Saturday, 26 June 2010

SUKSES DATANG MELALUI PROSES

Kalimat tersebut aku dengar dan baca beberapa tahun yang lalu dan kalimat tersebut aku jadikan sebagai welcome note di handphoneku. Namun setelah lama jarang membaca kembali kalimat tersebut, aku hampir dan bahkan mungkin bisa dibilang sudah melupakannya. Aku lupa bahwa untuk sukses aku harus melalui proses-proses yang tidak mudah untuk meraih puncak prestasi tertinggi.

Kini, hari ini, 26 Juni 2010, aku mengingat-ingat kembali kalimat tersebut dan akan terus berusaha mengingatnya sambil mengimplementasikannya dalam hidupku. Kalimat singkat yang bagus tersebut diucapkan oleh John C. Maxwell, pakar kepemimpinan dan pelatih sukses kaliber internasional. Kalimat yang benar-benar dahsyat dan jika diterapkan akan membawa efek yang dahsyat dalam kehidupanku.

Aku akui, puncak prestasi tertinggi yang pernah aku raih selama kehidupan di kampus adalah menjadi Ketua Panitia Pekan Kampus 2009. Tampaknya enak, namun akhirnya aku sadar bahwa aku berada di posisi itu melalui proses yang cukup panjang. Segalanya berawal dari posisi yang sangat bawah, posisi yang mungkin diremehkan oleh sebagian besar orang. Namun hal itulah yang justru membentuk dan semakin membangun serta memperkuat mental juangku. Waktu itu, aku mengatakan kepada diriku sendiri, bahwa aku percaya jika aku memberikan yang terbaik yang dapat aku berikan meskipun posisi rendah dalam suatu organisasi, suatu saat nanti aku akan mencapai posisi puncak dalam organisasi tersebut.

Akhirnya setelah sempat gagal pada tahun 2008, kesempatan itu datang juga. Tahun 2009 adalah tahun yang sangat istimewa bagiku, tahun dimana semua proses pembentukkan yang aku alami serta perjuangan yang aku lakukan tidaklah sia-sia. Aku akhirnya juga menjadi sadar bahwa pembentukkan yang keras dan tidak enak, kegagalan demi kegagalan yang kadang datang, serta beberapa peristiwa tidak enak lainnya, justru hal-hal seperti itulah yang semakin memperkuat mental kita dan semakin menunjukkan karakter kita yang sesungguhnya.

Aku sangat beruntung dan berterima kasih kepada kedua orang tuaku sebab mereka telah memberiku nama yang luar biasa. Sebuah yang memiliki arti luar biasa, yang akhirnya tercirikan dalam kepribadianku. Peter memiliki arti bukit batu karang, suatu bangunan bentukan alam yang sangat kokoh dan tangguh menghadapi hempasan gelombang laut yang kuat. Ternyata aku baru sadar bahwa nama itu merupakan cerminan dari harapan orang tua untuk para anaknya. Aku beruntung aku boleh memiliki orang tua yang memberikan harapan yang luar biasa untuk aku. Mereka berharap aku dapat menjadi seorang manusia yang tangguh setangguh bukit batu karang. Manusia yang handal dan memiliki mental sekuat baja dalam menghadapi setiap kesulitan, tantangan, dan beban. Manusia yang tidak mudah menyerah !

Sungguh, aku benar-benar bersyukur bahwa aku boleh mengalami proses demi proses semenjak aku kecil. Sungguh proses demi proses itulah yang membentuk mentalku serta semakin memperkuat karakterku. Aku penakut, namun aku seringkali dipaksa untuk berani. Aku benar-benar ingat bahwa terkadang aku meledak-ledak dan mudah marah, namun sebenarnya itu adalah letupan semangat yang besar yang ada dalam diriku. Aku beruntung bahwa aku boleh semuanya, dari dipukul menggunakan ikat pinggang, sandal, tongkat, dan lain-lain oleh orang tuaku ketika aku berbuat ulah atau kenakalan yang melebihi batas. Namun, aku yakin bahwa mereka ingin jadi individu yang lebih baik. Aku beruntung bahwa aku terjepit ke dalam lubang dan hampir tidak bisa keluar selama beberapa jam, sebelum akhirnya lubang tersebut dibongkar untuk memungkinkan aku keluar.

Aku beruntung bahwa aku boleh dipanggil ke kantor kepala sekolah pada masa sekolah dasar karena bermain petasan di sekolah. Hal tersebut mengajariku bagaimana cara menghadapi orang yang berada pada kedudukan paling tinggi dalam suatu organisasi dan hal itu pula yang semakin memperkuat mental serta keyakinan diriku. Aku juga beruntung pernah dikepung oleh beberapa orang karena pernah menghajar adik dari salah seorang dari mereka, yang justru berawal dari situ aku memperoleh beberapa teman yang tidak aku kenal sebelumnya yang menjadi pembelaku. Aku beruntung aku pernah membuat pusing sebagian guruku di sekolah menengah pertama karena beberapa kenakalan yang aku perbuat, yang bahkan hukuman macam apapun tidak mempan terhadapku. Sungguh orang yang benar-benar seperti batu karang (atau bebal ya ?). Namun dari satu aku boleh mengenal banyak guruku jauh melebihi teman-temanku yang lain, bahkan aku tidak kenal beberapa dari mereka namun mereka mengenal aku (selebriti dalam arti jelek, hahaha…).

Pada masa SMU, aku semakin menjadi. Semakin terkenal sejak dari SMP sampai SMU, dan bahkan sebagian besar murid sekolahku mengenal aku yang bahkan aku tidak mengenal sebagian besar dari mereka (lagi-lagi jadi selebriti gara-gara kenakalan yang aku perbuat hehehe…). Namun, kini semua kenakalan yang pernah aku perbuat tersebut mengajariku satu hal yang sangat berharga, seringkali kenakalan memang akan membuat kita dikenal oleh banyak orang, tetapi ada cara yang jauh lebih bagus untuk dikenal yaitu meraih prestasi dalam bidang-bidang seperti: akademis, olahraga, seni, dan lain-lain. Sebuah bentuk keterkenalan yang jauh lebih baik !

Kini, proses panjang tersebut tidaklah sia-sia, aku benar-benar menikmati hasil dari seluruh proses tersebut. Bahkan kini aku juga terus berusaha mengingatkan diriku sendiri untuk tidak takut menghadapi proses, sebab setiap kali aku diproses maka dapat dipastikan akan selalu ada perbaikan demi perbaikan yang akan terjadi pada diriku. Perbaikan demi perbaikan yang sudah pasti akan berguna untuk masa depanku. My very great thanks to my Jesus, my parent, and all people that shape my character !

PELAJARAN #6 DARI PEKAN KAMPUS 2009: BELAJAR MENJADI PEMBIMBING SERTA ORANG TUA

Seri keenam dari pelajaran yang aku dapatkan setelah selesainya Pekan Kampus 2009, dimana aku diberi tanggung jawab menjadi ketua pelaksana dari seluruh kegiatan yang merupakan acara tahunan yang diadakan di setiap awal tahun ajaran baru di kampusku. Seri pelajaran ini aku dapatkan setelah menelaah kembali semua yang telah aku lakukan selama mengemban jabatan tersebut dan dari semua kejadian yang terjadi selama masa tugasku tersebut.

Aku baru menyadari bahwa peranku yang sesungguhnya sebagai seorang ketua atau pemimpin ternyata tidak berakhir dengan berakhirnya Pekan Kampus 2009. Aku masih terus bertanggung jawab sampai sekarang terhadap seluruh orang-orangku di kepanitiaan tersebut dan terhadap seluruh peserta Pekan Kampus 2009. Tanggung jawab yang akan terus aku bawa seumur hidupku, sebab mereka semua secara tidak langsung tetap akan mengamati kehidupanku dan kemungkinan menjadikan aku acuan atau teladan hidupnya. Atas dasar kesadaran itulah, aku butuh untuk terus memperbaiki diri dalam segala hal, baik dalam sikap, omongan, dan hal-hal lainnya. Aku juga harus tetap menjaga integritas pribadiku dengan tetap tampil seperti ketika saat aku mengemban jabatan sebagai ketua panitia. Aku sadar bahwa sekarang hidupku bukan milikku lagi, sebab aku jadi acuan bagi banyak orang. Oleh karena itu aku butuh untuk terus tampil baik di depan mereka semua. Namun aku tidak hanya sekedar tampil baik saat hanya di depan mereka tetapi buruk di belakang, aku harus memiliki inside-out living yaitu apa yang aku tampilkan di depan mereka sama dengan apa yang aku tampilkan saat aku tidak di depan mereka. Itulah arti integritas atau integrity yang sesungguhnya, dan aku akan terus berupaya yang terbaik untuk dapat menerapkannya !

Aku juga sadar bahwa ternyata peranku bagi mereka semua, baik bagi panitia maupun peserta, bukan hanya sebagai ketua atau pemimpin mereka, melainkan aku juga bertindak seolah-olah aku adalah orang tua kedua mereka. Hal ini aku sadari sebab secara tidak langsung aku menjadi orang kedua yang membimbing mereka tentang apa yang baik dan apa yang kurang baik atau tidak baik. Oleh karena itu aku sadar bahwa peranku benar-benar seperti seorang pembimbing dan orang tua bagi mereka semua. Atas dasar kesadaran tersebut, berarti aku harus benar-benar memposisikan diriku seperti seorang orang tua bagi mereka. Aku tidak hanya harus mendisiplinkan serta memarahi mereka, melainkan juga berkewajiban untuk mengasihi mereka serta menjadi teladan bagi mereka melalui kehidupanku.

Tanggung jawab sebagai panitia Pekan Kampus, khususnya sebagai ketua Pekan Kampus, tidak akan pernah berakhir dengan berakhirnya kegiatan Pekan Kampus itu sendiri. Tanggung tersebut adalah tanggung jawab seumur hidup dan karena itu aku butuh untuk terus melatih diriku sendiri agar dapat terus menjadi teladan bagi mereka semua, khususnya para generasi baru STTS serta generasi baru panitia Pekan Kampus yang akan menggantikan tugas panitia yang lama. Aku juga sadar bahwa mereka semua lebih butuh teladan dalam tindakan, sikap, omongan, pola pikir, lebih daripada sekedar pengajaran lewat omongan. Mereka semua butuh contoh teladan nyata dari hidupku.

Akhir-akhir ini aku juga ingat soal apa yang Ki Hajar Dewantara pernah ucapkan beberapa puluh tahun lalu, yaitu ‘ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani’, yang dalam bahasa Indonesia ‘di depan memberikan teladan atau contoh, di tengah membangun kehendak bersama, dan di belakang memberikan dorongan semangat’. Kalimat tersebut memang diucapkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam kapasitasnya sebagai guru dan memang ditujukan untuk para guru, namun ternyata aku sadar bahwa kalimat tersebut bisa juga diterapkan dalam bidang kepemimpinan. Seorang pemimpin harus memberi teladan di depan orang-orangnya, harus membangun kehendak untuk dapat bekerja bersama orang-orangnya, dan mereka harus memberikan dorongan semangat atau dukungan dari belakang untuk orang-orangnya. Sebuah kesadaran yang sangat berharga bagi diriku sendiri dan hal ini menuntutku untuk belajar lebih lagi serta benar-benar menerapkan prinsip yang bagus tersebut agar aku dapat benar-benar menjadi orang tua kedua bagi mereka semua. Ya, orang tua kedua !

Tickerbar