Monday, 20 September 2010

BERMIMPI SAJA DULU

Impian itu gratis, kata-kata itulah yang beberapa hari lalu menghampiri benakku. Ketika kata-kata itu berhenti sejenak dipikiran, aku sadar kenapa aku tidak mencoba bermimpi sebesar mungkin. Seringkali secara tidak kita sadari, seiring semakin berlalunya waktu, dan seiring semakin kita dewasa kita seolah menjadi terlalu realistis dan kurang berani memimpikan hal-hal yang seolah tidak mungkin. Ya memang benar bahwa kita harus realistis dan tidak hidup di angan-angan belaka, namun tidak ada salahnya juga terkadang kita memimpikan hal-hal yang kelihatannya tidak masuk akal. Apa salahnya kita lakukan itu, kan bermimpi itu gratis dan tidak bayar, jadi bermimpi saja tanpa terlalu peduli apakah impian kita itu nyata atau tidak, mungkin berhasil atau tidak, yang penting bermimpi dulu.
Jujur secara pribadi, terkadang aku juga kurang berani bermimpi. Terkadang aku juga menjadi terlalu realistis dan lebih sering pula aku terpengaruh oleh beberapa teman yang kurang berani bermimpi sehingga tanpa aku sadar aku mengerdilkan impianku sendiri. Kini, aku sedang mencoba untuk tidak terlalu dipengaruhi oleh orang-orang disekitarku. Aku mencoba mengenali apa yang sungguh-sungguh aku impikan dan inginkan serta kemudian mencoba untuk terus memegangnya selama mungkin dan sekuat mungkin. Aku juga tahu bahwa terkadang memang ada impian-impian yang sulit terwujud, tapi selama kita ingin memimpikannya ya impikan saja.

Akhir-akhir ini, aku juga sedang berusaha merajut kembali impian-impian masa lalu yang belum sempat terwujud dan yang masih mungkin diwujudkan di masa depan. Aku mencoba merangkainya seindah mungkin di pikiranku. Aku mencoba membayangkannya setiap ada waktu agar aku terus diingatkan akan impian-impian tersebut. Aku tahu bahwa beberapa impian akan membutuhkan upaya yang sangat keras untuk mencapainya, namun aku tetap selalu berusaha memimpikannya kapanpun aku bisa. Walt Disney saja memimpikan untuk membangun Walt Disney World selama dua puluh lima tahun, baru dia dapat mewujudkan impiannya tersebut. Meksipun ketika Walt Disney World selesai dibangun Walt Disney telah tiada, tetapi paling tidak dia telah mampu memimpikannya dua puluh lima tahun sebelumnya. Disney telah melihat Walt Disney World di imajinya bahkan ketika taman impian tersebut masih belum dirancang.
Jadi yang harus aku tekankan pada diriku sendiri adalah bermimpilah sebesar mungkin, bahkan yang lebih besar daripada yang dapat kita wujudkan. Bermimpilah karena bermimpi itu indah dan gratis. Bermimpilah, karena kita tidak pernah tahu dengan pasti apakah impian itu akan terwujud atau tidak, tapi yang terpenting setidaknya kita telah berani memimpikannya. Bermimpilah seolah-olah impian itu akan jadi kenyataan, toh jika tidak jadi kenyataan kita telah melihatnya nyata dalam pikiran kita. Bermimpilah, bermimpilah, dan bermimpilah karena siapa tahu Tuhan berbaik hati dan memberi kita kesempatan untuk mewujudkan serta menikmati impian-impian kita. Ya, bermimpilah !

Tickerbar