Thursday, 3 June 2010

PELAJARAN #5 DARI PEKAN KAMPUS 2009: TIM ADALAH KUNCI MERAIH KEMENANGAN YANG LUAR BIASA

Ini adalah rangkaian tulisan kelima yang berhubungan dengan pelajaran-pelajaran yang saya peroleh dari Pekan Kampus 2009 (dan saya masih belum tahu akan sampai berapa banyak rangkaian tulisan ini). Kumpulan pelajaran yang sangat berharga untuk membentuk karakterku sebagai pribadi maupun sebagai pemimpin masa depan dunia. Semoga pelajaran-pelajaran ini tidak hanya berguna bagiku, namun juga bagi semua orang yang membacanya.

Seperti yang pernah aku sebutkan pada tulisan sebelumnya, awalnya aku adalah seorang yang bisa dibilang egois dan invidualistik. Namun, aku sangat beruntung memiliki seorang mentor secara tidak langsung seperti John Maxwell yang menyadarkanku akan arti penting sebuah tim. Maxwell mengatakan bahwa tanpa tim seorang pemimpin akan bekerja keras sendirian dan pontang-panting menyelesaikan semua pekerjaan atau tanggung jawabnya.

Awalnya selama Pekan Kampus 2009 berlangsung, baik saat masih rapat maupun saat pelaksanaannya, aku tidak menyadari betapa pentingnya peran tim yang aku pimpin. Saat itu aku menyadari bahwa tanpa mereka aku tidak bisa bekerja dengan maksimal, namun aku tidak sepenuhnya menyadari peran penting mereka dalam menopang kerjaku sebagai seorang ketua Pekan Kampus 2009. Beberapa bulan setelah berakhirnya Pekan Kampus 2009, aku menggunakan waktu yang ada untuk merenungkan semuanya dan memperoleh kesadaran-kesadaran yang sangat berharga. Salah satunya adalah tentang betapa besar peran orang-orangku dalam mensukseskan kerjaku selama Pekan Kampus 2009.

Tanpa mereka, aku tidak bisa menangani seluruh peserta Pekan Kampus 2009 yang jumlahnya mencapai hampir 200 orang. Tanpa mereka, tak mungkin aku bisa membuat acara-acara yang unik untuk Pekan Kampus 2009. Tanpa mereka, tak mungkin ditengah-tengah kesibukanku mengurus beberapa hal yang berkaitan dengan Pekan Kampus, aku masih sempat membuat program untuk mencatat data peserta Pekan Kampus 2009. Tanpa mereka, tak mungkin aku bisa mengangkat seluruh tenda yang akan digunakan oleh panitia maupun peserta selama kemping Pekan Kampus 2009 serta mendirikan tenda-tenda tersebut. Masih banyak bantuan-bantuan lain lagi yang mereka semua berikan kepadaku guna mensukseskan tanggung jawabku sebagai ketua Pekan Kampus 2009.

Ya, aku memang sangat terlambat menyadari betapa berharganya seluruh bantuan yang telah mereka keluarkan serta berikan kepadaku. Aku waktu itu terlalu egois dan mementingkan diriku sendiri dan kurang mempedulikan mereka serta seluruh upaya terbaik yang telah mereka kerahkan untukku. Now, I wanna say forgive me for my mistake when Pekan Kampus 2009 is ongoing. Aku bangga dan sungguh sangat berterima kasih atas seluruh bantuan yang telah kalian berikan dengan sepenuh hati kalian. Thanks to you all panitia Pekan Kampus 2009 ku. Love you all !

Tulisan ini didedikasikan untuk semua orang yang telah bersedia bekerja sangat keras untuk membantuku mensukseskan jalannya seluruh kegiatan Pekan Kampus 2009. Without you all I just can do very little jobs alone. Your help is worthwhile for me. God bless you all my team !

MENJAGA GAIRAH UNTUK TERUS BEKERJA KERAS

Judul tulisan ini adalah sesuatu yang sedang berusaha aku lakukan, terus dan terus. Setiap orang membutuhkan gairah atau passion atau desire untuk bisa membantunya meraih sukses yang luar biasa dalam setiap hal yang dia kerjakan. Gairah dapat membantu seseorang untuk selalu bekerja dengan maksimal, sebab dia selalu merasa tertantang untuk memberi yang terbaik dan bahkan lebih dari pada yang dapat dia berikan.

Prinsip yang baru aku sadari ini ternyata merupakan prinsip yang dahulu membantu menaiki jenjang jabatan dalam ‘karier’ berorganisasiku selama di kampus. Semuanya berawal dari tahun 2006, tahun dimana aku menjadi panitia Pekan Kampus untuk pertama kali. Berawal dari organisasi tersebut, aku mulai membangun kegemilangan dalam setiap kerja sehingga pada akhirnya aku memperoleh kepercayaan yang lebih banyak lagi dan selalu menjadi orang yang diharapkan untuk ada dalam setiap organisasi atau tim kerja. Aku sadar bahwa ternyata satu hal yang menjadi pembeda antara aku dan sebagian besar rekan atau partner kerjaku yang lain adalah gairah atau semangat yang selalu ada dan menyala-nyala dalam diriku. Suatu gairah yang tidak pernah padam, meskipun kadang aku sendiri dalam kondisi lelah.

Aku ingat bahwa aku selalu menjadi salah satu orang yang masih memiliki sisa semangat saat sebagian besar yang lain mulai kehilangan gairah atau semangat bekerja. Ya, aku dan beberapa orang lain yang masih memiliki sisa gairah atau semangat itulah yang pada akhirnya membantu rekan-rekan yang lain untuk kembali termotivasi untuk bekerja serta menyelesaikan semua pekerjaan atau tanggung jawab yang belum terselesaikan. Namun, secara tidak sadar bahwa prestasi kerja yang bagus itu sempat aku terlena dan ditambah lagi dengan pengaruh-pengaruh lain, akhirnya aku jadi melupakan pentingnya memiliki gairah dalam pekerjaan.

Sejak sekitar tahun 2008 awal, aku mulai sedikit demi sedikit melupakan prinsip yang pernah aku pegang teguh, aku jalankan, serta aku ajarkan. Hal tersebut berakibat pada menurunnya kinerjaku secara pribadi dan secara tidak langsung juga mempengaruhi kinerja timku. Namun itu adalah masa lalu. Kini, sejak awal tahun 2010, setelah aku melakukan perenungan dan pembelajaran kembali akan sebab-sebab penurunan kinerja tersebut, akhirnya aku menemukan sesuatu yang sangat berharga. Sesuatu yang sangat berharga itu adalah prinsip akan pentingnya memiliki gairah serta pentingnya memiliki kemampuan untuk memelihara gairah tersebut tetap ada dari awal sampai akhir.

Berawal dari kesadaran serta penemuan kembali akan prinsip tersebut, kini aku sedang belajar, merenungkan, dan mencoba menerapkannya kembali. Suatu proses yang tidak mudah untuk mulai membiasakan diri memiliki gairah yang terus menyala-nyala dalam hidup, setelah sekian lama melupakannya. Namun aku bersyukur bahwa aku masih boleh menyadari serta menemukan kembali prinsip tersebut.

Bagi kalian semua yang membaca tulisan ini, bila kalian sadar bahwa kalian dianugerahi suatu gairah atau semangat yang lebih, manfaatkanlah itu untuk membantu diri kalian serta rekan-rekan disekitar kalian untuk mencapai yang terbaik yang dapat kalian semua capai. Demikian sekadar berbagi sedikit cerita, semoga berguna. Thanks for reading !

WHO IS MY BEST PARTNER IN PEKAN KAMPUS ?

Dalam foto ini, Suhendro merupakan orang yang berada ditengah-tengah
dan mengenakan pakaian yang paling berbeda.
Sebenarnya, semua partner kerjaku di Pekan Kampus sejak tahun 2006 sampai 2009 adalah orang-orang yang bekerja dengan sangat baik di bidangnya masing-masing dan merupakan partner-partnerku yang hebat. Namun, setelah aku renungkan, ada satu orang yang bisa dianggap merupakan partner terbaikku. Seolah-olah dia adalah “belahan jiwaku” di Pekan Kampus. Orang yang tidak seberapa banyak bicara, tapi lebih banyak bekerja. Orang yang mungkin kedatangannya ke dalam panitia Pekan Kampus agak terlambat satu tahun dibandingkan sebagian besar panitia angkatan 2005 yang lain. He is really my “soul mate”.

PENGALAMAN: SESUATU YANG SANGAT BERHARGA part 2

Pada masa SMA itu pula, aku beruntung karena aku tidak jadi dikeluarkan dari sekolah, sebab secara tidak diduga pada masa-masa proses pengeluaranku dari sekolah sedang berlangsung tiba-tiba pihak menghadapi masalah yang berurusan dengan dinas pendidikan dan pihak kepolisian. Aku beruntung disini, sebab pihak sekolah yang terlibat dalam proses mengeluarkan aku dari sekolah tersita perhatiannya untuk ikut mengurusi masalah tersebut. Ujung-ujungnya aku memperoleh kesempatan kedua. Kesempatan itu tidak begitu saja aku sia-siakan. Berawal dari secara tidak sengaja mengenal Jose Mourinho dan dari kesadaran diri sendiri, akhirnya aku menemukan bahwa nakal itu tidak ada gunanya. Berangsur-angsur, sedikit demi sedikit kenakalanku berkurang dan aku menjadi siswa yang lebih baik. Bersamaan dengan itu, berangsur-angsur pula image diriku berubah. Awalnya aku yang dianggap sebagai siswa nakal, secara perlahan mulai dikenal sebagai siswa yang gigih, tekun, dan jadi acuan sebagian besar teman satu kelasku. Hal tersebut tidaklah sia-sia, sebab pada akhir masa SMA aku memperoleh peringkat kelas tertinggi dalam sejarahku sejak SD. Ya, aku meraih peringkat kelas 5.6 dari 39 siswa. Aku merasa bangga dan perjuanganku untuk siswa yang rajin dan baik tidaklah sia-sia.

Kini, menjelang berakhirnya masa pendidikan sarjanaku, aku semakin merasakan dan menyadari bahwa pengalaman adalah sesuatu yang sangat berharga. Maka tidaklah salah jika ada orang yang menganggap pengalaman sebagai guru yang terbaik. Dari pengalaman selama masa SD sampai SMU, aku menjadi mahasiswa yang bisa dibilang menjadi teladan bagi sebagian besar teman-temanku serta adik-adik kelasku. Aku beruntung bahwa aku boleh mengalami semua hal buruk diatas sehingga kini aku semakin apa yang pantas dan apa yang tidak. Masa kuliah juga masa yang benar-benar berharga. Aku mendapatkan banyak pengalaman hidup yang sangat berguna bagi kehidupanku sekarang maupun di masa depan. Aku beruntung boleh menerima dan menerapkan semua pelajaran baik dalam kehidupanku selama masa perkuliahan.

Kini, aku sedang berusaha untuk mengingat kembali semua pelajaran baik tersebut untuk kemudian aku pahami lebih dan lebih lagi sehingga aku bisa benar-benar sepenuhnya menghidupi pelajaran-pelajaran tersebut. Aku sadar pula bahwa untuk menjadi seorang ‘bintang kehidupan’ setiap orang perlu untuk memiliki prinsip-prinsip baik yang akan memandunya untuk meraih ‘kebintangan’ hidup. Jangan sia-siakan semua pelajaran serta pengalaman-pengalaman yang pernah kita dapatkan. Sekian.

PENGALAMAN: SESUATU YANG SANGAT BERHARGA part 1

Akhir-akhir ini aku semakin menyadari bahwa pengalaman adalah salah satu aset yang sangat berharga yang akan pernah kita semua miliki dalam hidup. Aku menyadari hal ini sebab dari pengalaman kita dapat belajar banyak hal, sangat banyak bahkan. Pengalaman mengajari kita banyak hal yang sangat berharga yang mungkin tidak akan pernah kita temukan dari sekolah.

Secara pribadi, aku merasa cukup beruntung karena aku boleh mengalami banyak pengalaman berharga, baik pengalaman menyenangkan maupun tidak. Saat masih di bangku sekolah dasar, aku beruntung bahwa aku merasakan pengalaman menjadi anak-anak yang bahagia. Pada masa itu, aku memiliki banyak teman untuk bermain bersama-sama, bermain permainan khas anak kecil. Pada masa sekolah dasar itu pula, aku boleh merasakan pengalaman dipanggil oleh kepala sekolah karena bermain petasan di sekolah. Pengalaman yang sungguh-sungguh berharga, sebab dari situ aku belajar bahwa bermain petasan di sekolah itu dilarang.

Pada masa SMP, aku boleh merasakan pengalaman yang tidak kalah berharganya dibanding saat di bangku sekolah dasar. Pada masa itu, aku mulai mengenal yang namanya geng. Aku mengenal teman-teman satu gengku lewat teman satu kampung. Melalui teman-teman satu geng itu pula, aku merasakan pengalaman melihat secara langsung dari jarak dekat suasana tawuran yang terjadi antar geng. Pada masa itu pula, aku merasakan hampir terlibat dalam tawuran yang batal terjadi karena secara kebetulan ada anggota TNI lewat disekitar area pertarungan. Pada masa SMP pula, aku merasakan beberapa kali di hukum oleh guru, yang lebih parah dibanding masa sekolah dasar. Pada masa itu pula, aku merasakan sebuah pengalaman hampir saja dikeluarkan dari sekolah seandainya aku membuat satu pelanggaran berat lagi saja. Namun aku tetap bersyukur bahwa aku boleh lulus dari SMP terbaik di kotaku.

Pada masa SMA, kenakalanku tidak begitu saja surut. Aku bahkan mengenal lebih banyak teman geng dan semakin menjadi-jadi. Beberapa kenakalan yang pernah aku lakukan antara lain membobol teralis jendela kelas agar dapat lebih memudahkan untuk keluar dari kelas saat guru sedang keluar dari kelas, khususnya ketika mata pelajaran yang diajarkan oleh guru tersebut membosankan atau saat sedang ingin tidak ikut pelajaran. Pada masa itu pula, kebiasaanku berjudi semakin menjadi-jadi dibandingkan pada masa SMP. Setiap ada pertandingan sepakbola, hampir selalu aku bertaruh dengan beberapa orang teman. Kadang kalah, kadang menang. Aku juga menjadi salah satu dari sekian orang berandalan sekolah, yang pada saat-saat tertentu mencari ‘mangsa’ untuk dijadikan ‘tumbal’. Sempat juga antara kelasku dengan kelas sebelah hampir terlibat perkelahian masal. Benar-benar waktu itu aku dan beberapa orang kawan seolah-olah sudah seperti penguasa sekolah, setiap orang yang dianggap sombong, mencari perkara, dan sejenisnya pasti akan segera mendapat ‘hadiah’ secara gratis dari kami. Meskipun begitu, aku masih bersyukur bahwa aku tidak pernah sampai memberi ‘hadiah’ secara langsung, sebab teman-temanku yang lebih banyak berperan sebagai eksekutor. Ujung dari semua kenakalan tersebut adalah aku secara resmi dikeluarkan dari sekolah pada masa awal kelas 3. Namun, justru dari situlah semangatku kembali hidup. Entah kenapa, setiap kali aku menghadapi tantangan, secara tidak disadari adrenalin di dalam tubuhku dengan cepat mendorongku untuk menjawab tantangan tersebut. Aku sadari, meskipun kadang aku takut atau tidak memiliki kemampuan untuk menjawab tantangan tersebut, tetapi anehnya aku hampir selalu berhasil menjawabnya. Akhirnya aku sadar bahwa aku akan jadi ‘beku’ secara mental jika aku tidak menghadapi suatu hal yang menantang.

Tickerbar