Ada yang pernah menonton film The Expendables yang disutradarai oleh Sylvester Stallone ? Jika ada yang pernah menonton, tentu saja tahu bahwa di salah satu bagian film tokoh Yang yang diperankan oleh Jet Li mengatakan tentang keunggulan yang dimiliki olehnya terkait postur tubuh. Seperti hampir semua orang Asia, tokoh Yang dalam film tersebut memiliki tinggi badan yang lebih pendek dibandingkan dengan orang barat, namun siapa sangka bahwa ternyata posturnya yang lebih pendek tersebut justru menguntungkan dirinya. Dalam pertarungan melawan tokoh Gunner yang awalnya adalah kawan satu timnya namun akhirnya membelot, tampak sekali keunggulan postur yang dimiliki oleh tokoh Yang. Dalam pertarungan tersebut Yang berhasil memaksa Gunner untuk masuk ke suatu lokasi yang tingginya hanya setinggi tubuh Gunner, namun sangat cocok untuk Yang yang memiliki postur lebih pendek. Tampak dalam pertarungan tersebut, tokoh Gunner beberapa kali terbentur dengan tiang-tiang besi yang menjadi penyangga ruangan tersebut. Akibat postur tubuh yang jauh lebih tinggi dibandingkan Yang, Gunner kewalahan menghadapi serbuan yang dilakukan oleh Yang dan membuatnya dikalahkan dalam pertarungan tersebut.
Monday, 20 September 2010
BERMIMPI SAJA DULU
Impian itu gratis, kata-kata itulah yang beberapa hari lalu menghampiri benakku. Ketika kata-kata itu berhenti sejenak dipikiran, aku sadar kenapa aku tidak mencoba bermimpi sebesar mungkin. Seringkali secara tidak kita sadari, seiring semakin berlalunya waktu, dan seiring semakin kita dewasa kita seolah menjadi terlalu realistis dan kurang berani memimpikan hal-hal yang seolah tidak mungkin. Ya memang benar bahwa kita harus realistis dan tidak hidup di angan-angan belaka, namun tidak ada salahnya juga terkadang kita memimpikan hal-hal yang kelihatannya tidak masuk akal. Apa salahnya kita lakukan itu, kan bermimpi itu gratis dan tidak bayar, jadi bermimpi saja tanpa terlalu peduli apakah impian kita itu nyata atau tidak, mungkin berhasil atau tidak, yang penting bermimpi dulu.
Jujur secara pribadi, terkadang aku juga kurang berani bermimpi. Terkadang aku juga menjadi terlalu realistis dan lebih sering pula aku terpengaruh oleh beberapa teman yang kurang berani bermimpi sehingga tanpa aku sadar aku mengerdilkan impianku sendiri. Kini, aku sedang mencoba untuk tidak terlalu dipengaruhi oleh orang-orang disekitarku. Aku mencoba mengenali apa yang sungguh-sungguh aku impikan dan inginkan serta kemudian mencoba untuk terus memegangnya selama mungkin dan sekuat mungkin. Aku juga tahu bahwa terkadang memang ada impian-impian yang sulit terwujud, tapi selama kita ingin memimpikannya ya impikan saja.
Friday, 17 September 2010
BAGAIMANAPUN AKU JUGA SALAH
Awal tahun 2010 ini, dengan begitu optimis aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa tahun ini aku pasti di wisuda. Namun seiring berjalannya waktu dan dengan semakin dekatnya waktu wisuda, aku melihat kemungkinan untuk itu mengecil. Hal ini disebabkan karena aku terlalu santai dalam mengejar serta menyelesaikan skripsiku. Padahal aku sudah plot jadwal waktu wisuda dengan kedua orang tuaku, namun aku sendiri tidak bersungguh-sungguh dengan jadwal itu. Aku kurang bersungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas akhirku.
Pada bulan keenam dari jadwal penyelesaian tugas akhir yang aku buat dan serahkan ke dosen pembimbing, program yang aku buat bahkan masih jauh dari selesai. Programku masih jauh dari apa yang aku targetkan di proposal. Enam bulan yang terlalu aku sia-siakan dengan tidak jelasnya arah kehidupanku. Aku jadi sadar bahwa sejauh ini sejak terakhir kali aku berjuang dengan begitu sungguh-sungguh untuk meraih jabatan ketua panitia Pekan Kampus 2009, aku belum pernah berjuang dengan serius lagi. Setelah perjuangan yang itu, aku seolah-olah terlena dan akhirnya terlalu santai dalam menjalani semuanya sehingga semuanya berjalan diluar batas waktu yang aku tentukan sendiri.
Thursday, 16 September 2010
HUM HONGE KAAMYAAB
Hum honge kaamyaab atau dalam bahasa Indonesia berarti ‘bersama kita bisa mengatasinya’ atau ‘we shall overcome’ dalam bahasa Inggris, merupakan salah satu lagu dalam soundtrack film My Name is Khan. Lagu pertama yang sampai membuatku menitikkan air mata, setelah sekian lama aku yang terkenal keras dan kaku ini tidak pernah menangis. Makna kata-kata dalam lagu ini serta situasi dalam film yang memang mendukung yang semakin entah kenapa dengan begitu ajaibnya menyentuh hatiku dan membuat air mataku menitik.
Lagu yang dinyanyikan dalam bahasa Hindi ini memang begitu indah jika dipahami kata-katanya. Lagu yang bermaksud menyatakan pesan bahwa ketika kita bersama, kita akan mampu mengatasi segala sesuatunya. Ketika kita bersama-sama, tanpa memandang perbedaan agama, bahasa, ras, atau warna kulit, kita akan mampu mengatasi semua persoalan yang ada suatu saat nanti.
Tuesday, 7 September 2010
PINTAR SAJA TIDAK CUKUP
Tulisan ini disajikan untuk orang-orang yang mungkin dengan sangat arogan merasa bahwa kepintaran saja cukup untuk membantu meraih nilai-nilai baik di sekolah atau kuliah dan untuk menjadi sukses dalam kehidupan. Tulisan ini disajikan berdasarkan pengalaman pribadi dari saya sendiri selaku penulisnya. Semoga menginspirasi dan bermanfaat.
Saya secara pribadi menyadari bahwa saya memiliki kemampuan yang diatas rata-rata yang dimiliki oleh teman-temanku baik semasa sekolah maupun sekarang saat di bangku kuliah. Cukup banyak diantara mereka yang seringkali memuji kemampuan luar biasa yang aku miliki. Pujian demi pujian seringkali membuat aku terlena dan terkadang menjadi lupa untuk belajar dan menjadi malas. Pujian demi pujian tersebut membuat aku lupa bahwa ternyata kepintaran saja tidak cukup. Kepintaran masih harus ditopang dengan kerja keras untuk benar-benar membuat kita meraih sesuatu yang luar biasa dalam hidup.
Hal ini aku sadari setelah sekitar selama empat bulan terakhir merenungkan kembali semua hal yang telah aku lalui dalam kehidupanku di masa kuliah. Aku akhirnya menemukan suatu fakta yang bisa dibilang mengejutkan diriku sendiri. Aku menemukan bahwa ketika aku belajar dengan rajin dan baik secara rutin setiap hari, ketika aku memanfaatkan setiap waktuku dengan sangat baik setiap harinya untuk hal-hal yang bermanfaat, ketika itulah aku memperoleh nilai-nilai terbaik dalam setiap semester yang aku lalui di masa kuliah.
Monday, 6 September 2010
BEFORE I AM 30
Before I am 30, I wish I can get my master degree.
Before I am 30, I wish I can get married with women that I love her so much and she love me much too. A very beautiful women I ever know.
Before I am 30, I wish I have a minimum General Manager position in a big company, no matter the company is my own company or not. But if that company is my own company, I will have more than General Manager position.
Before I am 30, I wish I can be a better leader than before to get closer to one of my dreams, so that I can make that dream come true.
Before I am 30, I wish I have a chance to speak to more than hundreds people in Indonesia to inspire them.
Before I am 30, I wish I can be an IT expert in Indonesia. One of most wanted experts in Indonesia.
That all my before 30 statements. I know to make that statements real, I need a lot of struggle, lot of learn, daily personal improvement. I need to discipline myself day by day. I need a best commitments to all of statements I wrote above. I need to work together with God, to make that dreams come true. Yeah… I need all of its !
KEMBALI BEKERJA KERAS SETELAH SEKIAN WAKTU HANYA BERSENANG-SENANG
Akhirnya menjelang masa kuliah yang sudah berakhir ini dan setelah sempat terlena beberapa saat, aku memutuskan untuk kembali menjadi seorang pekerja keras. Total sekitar hampir dua tahun terakhir aku menjadi pribadi yang terlalu santai dan hampir-hampir tidak punya arah dalam menjalani kehidupan. Pada masa-masa tersebut, aku tidak menampakkan bahwa aku adalah orang yang luar biasa. Aku hanya tampak seperti orang yang biasa-biasa saja, aku seolah-olah kehilangan seluruh kemampuan terbaikku dan juga hasil kerjaku yang biasanya selalu yang terbaik.
Kini, aku kembali melatih diri untuk menjadi seorang pribadi yang selalu maksimal dalam menjalani segala hal. Pribadi yang selalu totalitas dan memberi yang terbaik dalam segala sesuatu yang dikerjakannya. Dari seluruh hasil peninjauan ulang atas apa yang aku lakukan sebelum masa dua tahun yang aku sebutkan diatas, aku mendapatkan bahwa pada masa-masa dimana aku bekerja keras yang terbaik selalu ada hasil-hasil yang terbaik yang aku peroleh. Pada masa-masa tersebut, aku dikenal sebagai orang dengan kinerja terbaik dalam setiap organisasi yang aku ikuti dan bahkan aku menjadi pendatang terbaru terbaik dalam salah satu organisasi dimana aku terlibat sebagai anggotanya. Sungguh saat-saat itu benar-benar luar biasa.
INILAH SALAH SATU IMPIAN BESARKU: BERBICARA KE SELURUH DUNIA
Sejak beberapa waktu yang lalu, aku benar-benar menyukai berbicara dan berbagi sesuatu ke orang-orang. Secara tiba-tiba aku menjadi orang yang ‘nyerocos’, begitu beberapa temanku biasa menyebutnya. Ya berbicara, bercerita, memotivasi, berbagi segala sesuatu yang dapat aku bagi. Ada suatu hasrat serta kepuasan tersendiri ketika aku dapat melakukannya, suatu kepuasan yang hampir-hampir tidak terbayarkan oleh apapun.
Segalanya berawal dari seringnya aku melihat sejumlah video dari para pembicara, baik pembicara lokal seperti Tung Desem Waringin maupun pembicara internasional seperti John C. Maxwell (bisa dibilang dia adalah mentor secara tidak langsung untuk aku, aku belajar banyak hal dari dia), Zig Ziglar, Ken Blanchard, Anthony Robbins, dan beberapa pembicara lainnya. Aku melihat dan merasakan seperti ada suatu keindahan tersendiri seandainya aku dapat tampil di panggung untuk berbagi sesuatu dan mengajar sesuatu kepada banyak orang. Suatu keindahan yang mungkin tiada taranya bagiku.
Subscribe to:
Posts (Atom)

