Tuesday, 16 February 2010

TIDAK ADA YANG SIA-SIA ATAU TIDAK BERGUNA

Sebelum memperoleh kesadaran ini, aku sering menganggap beberapa hal itu sia-sia. Beberapa hal itu terlalu memboroskan waktu saja. Beberapa hal itu tidak penting dan seharusnya tidak dilakukan. Memang hal itu benar, ada beberapa hal yang seharusnya tidak patut dan tidak perlu kita lakukan atau mungkin perlu kita lakukan tetapi bukan sekarang. Tetapi hari Sabtu tanggal 13 Februari 2010 malam, aku mendapatkan kesadaran baru. Sebuah kesadaran yang membukakan pikiranku lebar-lebar. Inilah kesadaran itu.

Malam itu, menjelang aku tidur saat aku sudah diatas tempat tidur dan bersiap memejamkan mata, tiba-tiba aku terpikirkan pikiran ini, yaitu tidak ada hal yang sia-sia. Beberapa waktu sebelumnya aku menganggap bermain game itu membuang waktu dan tidak berguna, nonton film itu membuang-buang waktu dan seringkali mengajarkan hal yang tidak baik, dan masih ada beberapa hal lain lagi yang kupandang tidak perlu atau tidak berguna serta membuang-buang waktu. Namun apa yang muncul dipikiranku malam itu mengubahkan pikiranku cukup banyak. Aku jadi sadar bahwa tidak ada yang sia-sia atau percuma saja di dunia ini. Tuhan ijinkan game ada untuk jadi sarana hiburan baik bagi anak-anak maupun orang dewasa disela-sela kesibukan sekolah dan belajar atau kesibukan kerja. Game apa pun, Tuhan ijinkan ada benar-benar untuk melepaskan rasa penat yang menghinggapi pikiran kita setelah begitu banyak dipusingkan oleh aktivitas kita sehari-hari. Hal yang sama juga berlaku untuk nonton film.

Disamping game dan nonton film, ditengah makin merajalelanya internet dan social networking, aku menemukan masih ada beberapa orang yang menganggap Facebook, Friendster, Twitter, dan sejenisnya tidak berguna, menurutku hal tersebut kurang tepat. Mungkin mereka belum membutuhkannya, tetapi adalah tidak tepat jika mereka mengatakan bahwa itu tidak berguna, sebab sudah terbukti bahwa social networking yang ada saat ini telah membantu cukup banyak orang diseluruh dunia. Aplikasi-aplikasi itu membantu orang-orang bertemu dengan keluarga atau kawan lamanya yang sempat terpisah cukup lama, membantu mencegah terjadinya tindak kejahatan, membantu orang menemukan teman-teman baru yang akan berguna dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan kerja atau usaha. Awalnya aku juga berpikir bahwa buka Facebook itu terlalu buang-buang waktu, terlalu menyia-nyiakan hidup kita, namun sudah sejak beberapa bulan yang lalu aku merasakan manfaatnya yang cukup besar bagi diriku. Jadi kalau aku mau bilang bahwa game, film, maupun aplikasi social networking itu sebenarnya bermanfaat sangat besar bagi kehidupan kita asalkan digunakan untuk tujuan yang baik dan dengan cara yang tepat dan tidak membuat kita lupa akan waktu atau tanggung jawab kita.

Penjelasan diatas barulah seputar benda-benda atau aplikasi serta sejenisnya yang dibuat oleh manusia. Berikutnya adalah mengenai kejadian-kejadian atau hal-hal yang ada didalam hidup kita maupun sekitar. Aku akui, aku sempat mendapatkan doktrin yang salah. Doktrin yang cukup mempengaruhi pikiranku. Aku berpikir bahwa jika ada orang yang gagal atau melakukan pekerjaan yang rendahan, aku berpikir bahwa mereka itu kurang berguna. Namun, kini aku sadar bahwa mereka semua berguna sesuai dengan tujuan yang telah Tuhan tetapkan untuk masing-masing mereka. Aku juga sempat berpikir bahwa kegagalan itu adalah sesuatu yang tidak berguna, itu hanya membuat kita sedih dan mungkin merasa tidak berguna. Namun, aku akhirnya menyadari bahwa kegagalan Tuhan ijinkan ada untuk mengingatkan kita bahwa kita harus memperbaiki diri serta harus berserah kepada-Nya. Dia sendiri bilang dalam firman-Nya bahwa orang yang gagal atau tidak berhasil, jahat, dan lain-lain itu Dia ijinkan ada untuk dijadikan sebagai peringatan atau pelajaran bagi kita agar tidak berbuat hal yang serupa atau tidak melakukan kesalahan yang sama. Aku juga sempat berpikir bahwa istirahat atau bersantai-santai apalagi bila dilakukan dalam rentang waktu yang lama sungguh-sungguh percuma, namun akhirnya aku sadar juga bahwa Tuhan mengijinkan dan bahkan memerintahkan untuk punya waktu istirahat guna memulihkan kondisi fisik serta mental kita. Sebelumnya juga aku menganggap bahwa aku harus kerja dan kerja atau belajar dan belajar, hal itu benar tetapi juga tidak seratus persen benar. Aku harus berusaha menyisihkan waktu untuk bersosialisasi serta mencari kawan, aku masih perlu tidur atau istirahat untuk memulihkan kondisi fisik, aku masih perlu berolahraga untuk membuat aliran darah dalam tubuhku tetap lancar serta untuk menjaga kesehatan serta stamina tubuh, aku masih perlu mendengarkan lagu atau menonton film untuk menyegarkan jiwa atau pun untuk mencari inspirasi. Dan masih banyak contoh yang lain.

Jadi akhirnya aku sadar bahwa tidak ada hal yang tidak berguna atau sia-sia di dunia ini. Semua jenis alat, permainan atau hiburan, makanan, buku, film, pakaian, kegiatan, orang, serta hal-hal lainnya itu Dia ijinkan ada untuk kita manfaatkan dengan sebaik mungkin dengan cara-cara yang tepat dan sesuai dengan firman-Nya untuk kebaikan hidup kita. Segala sesuatu yang sudah Tuhan ijinkan ada atau tercipta, tidak ada katanya kita anggap itu tidak berguna. Selamat menikmati semua yang sudah Tuhan sediakan dalam hidup kita. God bless you all.

Sunday, 14 February 2010

TIDAK PERNAH PUAS, TAPI BERSYUKUR

Beberapa kali aku mendengar bahwa jadi orang harus bisa puas atau harus belajar untuk puas. Namun aku punya pendapat yang sedikit berbeda, itulah inti tulisan ini yang bisa singkat atau panjang isinya. Selamat membaca.

Bagiku jadi orang harus tidak boleh puas, sebab hal itulah yang seringkali jadi sumber masalah buat kita. Orang yang cepat puas tidak akan bisa memperoleh hasil yang lebih tinggi dibandingkan apa yang sudah dia peroleh. Orang yang cepat puas juga akan membuat orang tersebut lupa bahwa dirinya belumlah orang yang terbaik atau dengan kata lainnya selalu masih ada orang yang lebih baik dibandingkan kita pada suatu bidang tertentu. Rasa puas akan membuat kita lupa untuk terus mengembangkan diri menjadi individu yang lebih baik dan lebih baik. Itulah yang sempat aku alami beberapa waktu lalu. Dengan menjadi Ketua Pekan Kampus 2009, aku merasa bahwa aku sudah meraih puncak prestasi keorganisasian. Tidak bisa disangkal bahwa hal itu memang benar, menjadi Ketua Pekan Kampus adalah prestasi puncak bagiku selama “karier” berorganisasi di kampus. Namun aku lupa bahwa jabatan tersebut menuntut diriku untuk berbuat lebih daripada ketika aku menjadi panitia biasa. Aku terlena oleh kesuksesan meraih posisi tersebut, sehingga aku lupa untuk terus mengembangkan diriku untuk bisa mengemban tanggung jawab tersebut dengan jauh lebih baik. Itulah salah satu contoh bahwa rasa puas, khususnya rasa cepat puas, itu tidaklah tepat, kalau tidak mau dibilang tidak baik. Akibat rasa puas kita bisa terlena dan tidak sadar bahwa orang-orang yang dulunya kalah hebat dibandingkan kita ternyata juga terus mengembangkan diri untuk menjadi lebih baik. Rasa puas inilah yang bisa menghancurkan diri kita sendiri dalam setiap langkah-langkah kehidupan kita.

Akibat rasa puas, kita yang awalnya sudah hebat, namun karena terlena dan puas akan kondisi kita saat ini menjadi merasa nyaman dengan kondisi tersebut dan menganggap bahwa kita akan selamanya menikmati posisi puncak yang sudah kita raih. Kita menganggap bahwa diri kita akan selalu jadi yang terhebat dan tak terkalahkan. Kita benar-benar sudah merasa nyaman dengan posisi kita sekarang dan menganggap bahwa itu sudah cukup. Sudah tidak perlu dan bahkan mungkin kita menganggap tidak bisa berkembang lagi. Kita menganggap bahwa kondisi kita di puncak sudah benar-benar mentok, jadi kita tidak perlu mengembangkan diri lagi. Inilah secuil akibat buruk dari rasa puas, yang sebenarnya mungkin masih banyak lagi akibat buruk dari rasa cepat puas.

Untuk rasa puas yang dimaksudkan oleh omongan beberapa orang yang pernah aku dengar tersebut seharusnya lebih tepat bila disebut dengan rasa syukur atau bersyukur. Kita tidak pernah boleh puas, namun harus selalu berusaha untuk bersyukur. Rasa puas membuat kita terlena sehingga lupa untuk terus mengembangkan diri jadi lebih baik, sedangkan rasa syukur akan membuat kita sadar bahwa Tuhan sudah memberikan kita segala sesuatu yang tidak dimiliki oleh sebagian besar orang yang kita jumpai. Rasa syukur akan mengingatkan diri kita sendiri bahwa Dia sudah sangat baik kepada kita sehingga kita tidak kekurangan apapun yang kita perlukan dalam hidup kita sehari-hari. Kita juga harus bersyukur bahwa kita boleh menikmati makan tiga kali sehari berupa makanan yang bergizi. Kita juga harus bersyukur bahwa kita diberi kesehatan yang prima sehingga kita bisa bekerja untuk memperoleh uang untuk mencukupi kebutuhan hidup kita sehari-hari. Kita juga harus bersyukur bahwa meskipun setidak mampu atau setidak beradanya kita, kita masih punya satu harta yang berharga yang tidak terbayarkan, yaitu nafas hidup dan udara disekiling kita. Ini menjadi bukti bahwa memang Dia sungguh teramat baik bagi hidup kita.

Maka jika boleh dibilang kita tidak boleh menjadi individu yang cepat puas dalam hidup ini. Karena dengan rasa puas kita tidak menghargai anugerah berupa kesempatan atau talenta-talenta yang sudah Dia beri dalam hidup kita. Kita lupa untuk mengembangkan diri sampai mencapai potensi terpenuh kita (our fullest capability). Kita diberi beban atau kewajiban untuk terus mengasah dan mengembangkan talenta yang sudah Tuhan berikan. Namun kita juga diingatkan oleh-Nya untuk tetap bersyukur apapun keadaan kita atau bagaimanapun buruknya kejadian yang kita alami dalam hidup. Maka mulai hari ini, kita semua harus berusaha mengingatkan pada diri kita sendiri untuk tidak pernah puas, namun selalu setia untuk bersyukur atas kasih dan karunia-Nya dalam hidup kita. Amin.

BERTAHAN DALAM PROSES

Saya yakin dengan sangat bahwa semua orang (atau paling tidak hampir semua orang) tahu bahwa sebuah sukses itu diraih melalui suatu perjuangan atau proses yang panjang. Dan mereka juga tahu bahwa proses yang dialami oleh setiap orang itulah yang membuat diri setiap orang itu berbeda. Namun, pertanyaannya, apakah setiap orang mau tetap setia untuk bertahan dalam proses yang harus dijalaninya menuju tangga kesuksesan ?

Pertanyaan ini sebenarnya juga ditujukan untuk diri saya sendiri. Saya yakin, masih ada cukup banyak impian yang belum kita raih dan masih harus kita raih serta perjuangkan dengan sangat keras. Kita masih harus sering bertanya kepada diri kita sendiri apakah kita benar-benar serius untuk meraih impian tersebut. Apakah kita benar-benar ingin membuat impian tersebut menjadi nyata ? Pertanyaan ini merupakan pertanyaan yang ditujukan untuk introspeksi ke dalam diri kita masing-masing.

Pertanyaan tersebut penting, namun yang juga tidak kalah pentingnya adalah apakah kita benar-benar mau dan sanggup bertahan untuk menjalani proses menuju kesuksesan atau peraihan setiap impian kita ? Saya dan mungkin sebagian besar dari kita kebanyakan masih mudah menyerah ketika menghadapi sedikit kesulitan dalam jalan yang harus kita lalui untuk mendekatkan diri kita kepada kesuksesan atau impian kita. Saya sendiri benar-benar merasakannya akhir-akhir ini. Kita terkadang terlalu mudah menyerah karena sedikit kesulitan, padahal kita sendiri juga tahu bahwa orang-orang yang sukses sekarang ini hampir semuanya dipastikan sanggup bertahan menghadapi setiap kesulitan yang mereka alami untuk menjadi individu yang seperti sekarang. Sebagian besar dari mereka benar-benar berjuang dan merangkak dari bawah untuk dapat berdiri tegak seperti sekarang ini. Kita semua (orang-orang yang masih mudah menyerah) perlu untuk meniru dengan sepenuhnya semangat pantang menyerah yang mereka semua miliki, sehingga dengan demikian kita juga dapat meniru jejak mereka semua menjadi individu yang tangguh dan berhasil. Menjadi individu yang dikenal oleh banyak orang dan juga disegani oleh banyak orang karena kegigihan yang telah kita munculkan dalam tahapan untuk meraih keberhasilan, bukan karena keberhasilan yang sudah kita raih semata.

Sekarang saat saya dan Anda semua yang membaca tulisan ini merenungkan kembali pertanyaan, Apakah kita benar-benar siap untuk tetap tekun bertahan dalam setiap proses atau jalan yang harus kita lalui untuk meraih keberhasilan hidup ? Pertanyaan ini harus Anda dan khususnya saya renungkan kembali dengan sangat dalam agar tertanam dalam benak serta hati kita semua. Dengan begitu, besar harapannya pertanyaan ini bukan cuma sekedar pertanyaan yang setelah muncul dan kita sadari pentingnya proses, kemudian kita lupakan begitu saja dengan mudahnya. Benar-benar harus direnungkan !

ADA YANG SALAH DENGAN PARA WAKIL RAKYAT KITA

Akhir-akhir ini benar jika dikatakan bahwa ada yang salah dengan para wakil rakyat kita yang duduk di DPRD maupun DPR pusat. Apa pasal aku berani bilang begitu ? Jika kita semua mau cermat, kita bisa temukan jawabannya pada berita-berita yang ada di surat kabar maupun televisi yang bercerita tentang kelakuan para wakil kita di dewan. Kelakuan buruk yang sudah mengakar sejak dulu dan juga kelakuan buruk lain yang baru saja muncul akhir-akhir ini.

Kisah para anggota dewan yang sering terlambat atau bahkan bolos sidang dewan sungguh sangat memalukan. Beberapa hari terakhir kisah ini kembali mencuat di surat kabar. Diberitakan bahwa sebagian besar anggota dewan datang terlambat dalam setiap rapat dewan yang diadakan. Ketidakdisiplinan para anggota dewan ini membuat hampir semua rapat yang diadakan oleh dewan menjadi molor dari jadwal yang seharusnya. Sungguh benar-benar memalukan membaca berita ini. Itu baru masalah keterlambatan. Akhir-akhir ini juga aku membaca di salah surat kabar yang cukup terkenal, ternyata sudah sejak dulu setiap kali rapat dewan dilangsungkan banyak kursi di ruang rapat dewan yang kosong melompong yang menandakan cukup banyaknya anggota dewan yang bolos rapat. Jika aku ingat-ingat lagi, ternyata para anggota dewan tersebut tidaklah lebih baik dibandingkan dengan sebagian teman-teman mahasiswaku yang juga doyan telat atau bolos. Di kampusku dikenal istilah TA atau Titip Absen yang biasanya dilakukan oleh para mahasiswa yang malas masuk kuliah atau tidak terlalu suka dengan mata kuliahnya atau justru tidak suka dengan dosennya untuk bolos namun tetap dapat mengikuti ujian. Ternyata hal itu tidak hanya dilakukan oleh para mahasiswa saja yang notabene masih muda dan memerlukan banyak bimbingan, tetapi juga oleh para anggota dewan yang menjadi wakil dari rakyat dan yang seharusnya sudah jauh lebih dewasa dari para mahasiswa, mereka juga berbuat hal yang sama.

Melihat keadaan ini tidaklah salah jika mungkin rekan-rekan mahasiswa yang mungkin memang pemalas itu ditegur akan memakai hal ini sebagai alibi. Mungkin saja mereka akan berkata, “anggota dewan yang digaji mahal, diberi fasilitas mewah, yang seharusnya menjadi penyuara aspirasi rakyat serta jauh lebih dewasa dari kita saja bolos, apalagi kita yang masih muda dan tidak dapat fasilitas semewah itu”. Sungguh jika aku boleh berkata secara pribadi, para anggota dewan seperti itu tidaklah layak menjadi anggota dewan. Kerja mereka di dewan sudah cukup ringan, mereka hanya perlu hadir rapat dan memikirkan atau menyuarakan aspirasi rakyat. Mereka seharusnya punya motivasi yang lebih sebab mereka sudah dipercaya untuk mewakili sekian juta rakyat Indonesia, belum lagi mereka juga mendapatkan uang untuk setiap kehadiran mereka dalam rapat. Masa kalah dengan para mahasiswa yang setiap kehadirannya di ruang kuliah tidak mendapatkan apa-apa, kecuali ilmu pengetahuan (itu pun kalau mereka menyimak dengan sungguh-sungguh) dan jaminan untuk dapat mengikuti ujian tengah semester atau ujian akhir semester. Sungguh memalukan, kalau tidak mau dibilang memilukan. Benar-benar tidak bisa menjadi teladan bagi para generasi muda bangsa.

Oke itu soal masalah terlambat dan/atau bolos rapat. Ternyata kesalahan (kalau tidak mau dengan ekstrim dibilang sebagai keburukan) yang ini masih belum cukup, akhir-akhir ini muncul satu kejadian yang tidak kalah memalukan bahkan mungkin jauh lebih memalukan daripada sekedar terlambat atau bolos rapat dewan. Akhir-akhir dalam beberapa rapat dewan, para anggota dewan yang terhormat yang umumnya adalah orang-orang yang berintelektual tinggi justru terlalu mudah terpancing emosi dan bahkan terlibat adu jotos antara sesama anggota dewan. Apakah mereka layak disebut sebagai orang-orang yang berintelek jika melihat kejadian seperti itu ? Rasanya mereka tidak kalah dengan orang-orang yang berpendidikan rendahan. Mereka tidak kalah dengan orang-orang yang pekerjaannya (maaf) preman pasar, kuli, maupun pekerja kasar lainnya (bahkan para pekerja kasar saja masih ada yang bisa menahan emosi). Sungguh memalukan !

Kejadian memalukan yang dilakukan oleh anggota dewan pusat itu juga berimbas ke para anggota dewan yang ada di daerah. Pada berita di koran Jawa Pos tanggal 9 Februari 2010, tertulis dengan jelas judul berita, “Paripurna, Dewan Nyaris Adu Jotos”. Kejadian tersebut terjadi pada rapat paripurna dewan perwakilan rakyat daerah atau DPRD kota kelahiranku Tuban. Sungguh benar-benar tidak dapat dipercaya, hanya karena kejadian sederhana saja mereka hampir adu jotos. Menurutku setelah membaca berita tersebut, pokok permasalahannya hanya terletak pada kesalahanpahaman antara anggota dewan yang satu dengan yang lain. Masalahnya terletak pada perbedaan jumlah orang yang seharusnya menjadi anggota banmus dan banggar dewan. Menurut ketua DPRD jumlahnya sesuai dengan kesepakatan terakhir hasil pembahasan tanggal 26-27 Januari 2010 berjumlah 16 orang dan satu sekretaris dewan, namun menurut beberapa fraksi yang lain yang mengacu pada kesepakatan tanggal 31 Desember 2009 dan 12 Januari 2010, jumlah seharusnya adalah 17 orang dan satu sekretaris dewan. Hanya gara-gara masalah sepele seperti inilah adu jotos tersebut hampir terjadi dan bahkan ada adegan saling menantang untuk berkelahi antara anggota dewan yang satu dengan yang lain. Sungguh benar-benar tidak mencerminkan sikap seorang pemimpin dan anggota dewan. Sungguh benar-benar tidak menampakkan bahwa mereka adalah orang-orang yang intelek dan seharusnya menjadi panutan !

Setelah membaca kisah-kisah konyol para anggota dewan tersebut dan mengingat-ingat kembali seluruh anggota organisasi kepanitiaan di kampusku, yaitu Panitia Pekan Kampus, aku berani berkata bahwa kami semua anggota kepanitiaan tersebut masih lebih baik jika dibandingkan dengan para anggota dewan yang terhormat itu. Menurutku, kami jauh lebih disiplin dibandingkan mereka. Kami bahkan sudah mulai rapat pukul 07.00 WIB, yang berarti itu memaksa kami paling telat pukul 06.30 sudah harus bersiap-siap. Kami semua tidak dibayar untuk berpartisipasi dalam kepanitiaan ini, selain dengan poin organisasi. Bahkan seringkali kami harus keluar uang untuk mengurusi persiapan kegiatan Pengenalan Kampus ini. Tapi lihat kami orang-orang yang notabene masih muda ini masih bisa lebih disiplin dan tertib dibandingkan para anggota dewan, meskipun tidak disangkali juga bahwa terkadang masih ada dari kami yang datang terlambat, namun itu masih bisa dibilang wajar jika mengingat kami tidak mendapatkan honor apa pun dari kehadiran kami dalam rapat tersebut. Sungguh kami masih jauh lebih militan dan lebih berani bayar harga demi suksesnya acara yang akan kami selenggarakan. Itu baru ketika rapat persiapan yang berlangsung setiap minggu selama kurang lebih enam bulan. Ketika mendekati hari pelaksanaan, rapat kami semakin intensif, seminggu bisa tiga atau empat kali. Saat hari pelaksanaan tiba, paling siang pukul 05.00 WIB kami sudah harus berada di kampus untuk persiapan sebelum acara hari itu dilaksanakan. Sungguh, aku berani bilang bahwa kami lebih baik dibandingkan para anggota dewan yang terhormat. Kami lebih tangguh dibandingkan mereka. Kini, aku hanya bisa berharap bahwa para anggota dewan dapat segera melakukan introspeksi diri dan segera berbenah. Aku juga berharap agar semangat militansi dan ketangguhan yang kami tampakkan dapat terus bertahan selamanya, sehingga kami semua dapat menjadi generasi-generasi muda harapan bangsa. Semoga dengan semangat militansi yang kami miliki, kami dapat menjadi generasi-generasi baru yang akan memajukan dan memakmurkan Indonesia. Sebuah harapan yang sangat besar dari orang yang kecil. Semoga harapan itu terwujud. Semoga !

MENGEMBANGKAN TALENTA: SEBUAH TANGGUNG JAWAB YANG KITA EMBAN DARI TUHAN

Saya yakin cerita perumpamaan tentang talenta yang ada di Alkitab adalah salah satu cerita yang pasti sudah sering kita dengar. Suatu cerita perumpamaan yang bagus di Alkitab. Cerita ini pula yang menginspirasi tulisan ini dibuat. Selamat membaca.

Akhir-akhir ini aku percaya bahwa tidak ada orang yang tidak punya keahlian atau bakat dalam dirinya. Setiap orang sudah diperlengkapi dengan semua kemampuan atau bakat yang sekiranya akan dibutuhkan olehnya untuk meraih prestasi puncak dalam hidup seturut dengan rencana Tuhan untuk setiap kehidupan kita. Seringkali banyak orang berkata bahwa mereka tidak memiliki bakat atau keahlian. Seringkali pula ada orang-orang yang merasa dia tidak sebaik orang lain dalam suatu bidang tertentu. Aku secara pribadi tidak percaya pada pernyataan yang pertama, namun aku percaya pada pernyataan yang kedua. Memang setiap kita diciptakan unik sesuai dengan rencana-Nya dalam hidup kita dan Dia telah melengkapi kita dengan semua talenta yang akan kita butuhkan, dan memang ada orang yang lebih berbakat dalam bidang tertentu dibandingkan kita. Namun yang menjadi masalah utama bukanlah apakah kita lebih berbakat dalam bidang tertentu dibandingkan orang lain atau kita kalah berbakat dibandingkan orang lain dalam bidang yang lain. Masalah yang paling utama yang perlu kita semua renungkan adalah, Sudahkah kita semua mengembangkan atau memaksimalkan semua talenta yang sudah Dia beri ?

Pertanyaan tersebut yang akhir-akhir ini sering mengusik diriku. Aku merasakan (dan mungkin juga melihat) banyak orang-orang yang sebenarnya sudah diberi anugerah bakat atau kemampuan atau talenta yang hebat dalam dirinya, namun seringkali mereka menyia-nyiakannya (mungkin begitu pula dengan diriku). Aku melihat dan merasakan bahwa seharusnya orang tersebut bisa lebih hebat daripada dirinya yang sekarang jika dia mau bersungguh-sungguh mengembangkan serta memanfaatkan seluruh kemampuan yang sudah diberi dalam dirinya. Dia terlalu menyia-nyiakan bakat dan kesempatan yang sudah diberikan kepadanya untuk terus berkembang dan berkembang menjadi seorang individu yang mencapai potensi terpenuhnya. Dia tidak memanfaatkan dengan baik semua anugerah untuk mencapai sesuatu yang terbaik bagi dirinya dan orang disekitarnya.

Perasaan bersalah karena tidak mengembangkan diri dengan maksimal ini pula yang sedang menghinggapi diriku. Aku baru saja menyadari bahwa sebenarnya Tuhan sudah begitu baik kepadaku. Dia sudah berikan kapabilitas dan kepercayaan yang besar kepadaku, namun aku terlalu menyia-nyiakan semua kemampuan dan kepercayaan yang sudah Dia berikan tersebut. Aku terlalu santai-santai dan kurang berusaha dengan keras untuk mencapai potensi terpenuh diriku sesuai dengan yang Dia inginkan dariku. Perumpamaan tentang talenta yang terdapat di kitab Matius inilah yang akhir-akhir ini menginspirasi sekaligus menegurku dengan keras untuk segera memaksimalkan diri sesuai dengan kapasitas yang besar yang ada dalam diriku. Hal ini pula yang akhirnya membuatku semakin rajin dan masih ingin lebih rajin lagi dalam mengembangkan diri mencapai potensi terpenuhku. Hal ini pula yang akhir-akhir ini mendorongku untuk mengingatkan orang lain agar memaksimalkan talenta yang sudah diberikan kepadanya sampai mencapai potensi terpenuh dirinya. Sungguh, akhir-akhir ini hal tersebut semacam menjadi visi tersendiri dalam hidupku. Aku rindu melihat generasi-generasi hebat yang baru dilahirkan di negara Indonesia. Generasi-generasi yang menurut Soe Hok Gie dikatakan sebagai generasi-generasi yang akan memajukan dan memakmurkan Indonesia.

Kini aku benar-benar semakin tergerak dan sekaligus terus diingatkan untuk memotivasi generasi-generasiku serta generasi-generasi dibawahku untuk terus mengembangkan diri. Aku sudah memulainya dengan memotivasi orang-orang terdekat disekitarku yang memang ingin dan bisa dimotivasi. Aku benar-benar ingin melihat mereka mencapai potensi terpenuh yang ada dalam diri mereka. Aku ingin melihat mereka jadi orang-orang hebat di dunia ini. Aku rindu dan sangat rindu untuk dapat melihat orang-orang hebat tumbuh dan kemudian aku dapat bekerja sama dengan mereka untuk mengembangkan orang-orang hebat lain. Suatu kerinduan yang berawal dari kesadaran bahwa mengembangkan talenta adalah suatu tanggung jawab lain yang sudah Tuhan berikan pada kita seperti yang dituliskan dalam kisah perumpamaan tentang talenta itu, “Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua, dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya” (hal ini berbicara tentang rencana atau kehendak Tuhan dalam hidup kita, oleh karena itu setiap orang bisa memiliki talenta yang berbeda-beda), “Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar” (hal ini berbicara tentang kewajiban kita untuk mengembangkan diri mencapai potensi terpenuh kita dan untuk memberikan laba bagi Tuhan berupa orang-orang yang juga kita bantu untuk berkembang mencapai potensi terpenuhnya).

Sekian tulisan ini, semoga berguna bagi kalian semua yang membacanya. Semoga tulisan ini juga memberikan inspirasi bagi kita semua untuk terus dan terus mengingatkan diri kita sendiri untuk tidak pernah berhenti mengembangkan diri sebelum mencapai potensi terpenuh kita. Bagi yang mungkin merasa tidak memiliki talenta, mintalah petunjuk kepada-Nya, bertanyalah talenta apa saja yang sudah Dia berikan dalam hidup kita. Minta pula kepada-Nya untuk memberikan talenta-talenta atau kemampuan-kemampuan baru yang sekiranya kamu inginkan atau kamu perlukan untuk menjadi individu yang lebih baik bagi-Nya, percayalah jika memang Dia akan memberikannya tepat pada waktu-Nya. Selamat berkembang mencapai potensi terpenuh diri kita ! Tuhan memberkati !

KESEMPURNAAN: SEBUAH STANDAR

Kesempurnaan atau dalam bahasa Inggris, Perfection, adalah sesuatu yang pasti sangat baik. Sering sekali aku mendengar orang-orang berkata bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna di dunia ini, memang benar tidak ada sesuatu yang sempurna di dunia ini. Baik orang maupun benda-benda apa pun tidak ada yang sempurna. Orang masih bisa berbuat salah, sementara benda-benda masih bisa rusak. Benar-benar tidak ada yang sempurna.

Tapi semuanya itu bukan jadi alasan untuk tidak menjadikan kesempurnaan sebagai sebuah acuan untuk meraih prestasi atau untuk memberikan yang terbaik dalam pekerjaan atau apa pun yang kita lakukan. Kesempurnaan bisa diartikan memberikan standar yang lebih tinggi bagi diri kita sendiri dalam setiap hal yang kita kerjakan. Selalu ingin memberi lebih dan lebih baik daripada sebelumnya. Hal inilah yang sekarang sedang ingin aku tekankan kembali pada diriku sendiri. Aku masih berusaha mengingatkan diriku sendiri untuk memberi yang lebih baik dan hebat dibandingkan sebelumnya. Selalu ingin meraih hasil yang terbaik sesuai dengan kapasitas yang luar biasa yang sudah diberikan dalam diriku. Begitu juga dengan kalian. Setiap individu sudah diberikan anugerah berupa talenta-talenta yang luar biasa dalam dirinya sejak dia lahir. Hanya masalah waktu dan kesabaran saja yang membuat talenta itu bisa muncul ke permukaan dan menjadi sesuatu yang luar biasa.

Ketika sebuah kesempurnaan sudah menjadi standar, maka segala sesuatu yang kita lakukan pasti akan menghasilkan hasil yang terbaik, suatu hasil yang paling luar biasa. Namun, kesempurnaan juga tidak datang dengan tiba-tiba. Tidak ada orang yang tiba-tiba jadi hebat, jadi sangat ahli, jadi pintar, dan sebagainya. Semua itu butuh proses. Setiap orang harus dengan sabar mau memproses dirinya sendiri dengan cara terus belajar dan belajar, mencoba dan mencoba, sampai tiba saatnya seluruh talenta yang sudah dianugerahkan dalam diri setiap orang menjadi terasah dengan sempurna. Setiap orang harus berlatih dan berlatih setiap hari untuk terus mengembangkan kemampuan luar biasa yang sudah ditanam dalam dirinya.

Seringkali hal itulah yang lupa kita lakukan. Kita hanya melihat kehebatan orang lain saja, tanpa sadar atau mau mengetahui bahwa mereka menjadi hebat seperti yang kita lihat itu karena suatu proses. Mereka mengalami pembentukkan diri yang luar biasa. Mereka ditempa dan dilatih setiap hari dengan cara-cara yang luar biasa, yang bahkan kadang tampak seperti sangat menyiksa dan tidak enak. Namun itulah harga yang harus dibayar untuk membuat dirinya menjadi individu yang hebat. Kini aku juga semakin percaya bahwa individu yang hebat dilahirkan melalui proses hebat yang dijalani setiap saat sebelum dia menjadi hebat. Aku percaya bahwa orang-orang hebat itu ditempa dengan cara-cara yang tidak biasa, suatu cara yang tidak akan pernah orang yang tidak hebat alami. Orang-orang hebat itu ditempa untuk melawan dirinya sendiri, melawan rasa nyaman yang ada dalam diri mereka sendiri. Mereka ditempa untuk melawan pikiran-pikiran tidak mampu yang ada di otak mereka. Mereka ditempa untuk melawan kedagingannya sendiri.

Para ilmuwan menempa dirinya sendiri agar menjadi ilmuwan. Para olahragawan profesional dan berprestasi selalu menempa dirinya sendiri setiap waktu, sampai mereka menjadi orang yang excellent. Para pebisnis sukses yang ada di dunia sudah sejak lama menjadikan sukses dalam bisnis sebagai impian dan mereka menempa dirinya setiap waktu agar ketika saatnya mereka memulai bisnis mereka sudah siap. Para artis yang saat ini menjadi sangat populer di negeri kita juga mengalami proses penempaan yang sama, bahkan tidak jarang sebagian diantara mereka harus sudah berlatih sejak mereka masih kecil.

Kisah-kisah yang melatarbelakangi kesuksesan seseorang dalam suatu bidang apa pun hampir selalu diwarnai dengan perjuangan yang panjang dalam langkah kehidupannya sebelum mereka menjadi sukses. Suatu proses penempaan yang menjadikan mereka sempurna seperti adanya mereka sekarang. Kini, kita semua harus belajar untuk mau dengan setia menempa diri kita sendiri terus dan terus, sampai ketika tiba saatnya kita untuk unjuk gigi kita sudah siap. Ketika saat untuk unjuk kebolehan itu tiba, kita dapat menampilkan semua yang terbaik dalam diri kita dan kita dapat dengan cepat naik ke tingkat yang lebih tinggi dalam setiap pekerjaan yang kita jalani.

Jadi pesan yang bisa kita sampaikan kepada diri kita sendiri adalah milikilah semangat untuk terus belajar serta keinginan untuk terus mengembangkan diri kita sampai mencapai potensi terpenuh diri kita. Jangan pernah percaya bahwa semakin banyak, akan semakin lupa, tapi percayailah bahwa dengan terus belajar serta berlatih, kita akan terus berkembang. Berkembang menjadi individu yang mencapai potensi terpenuhnya seperti yang sudah Tuhan tanamkan dalam diri kita. Kita juga harus ingat bahwa semua talenta yang sudah ditanamkan dalam diri kita itu merupakan investasinya Tuhan yang suatu saat nanti akan ditagih hasilnya kepada kita, jadi kita memiliki tanggung jawab secara langsung pada-Nya untuk mengembangkan talenta yang ada dalam diri kita. Keep learn, keep grow !

DIKLAT PENGURUS PD 2010-2011, IS IT MY LAST CONTRIBUTION ?

Hari Kamis tanggal 6 Februari 2010, secara mendadak aku dihubungi oleh seseorang sesama mantan pengurus PD. Dia bilang bahwa besok akan ada diklat pengurus yang baru di Tumpang, dia bermaksud mengajak aku untuk turut membantu diklat sebagai sesama mantan pengurus. Awalnya aku sempat berpikir-pikir apakah aku akan ikut berpartisipasi atau tidak, sebab aku juga masih memiliki tanggung jawab yang harus aku selesaikan. Aku masih harus melakukan finishing pekerjaan yang sudah aku ambil beberapa waktu sebelumnya.

Namun entah kenapa, saat pertama kali ditawari untuk membantu, hatiku sudah tergerak untuk ikut. Ada sebuah kerinduan dalam hatiku untuk dapat membantu sebagai sumbangsih terakhirku untuk PD sebelum aku lulus di akhir tahun ini. Mungkin juga bisa dibilang sebuah kerinduan yang muncul sebagai penebus “dosa” ku dulu waktu aku tidak maksimal saat menjadi pengurus. Akhirnya setelah berpikir beberapa saat, aku putuskan untuk ikut membantu. Ternyata keputusan yang kubuat tersebut tidaklah salah.

Diklat pengurus yang berlangsung selama tiga hari dan dua malam tersebut benar-benar luar biasa. Kami semua selaku panitia melakukan beberapa persiapan yang meskipun sebagian besarnya kami siapkan secara mendadak, namun kami bersyukur karena semua dapat berjalan dengan cukup lancar hanya hujan saja yang sedikit menghambat beberapa acara yang sudah kami susun. Aku secara pribadi juga bersyukur karena para peserta diklat boleh mendapatkan sesuatu yang aku yakin akan berguna saat mereka menjalani tugas kepengurusan mereka. Aku juga bahagia melihat mereka bisa begitu menyatu satu dengan yang lain. Sungguh tidak sia-sia kerja keras kami ketika melihat masing-masing dari mereka bertumbuh dalam pengenalan akan satu sama lain dan juga pengenalan akan Tuhan serta makna dari pelayanan yang akan mereka jalani sebagai pengurus.

Acara diklat ini tidak hanya memberikan bekal dan manfaat bagi para pengurus PD 2010-2011, tetapi juga bagi kami para panitia, itulah yang aku rasakan. Kami semua merasakan sebentuk keakraban diantara kami semua, meskipun kami baru berkumpul untuk mempersiapkan acara ini dalam waktu yang sangat singkat. Kami bekerja begitu kompak dan juga tertawa bersama-sama seolah-olah kami sudah bekerja bersama dalam waktu yang cukup lama. Kami dan aku sendiri khususnya, benar-benar menikmati suasana diklat tersebut. Selain kebersamaan yang terbentuk diantara kami, aku sendiri juga seperti merasakan pembentukkan ulang diriku sendiri. Aku semakin dikuatkan ketika memimpin atau mengikuti acara demi acara yang telah kami susun ataupun ketika melihat semua yang para peserta lakukan, baik saat menjalani acara yang telah kami susun ataupun saat mereka membuat acara mereka sendiri di waktu-waktu longgar yang ada.

Sungguh, aku benar-benar merasa bersyukur masih bisa hadir di diklat pengurus ini sebagai panitia. Aku anggap ini sebagai sebentuk pelayanan atau service dariku sebagai mantan pengurus. Aku berharap juga acara diklat ini benar-benar melengkapi para pengurus baru yang hadir pada acara ini dalam menjalani tugas mereka sebagai pengurus PD. Aku berharap sekali bahwa mereka bisa menjadi pengurus-pengurus yang hebat yang mampu dan mau membuat standar yang tinggi bagi diri mereka sendiri. Sebuah standar yang akan membawa mereka meraih hasil maksimal dalam pelayanan mereka sebagai pengurus. Terakhir, selamat bertugas para pengurus baru PD iSTTS 2010-2011. Sukses buat kalian !

BERAPA TARGET TAHUN INI ?

Tahun lalu aku berhasil membuat sekitar dua ratus tulisan untuk menambah jumlah tulisan yang sudah aku muat di blog friendsterku yang beralamat di www.peterblogs.blog.friendster.com. Sampai akhir tahun 2009 lalu, total sudah sekitar 260 tulisan aku posting di blog tersebut. Pertanyaannya, berapakah target yang ingin kucapai tahun ini ?

Menurut perhitungan dari produktivitas menulisku tahun lalu, target tahun ini sedikit lebih banyak dibanding tahun lalu. Jika tahun lalu total aku memposting sekitar 260 tulisan, maka tahun ini targetnya adalah 300 tulisan. Sejauh ini (sampai tulisan ini dibuat tanggal 10 Februari 2010) sudah 26 tulisan aku posting di blogku yang lain yang beralamat di www.peteradisaputro.blogspot.com. Target 300 tulisan memang kelihatannya masih sangat jauh, namun dengan kerja keras yang pantang menyerah dan juga dengan keinginan untuk terus berbagi pemikiran, aku yakin aku dapat meraih target tersebut. Memang terkadang kita harus buat target yang tampaknya tidak mungkin kita raih, sebab hal itu akan memaksa diri kita sendiri untuk terus belajar dan belajar serta berani untuk memberi lebih daripada yang dapat kita beri. Hal ini akan membuat kita tidak hanya mengandalkan kemampuan diri sendiri, tetapi juga membuat kita berserah atau bekerja sama dengan Tuhan kita masing-masing.

Akhirnya itulah sekilas tentang target jumlah tulisan yang ingin aku buat tahun 2010 ini. Aku akan berjuang keras dan terus memikirkan ide-ide serta cara-cara untuk menghasilkan tulisan sesuai target dan juga dengan cara penyampaian atau penulisan yang lebih menyegarkan. Selamat membaca seluruh sisa karyaku di tahun 2010 ini. Doakan juga semoga saya mampu untuk terus berkarya secara konsisten.

AKHIRNYA MENEMUKAN PANGGILAN HIDUPKU

Setelah beberapa waktu lalu sempat terombang-ambing hanya karena masalah rasa suka terhadap seorang cewek yang membuatku sempat kehilangan arah hidup dan juga ciri khasku yang unik, kini aku sudah mulai kembali menemukan arah kehidupanku. Setelah sempat beberapa kali pula kebingungan ketika menghadapi orang-orang yang menawari aku pekerjaan mulai dari orang-orang yang mengajak aku untuk join terlibat di bisnis obat kesehatan berbasis MLM sampai yang paling terakhir aku bahkan sempat bergabung di bisnis asuransi jiwa, kini aku akhirnya menemukan panggilan terbesar itu. Aku merasakan bahwa IT dan dunia teknologi secara umum menjadi sesuatu yang ternyata sudah mengusik hatiku sejak lama. Itulah pula yang melatarbelakangi pilihanku untuk belajar di sekolah IT.

Memang secara umum, aku sangat menyukai belajar berbagai macam ilmu pengetahuan, namun aku sudah memutuskan bahwa aku akan lebih mencurahkan sebagian besar waktu dan energiku pada beberapa bidang ilmu saja. Ilmu komputer adalah salah satu ilmu yang akan menjadi fokus terbesarku dalam belajar menyiapkan diri untuk masa depan sebagai orang yang akan terjun di masyarakat, meskipun aku juga masih akan belajar beberapa ilmu lain yang aku butuhkan serta akan menunjangku dalam menjalani kehidupan setelah lulus kuliah nanti. Akhir-akhir ini kecintaanku pada bidang IT dan teknologi semakin besar dan bahkan aku sudah memutuskan bahwa ketika aku akan terjun di bidang pekerjaan baik sebagai pekerja atau pemilik bisnis, maka industri dimana aku akan bergerak adalah industri yang memiliki hubungan dengan bidang teknologi informasi.

Aku mau berkata bahwa IT adalah salah satu panggilan hidup terbesarku. Sebuah panggilan yang harus segera aku penuhi dalam waktu dekat. Kini aku sedang mempersiapkan diri lebih lagi, agar aku lebih siap untuk memenuhi panggilan tersebut. Kini aku sedang ditempa lebih lagi agar menjadi seorang IT profesional yang excellent. Inilah panggilan hatiku, suatu panggilan yang berawal dari kecintaan yang besar akan komputer.

Aku akhirnya juga menyadari bahwa setiap orang memiliki atau mungkin tepatnya diberi panggilan yang berbeda-beda. Ada mereka yang terpanggil sebagai polisi, ada mereka yang terpanggil sebagai ahli hukum, ada mereka yang terpanggil sebagai dokter, ada mereka yang terpanggil menjadi politikus, ada mereka yang terpanggil menjadi guru, dan masih banyak lagi panggilan-panggilan lain yang ada dalam diri tiap individu yang berbeda-beda. Yang jadi masalah bukanlah pada perbedaan panggilan tersebut, namun terlebih pada bagaimana mengenali panggilan hidup terbesar kita dan bagaimana menjadi individu yang memenuhi panggilan tersebut dengan maksimal. Ya kedua hal itulah yang lebih penting dibandingkan yang lain-lain seperti uang, popularitas, dan sebagainya. Selamat mencari panggilan hidup Anda masing-masing dan memenuhinya dengan maksimal. Sukses !

Tickerbar