Sunday, 2 March 2008

Permata Di Ruang Angkasa

JAKARTA - Siapa menyangka jika nun jauh di ruang angkasa mungkin tersimpan tambang permata yang sangat banyak. Teleskop ruang angkasa Spitzer milik badan antriksa AS, NASA, cocok untuk menangkap jejak batu mulia tersebut di sekitar bintang yang sangat panas.

Namun, jangan berpikir batu permata yang ada di ruang angkasa berupa bongkahan batu yang dapat dibentuk. Para astronom tidak berburu harta karun, namun mencari jejak kehidupan dengan mencari permata meski hanya seukuran beberapa nanometer (sepermiliar meter) sekalipun.

Dengan mempelajari partikel-partikel permata, mereka berharap dapat mempelajari lebih dalam bagaimana pembentukan molekul-molekul karbon yang kompleks sebagai pembentuk kehidupan di Bumi mulai berkembang di ruang angkasa.

Perburuan permata di ruang angkasa telah dilakukan sejak tahun 1980-an saat para astronom menemukan partikel-partikel permata dari meteorit yang jatuh ke Bumi. Diyakini, 3 persen kandungan permata dalam meteorit tersebut berasal dari butir-butir permata di ruang angkasa. Jika meteorit merupakan gambaran debu di ruang angkasa, hasil perhitungan menunjukkan bahwa dalam setiap gram debu dan gas di ruang angkasa mungkin mengandung 10.000 triliun partikel permata berukuran nanometer.

"Permata ruang angkasa terbentuk pada kondisi yang sangat berbeda dengan permata yang terbentuk di Bumi," ujar Louis Allamandola, peneliti lain dari Ames. Jika permata di Bumi terbentuk karena tekanan dan panas tinggi, permata di luar angkasa terbentuk pada lingkungan dengan suhu maupun tekanan rendah.

Charles Bauschlicher dan timnya dari Ames Research Center, milik NASA, telah melakukan simulasi komputer untuk memperkirakan komposisi ruang antarbintang jika mengandung partikel-partikel permata. Hasilnya, arae tersebut akan menyala jika terkena pnacaran sinat inframerah pada panjang gelombang antara 3,4-3,5 mikron dan 6-10 mikron.

Spitzer cocok dipakai untuk mencari permata karena sensitif pada kedua panjang gelombang. Selama ini, permata tak ditemukan di ruang angkasa karena para astronom belum menggunakan alat maupun lokasi pencarian yang tepat.

"Sekarang kami tahu ke mana harus mencari untuk melihat permata-permata kecil menyala, teleskop inframerah Spitzer dapat membantu kami mempelajari lebih banyak mengenai keberadaannya di ruang angkasa," ujar Allamandola. Usulan Bauschlicher, Allamandola, dan tim peneliti lainnya dipublikasikan dalam Astrophysical Journal edisi terbaru.

Sumber :PHYSORG

No comments:

Post a Comment