyak aktivitas yang mulai dilakukan secara online.

Monday, 13 June 2011

Menghormati Tradisi, Tetapi Tidak Harus Selalu Hidup Sesuai Tradisi

Selama beberapa tahun terakhir ini, saya sering sekali menghadiri pesta pernikahan, baik pesta pernikahan keluarga maupun rekan dari orang tua saya dan juga rekan saya sendiri. Dari beberapa kali menghadiri pesta pernikahan tersebut, saya menyaksikan bahwa tradisi sangat berperan sekali dalam setiap pesta pernikahan yang saya hadiri. Saya menyaksikan apa yang saya sebut rutinitas sebuah pesta pernikahan, yang sebagian besar dipengaruhi oleh tradisi.
Saya banyak menyaksikan bahwa sebagian besar pesta pernikahan tersebut sangat dipengaruhi oleh tradisi yang dianut oleh keluarga dari kedua mempelai, meskipun saya juga pernah menemukan beberapa hal yang unik dari beberapa pesta pernikahan yang saya hadiri. Namun tetaplah sebagian besar acara dalam suatu pesta pernikahan sama antara satu pernikahan dengan pernikahan yang lain. Sekali lagi saya tegaskan, saya menghargai dan menghormati tradisi, namun saya juga telah belajar sejak awal saya masuk kuliah bahwa saya tidak harus selamanya hidup sesuai tradisi. Kita dapat tetap menghargai dan menghormati tradisi yang dianut oleh para pendahulu kita, namun kita juga dapat memilih untuk membuat sesuatu yang baru, sesuatu yang berbeda dibandingkan sebelumnya.

Saturday, 11 June 2011

S.EX

Peringatan: harap dibaca terlebih dahulu dengan seksama, untuk kemudian dicermati, setelah itu dapat memberi komentar !
Kali ini saya menulis dengan topik sedikit berbeda, bahkan mungkin sangat berbeda dibandingkan topik-topik yang biasa saya tulis. Selamat menikmati dan harap perhatikan juga peringatan diatas.
Saya secara mendadak terpikirkan mengenai gagasan untuk menulis sebuah topik yang sedikit berbeda ini saat sedang membaca artikel mengenai salah satu teori dalam ilmu komputer. Inspirasi tersebut melintas secepat kilat ke dalam benar saya dan setelah merenung sebentar, secepat kilat pula saya segera menuliskannya sebelum gagasan yang meloncat masuk ke dalam pikiran saya meloncat keluar.

Kadang, Bekerja Keras Adalah Satu-Satunya Solusi

Selama beberapa waktu terakhir (sekitar dua tahun terakhir), saya mendengar cukup banyak orang mendengungkan istilah ‘bekerja cerdas, bukan bekerja keras’. Saya sampai sekarang belum sepenuhnya mengerti bekerja cerdas itu seperti apa dan masih terus berupaya memahaminya, baik dari mendengarkan ucapan orang lain, membaca artikel atau buku, dan menalar menggunakan pemikiran saya sendiri. Jika pemahaman yang saya peroleh sejauh ini mengenai bekerja cerdas tepat adanya, saya setuju dengan konsep tersebut. Konsep tersebut mengajarkan kepada kita bahwa kita tidak selamanya harus bekerja keras, tetapi kita dapat bekerja dengan cerdas dengan cara mengetahui hal-hal apa sajakah yang perlu dikerjakan dan apa saja yang tidak perlu.
Berdasarkan pemahaman mengenai bekerja cerdas yang saya sebutkan diatas, saya sangat sepakat dengan gagasan tersebut. Namun setelah dalam waktu yang cukup lama pula bergelut dengan istilah ‘bekerja cerdas’, akhirnya saya menyadari bagaimanapun kita tetap perlu bekerja keras untuk meraih impian atau apapun yang ingin kita raih. Dari kesadaran saya tersebut, akhirnya saya mengubah sedikit istilah ‘bekerja cerdas’ menjadi ‘bekerja keras dengan cerdas’. Istilah saya tersebut berupaya menjelaskan bahwa kita tetaplah perlu bekerja keras untuk meraih atau mewujudkan apapun yang ingin kita wujudkan, tetapi kita tidak harus bekerja keras pada semua bidang atau semua hal. Kita dapat bekerja sama dengan orang-orang terbaik lain untuk menghasilkan kualitas pekerjaan yang luar biasa. Dengan kata lain, kita bekerja keras pada bidang-bidang yang kita bisa dan orang lain bekerja keras pada bidang-bidang yang mereka bisa.

Friday, 10 June 2011

Pensiun Kaya Raya pada Usia 30-an

Setiap kita, manusia yang tinggal di dunia ini, pastilah bekerja bahkan sejak dari kita kecil. Waktu kecil, kita bekerja untuk dapat membaca, dapat berjalan, dapat berlari, dapat mengendarai sepeda, dapat mengendarai sepeda motor, dapat mengendarai mobil, dapat menulis, memiliki pengetahuan, dan sebagainya. Intinya kita selalu bekerja dalam berbagai bentuk.
Namun, pernahkah kita berpikir pada usia berapakah kita akan pensiun atau ingin pensiun ? Akhir-akhir ini pemikiran mengenai pensiun sedini mungkin mengisi sebagian ruang dalam otak saya. Saya sempat membaca beberapa buku terkait pensiun, rencana keuangan, serta hal-hal terkait lain untuk menopang impian saya untuk pensiun sedini mungkin. Setelah membaca sejumlah buku, akhirnya saya tetapkan untuk dapat pensiun pada usia 30-an.
Pensiun yang saya maksud disini bukanlah tidak bekerja sama sekali, tetapi suatu situasi atau keadaan dimana saya memiliki hak untuk bekerja atau tidak, namun saya tetap hidup berkecukupan dalam jangka waktu yang lama. Pensiun yang maksudkan disini adalah saya tetap dapat hidup tanpa kewajiban untuk bekerja. Guna menopang rencana saya tersebut, saya mulai dan akan terus mencari cara-cara yang dapat membantu saya untuk mewujudkan impian tersebut. Saya akan terus mencari dan kemudian mempraktekkan sebanyak mungkin cara yang dapat mewujudkan impian saya untuk pensiun pada usia 30-an.

24 dari 100: Daftar Buku yang sudah Saya Baca Tahun Ini

Saya sangat suka sekali membaca, bahkan sejak saya masih sangat belia. Guna semakin meningkatkan kemampuan saya serta untuk menantang diri saya sendiri untuk menjadi lebih hebat serta sebagai bagian dari target besar saya untuk membaca 20.000 judul buku sebelum saya meninggal, maka tahun ini saya menargetkan untuk dapat merampungkan membaca 100 judul buku. Sampai saat tulisan ini dibuat, saya telah menuntaskan membaca 24 judul buku dan masih ada 11 judul buku yang sudah saya baca namun belum terselesaikan. Sebagai bukti bahwa saya benar-benar telah menuntaskan membaca 24 judul buku, berikut ini saya sebutkan judul buku yang sudah selesai saya baca serta nama penulisnya:
1.        Sikap 101 – John C. Maxwell.
2.        The Science of Success – James Arthur Ray.
3.        Pixar – Ni Ketut Susrini.
4.        Your Internet Cash Machine – Joe Vitale dan Jillian Coleman Wheeler.
5.        The 7 Habits of Highly Effective People – Stephen R. Covey.
6.        Communication @ Work – Indayati Oetomo.
7.        Youtube A Success Story – Yudhi Herwibowo.

Friday, 3 June 2011

Menjadi Salah Satu Individu Paling Berpengaruh Dalam Industri Teknologi Informasi

Siapa yang tidak kenal nama-nama berikut, Bill Gates, Sergey Brin, Larry Page, Steve Jobs, Mark Zuckerberg ? Saya percaya sebagian besar dari kita pernah mendengar nama tersebut diucapkan dan sebagian besar dari kita bahkan mungkin juga sering mengucapkannya. Mereka adalah sebagian dari sejumlah kecil orang-orang yang paling berpengaruh di dunia ini, khususnya dalam industri teknologi informasi. Segala ucapan mereka akan mempengaruhi jalannya bisnis teknologi informasi dan bahkan mungkin dunia teknologi secara umum.
Beberapa hari terakhir, hal yang sama terlintas di pikiran saya, yaitu untuk menjadi salah satu individu paling berpengaruh dalam industri teknologi informasi. Saya bermimpi untuk menjadi salah satu dari hanya sejumlah kecil orang yang sangat mempengaruhi arah pergerakan bisnis teknologi informasi masa depan sekaligus menjadi orang dengan bayaran termahal dalam industri teknologi informasi. Saya bermimpi saya akan menjadi salah satu orang yang sangat berharga dalam industri tersebut yang kehadirannya sangat ditunggu-tunggu dan yang setiap keputusannya akan turut mempengaruhi pergerakan industri secara keseluruhan.

Tuesday, 31 May 2011

Menulis: Sebuah Proses Kreatif !

Saya sering mendengar ucapan, “menulis adalah sebuah proses kreatif.” Awalnya saya hanya sekedar mendengar dan karena terlalu sering mendengar, maka saya mempercayainya. Namun hanya mempercayai saja, tanpa pernah membuktikan apakah benar seperti demikian adanya. Tetapi sejak saya mulai semakin aktif menulis artikel bebas untuk mengisi blog saya, maka saya merasakan dan benar-benar meyakini bahwa menulis memang merupakan sebuah proses kreatif. Menulis adalah mengubah gagasan yang melintas dalam pikiran kita menjadi bentuk cerita dalam tulisan yang pada akhirnya dapat dibaca dan diusahakan semudah mungkin dipahami oleh setiap orang yang membacanya.
Semakin aktif menulis, saya juga merasakan bahwa ide-ide tulisan semakin mudah muncul di dalam benak. Saya merasakan ide-ide mengenai topik tulisan semakin mudah hinggap dalam pikiran saya, yang pada akhirnya menjadikan saya semakin produktif dan semakin aktif menulis. Sejak semakin aktif menulis itu pula, akhirnya saya menyadari bahwa ternyata saya sudah menyukai aktivitas menulis sejak saya masih sangat muda. Jika saya tidak salah ingat, saya mulai menyukai membuat tulisan saat saya masih kelas tiga sekolah dasar. Saat itu, saya membaca sebuah buku ilmu pengetahuan alam dan kemudian tertarik untuk menuliskan sedikit isi buku tersebut ke papan tulis kecil yang terdapat di rumah. Memang aktivitas menulis saya saat itu dapat dikatakan sebagai aktivitas menjiplak tulisan orang lain, bukan murni karya saya sendiri, tetapi dari situlah semuanya berawal.

Thursday, 26 May 2011

Inspirasi dari Memasang Galon pada Tempatnya

Siang ini saya semakin meyakini bahwa inspirasi ada dimana-mana dan bisa diperoleh kapan saja, asalkan kita mau jeli dan membuka pikiran lebar-lebar. Inspirasi siang ini saya peroleh dari pengalaman beberapa kali memasang galon air ke tempatnya, yaitu sebuah tempat semacam gentong tapi dalam bentuk yang lebih kecil dan lebih modern (saya yakin banyak dari kita semua yang mengetahui benda tersebut). Saya jarang memasangkan galon pada wadah tersebut, sebab sudah ada orang lain yang bertugas membantu saya untuk melakukannya sehingga saya dapat melakukan aktivitas lain yang lebih penting. Namun terkadang saat tidak ada orang yang dapat membantu, maka saya harus memasangkannya sendiri.
Siang ini, ada orang yang memasangkan galon pada wadahnya penampungnya, sehingga saya tidak perlu memasangnya sendiri. Namun disela-sela menunggu galon air dipasang pada tempatnya, ada sedikit perbincangan mengenai cara memasangkan galon air tersebut dengan benar tanpa mengakibatkan air yang di dalamnya tumpah. Mendengar pembicaraan tersebut, secara tiba-tiba pengalaman saya memasang galon yang sebelumnya pernah saya lakukan memunculkan kembali kesadaran lama yang sebelumnya saya abaikan. Sebelumnya saya telah menyadari, bahwa ketika saya mencoba memasang galon air pada tempatnya dan saya memiliki perasaan ragu apakah saya dapat memasangnya dengan baik tanpa mengakibatkan airnya tumpah atau tidak, justru yang terjadi adalah posisi galon tidak terpasang dengan tepat dan bahkan pernah mengakibatkan airnya tumpah.

Wednesday, 25 May 2011

Kompetisi Kehidupan

Apakah yang kalian pikirkan saat mendengar atau membaca kata ‘kompetisi’ ? Apakah kalian berpikir bahwa kompetisi itu sama dengan bermusuhan ? Jika tidak, apakah pendapat kalian mengenai kompetisi ?
Beberapa tahun lalu, saya pernah mendengar dari salah seorang kawan saya bahwa dia tidak ingin berkompetisi. Dia berpikir untuk apa berkompetisi, bukankah kita tidak saling bersaing. Saat saya mendengar ucapan tersebut, saya hanya mendiamkan saja, sebab saya sendiri saat itu masih belum menemukan argumen untuk menjelaskan definisi kompetisi. Setelah beberapa tahun berlalu dan setelah mengkaji dari dalam kehidupan saya sendiri serta belajar dari pendapat beberapa orang, saya akhirnya menemukan bahwa kompetisi itu baik. Saya menyadari bahwa kompetisi itu penting dan bahwa kompetisi itu tidaklah sama dengan permusuhan. Kita dapat berkompetisi dengan seseorang tanpa harus membencinya dan memusuhinya.

Perbaikan di Sepanjang Jalan


Kehidupan telah, akan, dan selalu mengajarkan banyak hal kepada kita, jika kita memang bersedia belajar darinya.
Kehidupan adalah suatu proses perubahan demi perubahan dan pembelajaran demi pembelajaran di sepanjang jalan kehidupan.
Selama kita masih hidup, akan selalu ada pengalaman demi pengalaman baru yang akan kita dapatkan darinya.
Pengalaman demi pengalaman yang seharusnya menempa kita untuk menjadi lebih baik dan lebih bijak dalam mengarungi kehidupan.

Lebih Baik Tidak Berjanji Daripada Tidak Bisa Menepati !

Pagi ini, saya mendapatkan suatu pemahaman baru yang sangat luar biasa. Suatu pemahaman baru yang begitu menyentak diri saya. Suatu pemahaman yang mengingatkan diri saya tentang pentingnya menepati janji yang telah kita buat.
Saya selama ini menyukai dan selalu menyukai ketika ada sesuatu yang dapat saya kerjakan. Saya menyukai bekerja dan beraktivitas dan sangat tidak menyukai ketika saya hanya menganggur atau berhenti beraktivitas. Namun sejak beberapa bulan lalu serta yang kembali teringat pagi ini, saya mulai belajar untuk tidak mengambil alih seluruh pekerjaan sendirian. Saya belajar untuk menyerahkan atau mengijinkan orang lain untuk mengerjakan atau mengambil alih suatu pekerjaan. Bukannya saya tidak ingin bekerja atau mengerjakannya, tetapi saya telah belajar dan masih terus belajar bahwa adalah lebih baik suatu pekerjaan diambil alih atau ditangani oleh orang lain, daripada saya memaksakan untuk menanganinya namun tidak dapat menyelesaikannya atau menyelesaikannya dengan kualitas yang kurang baik.

Monday, 23 May 2011

Kualifikasi Tim Para Bintang

Hampir dapat dipastikan bahwa kita semua selalu terkagum-kagum saat melihat seseorang dengan kualitas individu yang luar biasa. Hampir dapat dipastikan pula bahwa kita semua juga terkagum-kagum melihat suatu tim yang begitu luar biasa dan memenangkan atau meraih banyak prestasi. Namun tahukah kita bahwa baik individu maupun tim tersebut telah menetapkan standar yang berbeda dalam diri mereka sendiri ? Tahukah kita bahwa mereka semua menetapkan standar yang berbeda daripada standar yang biasa digunakan oleh individu maupun tim yang hanya meraih sesuatu yang biasa-biasa saja ? Mereka semua menetapkan sebuah standar yang mampu mengantarkan meraih banyak hal dalam hidup mereka. Sebuah standar yang mereka hidupi setiap hari, bahkan setiap saat.
Terinspirasi oleh para individu dan tim peraih prestasi terbaik yang pernah saya ketahui, maka saya akhirnya kembali belajar untuk menetapkan sebuah standar bagi diri saya sendiri dan juga bagi individu-individu pilihan yang akan menjadi anggota tim saya. Saya menyebutnya Standar Tim Para Bintang. Standar tersebut akan mampu mengantarkan saya dan seluruh anggota tim saya menjadi sebuah Tim Para Bintang. Berikut kualitas yang harus ada dalam diri saya dan juga para anggota tim saya:

Saturday, 21 May 2011

Pengalaman Saya Menggunakan 3 Browser Berbeda

Para pengguna komputer, khususnya para penggila browsing atau berselancar di internet, tentu saja sudah tidak asing dengan istilah browser. Kemungkinan juga mereka telah pernah mencoba beberapa browser yang ada untuk menemukan browser yang paling cocok bagi mereka. Saya sendiri secara pribadi pernah melakukan hal yang sama. Saya pernah mencoba beberapa jenis browser seperti Mozilla Firefox, Google Chrome, Opera, Flock, dan Internet Explorer. Pada tulisan kali ini saya hanya akan berbagi pengalaman saya menggunakan tiga jenis browser saja yaitu Mozilla Firefox, Google Chrome, dan Opera.
Mozilla Firefox merupakan jenis browser paling sering saya gunakan semenjak saya berpaling dari Internet Explorer. Secara keseluruhan saya menyukai browser ini karena tampilannya yang menyediakan ‘tab’ sehingga hanya dengan membuka satu ‘window’ saja saya dapat membuka beberapa halaman website yang berbeda. Selain itu yang membuat saya tertarik menggunakan browser ini adalah banyaknya add-on (fitur tambahan) yang dapat ditambahkan ke dalam browser ini untuk melengkapi fitur standar yang sudah disediakan. Saya telah cukup lama menggunakan browser ini, kurang lebih selama tiga tahun. Awalnya saya merasa puas dengan browser ini, namun seiring dengan muncul versi yang lebih baru dari Firefox, saya mulai menemukan suatu ketidakpuasan. Ketidakpuasan saya bukan terkait dengan fitur-fitur yang dimiliki oleh browser ini, melainkan pada semakin besarnya ruang memori yang diperlukan untuk menjalankannya. Berdasarkan pengamatan saya selama beberapa waktu, saya menemukan bahwa hanya untuk membuka beberapa tab saja, Firefox telah mengkonsumsi ruang memori hingga lebih dari 150 Mega Bytes. Konsumsi ruang memori tersebut akan semakin bertambah banyak ketika kita melakukan login ke suatu website tertentu atau ketika kita menambahkan beberapa add-on. Saya pernah mengamati bahwa konsumsi ruang memori Firefox dapat mencapai hingga diatas 220 Mega Bytes, hal ini tentu saja dapat menimbulkan masalah bagi para pengguna PC dengan kapasitas memori terbatas.

Praktek, Praktek, Praktek

Beberapa hari lalu, saya tanpa sengaja membaca suatu artikel yang berjudul “Bisa Karena Biasa” yang saya temukan di blog Denny Sumargo, seorang atlet basket profesional Indonesia. Membaca artikel membuat saya tersadar dan seolah diingatkan kembali mengenai betapa hebatnya pengaruh kebiasaan-kebiasaan kita sehari-hari. Pertama-tama kita membentuk kebiasaan kita, tetapi selanjutnya kebiasaan kita yang akan membentuk serta mempengaruhi seluruh sisa jalan hidup kita. Kebiasaan yang pada akhirnya akan menentukan apakah akan jadi hebat atau biasa-biasa saja.
Cerita tersebut benar-benar menginspirasi saya yang sedang membangun kembali kebiasaan-kebiasaan hebat yang saya percaya akan membantu saya untuk menjadi seorang pemenang. Pemenang dalam segala aspek hidup saya. Saya mempraktekkan, mempraktekkan, dan mempraktekkan kebiasaan yang membentuk saya menjadi seorang juara. Saya tidak ingin sekedar berteori atau menerima teori demi teori saja, tapi saya juga mulai lebih banyak praktek, praktek, dan praktek. Prakteklah yang akan menjadi saya lebih dapat menguasai serta memahami setiap teori atau pengetahuan yang saya peroleh. Prakteklah yang akan membentuk saya untuk benar-benar menjadi individu yang hebat dan unggul dalam bidang yang saya bisa.

Tickerbar

KumpulBlogger