Friday, 23 December 2011

Siapa Orang Pertama Yang Harus Kita Bahagiakan ?


Sebagian dari kita, baik yang masih anak-anak, sudah remaja, maupun menginjak usia dewasa, kemungkinan masih ada yang belum mengetahui mengenai salah satu hal penting ini. Hal penting tersebut seperti tertera dalam judul tulisan ini. Siapakah orang pertama yang harus kita bahagiakan ? Setiap orang dapat memiliki jawaban yang berbeda, mungkin ada yang menjawab orang tua, saudara, pacar atau istri, anak-anak (untuk yang sudah menikah atau memiliki anak), teman atau sahabat, atau mungkin diri kita sendiri. Setiap orang berhak mengemukakan jawaban apapun dengan bebas sesuai dengan apa yang dia anggap paling benar atau tepat.
Beberapa bulan lalu, setelah perjalanan cukup panjang hidup saya yang kurang terarah, saya akhirnya mulai belajar untuk mengarahkan hidup saya kembali ke jalur yang saya inginkan. Dalam upaya kembali ke jalur yang saya inginkan tersebut, saya menemukan kebenaran yang berharga ini. Sebenarnya saya tidak menemukannya secara tiba-tiba atau sendirian, saya menemukannya setelah melakukan perenungan serta introspeksi atas kehidupan yang telah saya jalani selama hampir 1,5 tahun sebelumnya dan terinspirasi dari suatu film yang saya tonton. Melalui kedua hal tersebut, saya akhirnya sadar bahwa orang pertama yang harus kita bahagiakan adalah orang yang akan kita lihat wajahnya saat kita sedang berdiri dihadapan cermin. Ya, benar, orang tersebut adalah diri kita sendiri. Sebelum dapat membahagiakan orang lain, kita harus belajar membahagiakan diri kita sendiri.

Sekitar 2,5 tahun yang lalu, ketika saya terpilih menjadi pemimpin salah satu organisasi di kampus yang bertugas menjalankan acara orientasi mahasiswa baru, saya berbuat kesalahan ini. Ketika itu, saya yang terinspirasi oleh suatu buku yang menceritakan suasana kerja salah satu perusahaan teknologi informasi di Amerika Serikat yang mencoba menciptakan suasana kerja yang menyenangkan untuk para karyawannya, mencoba menerapkan atau tepatnya meniru suasana yang serupa di organisasi yang saya pimpin. Saya mencoba untuk menciptakan suasana yang menyenangkan bagi mereka semua. Saya dan beberapa orang yang saya pilih terlebih dahulu untuk membantu saya mencoba segala upaya untuk menciptakan suasana menyenangkan tersebut. Namun upaya tersebut tidak terlalu berhasil. Hal yang sebaliknya justru terjadi. Tercipta banyak ketidakpuasan di dalam organisasi, yang pada akhirnya sedikit berimbas pada kekompakan tim, semangat kerja tim, serta hal-hal lain. Beruntungnya, kami semua masih dapat menunaikan tugas kami dengan sangat baik dalam menyelenggarakan acara tersebut.
Setelah lebih dari dua tahun berlalu, saya akhirnya tersadar bahwa salah satu penyebab mengapa suasana saat itu kurang kondusif, yaitu karena diri saya mencoba melakukan terlalu banyak hal yang dapat menyenangkan mereka sehingga pada akhirnya saya tidak seperti pemimpin yang sepatutnya, sebab saya terlalu sering mengganti suasana. Suasana, sikap, maupun segala sesuatu yang tampak tidak memenuhi harapan saya dalam menciptakan suasana kerja yang saya inginkan terlalu cepat saya ganti sehingga mereka cukup bingung dengan tindakan saya dan tampak kurang tegas serta menjadi kurang efektif dalam memimpin. Kini, setelah saya sadar akan hal tersebut, setiap kali saya akan terus berupaya untuk memuaskan semua ‘dahaga’ saya terlebih dahulu. Saya akan berupaya untuk membahagiakan diri saya terlebih dahulu. Saya akan berupaya untuk melakukan yang terbaik bagi diri saya terlebih dahulu, sebelum pada akhirnya saya dapat membantu membahagiakan orang lain.
Ya, benar adanya bahwa kita harus membahagiakan, menceriakan, menyemangatkan, mengantusiaskan, mendisiplinkan, berkomitmen terhadap segala tujuan atau impian diri kita sendiri dulu, sebelum kita dapat melakukannya dengan atau terhadap orang lain. Budaya timur mungkin mempengaruhi kita agar kita dapat menyenangkan atau membahagiakan orang lain terlebih dahulu. Kita mungkin diajari untuk membantu orang lain terlebih dahulu serta meletakkan kepentingan orang lain diatas kepentingan kita. Hal tersebut mungkin benar pada kondisi tertentu. Namun mulai saat ini, pada sebanyak mungkin kondisi atau situasi, kita harus ingat bahwa orang pertama yang harus kita bahagiakan, puaskan, legakan, adalah diri kita sendiri dulu. Segalanya harus bermula dari diri kita, baru kemudian kita dapat membawa dampaknya untuk orang lain. Bagaimana menurut kalian ?

Tickerbar

KumpulBlogger