Friday, 24 June 2011

Masih Belajar Bagaimana Sebuah Bisnis Dijalankan


Segala sesuatunya berawal ketika saya membaca sebuah buku berjudul Google Success Story beberapa tahun yang lalu. Sejak saat itu hingga sekarang, impian untuk membangun suatu bisnis yang sukses masih terus menjadi bagian impian saya. Sejak saat itu pula, saya belajar bagaimana caranya membangun bisnis dan pernah belajar beberapa kali berbisnis kecil-kecilan (sekarang juga masih kecil). Bisnis yang saya jalani waktu itu gagal total karena kurang matangnya pemikiran serta perencanaan sebelum memutuskan terjun ke suatu bisnis. Saya masuk ke bisnis tersebut hanya karena sekedar ingin mencoba serta didasari oleh suatu hal yang tidak sesuai dengan pemikiran saya terhadap bisnis lain.
Bisnis saya saat itu gagal total dan sampai saat ini barangnya masih ada banyak, sebab saya menjalankannya tanpa memikirkan dengan matang serta asal bergerak saja. Bisnis yang saya jalani kala itu juga tidak benar-benar sesuai dengan impian asal saya untuk membangun bisnis berlandaskan teknologi tinggi. Saya hanya sekedar dan akhirnya hanya mampu berjalan ala kadarnya, sebelum akhirnya kandas.

THERE’S NO COMPROMISE !

Saya masih dan akan selalu belajar, sebab saya tidak pernah puas atas setiap apa yang pernah saya raih dalam hidup. Saya mensyukuri segala sesuatu yang ada, namun saya belajar memaksa diri saya sendiri untuk tak akan pernah puas dan terus berupaya mencapai sesuatu yang lebih dan lebih lagi. Saya telah belajar bahwa kepuasan adalah awal kehancuran serta penurunan kinerja. Kepuasan menjadi awal dari adanya kompromi terhadap segala sesuatu, khususnya terkait dengan kualitas hasil kerja kita.
Saya akui, bahwa beberapa tahun lalu saya pernah berkompromi terhadap terlalu banyak hal dalam hidup saya. Saya mengkompromikan hasil kerja yang tidak bagus. Saya membuat toleransi untuk kualitas yang rendah atau kurang baik. Saya menoleransi segala hal yang tidak benar, segala hal yang tidak baik, dan segala hal yang tidak disiplin, yang pada akhirnya berimbas terhadap beberapa aspek kehidupan saya sendiri. Tapi semua itu sudah berlalu, dan saya tidak akan pernah membiarkan hal tersebut tetap menghantui saya selamanya. Saya telah melupakan semua standar rendah tersebut sejak akhir tahun lalu, dan mulai awal tahun ini saya belajar serta kembali melatih diri untuk dapat terus dan terus menanjak dalam segala hal. Saya berlatih disiplin diri, berlatih kembali untuk memimpikan hal-hal besar, berlatih kembali untuk fokus dan konsentrasi dalam mengejar seluruh impian, berlatih kembali untuk terus menghasilkan kinerja yang meningkat dari hari ke hari, berlatih untuk tidak berkompromi dengan standar yang rendah, berlatih untuk membenci hasil kerja yang tidak maksimal, dan masih banyak latihan demi latihan yang perlu terus saya jalani untuk kembali ke puncak kemenangan.

Tuesday, 21 June 2011

Agama: Sebuah Bisnis ?

Saya adalah manusia beragama, seperti semua warga negara Indonesia lainnya. Saya mengerti tentang ajaran agama serta mempercayai bahwa Tuhan itu ada. Saya juga berusaha sebaik mungkin mentaati ajaran agama yang saya anut. Namun, setelah sekian lama beragama dan mengamati praktek kegiatan beragama, saya menemukan adanya kemiripan antara lembaga agama atau agama itu sendiri dengan lembaga bisnis atau bisnis.
Saya akan mulai dari ulasan saya mengenai lembaga agama sebelum masuk ke topik yang lebih besar yaitu agama. Lembaga agama yang berasal atau menyebarkan ajaran agama yang saya, sebut saja agama A, saat ini seolah bersaing satu dengan yang lain untuk memperoleh sebanyak mungkin umat untuk beribadah di lembaga agama atau lokasi milik lembaga agama tersebut. Mereka berlomba-lomba dengan menggunakan beragam trik atau strategi untuk menjaring sebanyak mungkin umat agar beribadah di tempatnya. Mereka adakan acara-acara yang meriah, mengundang tokoh-tokoh agama terkemuka, mengundang orang-orang terkenal (baik dari kalangan artis, bisnis, maupun politik), mereka mengkonsep cara penyambutan umat yang datang beribadah di tempatnya, dan berbagai cara lain, semata hanya untuk satu tujuan utama, yaitu menjaring sebanyak mungkin umat untuk mau beribadah di tempatnya.

Sunday, 19 June 2011

The Da Vinci Code Dalam Pandangan Saya

Beberapa tahun lalu, saya masih ingat dengan jelas buku karya Dan Brown ini mampu membuat heboh cukup banyak pihak, khususnya pihak gereja Katolik. Isi buku yang sedikit kontroversial menurut sebagian orang dikhawatirkan dapat membuat iman orang-orang Kristiani goyah, sebab buku tersebut menceritakan beberapa hal yang memang bertentangan dengan kitab suci. Kala itu, saya tidak begitu penasaran dan memang tidak tertarik untuk membaca buku kontroversial ini. Namun, beberapa minggu lalu, saya akhirnya memutuskan untuk mencari tahu mengapa buku tersebut mampu menimbulkan kontroversi dan berita yang begitu heboh di kalangan para pemuka agama Kristiani. Saya sendiri adalah pemeluk Kristiani dan saya percaya bahwa isi kitab suci agama saya adalah benar adanya, tidak seperti apa yang diceritakan dalam buku The Da Vinci Code. Namun tulisan saya kali ini tidak akan membahas pertentangan antara apa yang disampaikan oleh kitab suci dengan apa isi buku tersebut, saya membahas segi lain dari isi buku ini yang sanggup menarik perhatian saya untuk tetap bertahan dan menyelesaikan membacanya.

Tickerbar