Sunday, 30 December 2012

Semua Kemampuan Hebat Tak Datang Begitu Saja

Talenta atau bakat memang dianugerahkan secara gratis sejak dari awal semula kita dilahirkan ke dunia ini. Namun semua talenta atau bakat tersebut tetaplah akan menjadi talenta atau bakat jika kita tidak pernah melatihnya setiap waktu setiap saat hingga berkembang menjadi berbagai macam keahlian atau kemampuan. Kita memang seringkali terkesan ‘mendewakan’ orang-orang dengan talenta atau bakat yang hebat, namun sebenarnya yang hal itu bukanlah talenta atau bakat yang hebat, melainkan kemampuan atau keterampilan yang hebat.

Setiap kemampuan atau keterampilan hebat yang seseorang miliki selalu hampir dapat dipastikan berasal dari talenta atau bakatnya yang terus dilatih dan dilatih setiap hari, setiap waktu sedini mungkin. Dan karena siapapun diberi talenta, maka siapapun juga memiliki kemampuan hebat. Hanya saja keputusan tersebut ada di tangan masing-masing orang secara pribadi, apakah mereka mau serius dan tekun melatih serta mengembangkan talenta yang dimilikinya tersebut hingga menjadi hebat. Keputusan masing-masing individu berbeda-beda dan itu pula yang mempengaruhi mengapa kemampuan atau kehebatan setiap individu berbeda-beda.

Jadi, kesimpulannya adalah setiap orang pada dasarnya berbakat, hanya saja tidak setiap orang menjadi ahli atau memiliki kemampuan yang hebat. Sebab bakat hanyalah dasar saja dan baru akan menjadi sebuah keahlian atau kemampuan hebat jika kita sebagai pribadi mau mengambil keputusan untuk dengan tekun dan serius melatihnya setiap hari dan setiap saat di dalam hidup kita. Tak ada orang yang tiba-tiba menjadi hebat, semua orang yang sekarang yang menjadi hebat mengalami proses yang cukup untuk dapat menjadi dirinya yang sehebat sekarang. Sekian dan semoga bermanfaat bagi kita semua.

Saturday, 29 December 2012

Kualitas Pribadi Yang Meningkat


Pagi ini, saya membaca judul berita online yang memberitakan salah satu opini pimpinan lembaga negara yang menyatakan bahwa kualitas undang-undang yang dihasilkan para wakil rakyat kita menurun. Berita tersebut dengan segera memberikan inspirasi kepada diri saya secara pribadi untuk membuat tulisan. Tulisan mengenai peningkatan pribadi saya.
Sebagai pribadi, kita semua juga memiliki kualitas individu yang kita nilai sendiri maupun dinilai oleh orang lain disekitar kita. Kualitas diri kita memiliki berbagai macam level atau tingkatan, mulai dari tingkat terendah sampai tingkat tertinggi. Walaupun memang cukup susah juga untuk menentukan rentang penilaian yang pasti untuk kualitas individu seseorang, sebab memang kualitas individu adalah sesuatu yang tidak kasat mata. Namun, bagaimanapun juga diri kita maupun orang-orang disekitar kita dapat ‘melihat’ dan merasakan kualitas diri kita.
Nah, mengingat hal di atas, adalah tugas serta tanggung jawab kita secara pribadi untuk meningkatkan kualitas pribadi kita. Kewajiban yang sangat utama untuk terus meningkatkan keahlian teknik, keahlian non-teknik, sikap positif, dan berbagai hal lainnya yang penting dan diperlukan di dalam diri kita untuk meraih segala impian dan puncak kesuksesan yang kita idamkan. Saya sebagai pribadi juga tentu saja wajib untuk melakukan peningkatan kualitas diri saya agar nilai jual saya secara pribadi semakin meningkat di tengah persaingan atau kompetisi yang semakin ketat. Peningkatan kualitas pribadi ini sangat penting dan semakin penting serta mendesak agar saya dapat terus ‘survive’ di tengah kompetisi yang ketat. Banyak upaya harus terus dilakukan, banyak manuver atau pergerakan diperlukan agar terus dapat berada di garis terdepan dalam persaingan untuk memenangkan kompetisi.

Wednesday, 26 December 2012

Entrepreneur Tak Ragu Bekerja 24 Jam

Saya sampaikan dalam Kuliah Umum Prasetiya Mulya kemarin betapa menjadi entrepreneur yang sukses membutuhkan perjuangan yang tidak sedikit, dan mereka harus bersiap untuk banyak berkorban. Kehidupan seorang entrepreneur tidak melulu menyenangkan, tetapi juga penuh dengan pengrobanan dalam berbagai bentuk. Kenyataan ini perlu disadari oleh generasi muda kita agar secara mental dan psikologis mereka sudah siap.

Misalnya saja Anda memiliki usaha tambak. Saat cuaca hujan deras di malam hari, Anda harus bangun dan pergi ke tambak Anda untuk memeriksa apakah ikan yang Anda sudah kembangbiakkan dengan susah payah selama ini masih aman atau terbawa arus banjir dari sungai di sekitarnya. Nah, saya yakin tidak semua orang apalagi para pemuda mau bekerja keras seperti itu.

Yang saya ketahui, hampir semua pengusaha sukses yang saya pernah temui memiliki komitmen yang sangat tinggi untuk mau dan bersedia bekerja kapanpun demi usaha mereka. Pengusaha-pengusaha besar seperti Lim Sioe Liong, Eka Tjipta, termasuk saya tidak mengeluh saat dihubungi di waktu-waktu istirahat kami untuk membicarakan urusan bisnis yang urgent. Karena memang bisnis inilah penghidupan kami.

Saat bawahan saya baru menelpon 1 kali, saya setidaknya menelpon lebih banyak karena saya entrepreneur, saya harus menjadi kekuatan pendorong atau driving force untuk bawahan saya. Mereka masih profesional.

Karena itu, saya kembali lontarkan pertanyaan ini pada mereka yang hendak menjadi entrepreneur: "Apakah Anda mau mati-matian berpikir dan bekerja, tidak cuma dengan keras tetapi cerdas?" Bukan 'clever', tetapi 'smart', cerdas!


Friday, 21 December 2012

Menantang Diri Sendiri

Pagi hari ini menyempatkan diri untuk membaca surat kabar yang dibeli kemarin hari. Ada beberapa bagian yang belum sempat dilihat dan dibaca, maka pagi ini disempatkan untuk melanjutkan membaca sejenak. Membuka bagian kolom inspirasi bisnis dan terdapat profil salah satu pengusaha muda yang dengan modal yang minim dan nekat berani membuka usaha. Kini setelah beberapa usaha yang dibangunnya telah menghasilkan omzet hingga ratusan juta dalam sebulan. Namun yang menjadi inspirasi utama bukanlah soal omzet usahanya yang telah mencapai ratusan juta dalam sebulan, melainkan latar belakang atau motivasinya dalam merintis bisnis.
Menantang diri sendiri, itulah alasannya dalam memutuskan untuk membangun atau merintis bisnisnya sendiri. Latar belakangnya adalah seorang wartawan dan dia sudah merasa cocok dan nyaman dengan profesi tersebut, namun seiring dengan berlalunya waktu dia mulai merasakan tidak tantangan dalam profesi yang dijalaninya tersebut, dan akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari profesinya dan membangun bisnis. Dia dengan penuh keberanian memutuskan untuk keluar dari zona nyaman profesinya sebagai wartawan dan menjadi seorang entrepreneur. Dia tetap nekat keluar walaupun orang tuanya menentang lantaran bisnis mebel yang akan ditekuninya merupakan bisnis yang bersifat musiman, namun justru disitulah dia merasa tertantang untuk membuktikan pada orang tuanya bahwa bisnis mebel pun bisa menjadi bisnis yang bukan musiman lagi.

Thursday, 13 December 2012

Selalu Kembali Ke Jalur Yang Benar


Setiap kita di sepanjang perjalanan hidup kita memiliki kemungkinan untuk keluar dari jalur hidup yang benar yang telah kita rancang untuk kehidupan masa sekarang maupun masa depan kita. Kita mungkin telah merancang jalur target maupun jalur impian yang harus kita kejar atau wujudkan, namun di sepanjang perjalanan dengan adanya berbagai macam godaan yang datang dari luar serta adanya sesuatu yang ‘kurang tepat’ di dalam diri maupun pikiran kita, kita dapat teralihkan atau keluar dari jalur rancangan kita sendiri.
Namun, walau sebanyak apapun godaan yang sering membuat kita keluar dari ‘jalur’ tersebut, selalu ada satu hal yang juga harus menyertainya yaitu kesadaran diri. Kesadaran diri bahwa kita telah keluar dari ‘jalur’ yang sudah seharusnya dan semestinya kita lalui. Kesadaran untuk segera kembali ke ‘jalur’ yang benar segera setelah menyadarinya bahwa kita telah keluar ‘jalur’. Kesadaran untuk kembali berada di track yang tepat dalam upaya meraih seluruh target dan mewujudkan impian kita. Saya pikir, tidaklah terlalu menjadi masalah bahwa kita pernah atau sedang keluar ‘jalur’, yang paling menjadi masalah atau fokus utama kita seharusnya adalah memunculkan kesadaran diri agar dapat mengetahui apakah kita sudah berada di ‘jalur’ atau arah yang benar atau tidak. Kesadaran dan kemampuan untuk introspeksi diri pribadi guna terus mengetahui serta mengawasi arah perjalanan hidup yang sedang kita lalui dan tempuh. Kesadaran dan kemampuan untuk mengawal tiap ayunan langkah kehidupan kita serta kemampuan untuk mengembalikannya ke ‘jalur’ yang benar setiap kali kita menyimpang.

Saturday, 10 November 2012

Anda Tidak Harus Kuliah !

Dahulu, saya berpikir bahwa setelah lulus dari masa pendidikan menengah atas saya harus melanjutkan ke bangku kuliah. Itu pula yang sering saya dengar dari orang tua, rekan-rekan sekolah saya, dan beberapa orang lain. Namun, kini saya menyadari dan berani mengatakan bahwa Anda (kita) tidaklah harus melanjutkan pendidikan ke jenjang bangku kuliah (pendidikan tinggi). Benar, Anda tidak harus melanjutkan pendidikan ke jenjang tertinggi tersebut.
Saya mengatakan bahwa Anda tidaklah harus melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah, namun bukan berarti Anda tidak perlu kuliah. Anda dapat saja melanjutkan kuliah jika Anda merasa perlu dan yakin bahwa kalian akan dapat memperoleh ilmu yang benar-benar berharga disana. Ilmu yang kalian yakini dapat membantu kalian untuk meraih masa depan yang lebih cerah atau membantu kalian untuk dapat mewujudkan atau meraih impian masa depan kalian. Kalian dapat saja memutuskan untuk kuliah jika kalian dengan pasti mengetahui bahwa pendidikan universitas akan memberi kalian semua pengetahuan dan keahlian yang pasti dapat kalian gunakan untuk tujuan masa depan kalian. Pengetahuan dan keahlian yang benar-benar dapat digunakan segera setelah kalian menyelesaikan kuliah (lebih baik lagi jika sebelum lulus pun sudah dapat digunakan), bukan sekedar teori-teori yang tidak jelas dimana dapat digunakan atau bahkan yang lebih parah lagi tidak jelas apakah benar-benar dapat dipraktikkan.
Saya berikan satu contoh mengenai argumen saya di atas. Misal, kalian bermimpi menjadi seorang artis peran profesional, maka jika kalian tahu bahwa untuk meraihnya kalian membutuhkan pendidikan universitas, maka pergilah kuliah. Jika tidak, janganlah kuliah, lebih baik mengikuti kursus atau pelatihan yang diadakan oleh artis peran berpengalaman atau belajar langsung dari mereka dengan menjadi rekan mereka dalam suatu film. Meskipun tentu saja untuk dapat menjadi rekan mereka, kalian harus berupaya keras agar dapat diterima melalui audisi agar dapat menjadi seorang pemeran dalam suatu film yang dibintangi mereka, tanpa terlalu apapun peran yang kalian dapat (termasuk figuran sekalipun).

Saturday, 20 October 2012

Pengalaman Apapun Ada Sebagai Pelajaran


Saya sedang membaca sebuah buku pengembangan diri, buku yang ditulis oleh salah seorang pengembangan diri dan juga penulis buku ternama yang telah berhasil mempraktekkan segala sesuatu yang dia tulis dalam bukunya maupun ajarkan dalam setiap pelatihan yang diadakannya. Saya membaca karyanya dengan tujuan untuk membantu membimbing saya agar dapat terus bertumbuh dan bertumbuh ke level berikutnya. Tulisan ini adalah salah satu dari begitu banyak pelajaran hebat yang dia ajarkan. Semoga sharing saya bermanfaat.
Setiap hari dalam hidup yang kita jalani, dapat dipastikan bahwa kita pasti selalu mengalami segala kejadian maupun peristiwa kehidupan. Peristiwa baik maupun peristiwa yang kita anggap kurang baik. Satu hal yang berhasil saya pelajari dari pelatih dan mentor saya tersebut adalah bahwa setiap pengalaman yang kita alami dalam kehidupan kita sehari-hari adalah baik. Pengalaman tersebut adalah baik dan sempurna adanya dan memang diijinkan untuk ada disana untuk kebaikan kita sendiri. Seluruh pengalaman tersebut ada untuk menyempurnakan diri dan kehidupan kita serta memperkaya diri kita.
Kita harus belajar untuk mau menerima seluruh pengalaman yang datang dalam hidup kita, pengalaman baik maupun pengalaman kurang baik. Menerimanya dengan tulus dan mengambil pelajaran dari setiap pengalaman apapun jenisnya akan dapat mendorong serta membantu kita menjadi individu yang lebih baik. Terimalah dan cintailah setiap masalah yang datang dalam hidup kita. Cintailah masalah apapun yang datang dalam hidup kita, namun sertailah dengan suatu kesadaran untuk mengubahnya dan memanfaatkannya untuk membantu kita bertumbuh.

Thursday, 27 September 2012

Knowledge to Survive


“Seseorang dapat bertahan dengan atau tanpa gelar. Tidak ada dampak secara langsung antara gelar dengan survival, tetapi knowledge dengan survival. Tujuan kita ke kampus kan untuk belajar.” – Arief Widhiyasa, CEO of Agate Studio, Drop Out ITB.
Kalimat di atas merupakan sebuah kalimat yang dahsyat bukan ? Saya secara tidak sengaja menemukan kalimat tersebut tahun 2011 lalu kala sedang membaca sebuah artikel berita di salah satu situs berita online ternama. Kalimat tersebut diucapkan oleh seseorang yang masih sangat muda (sekitar usia 24 tahun pada waktu artikel berita tersebut dimuat) yang mengetahui passion serta impiannya dan berani memperjuangkan dengan cara mengambil sebuah keputusan yang berani pula. Kalimat yang sudah selayaknya menyadarkan semua generasi muda mengenai tujuan yang sesungguhnya dari belajar, khususnya belajar di bangku kuliah.
Saya masih ingat benar, sewaktu masa kuliah dulu, beberapa diantara rekan-rekan saya tampaknya berada di bangku kuliah hanya sekadar untuk ‘kuliah’ dan memperoleh gelar, tidak terlihat atau sangat sedikit terlihat bahwa niat mereka kuliah adalah untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan yang akan bermanfaat bagi mereka di masa depan. Beberapa diantara mereka tampaknya kuliah hanya sekadar ‘kuliah’, datang, absen, dan pulang setelah selesai (bahkan beberapa sudah meninggalkan kelas sebelum waktunya). Kala masa ujian pun tiba, mereka sekadar datang dengan harapan mendapatkan contekan jawaban dari rekannya yang lain yang mereka anggap lebih pintar dari mereka.
Kala itu, saya sangat tidak setuju dengan cara mereka. Saya pun selalu memilih tempat duduk pada posisi se-depan mungkin kala ujian agar tidak memberi mereka kesempatan untuk mencontek. Saya tidak merasa sok pintar, sebab saya tahu ada beberapa teman yang lebih pintar dari saya. Namun saya berpikir bahwa saya ada disana untuk belajar dan berjuang untuk mewujudkan impian saya yaitu memperoleh nilai sebaik mungkin dan saya juga bahwa setiap orang harus memperjuangkan nasib mereka sendiri, bukan menggantungkan nasib pada orang lain. Kita dapat meminta tolong pada orang lain, namun pada saat yang tepat dan untuk tujuan yang tepat, serta tidak terkesan menggantungkan nasib pada orang lain.

Wednesday, 26 September 2012

Siapapun Punya Pilihan dan Berhak Memilih !


Selama beberapa bulan terakhir, saya belajar mengenai hal ini, yaitu pilihan. Penulis dari salah satu buku yang saya baca beberapa bulan lalu membuka pikiran saya mengenai pilihan. Suatu gagasan yang merasuk ke dalam pikiran yang membuat saya berubah pikiran tentang pilihan yang dimiliki oleh setiap orang.
Sejauh yang saya akhir-akhir ini sadari dan pahami, saya sering kecewa atau kurang suka ketika ada rekan yang saya tawarkan gagasan untuk bekerja bersama mewujudkan suatu impian tertentu yang menantang, sangat besar, dan sangat menggairahkan untuk dicapai. Impian yang saya tahu dengan pasti akan memberikan imbal balik yang sesuai dan sangat luar biasa. Itulah sekilas tentang sebagian dari pola pikir saya di masa lalu.
Namun selama sekitar tiga bulan terakhir, saya belajar dan terus belajar untuk mampu menerima keadaan dengan menyadari bahwa rekan-rekan yang saya tawari untuk bekerja sama mewujudkan impian juga berhak untuk memilih dengan siapa mereka ingin bekerja sama. Mereka memiliki pilihan yang berhak mereka gunakan dalam hidup mereka. Menyadari hal tersebut, saya dapat semakin menerima ketika ada rekan yang saya tawari tentang gagasan untuk mewujudkan impian-impian besar, namun mereka tidak mau menerima tawaran saya.
Di satu sisi, saya semakin dapat menerima perbedaan pandangan dan pilihan hidup yang saya maupun rekan-rekan saya pilih. Di sisi yang lain, saya juga menyadari serta mengingatkan pada diri saya sendiri bahwa baik saya maupun mereka juga harus bersedia menerima konsekuensi dalam hal apapun terkait pilihan yang kami buat. Kami harus berani bertanggung jawab atas segala hasil maupun akibat yang diperoleh dari pilihan yang telah kami buat, entah itu hasil baik atau hasil kurang baik.

Saturday, 22 September 2012

Tipe-Tipe Database Utama


Sebagai seseorang dengan latar belakang pendidikan komputer dan bidang pekerjaan terkait dengan pengembangan perangkat lunak untuk beragam tujuan, termasuk pengolahan data, maka secara umum tidak dapat lepas pula dari perlunya pengetahuan dan keahlian dalam bidang database. Secara umum banyak sekali database, namun terdapat empat tipe database utama yang akan dijelaskan secara ringkas dalam tulisan kali ini. Sumber tulisan ini berasal dari buku yang berjudul: Oracle 11g for Dummies. Saya kebetulan sedang membaca buku tersebut sebagai bentuk persiapan sebelum memberikan kursus database dan sekaligus untuk mengupgrade pengetahuan dan keahlian. Berikut empat jenis database tersebut.
Online Transactional Processing (OLTP) merupakan tipe atau jenis database yang digunakan untuk mendukung aplikasi yang berorientasi transaksi dimana diperlukan adanya respon yang cepat dan sejumlah besar data baru akan dimasukkan atau diubah secara teratur.
Decision Support System (DSS) merupakan tipe database yang digunakan untuk melakukan pemrosesan data serta melakukan penilaian terhadap data untuk mendukung pengambilan keputusan. Tipe database ini biasanya melibatkan sejumlah besar query yang bersifat sementara saja.
Online Analytical Processing (OLAP) merupakan tipe database yang digunakan untuk melakukan analisa data. Umumnya tipe database ini digunakan untuk intelejen bisnis maupun penggalian informasi dari data, seperti penentuan anggaran atau peramalan (forecasting).
Hybrid merupakan tipe database yang bersifat multifungsi. Sebagian besar database hybrid memuat kemampuan untuk berurusan dengan data transaksional, memproses query sementara, dan melakukan sejumlah pemrosesan lain. Tipe-tipe database dengan ukuran lebih besar yang memiliki kebutuhan pada tingkat layanan pada umumnya terhubung secara langsung dengan basis data yang hendak diolah dengan tujuan untuk kemudahan dalam pengelolaan serta peningkatan performa kerja.
Demikian berbagi pengetahuan kali ini yang membahas secara singkat mengenai empat tipe database utama. Semoga pengetahuan yang saya bagi dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Jika ada komentar, pertanyaan, ingin berbagi pengetahuan, maupun membutuhkan layanan untuk pelatihan bidang komputer, silakan tinggalkan komentar pada tulisan ini. Saya nantikan komentarnya ?

Nasib Kita Di Tangan Siapa ?


Hi, apa kabar semua pengunjung setia blog Action Man ini ? Tulisan terbaru untuk kalian semua dan untuk kita renungkan bersama di pagi hari ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua.
Nasib, kita sering mendengar kata ini dituliskan maupun diucapkan bukan ? Kita sering mendengar banyak hal seputar, mulai nasib baik, nasib buruk, nasib mujur, dan sebagainya. Kita juga seringkali mengaitkan kesuksesan atau kegagalan seseorang atau diri kita sendiri dengan nasib atau keberuntungan. Benar demikian bukan ?
Pertanyaannya, jika memang benar nasib itu ada dan tingkat sukses atau gagal kita dipengaruhi oleh nasib atau kemujuran, siapakah yang bertanggung jawab terhadap nasib kita ? Beberapa waktu lalu, saya membaca sebagian dari buku pengembangan yang diri yang menurut saya luar biasa bagus. Buku tersebut berjudul, Master Your Mind Design Your Destiny yang ditulis oleh seorang motivator dan sekaligus pengusaha asal Singapura, Adam Khoo. Saya menyebutkan judul dan pengarang buku tersebut bukan untuk mempromosikannya dengan alasan apapun, kecuali bahwa buku tersebut memang bagus dan kemungkinan besar dapat memberikan manfaat bagi kalian.
Dalam buku Master Your Mind Design Your Destiny, sang penulis menyebutkan bahwa kita adalah orang yang bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita. Kita bertanggung jawab terhadap pikiran kita, ucapan kita, tindakan kita, kesuksesan maupun kegagalan yang kita raih, tingkat pemahaman orang lain terhadap diri kita maupun ucapan dan tindakan kita. Pada intinya kita semua memegang tanggung jawab penuh terhadap segala yang kita dapatkan, rasakan, pikirkan, maupun yang orang lain rasakan atau pikirkan terhadap diri kita.

‘Menderita’ Untuk Bertumbuh


Zona nyaman, saya percaya kita semua sudah sering mendengarnya bukan ? Seperti kita mungkin sudah sering ketahui dan dengar, para motivator maupun trainer pertumbuhan sering menyebutkan bahwa zona nyaman adalah musuh dari pertumbuhan pribadi. Pada saat kita mulai sesuatu, entah pekerjaan atau aktivitas lainnya, mungkin merasa tidak nyaman. Namun seiring mulai seringnya kita melakukan sesuatu tersebut, maka perlahan tetapi pasti kita mulai merasa nyaman. Benar demikian bukan ?
Tulisan ini saya buat bukan untuk memotivasi siapapun, sebab saya bukanlah seorang motivator, walaupun secara pribadi saya juga senang mendengar para motivator maupun membaca karya-karya mereka. Tulisan ini saya buat secara tiba-tiba ketika membaca sebuah artikel berita yang ditulis oleh seorang CEO dari salah satu BUMN besar di Indonesia. Pada salah satu bagian artikel tersebut, secara gamblang dia menyebutkan bahwa jika perusahaan yang dia pimpin ingin menjadi lebih besar dan bahkan berbicara di tingkat regional, maka setiap orang dalam perusahaan harus terbiasa untuk merasa tidak nyaman. Sebab untuk dapat terus bertumbuh seringkali memang menyakitkan.
Membaca pernyataan tersebut, saya semakin diingatkan kembali tentang kenyamanan. Akhir-akhir ini saya pun sudah sering membaca, mendengar, dan bahkan mengucapkannya sendiri bahwa jika saya ingin terus bertumbuh, menjadi lebih baik, lebih besar, lebih sukses, dan sebagainya, maka saya harus belajar untuk ‘memaksa’ diri saya sendiri untuk melampaui semua batasan yang ada dalam diri saya saat ini. Saya meyakini bahwa hal itu benar adanya, walaupun saya sendiri juga mengetahui bahwa seringkali zona nyaman itu memerangkap diri sendiri untuk dapat bertumbuh melampaui batasan-batasan yang ada dalam diri saya maupun di lingkungan sekitar saya.

Wednesday, 5 September 2012

Pengarahan Diri

Bagi Anda yang sering mengunjungi blog ini, mungkin telah mengetahui bahwa ragam tulisan di blog ini banyak sekali. Mulai dari teknologi informasi, kepemimpinan, motivasi, ilmu pengetahuan, renungan hidup, sepak bola, iseng, aktualisasi diri, dan sebagainya. Saya juga memiliki sebuah blog lagi di wordpress yang khusus saya tujukan untuk artikel bidang teknologi informasi, namun karena sejumlah kesibukan, maka untuk sementara tidak terurus dengan baik.
Akhir-akhir ini, saya sedang terpikir untuk lebih memfokuskan tulisan artikel di blog ini pada sejumlah pokok bahasan utama saja, agar dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi para pengunjung atau pembaca setia blog ini serta agar blog ini juga lebih memiliki fokus dan bobot yang tinggi. Saya belum memiliki gambaran yang pasti tentang topik utama apa saja yang akan saya jadikan sebagai pengisi blog ini, sejauh ini yang terpikir adalah topik mengenai teknologi informasi, pemrograman komputer, kepemimpinan, motivasi, dan renungan atas kejadian yang ada dalam hidup. Namun topik-topik tersebut masih belum final, saya masih akan memikirkannya lebih lagi sebelum mengambil keputusan akhir.
Satu hal yang pasti perubahan ini juga saya tujukan sebagai upaya untuk mengarahkan diri sendiri agar lebih fokus pada sejumlah bidang saja, bukan pada banyak atau bahkan semua bidang. Melalui pengarahan diri ini, saya harapkan dapat membuat diri saya sendiri lebih memiliki spesialisasi keahlian yang menonjol serta dapat memberikan manfaat maksimal bagi sebanyak mungkin orang melalui keahlian utama saya. Sebab hanya dengan fokus pada bidang-bidang utama saja, kita semua dapat menjadi benar-benar ahli pada bidang-bidang yang kita pilih. Kita semua harus memilih bidang apa yang ingin kita fokuskan sebagai keahlian utama kita, sebab kita akan cukup sulit untuk menjadi ahli di semua bidang.

Monday, 27 August 2012

Stop Talking, Start Doing !


Sudah sangat lama sekali saya tidak menuangkan gagasan dalam tulisan. Pagi ini inspirasi menghampiri dan langsung saja saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Inspirasi ini datang dari pengalaman saya sendiri dalam sekitar dua bulan terakhir. Pengalaman yang berhubungan diri saya pribadi maupun orang-orang disekitar saya. Semoga bermanfaat !

Banyak orang memiliki gagasan atau ide yang bagus sekali. Namun berapa banyak yang benar-benar menuangkan gagasannya dalam bentuk suatu karya atau tindakan yang nyata ? Kemungkinannya tidaklah banyak. Banyak orang yang memiliki gagasan atau wacana, dan tetap menjadikannya sebagai gagasan atau wacana saja. Banyak orang, kemungkinan juga termasuk saya sendiri, pintar menjalin ide, gagasan, teori, wacana, dan sejenisnya, namun sedikit yang benar-benar bertindak mewujudkan seluruh ide, gagasan, teori, maupun wacana tersebut.

Saya belajar banyak akhir-akhir ini seputar hal ini. Saya pun sadar bahwa saya perlu terus mengingatkan maupun menegur diri sendiri agar tidak hanya memunculkan ide, gagasan, teori, atau wacana, namun juga berupaya untuk memperbanyak tindakan. Memperbanyak aksi dalam mewujudkan setiap ide, gagasan, teori, maupun wacana yang brilian tersebut agar dapat menghasilkan atau memberikan manfaat bagi orang lain maupun diri sendiri.

Jadi, intinya, boleh saja kita mencoba dan terus mencoba untuk menggali ide-ide, gagasan-gagasan, memunculkan teori-teori maupun wacana-wacana, namun diatas segalanya, kita juga perlu berupaya untuk lebih banyak bertindak mewujudkan ide, gagasan, teori, maupun wacana tersebut. Pelajaran yang sangat berharga untuk diri saya sendiri dan semoga juga menjadi pelajaran berharga untuk setiap orang yang membacanya. Semoga ! Ditunggu komentarnya juga.

Thursday, 26 April 2012

Is The New Champion Will Be Born ?


I love football, either playing it or watching it on television. I write this article for my own opinion one of most popular and biggest football competition in the world, UEFA Champion League (UCL). UCL’s semifinal phase has done. Two teams, Chelsea and Bayern Munich, will be played on final phase on 19 May 2012 at Allianz Arena. This article is my prediction about that final phase.

Just for to know, around 2 years ago, I wrote prediction about Fifa World Cup 2010 final phase when Spain met Italia. At that time, I wrote an article that titled ‘Akankah Juara Eropa Juga Juara Dunia ? (in English: Will Euro  2008 Champion will also be The World Cup 2010 Champion ?)’. That time, I feel something ‘weird’ in my heart that said about the chance of Spain to be the Euro 2008 Champion and then follow it with World Cup 2010 title. My prediction have had the answer, Spain be the Euro 2008 Champion and also World Cup 2010 Champion.

Thursday, 19 April 2012

Definisi Wisuda


Semua orang yang pernah kuliah hampir dapat dipastikan pernah mendengar kata wisuda. Namun adakah diantara mereka semua yang pernah memikirkan atau mengetahui definisi kata tersebut ? Bagi setiap orang yang pernah kuliah, pernah diwisuda, maupun akan diwisuda, semoga definisi kata tersebut yang akan saya jelaskan disini dapat membantu. Definisi yang saya sebutkan disini adalah definisi berdasarkan nalar saya sendiri dengan berdasarkan pemahaman bahasa yang ada di Indonesia, jadi boleh dipercaya, boleh juga tidak.
Kata wisuda sebenarnya terdiri dari dua suku kata yaitu ‘wis’ dan ‘sudah’. Kata ‘wis’ merupakan kata yang berasal dari bahasa Jawa yang berarti ‘sudah’, ‘ya’, ‘baiklah’, dan sebagainya. Kata ‘sudah’ merupakan kata yang berasal dari bahasa Indonesia yang berarti ‘sudah’ itu sendiri. Jadi jika digabung berdasarkan makna masing-masing kata yang telah saya jelaskan diatas, maka kata ‘wisuda’ dapat memiliki definisi ‘ya sudah’ atau ‘sudah’. Namun jika didefinisikan berdasarkan makna yang lebih bebas atau tergantung dengan konteks pemakaiannya, maka dapat berarti ‘ya sudah selesai’. Jadi ketika seorang mahasiswa/mahasiswi yang telah menyelesaikan pendidikannya menjalani wisuda, maka sebenarnya pihak kampus atau universitas hanya bermaksud berkata kepada mereka, ‘ya kalian sudah selesai belajar disini’. Sesuatu yang seharusnya dapat berlangsung dengan singkat, namun karena ditambah berbagai prosesi yang lain sehingga menjadi begitu panjang dan kesannya berbelit.
Demikianlah definisi saya mengenai kata ‘wisuda’. Sekali lagi saya ingatkan bahwa definisi ini adalah definisi menurut versi saya sendiri sesuai dengan nalar saya, jadi tidak harus dipercaya sepenuhnya. Kalian bebas menciptakan definisi kalian sendiri menurut tafsiran atau nalar kalian sendiri. Bebaslah !

Monday, 5 March 2012

Bukan Hanya Euforia Semata !

Pernah tidak, pada suatu kita begitu bersemangat, ‘membara’, bergelora, antusias terhadap sesuatu atau untuk melakukan sesuatu dan beberapa saat kemudian ketika halangan, rintangan, atau tantangan datang, semangat, ‘bara api’ yang menyala di dalam tubuh kita, dan antusiasme kita secara perlahan tetapi pasti mulai meredup ? Saya tidak tahu dengan pasti kondisi setiap orang, tetapi kemungkinannya kita semua pernah mengalaminya. Saya yang ketika kuliah dikenal sebagai seorang yang sangat ‘panas’, antusias, dan semangat sempat pula kehilangan semangat, antusiasme, dan ‘panas’ saya. Saya sempat menurun, sebelum akhirnya tersadar bahwa saya harus melatih diri, memotivasi diri saya, dan kembali bersemangat untuk mengejar segala impian. Tulisan kali ini tidak akan semata-mata membahas mengenai upaya saya untuk kembali bersemangat, namun akan lebih membahas mengenai komitmen.
Pagi ini, ketika saya bangun tidur, secara mendadak dan tiba-tiba saya ‘mendapat’ suatu kalimat yang berbunyi: jangan hanya jadi euforia sementara saja. Kalimat yang tiba-tiba muncul sempat membuat saya ‘tertampar’ dan tersadar untuk merenung sejenak guna memahami makna kalimat tersebut. Setelah merenung sejenak, akhirnya saya dapat menjabarkan secara lebih luas makna kalimat tersebut, sebagai berikut: jangan hanya antusias di awal saja dan kemudian ketika tantangan, kesulitan, rintangan mulai datang semangat kita menyusut, menciut, dan akhirnya hilang. Jangan hanya bersemangat atau antusias ketika segala sesuatunya mudah, tetapi tetaplah bersemangat termasuk ketika segala sesuatunya berjalan tidak sempurna sesuai dengan yang kita rencanakan. Tetaplah berjalan dengan semangat awal yang kita miliki saat kita menginginkan sesuatu atau memutuskan melakukan sesuatu, jangan pernah berhenti di tengah jalan.

Friday, 24 February 2012

Lakukan Saja !


Tulisan kali ini terinspirasi oleh seminar-seminar bisnis yang akhir-akhir ini semakin sering saya hadiri maupun buku-buku bisnis semakin sering saya baca, dan juga yang secara kebetulan sesuai dengan ‘tema’ atau ‘topik’ utama blog ini. Dari sekian banyak seminar bisnis yang saya hadiri maupun buku bisnis yang saya baca, saya menemukan bahwa mayoritas menganjurkan untuk memperbanyak tindakan alias action. Para pengisi seminar maupun penulis buku bisnis bahkan juga ada yang menyatakan bahwa bisnis yang baik itu adalah bisnis yang dibuka atau dijalankan, bukan bisnis yang terus dipikirkan, direncanakan, diimpikan, disiapkan, dan sejenisnya. Bisnis yang baik itu adalah bisnis yang dibuka atau dijalankan.
Saya secara pribadi termasuk golongan orang bertipe pemikir. Saya menyukai berpikir, menganalisa, merencanakan, dan kegiatan lain yang sejenis. Saya mengetahui, menyadari, dan meyakini bahwa hal tersebut juga baik adanya. Namun beberapa bulan lalu akhirnya saya sadar bahwa jika saya hanya berpikir, menganalisa, berencana, tetapi tidak pernah atau kurang bertindak, maka saya juga tidak akan pernah meraih apapun. Didorong oleh kesadaran tersebut, saya mulai belajar untuk lebih memperbanyak tindakan tanpa mengurangi dengan cukup berarti waktu yang saya habiskan untuk berpikir. Motivasi untuk memperbanyak tindakan serta mempercepatnya juga semakin didorong setelah kehadiran saya pada sejumlah seminar maupun workshop bisnis yang saya hadiri. Saya menyadari bahwa mengikuti seminar maupun workshop seperti itu sangat berguna dan bermanfaat. Saya dapat menambah ilmu, memperoleh motivasi, menambah kawan serta memperluas jejaring.

Sebuah Perjalanan Panjang untuk Kembali Menjadi Hebat


Tiga tahun telah berlalu sejak prestasi puncak yang sangat saya impikan terwujudkan. Semua euforia dan kehebatan tersebut kini telah berlalu. Masa-masa ketika saya begitu menikmati ‘sukses’ yang saya raih tersebut, namun sekaligus juga menjadi masa dimana akhirnya saya terlena oleh ‘kesuksesan’ tersebut.
Setelah tiga tahun berlalu, akhirnya saya pun telah tersadarkan bahwa saya tidak boleh berada pada kondisi seperti ini terus-menerus. Saya perlu kembali merangkai seluruh impian hebat untuk menjadi hebat. Kesadaran ini telah tercetus sejak akhir tahun 2011 lalu dan semakin menggelora dan terus digelorakan agar dapat segera terwujud.
Awal tahun 2012 ini, saya mulai melangkah dengan lebih serius untuk menekuni kembali bidang yang menjadi kecintaan utama saya, yaitu pemrograman komputer. Sudah cukup lama saya melupakan kecintaan saya tersebut karena tergoda oleh hal-hal lain yang lebih menarik. Walaupun selama masa-masa ‘tergoda’ tersebut saya tidak sepenuhnya melupakan dunia pemrograman komputer. Saya masih melakukannya dan masih sangat-sangat mencintainya.
Semenjak di awal masa kuliah sekitar enam tahun lalu, saya sudah sangat mencintai dan semakin mencintai dunia tersebut. Saya mulai mengenali serta merangkai impian-impian indah terkait dengan pemrograman komputer, mulai dari menjadi programmer komputer hebat, memperoleh banyak sertifikasi terkait dengan dunia komputer, bekerja di perusahaan komputer besar, hingga akhirnya muncullah impian paling besar dan paling ‘gila’ saya yaitu membangun bisnis komputer yang sukses luar biasa.

Monday, 30 January 2012

Nothing is Free !


Selama ini kita mungkin sering mendengar kalimat atau istilah berikut: ‘no free lunch’, ‘tidak ada yang gratis’, ‘untuk segala sesuatu ada harga yang harus dibayar’, dan ungkapan lain sejenisnya. Saya pertama kali mendengar ungkapan seperti itu sekitar 6 tahun yang lalt dan akhir-akhir ini saya kembali sering mendengar ungkapan tersebut ‘berdengung’ di dalam pikiran saya. Ya, saya kembali teringat (atau diingatkan) bahwa tidak ada sesuatu yang gratis di dunia ini. Kita membayar hari ini dan menikmati hasilnya esok, atau sebaliknya, kita menikmati hasilnya hari ini dan membayarnya esok. Intinya kita harus membayar untuk segala sesuatu yang kita inginkan (walaupun terkadang tetap ada sesuatu yang gratis).
Ungkapan nothing is free yang akan saya bahas dalam tulisan ini bukanlah berhubungan dengan pengembangan diri, motivasi, atau topik lain sejenisnya dimana terkadang ungkapan sejenis juga digunakan. Ungkapan ini saya bahas dalam kaitannya dengan komersialisasi. Selama ini, selama saya sekolah maupun kuliah, saya memang diajarkan banyak sekali ilmu pengetahuan yang saya tahu memang memiliki manfaat dan kegunaan. Selain itu saya juga mendapat pelajaran mengenai cukup banyak hal lain diluar pendidikan formal. Namun ada satu pelajaran lagi yang ternyata masih kurang, pelajaran ini baru saya dapatkan beberapa bulan lalu serta masih berupaya saya selami lebih dalam lagi serta aplikasikan dengan lebih baik. Pelajaran tersebut adalah tentang komersialisasi.

Friday, 27 January 2012

Tidak Bergantung Pada Orang Lain


Kita semua mungkin telah mengetahui bahwa kita semua memerlukan bantuan orang lain untuk meraih sebagian besar hal yang kita inginkan atau perlukan dalam kehidupan ? Saya pun telah dan semakin menyadari hal tersebut, tetapi kita juga harus waspada akan satu hal atau sisi buruk dari kebutuhan kita akan bantuan orang lain. Pengalaman yang pernah saya jalani mengingatkan dan menyadarkan saya bahwa kita memang memerlukan bantuan orang lain, tetapi jika kita tidak waspada, lama-kelamaan kita akan menjadi terlalu bergantung pada orang lain. Kita perlu waspada agar kebutuhan kita akan bantuan atau dukungan orang lain tidak menjadikan kita bergantung semata-mata kepada mereka. Sebab jika kita terlalu bergantung kepada orang lain untuk melakukan sesuatu, maka kemungkinan besar di lain kesempatan, kita akan menjadi takut atau kurang percaya diri untuk memperjuangkan atau meraih sesuatu sendirian.
Kita perlu waspada, sebab ketika telah menjadi terlalu bergantung kepada dukungan orang lain sebelum memutuskan melakukan sesuatu, maka kita secara tidak langsung telah mengijinkan hal tersebut menggerogoti rasa percaya diri kita. Sehingga pada akhirnya kita tidak akan pernah berani lagi ketika harus memperjuangkan sesuatu yang sebenarnya memang kita sadari harus kita perjuangkan. Kita akan menjadi pribadi yang ragu-ragu untuk bertindak mengejar atau mewujudkan segala sesuatu yang perlu kita kejar atau wujudkan, sebab kita mengharapkan adanya dukungan pendapat orang lain sebelum bertindak.

Wednesday, 18 January 2012

Memulai Dari Yang Kita Bisa


Dua hari lalu saya kontak salah seorang teman yang baru saya kenal. Kami bertemu melalui suatu acara yang diadakan di salah satu hotel sekitar satu bulan yang lalu. Saya kontak dia melalui pesan singkat untuk sekedar mengakrabkan diri. Singkat cerita dia membalas pesan singkat yang saya kirim dan saya berkata kepadanya jika ada info mengenai seminar maupun pertemuan bisnis, mohon berikan info agar melalui acara tersebut saya dapat terus menambah wawasan, sebab saya mulai menjalankan usaha saya sendiri di bidang konsultasi teknologi informasi dan pengembangan perangkat lunak. Teman saya tersebut kemudian memberikan info bahwa akan ada acara seminar bisnis gratis di suatu gedung milik pemerintah di daerah Surabaya barat. Saya tertarik hadir untuk menambah wawasan saya sekaligus memperoleh lebih banyak teman baru.
Singkat cerita saya datang, walaupun agak terlambat. Sampai disana saya melihat acara sudah dimulai dan saya bertemu dengan teman baru saya tersebut diluar gedung tempat acara diadakan serta bertegur sapa sebentar sebelum saya memasuki gedung. Saya memasuki gedung, mendengarkan sejenak acara yang sedang berlangsung, dan sejurus memulai pembicaraan dengan seorang bapak di sebelah saya. Dari bapak tersebut saya semakin yakin dan jelas bahwa acara tersebut adalah seminar bisnis multi level marketing salah satu produk kesehatan. Bapak yang berprofesi sebagai pengemudi taksi dari perusahaan taksi besar tersebut sudah bergabung dengan alasan merasakan manfaat dari produknya serta ingin memperoleh penghasilan sampingan. Bapak tersebut juga mengungkapkan impian mulianya kepada saya bahwa jika bisnis sampingan yang dia jalankan melalui multi level marketing tersebut sudah cukup besar, dia akan melepaskan pekerjaan utamanya sebagai pengemudi taksi.

Tuesday, 17 January 2012

Merengkuh Kembali Semua Kendali Kehidupan


Tanpa terlalu saya sadari selama lebih dari dua tahun terakhir saya telah menggantungkan tanggung jawab hidup saya kepada rekan-rekan kerja, sahabat atau teman, saudara, dan orang tua. Saya terlalu bergantung atau ‘mendengarkan’ pendapat mereka sehingga saya tidak atau kurang berani mengambil keputusan bagi diri saya sendiri. Keputusan yang saya tahu baik bagi diri saya dan masa depan saya. Saya memang sadar bahwa saya perlu mendengarkan pendapat orang lain, namun karena terlalu banyak mendengarkan itu pula, saya akhirnya takut atau kurang percaya terhadap suara hati saya sendiri. Saya terlalu bergantung pada pendapat orang lain.
Selama sekitar dua sampai tiga bulan terakhir, saya mulai berupaya kembali untuk mengembalikan jati diri saya yang sesungguhnya. Saya tetap berupaya mendengar pendapat orang lain, namun pada akhirnya saya akan menyesuaikan atau menyelaraskan pendapat mereka dengan apa yang ‘hati’ saya katakan. Saya akan belajar untuk lebih percaya kepada apa yang ‘hati’ maupun intuisi saya katakan, sebab saya telah belajar dan terus meyakini bahwa intuisi kita tidak pernah salah. Orang lain boleh berpendapat apapun tentang kita, tetapi hanya ada dua pribadi yang paling tahu tentang diri kita, yaitu Tuhan kita dan diri kita sendiri. Jadi pelajarannya adalah dengarkan pendapat orang lain, namun pada akhirnya tetaplah percaya kepada intuisi atau suara ‘hati’ kita sendiri. Sebab hampir dapat dipastikan bahwa suara ‘hati’ kita adalah benar dan merupakan bisikan suara Tuhan.
Itulah sekilas cerita saya. Cerita dan pengalaman saya dapat berbeda dengan cerita dan pengalaman Anda. Bagaimana dengan cerita dan pengalaman Anda ? Silakan berbagi dan saya siap mendengar. Selamat belajar untuk merengkuh dan memegang kendali sepenuhnya atas kehidupan kita sendiri.

Sunday, 15 January 2012

Ini Tentang Saya, Bagaimana Tentang Anda ?


Eits…, sebelumnya jangan salah sangka bahwa tulisan ini ada hubungannya dengan iklan salah satu produsen mie instan, sebab saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri untuk sebisa mungkin tidak menyebutkan nama merek produk atau nama perusahaan lain. Tulisan ini adalah sedikit hasil dari perenungan yang berasal dari pengalaman pribadi saya sendiri selama beberapa tahun ini.
Sejak pertama memasuki perkuliahan di salah satu kampus swasta ternama di Surabaya, saya telah begitu aktif, baik dalam aktivitas perkuliahan maupun dalam aktivitas organisasi. Sejumlah aktivitas tersebut membuat saya merasa senang, sibuk, berguna, dan sekaligus merasa bahwa bakat-bakat yang telah saya miliki dapat semakin terasah serta berkembang. Benar semua aktivitas tersebut benar-benar menyenangkan bagi saya. Saya mencintai sekali melakukan aktivitas-aktivitas yang bermanfaat. Saya cinta bekerja, cinta melakukan sesuatu, dan tentu saja menghasilkan sesuatu yang dapat memberi manfaat bagi orang lain maupun bagi diri saya.
Singkat kata, semua aktivitas kuliah maupun aktivitas organisasi berjalan dengan lancar. Saya memperoleh nilai-nilai kuliah yang diatas rata-rata, sehingga membuat saya dan beberapa rekan saya mendapat julukan ‘dewa’. Saya juga menjadi salah satu bintang dalam bidang organisasi di kampus serta menjadi salah satu orang yang selalu diharapkan dapat bergabung pada aktivitas keorganisasian karena kemampuan saya dibutuhkan. Hal ini membuat saya bangga dan senang.

Wednesday, 11 January 2012

Jangan Takut !


Malam ini, untuk menambah motivasi semangat dalam diri saya sendiri, saya memutuskan untuk membuka sebuah website dari seorang motivator yang dijuluki sebagai motivator nomor satu di Indonesia. Di website tersebut saya menemukan sebuah artikel yang berjudul, “Jangan Takut, Jangan Pernah Menyesal”. Tulisan yang tidak terlalu panjang yang begitu menginspirasi dan membangkitkan semangat.
Melalui tulisan tersebut saya dan kita semua diingatkan agar tidak pernah takut untuk mengambil keputusan, tidak pernah memperjuangkan impian-impian kita, tidak pernah takut gagal, tidak pernah takut bekerja keras, tidak pernah takut mencoba sesuatu yang baru, dan tidak pernah ragu-ragu. Tulisan tersebut menyadarkan saya bahwa ternyata selama beberapa waktu terakhir saya sering menjadi ragu ketika akan mengambil keputusan mengerjakan (baca: menerima) sebuah tawaran pekerjaan yang sebenarnya (kemungkinan besar) dapat saya kerjakan dengan baik. Saya tahu saya bisa mengerjakan pekerjaan tersebut, namun terkadang ada pula keraguan dalam diri saya yang berkata, ‘apakah saya benar-benar bisa ?’, ‘apakah keyakinan saya benar ?’, ‘bagaimana jika nanti setelah pekerjaan tersebut diambil dan ternyata tidak mampu menyelesaikan ?’. Begitu banyak pertanyaan-pertanyaan sejenis yang semakin membuat saya ragu dan seringkali membuat saya berpikir ulang dan terus berpikir ulang yang pada akhirnya membuat saya menjadi ragu.

Saturday, 7 January 2012

Surabaya Oh… Surabaya


Surabaya, suatu kota yang dapat dijangkau dengan berkendara selama sekitar 2,5 jam dari kota asal saya. Kota yang dikenal sebagai Kota Pahlawan karena heroisme para rakyatnya di kala zaman penjajahan dahulu kala. Sebuah kota yang cukup sering saya kunjungi bersama adik saya tatkala saya masih duduk di bangku sekolah dasar hingga awal sekolah menengah pertama. Saat itu, hampir dapat dipastikan pada setiap masa liburan panjang sekolah tiba, saya dan adik pertama saya selalu menginap di rumah adik orang tua kami (bibi kami) untuk menikmati masa liburan kami. Selama saya dan adik saya menikmati masa liburan yang hampir rutin kami jalani setiap tahun di kota ini, berbagai tempat telah pernah kami kunjungi, diantaranya Taman Hiburan Rakyat (THR) di jalan Kusuma Bangsa, Pasar Pucang, dan Pasar Atum. Biasanya saya menghabiskan waktu sekitar satu minggu untuk menikmati masa liburan tersebut.
Surabaya, siapa sangka ternyata setelah saya beranjak dewasa, saya akhirnya menempuh pendidikan tinggi di salah satu universitas swasta di kota yang juga menjadi ibukota propinsi Jawa Timur. Bahkan kini saya juga mulai berupaya meretas jalan karir profesional saya sebagai konsultan teknologi informasi dan programmer komputer di kota ini. Secara total, sejak mulai pertama kali kuliah hingga kini, saya telah sekitar tujuh tahun tinggal di kota ini. Walaupun selama rentang waktu tujuh tahun tersebut saya tidak selalu tinggal di kota ini, sebab tatkala libur kuliah biasanya saya melakukan ritual rutin yaitu pulang kampung.

Sekolah (Kuliah) Itu Penting, Tapi…


Pagi hari ini, ketika sedang mencoba belajar untuk bermeditasi, saya mendapat gagasan mengenai beberapa judul tulisan. Salah satunya telah menjadi judul tulisan ini. Tulisan ini terilhami oleh pengalaman saya sendiri dalam menempuh pendidikan maupun pengalaman yang saya himpun dari membaca cerita beberapa orang mengenai pengalaman mereka dalam menempuh pendidikan.
Saya sangat meyakini bahwa pendidikan itu memang penting, sebab pendidikan dapat menjadi bekal bagi setiap kita dalam mengarungi kehidupan di masa depan. Pendidikan dapat memperluas wawasan kita dan menambah pengetahuan kita akan dunia serta kehidupan. Kita semua mungkin telah mengetahui bahwa terdapat banyak cara untuk memperoleh pendidikan, dimana salah satunya adalah melalui sekolah (kuliah). Saya tidak menampik bahwa sekolah (kuliah) itu bukan hanya penting, malahan sangat penting. Namun ada satu hal baru yang akhirnya saya sadari setelah saya sendiri menempuh pendidikan hingga jenjang tertinggi, yaitu sekolah (kuliah) itu penting, tetapi jangan terlalu lama bersekolah (berkuliah).
Pendapat saya ini didasari oleh perenungan saya akan pengalaman saya sendiri dalam menjalani pendidikan maupun membaca cerita pengalaman orang-orang yang saat ini sudah sukses dalam menjalani pendidikannya. Saya menyadari bahwa sekolah (kuliah) memang merupakan salah satu sarana untuk memperoleh pendidikan, namun sayangnya di bangku sekolah (kuliah) kita terlalu banyak diajari teori tanpa pernah (atau kurang) diajari bagaimana memanfaatkan serta menggunakan seluruh teori tersebut dalam bentuk aplikasi yang lebih nyata yang dapat bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang, termasuk bagi diri kita sendiri.

Sunday, 1 January 2012

Tahun Baru: Apakah Diri Kita Juga Berubah Menjadi ‘Baru’ ?


Satu tahun lagi kembali berlalu. Tahun 2011 terasa begitu cepat berlalu, kini tahun 2012 telah tiba. Usia seluruh makhluk juga akan kembali bertambah satu tahun lagi.
Seperti telah menjadi kebiasaan ketika menjelang atau pada tahun baru, setiap orang dari berbagai penjuru dunia seolah berlomba-lomba untuk menghadirkan perayaan tahun baru yang meriah, unik, dan baru. Setiap tahun pula sebagian besar dari kita selalu menuliskan resolusi atau impian atau target yang ingin dicapai di tahun yang baru ini. Setiap memiliki resolusi yang berbeda-beda yang ingin diwujudkannya di tahun yang baru ini.
Tahun baru, hampir dapat dipastikan banyak sekali hal yang baru, seperti resolusi, impian, semangat, baju, pekerjaan, bahkan mungkin juga gadget baru. Namun apakah dengan hadirnya suatu tahun yang baru lagi, diri kita juga benar-benar berubah menjadi diri kita yang ‘baru’ ? Apakah kita benar-benar telah dapat menarik berbagai macam pelajaran dari segala sesuatu yang telah terjadi di tahun yang baru saja berlalu. Apakah kebiasaan lama kita yang kurang baik, sikap yang kurang baik, serta hal-hal lain yang kurang baik telah dapat benar-benar kita lupakan dan gantikan hal-hal baru yang jauh lebih baik ? Saya pun tersadar dan tersentak serta tergugah untuk bertanya pada diri saya sendiri pertanyaan yang serupa. Saya perlu bertanya dan mengecek ke dalam diri saya sendiri apakah di tahun yang baru ini saya telah benar-benar berubah menjadi individu yang ‘baru’. Apakah saya dapat menjadi lebih bijak, lebih disiplin, memiliki kebiasaan serta sikap yang lebih baik ? Apakah saya juga benar-benar telah dapat mengambil pelajaran baik dari segala hal yang terjadi di tahun yang baru saja berlalu dan menerapkannya ke dalam hidup saya untuk dapat benar-benar menjadi individu yang ‘baru’ di tahun yang baru ini ?

Tickerbar

KumpulBlogger