Sunday, 14 February 2010

ADA YANG SALAH DENGAN PARA WAKIL RAKYAT KITA

Akhir-akhir ini benar jika dikatakan bahwa ada yang salah dengan para wakil rakyat kita yang duduk di DPRD maupun DPR pusat. Apa pasal aku berani bilang begitu ? Jika kita semua mau cermat, kita bisa temukan jawabannya pada berita-berita yang ada di surat kabar maupun televisi yang bercerita tentang kelakuan para wakil kita di dewan. Kelakuan buruk yang sudah mengakar sejak dulu dan juga kelakuan buruk lain yang baru saja muncul akhir-akhir ini.

Kisah para anggota dewan yang sering terlambat atau bahkan bolos sidang dewan sungguh sangat memalukan. Beberapa hari terakhir kisah ini kembali mencuat di surat kabar. Diberitakan bahwa sebagian besar anggota dewan datang terlambat dalam setiap rapat dewan yang diadakan. Ketidakdisiplinan para anggota dewan ini membuat hampir semua rapat yang diadakan oleh dewan menjadi molor dari jadwal yang seharusnya. Sungguh benar-benar memalukan membaca berita ini. Itu baru masalah keterlambatan. Akhir-akhir ini juga aku membaca di salah surat kabar yang cukup terkenal, ternyata sudah sejak dulu setiap kali rapat dewan dilangsungkan banyak kursi di ruang rapat dewan yang kosong melompong yang menandakan cukup banyaknya anggota dewan yang bolos rapat. Jika aku ingat-ingat lagi, ternyata para anggota dewan tersebut tidaklah lebih baik dibandingkan dengan sebagian teman-teman mahasiswaku yang juga doyan telat atau bolos. Di kampusku dikenal istilah TA atau Titip Absen yang biasanya dilakukan oleh para mahasiswa yang malas masuk kuliah atau tidak terlalu suka dengan mata kuliahnya atau justru tidak suka dengan dosennya untuk bolos namun tetap dapat mengikuti ujian. Ternyata hal itu tidak hanya dilakukan oleh para mahasiswa saja yang notabene masih muda dan memerlukan banyak bimbingan, tetapi juga oleh para anggota dewan yang menjadi wakil dari rakyat dan yang seharusnya sudah jauh lebih dewasa dari para mahasiswa, mereka juga berbuat hal yang sama.

Melihat keadaan ini tidaklah salah jika mungkin rekan-rekan mahasiswa yang mungkin memang pemalas itu ditegur akan memakai hal ini sebagai alibi. Mungkin saja mereka akan berkata, “anggota dewan yang digaji mahal, diberi fasilitas mewah, yang seharusnya menjadi penyuara aspirasi rakyat serta jauh lebih dewasa dari kita saja bolos, apalagi kita yang masih muda dan tidak dapat fasilitas semewah itu”. Sungguh jika aku boleh berkata secara pribadi, para anggota dewan seperti itu tidaklah layak menjadi anggota dewan. Kerja mereka di dewan sudah cukup ringan, mereka hanya perlu hadir rapat dan memikirkan atau menyuarakan aspirasi rakyat. Mereka seharusnya punya motivasi yang lebih sebab mereka sudah dipercaya untuk mewakili sekian juta rakyat Indonesia, belum lagi mereka juga mendapatkan uang untuk setiap kehadiran mereka dalam rapat. Masa kalah dengan para mahasiswa yang setiap kehadirannya di ruang kuliah tidak mendapatkan apa-apa, kecuali ilmu pengetahuan (itu pun kalau mereka menyimak dengan sungguh-sungguh) dan jaminan untuk dapat mengikuti ujian tengah semester atau ujian akhir semester. Sungguh memalukan, kalau tidak mau dibilang memilukan. Benar-benar tidak bisa menjadi teladan bagi para generasi muda bangsa.

Oke itu soal masalah terlambat dan/atau bolos rapat. Ternyata kesalahan (kalau tidak mau dengan ekstrim dibilang sebagai keburukan) yang ini masih belum cukup, akhir-akhir ini muncul satu kejadian yang tidak kalah memalukan bahkan mungkin jauh lebih memalukan daripada sekedar terlambat atau bolos rapat dewan. Akhir-akhir dalam beberapa rapat dewan, para anggota dewan yang terhormat yang umumnya adalah orang-orang yang berintelektual tinggi justru terlalu mudah terpancing emosi dan bahkan terlibat adu jotos antara sesama anggota dewan. Apakah mereka layak disebut sebagai orang-orang yang berintelek jika melihat kejadian seperti itu ? Rasanya mereka tidak kalah dengan orang-orang yang berpendidikan rendahan. Mereka tidak kalah dengan orang-orang yang pekerjaannya (maaf) preman pasar, kuli, maupun pekerja kasar lainnya (bahkan para pekerja kasar saja masih ada yang bisa menahan emosi). Sungguh memalukan !

Kejadian memalukan yang dilakukan oleh anggota dewan pusat itu juga berimbas ke para anggota dewan yang ada di daerah. Pada berita di koran Jawa Pos tanggal 9 Februari 2010, tertulis dengan jelas judul berita, “Paripurna, Dewan Nyaris Adu Jotos”. Kejadian tersebut terjadi pada rapat paripurna dewan perwakilan rakyat daerah atau DPRD kota kelahiranku Tuban. Sungguh benar-benar tidak dapat dipercaya, hanya karena kejadian sederhana saja mereka hampir adu jotos. Menurutku setelah membaca berita tersebut, pokok permasalahannya hanya terletak pada kesalahanpahaman antara anggota dewan yang satu dengan yang lain. Masalahnya terletak pada perbedaan jumlah orang yang seharusnya menjadi anggota banmus dan banggar dewan. Menurut ketua DPRD jumlahnya sesuai dengan kesepakatan terakhir hasil pembahasan tanggal 26-27 Januari 2010 berjumlah 16 orang dan satu sekretaris dewan, namun menurut beberapa fraksi yang lain yang mengacu pada kesepakatan tanggal 31 Desember 2009 dan 12 Januari 2010, jumlah seharusnya adalah 17 orang dan satu sekretaris dewan. Hanya gara-gara masalah sepele seperti inilah adu jotos tersebut hampir terjadi dan bahkan ada adegan saling menantang untuk berkelahi antara anggota dewan yang satu dengan yang lain. Sungguh benar-benar tidak mencerminkan sikap seorang pemimpin dan anggota dewan. Sungguh benar-benar tidak menampakkan bahwa mereka adalah orang-orang yang intelek dan seharusnya menjadi panutan !

Setelah membaca kisah-kisah konyol para anggota dewan tersebut dan mengingat-ingat kembali seluruh anggota organisasi kepanitiaan di kampusku, yaitu Panitia Pekan Kampus, aku berani berkata bahwa kami semua anggota kepanitiaan tersebut masih lebih baik jika dibandingkan dengan para anggota dewan yang terhormat itu. Menurutku, kami jauh lebih disiplin dibandingkan mereka. Kami bahkan sudah mulai rapat pukul 07.00 WIB, yang berarti itu memaksa kami paling telat pukul 06.30 sudah harus bersiap-siap. Kami semua tidak dibayar untuk berpartisipasi dalam kepanitiaan ini, selain dengan poin organisasi. Bahkan seringkali kami harus keluar uang untuk mengurusi persiapan kegiatan Pengenalan Kampus ini. Tapi lihat kami orang-orang yang notabene masih muda ini masih bisa lebih disiplin dan tertib dibandingkan para anggota dewan, meskipun tidak disangkali juga bahwa terkadang masih ada dari kami yang datang terlambat, namun itu masih bisa dibilang wajar jika mengingat kami tidak mendapatkan honor apa pun dari kehadiran kami dalam rapat tersebut. Sungguh kami masih jauh lebih militan dan lebih berani bayar harga demi suksesnya acara yang akan kami selenggarakan. Itu baru ketika rapat persiapan yang berlangsung setiap minggu selama kurang lebih enam bulan. Ketika mendekati hari pelaksanaan, rapat kami semakin intensif, seminggu bisa tiga atau empat kali. Saat hari pelaksanaan tiba, paling siang pukul 05.00 WIB kami sudah harus berada di kampus untuk persiapan sebelum acara hari itu dilaksanakan. Sungguh, aku berani bilang bahwa kami lebih baik dibandingkan para anggota dewan yang terhormat. Kami lebih tangguh dibandingkan mereka. Kini, aku hanya bisa berharap bahwa para anggota dewan dapat segera melakukan introspeksi diri dan segera berbenah. Aku juga berharap agar semangat militansi dan ketangguhan yang kami tampakkan dapat terus bertahan selamanya, sehingga kami semua dapat menjadi generasi-generasi muda harapan bangsa. Semoga dengan semangat militansi yang kami miliki, kami dapat menjadi generasi-generasi baru yang akan memajukan dan memakmurkan Indonesia. Sebuah harapan yang sangat besar dari orang yang kecil. Semoga harapan itu terwujud. Semoga !

Tickerbar

KumpulBlogger