Saturday, 24 September 2011

Menang Atas Diri Sendiri

Beberapa bulan yang lalu, saya pernah mendengar kalimat yang menjadi judul tulisan ini. Sejak saat itu hingga sekarang, saya masih sering mendengar atau membaca kalimat tersebut. Kalimat tersebut juga terus terngiang-ngiang di telinga serta terus muncul di pikiran saya.
Saya tidak akan pernah atas orang lain, jika saya tidak dapat menang atas diri saya sendiri. Yang saya maksudkan dengan menang disini bukanlah memenangkan perkelahian, sengketa, cekcok, adu pendapat yang tidak penting, dan segala jenis kemenangan yang negatif lainnya. Namun, kemenangan atas orang lain yang saya maksudkan adalah bagaimana saya dapat memenangkan perasaan mereka, mampu memimpin mereka, mampu mengarahkan cara berpikir dan bertindak, serta mampu berdamai dengan mereka. Saya tidak mungkin menang atas semuanya itu, jika saya tidak menang atas diri saya sendiri dalam semua hal tersebut.
Saya tidak mungkin menang atas orang lain, jika saya belum pernah menang atas diri saya sendiri. Pernyataan terus dan terus terngiang di pikiran saya, hingga akhirnya saya benar-benar menyadarinya. Saya tidak mungkin mampu mendisiplin orang lain, jika saya tidak mampu mendisiplin diri saya sendiri. Saya tidak mungkin mampu memimpin orang lain, jika saya tidak mampu memimpin diri saya sendiri. Saya tidak dapat memahami orang lain, jika saya tidak terlebih dahulu dapat memahami diri saya sendiri. Saya tidak mungkin mampu berdamai dengan orang lain, jika saya tidak mampu berdamai dengan diri saya sendiri. Semua hal tersebut menjadikan saya tersadar dan sekaligus menjadi pemicu awal saya untuk mulai belajar kembali mengenai disiplin diri, kepemimpinan diri, manajemen diri, pengenalan yang mendalam akan diri sendiri, kemampuan untuk berdamai dengan segala masa lalu saya, dan sebagainya.
Saya akhirnya benar-benar percaya bahwa saya tidak akan mampu menang, bersahabat, mengerti atau memahami, memimpin, mendisiplin orang lain, jika saya tidak terlebih dahulu mampu melakukannya terhadap diri saya sendiri. Saya harus berupaya menang atas diri saya sendiri sebelum saya dapat menang atas orang lain. Bagaimana menurut kalian ?

Thursday, 22 September 2011

Belajar dari SpongeBob

Saya sebenarnya tidak terlalu suka (baca: berupaya mengurangi) menonton televisi, khususnya untuk acara yang tidak bermutu dan film kartun, maka dari itu tentu saja saya juga jarang menonton film SpongeBob. Saya sesekali memang menontonnya sambil saya makan, itupun juga karena teman satu kos saya yang gemar menonton film tersebut dan dia sedang menontonnya, jadi saya pun terpaksa ikut menonton. Saya menontonnya hanya sampai acara makan saya usai. Namun dari proses menonton yang hanya sekilas-sekilas tersebut, saya tetap dapat memperoleh suatu hal yang bermakna dari film tersebut. Saya memperoleh suatu hal yang dapat menjadi inspirasi bagi saya dan kemungkinan juga bagi banyak orang.
Tokoh SpongeBob sebenarnya adalah tokoh yang baik, jika kita mau jeli mencermatinya. Dia merupakan tokoh yang setia, loyal, ceria, tekun dan disiplin dalam bekerja, dan juga ceria. Namun kali ini saya lebih menyoroti aspek loyalitas, ketekunan, serta kedisiplinannya dalam bekerja. Saya sempat menonton salah satu episode dimana tokoh SpongeBob diberi cuti kerja oleh majikannya Tuan Crab, tetapi dia tetap memaksa untuk masuk bekerja. Dia ingin tetap bekerja karena dia merasa bosan di rumah dan ingin membantu agar restoran Tuan Crab dapat tetap laris serta menghasilkan banyak keuntungan. Dia tetap ingin bekerja dan tidak ingin libur karena dia tahu bahwa dia lah satu-satunya juru masak di restoran tersebut. Dia tahu jika dia tidak masuk, maka tidak akan ada orang lain yang dapat menggantikan dia untuk memasak menu istimewa di restoran tersebut. Dia tetap memaksa masuk kerja, bahkan secara diam-diam, meskipun bosnya telah mengijinkan dan memaksa dia untuk mengambil cuti sebab dia tidak pernah mengambil cuti.

Monday, 19 September 2011

Rutin Berlatih

Dahulu, pada masa awal saya kuliah, saya mempunyai satu kebiasaan yang selalu jalankan bahkan ketika liburan sekalipun. Kebiasaan tersebut adalah tetap belajar atau tetap berlatih. Setiap kali liburan kuliah saya selalu pulang ke rumah dan sesaat sebelum pulang ke rumah saya biasanya bertanya pada diri saya sendiri beberapa pertanyaan, “liburan kali ini belajar apa ?”, “buku apa yang akan saya baca pada liburan kali ini ?”, dan “bagaimana saya mengisi liburan kali ini ?”. Saya selalu menanyakan pertanyaan-pertanyaan tersebut, bahkan sejak jauh-jauh hari sebelum masa liburan tiba. Kebiasaan tetap belajar tersebut pada akhirnya mampu membawa saya menjadi salah seorang individu yang memiliki semangat serta kualitas yang berbeda.
Namun, selama sekitar tiga tahun terakhir, saya melupakan kebiasaan baik yang saya miliki di awal hingga pertengahan masa kuliah, sehingga kualitas diri saya menurun dan begitu pula dengan kualitas dari setiap hal yang saya kerjakan. Sekitar satu bulan terakhir, saya akhirnya kembali tersadar bahwa saya perlu berupaya keras untuk memulai kembali kebiasaan baik tersebut. Saya perlu berupaya untuk membiasakan diri saya sendiri tetap rutin belajar dan berlatih agar diri saya senantiasa dalam kondisi terbaik serta selalu bertumbuh dan menjadi pemenang dalam setiap situasi.

Tickerbar