Monday, 20 April 2015

Kisah Sejarah dan Kontroversi Hari Kartini

Kisah Sejarah dan Kontroversi Hari Kartini
Kisah Sejarah dan Kontroversi Hari Kartini
R.A. Kartini merupakan salah seorang Pahlawan Nasional dan juga pejuang emansipasi wanita yang ternama di negara kita. Setiap tahun, pada tanggal 21 April, selalu diadakan Peringatan Hari Kartini yang merupakan peringatan terhadap hari lahir sang Pahlawan Nasional tersebut. Namun tahukah kita mengenai Kisah Sejarah dan Kontroversi Hari Kartini ? Mungkin banyak dari kita yang tidak tahu, saya sendiri pun juga baru mengetahuinya beberapa waktu terakhir ini.

Jadi mari kita simak saja beberapa fakta tentang Kisah Sejarah dan Kontroversi Hari Kartini yang selalu diperingati setiap tahun itu.
1. 21 April merupakan hari lahir Raden Adjeng Kartini (R.A. Kartini) tepatnya pada 21 April 1879. R.A. Kartini terlahir sebagai keturunan bangsawan di Jepara, Jawa Tengah. R.A. Kartini adalah putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosrodiningrat seorang bupati (adipati) Jepara.
2. 21 April ditetapkan sebagai Hari Kartini oleh Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno, pada tanggal 2 Mei 1964 melalui Keputusan Presiden No 108.
Habis Gelap Terbitlah Terang Armijn Pane
Buku Habis Gelap Terbitlah Terang
3. Buku fenomenal karya R.A. Kartini, "Habis Gelap Terbitlah Terang", ternyata sebenarnya bukanlah buah tulisan langsung dari R.A. Kartini, melainkan ditulis (dibukukan) oleh seorang Belanda yang bernama Mr. J.H. Abendanon. Buku tersebut berisi kumpulan surat-surat Kartini kepada teman-temannya di Eropa yang berhasil dikumpulkan oleh Abendanon. Judul asli buku tersebut adalah "Door Duisternis tot Licht" yang sebenarnya berarti "Dari Kegelapan Menuju Cahaya".
4. Walaupun telah ditetapkan Pahlawan Nasional, namun ternyata masih ada beberapa sejarawan yang meragukan jasa-jasa serta keabsahan buku Kartini. Buku karyanya diragukan sebab tidak pernah ada orang lain yang pernah melihat naskah asli surat-surat Kartini selain J.H. Abendanon.
5. Banyak pahlawan wanita lain seperti Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, dan lain-lain yang perjuangannya tampak jauh lebih nyata dibanding Kartini, namun tidak mendapatkan penghargaan secara khusus berupa hari besarnya sendiri, selain Hari Pahlawan.
6. Berbeda dengan pemikiran-pemikirannya yang menolak atau menentang pingitan, poligami, larangan bersekolah hingga jenjang tinggi bagi kaum perempuan, Kartini justru menerima dinikahkan oleh orang tuanya dan dipoligami oleh Bupati Rembang.
7. Pemikiran R.A. Kartini tentang emansipasi wanita memang bergaung dan banyak didengar daripada tokoh perjuangan asal Sunda, Raden Dewi Sartika, padahal langkah gerak Dewi Sartika dipandang lebih progresif melalui penerapan nyata pemikirannya ke dalam masyarakat.

Walaupun ada cukup banyak kontroversi yang ada seputar R.A. Kartini dan juga terhadap peringatan Hari Kartini, bagaimanapun juga Kartini tetaplah memiliki jasa dalam upayanya mengangkat derajat kaum wanita dan sekaligus memberikan inspirasi kepada seluruh wanita Indonesia untuk memperjuangkan hak-haknya. Akhir kata, Selamat Hari Kartini untuk seluruh wanita Indonesia.

Tickerbar

KumpulBlogger