Friday, 11 January 2013

Menghasilkan, Bukan Sekedar Sibuk

Kita semua barangkali sering mengalami hal ini. Kita sering terjebak untuk tampak sibuk, namun tidak menghasilkan apa-apa di dalam hidup kita. Kita berusaha kelihatan aktif, bergerak, dan terus bergerak namun tanpa hasil apapun yang pernah kita buat atau hasilkan. Saya pun pernah dan terkadang masih mengalami hal seperti itu.

Kondisi disekitar di masyarakat kita, terkadang memang mendukung apa yang telah saya sampaikan di atas. Masyarakat sekitar kita mendukung atau tampak menghargai orang yang kelihatan sibuk dan memiliki banyak aktivitas, namun sesungguhnya orang tersebut tidaklah benar-benar produktif atau menghasilkan. Mereka hanya sekedar bergerak dan bergerak, tampak sibuk, tanpa hasil apa-apa yang mereka dapat raih atau wujudkan di dalam hidupnya. Saya pun terkadang begitu. Saya kadang tampak bangga dan senang ketika dapat terlihat sibuk, aktif, bergerak terus kesana-kemari, namun sesungguhnya dalam setiap kesibukan, keaktifan, dan pergerakan yang saya lakukan saya tidaklah menghasilkan apa-apa. Satu-satunya hal yang saya hasilkan dari setiap kesibukan tersebut hanyalah rasa capek dan justru cenderung menggerogoti moral serta semangat saya.

Namun seiring berjalannya waktu dan melalui proses perenungan, saya mulai dan semakin menyadari bahwa hal tersebut tidaklah benar. Saya harus berubah. Saya tidak perlu hanya sekedar kelihatan sibuk, aktif, dan bergerak agar tidak dianggap pemalas oleh masyarakat, namun sesungguhnya dibalik seluruh kesibukan dan keaktifan tersebut, saya tidaklah menghasilkan sesuatu yang benar-benar bermanfaat atau berharga. Saya harus berubah dari sekedar menjadi sibuk, aktif, dan bergerak menjadi lebih produktif dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi diri saya sendiri maupun bagi orang lain disekitar saya. Saya dan kita harus menyadarkan agar menjadi diri yang produktif dan bukan diri yang sibuk. Menjadi pribadi yang bertumbuh serta menghasilkan manfaat bagi diri sendiri serta orang lain. Tugas dan tanggung untuk menjadi diri yang produktif memang tidaklah mudah. Kita harus melawan opini masyarakat mengenai apa yang biasa dianggap oleh masyarakat kita sebagai produktivitas maupun melawan cara berpikir kita sendiri yang tidak bermanfaat. 

Wednesday, 2 January 2013

Sayalah Yang Harus Berubah Terlebih Dahulu


Apa yang akan saya tulis atau bagikan disini mungkin bukanlah sesuatu yang baru lagi, sebab kemungkinan kita sudah sering mendengar atau membacanya. Namun di pagi hari ini, saya tersadar akan hal ini. Kesadaran yang berharga bagi setiap kita.
Mungkin kita sering berkata bahwa lingkungan disekitar tidak baik atau kurang baik dan kita ingin atau berharap lingkungan kita dapat berubah menjadi lebih baik sehingga kita dapat terpengaruh menjadi lebih baik. Namun ada satu kesadaran yang tidak kalah berharga dan penting, yaitu kita perlu mengubah diri kita sendiri terlebih dahulu sebelum kita dapat mengubah lingkungan kita atau berharap lingkungan kita dapat berubah. Sebab kita juga adalah bagian dari lingkungan kita itu sendiri. Maka ketika kita dapat menjadi lebih baik dari sebelumnya, secara otomatis lingkungan kita telah menjadi lebih baik daripada sebelumnya.
Dengan memiliki kesadaran bahwa sebelum kita dapat mengubah lingkungan kita atau berharap lingkungan kita dapat berubah, kita sendirilah yang harus mengubah diri, sikap, serta karakter menjadi lebih baik, maka pada kondisi ini kita memposisikan diri bukan sebagai korban tetapi sebagai aktor. Dengan kesadaran untuk mengubah diri menjadi lebih, maka kita telah memilih untuk menjadi tokoh perubahan itu sendiri, penggerak dan pelopor, bukan sekedar menunggu atau memiliki mentalitas sebagai ‘korban’. Dengan menjadi diri kita sendiri yang lebih baik, maka kita pun akan dapat menjadi contoh atau teladan bagi orang disekitar kita untuk menjadi lebih baik seperti atau bahkan melampaui diri kita.

Sunday, 30 December 2012

Semua Kemampuan Hebat Tak Datang Begitu Saja

Talenta atau bakat memang dianugerahkan secara gratis sejak dari awal semula kita dilahirkan ke dunia ini. Namun semua talenta atau bakat tersebut tetaplah akan menjadi talenta atau bakat jika kita tidak pernah melatihnya setiap waktu setiap saat hingga berkembang menjadi berbagai macam keahlian atau kemampuan. Kita memang seringkali terkesan ‘mendewakan’ orang-orang dengan talenta atau bakat yang hebat, namun sebenarnya yang hal itu bukanlah talenta atau bakat yang hebat, melainkan kemampuan atau keterampilan yang hebat.

Setiap kemampuan atau keterampilan hebat yang seseorang miliki selalu hampir dapat dipastikan berasal dari talenta atau bakatnya yang terus dilatih dan dilatih setiap hari, setiap waktu sedini mungkin. Dan karena siapapun diberi talenta, maka siapapun juga memiliki kemampuan hebat. Hanya saja keputusan tersebut ada di tangan masing-masing orang secara pribadi, apakah mereka mau serius dan tekun melatih serta mengembangkan talenta yang dimilikinya tersebut hingga menjadi hebat. Keputusan masing-masing individu berbeda-beda dan itu pula yang mempengaruhi mengapa kemampuan atau kehebatan setiap individu berbeda-beda.

Jadi, kesimpulannya adalah setiap orang pada dasarnya berbakat, hanya saja tidak setiap orang menjadi ahli atau memiliki kemampuan yang hebat. Sebab bakat hanyalah dasar saja dan baru akan menjadi sebuah keahlian atau kemampuan hebat jika kita sebagai pribadi mau mengambil keputusan untuk dengan tekun dan serius melatihnya setiap hari dan setiap saat di dalam hidup kita. Tak ada orang yang tiba-tiba menjadi hebat, semua orang yang sekarang yang menjadi hebat mengalami proses yang cukup untuk dapat menjadi dirinya yang sehebat sekarang. Sekian dan semoga bermanfaat bagi kita semua.

Saturday, 29 December 2012

Kualitas Pribadi Yang Meningkat


Pagi ini, saya membaca judul berita online yang memberitakan salah satu opini pimpinan lembaga negara yang menyatakan bahwa kualitas undang-undang yang dihasilkan para wakil rakyat kita menurun. Berita tersebut dengan segera memberikan inspirasi kepada diri saya secara pribadi untuk membuat tulisan. Tulisan mengenai peningkatan pribadi saya.
Sebagai pribadi, kita semua juga memiliki kualitas individu yang kita nilai sendiri maupun dinilai oleh orang lain disekitar kita. Kualitas diri kita memiliki berbagai macam level atau tingkatan, mulai dari tingkat terendah sampai tingkat tertinggi. Walaupun memang cukup susah juga untuk menentukan rentang penilaian yang pasti untuk kualitas individu seseorang, sebab memang kualitas individu adalah sesuatu yang tidak kasat mata. Namun, bagaimanapun juga diri kita maupun orang-orang disekitar kita dapat ‘melihat’ dan merasakan kualitas diri kita.
Nah, mengingat hal di atas, adalah tugas serta tanggung jawab kita secara pribadi untuk meningkatkan kualitas pribadi kita. Kewajiban yang sangat utama untuk terus meningkatkan keahlian teknik, keahlian non-teknik, sikap positif, dan berbagai hal lainnya yang penting dan diperlukan di dalam diri kita untuk meraih segala impian dan puncak kesuksesan yang kita idamkan. Saya sebagai pribadi juga tentu saja wajib untuk melakukan peningkatan kualitas diri saya agar nilai jual saya secara pribadi semakin meningkat di tengah persaingan atau kompetisi yang semakin ketat. Peningkatan kualitas pribadi ini sangat penting dan semakin penting serta mendesak agar saya dapat terus ‘survive’ di tengah kompetisi yang ketat. Banyak upaya harus terus dilakukan, banyak manuver atau pergerakan diperlukan agar terus dapat berada di garis terdepan dalam persaingan untuk memenangkan kompetisi.

Wednesday, 26 December 2012

Entrepreneur Tak Ragu Bekerja 24 Jam

Saya sampaikan dalam Kuliah Umum Prasetiya Mulya kemarin betapa menjadi entrepreneur yang sukses membutuhkan perjuangan yang tidak sedikit, dan mereka harus bersiap untuk banyak berkorban. Kehidupan seorang entrepreneur tidak melulu menyenangkan, tetapi juga penuh dengan pengrobanan dalam berbagai bentuk. Kenyataan ini perlu disadari oleh generasi muda kita agar secara mental dan psikologis mereka sudah siap.

Misalnya saja Anda memiliki usaha tambak. Saat cuaca hujan deras di malam hari, Anda harus bangun dan pergi ke tambak Anda untuk memeriksa apakah ikan yang Anda sudah kembangbiakkan dengan susah payah selama ini masih aman atau terbawa arus banjir dari sungai di sekitarnya. Nah, saya yakin tidak semua orang apalagi para pemuda mau bekerja keras seperti itu.

Yang saya ketahui, hampir semua pengusaha sukses yang saya pernah temui memiliki komitmen yang sangat tinggi untuk mau dan bersedia bekerja kapanpun demi usaha mereka. Pengusaha-pengusaha besar seperti Lim Sioe Liong, Eka Tjipta, termasuk saya tidak mengeluh saat dihubungi di waktu-waktu istirahat kami untuk membicarakan urusan bisnis yang urgent. Karena memang bisnis inilah penghidupan kami.

Saat bawahan saya baru menelpon 1 kali, saya setidaknya menelpon lebih banyak karena saya entrepreneur, saya harus menjadi kekuatan pendorong atau driving force untuk bawahan saya. Mereka masih profesional.

Karena itu, saya kembali lontarkan pertanyaan ini pada mereka yang hendak menjadi entrepreneur: "Apakah Anda mau mati-matian berpikir dan bekerja, tidak cuma dengan keras tetapi cerdas?" Bukan 'clever', tetapi 'smart', cerdas!


Friday, 21 December 2012

Menantang Diri Sendiri

Pagi hari ini menyempatkan diri untuk membaca surat kabar yang dibeli kemarin hari. Ada beberapa bagian yang belum sempat dilihat dan dibaca, maka pagi ini disempatkan untuk melanjutkan membaca sejenak. Membuka bagian kolom inspirasi bisnis dan terdapat profil salah satu pengusaha muda yang dengan modal yang minim dan nekat berani membuka usaha. Kini setelah beberapa usaha yang dibangunnya telah menghasilkan omzet hingga ratusan juta dalam sebulan. Namun yang menjadi inspirasi utama bukanlah soal omzet usahanya yang telah mencapai ratusan juta dalam sebulan, melainkan latar belakang atau motivasinya dalam merintis bisnis.
Menantang diri sendiri, itulah alasannya dalam memutuskan untuk membangun atau merintis bisnisnya sendiri. Latar belakangnya adalah seorang wartawan dan dia sudah merasa cocok dan nyaman dengan profesi tersebut, namun seiring dengan berlalunya waktu dia mulai merasakan tidak tantangan dalam profesi yang dijalaninya tersebut, dan akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari profesinya dan membangun bisnis. Dia dengan penuh keberanian memutuskan untuk keluar dari zona nyaman profesinya sebagai wartawan dan menjadi seorang entrepreneur. Dia tetap nekat keluar walaupun orang tuanya menentang lantaran bisnis mebel yang akan ditekuninya merupakan bisnis yang bersifat musiman, namun justru disitulah dia merasa tertantang untuk membuktikan pada orang tuanya bahwa bisnis mebel pun bisa menjadi bisnis yang bukan musiman lagi.

Thursday, 13 December 2012

Selalu Kembali Ke Jalur Yang Benar


Setiap kita di sepanjang perjalanan hidup kita memiliki kemungkinan untuk keluar dari jalur hidup yang benar yang telah kita rancang untuk kehidupan masa sekarang maupun masa depan kita. Kita mungkin telah merancang jalur target maupun jalur impian yang harus kita kejar atau wujudkan, namun di sepanjang perjalanan dengan adanya berbagai macam godaan yang datang dari luar serta adanya sesuatu yang ‘kurang tepat’ di dalam diri maupun pikiran kita, kita dapat teralihkan atau keluar dari jalur rancangan kita sendiri.
Namun, walau sebanyak apapun godaan yang sering membuat kita keluar dari ‘jalur’ tersebut, selalu ada satu hal yang juga harus menyertainya yaitu kesadaran diri. Kesadaran diri bahwa kita telah keluar dari ‘jalur’ yang sudah seharusnya dan semestinya kita lalui. Kesadaran untuk segera kembali ke ‘jalur’ yang benar segera setelah menyadarinya bahwa kita telah keluar ‘jalur’. Kesadaran untuk kembali berada di track yang tepat dalam upaya meraih seluruh target dan mewujudkan impian kita. Saya pikir, tidaklah terlalu menjadi masalah bahwa kita pernah atau sedang keluar ‘jalur’, yang paling menjadi masalah atau fokus utama kita seharusnya adalah memunculkan kesadaran diri agar dapat mengetahui apakah kita sudah berada di ‘jalur’ atau arah yang benar atau tidak. Kesadaran dan kemampuan untuk introspeksi diri pribadi guna terus mengetahui serta mengawasi arah perjalanan hidup yang sedang kita lalui dan tempuh. Kesadaran dan kemampuan untuk mengawal tiap ayunan langkah kehidupan kita serta kemampuan untuk mengembalikannya ke ‘jalur’ yang benar setiap kali kita menyimpang.

Saturday, 10 November 2012

Anda Tidak Harus Kuliah !

Dahulu, saya berpikir bahwa setelah lulus dari masa pendidikan menengah atas saya harus melanjutkan ke bangku kuliah. Itu pula yang sering saya dengar dari orang tua, rekan-rekan sekolah saya, dan beberapa orang lain. Namun, kini saya menyadari dan berani mengatakan bahwa Anda (kita) tidaklah harus melanjutkan pendidikan ke jenjang bangku kuliah (pendidikan tinggi). Benar, Anda tidak harus melanjutkan pendidikan ke jenjang tertinggi tersebut.
Saya mengatakan bahwa Anda tidaklah harus melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah, namun bukan berarti Anda tidak perlu kuliah. Anda dapat saja melanjutkan kuliah jika Anda merasa perlu dan yakin bahwa kalian akan dapat memperoleh ilmu yang benar-benar berharga disana. Ilmu yang kalian yakini dapat membantu kalian untuk meraih masa depan yang lebih cerah atau membantu kalian untuk dapat mewujudkan atau meraih impian masa depan kalian. Kalian dapat saja memutuskan untuk kuliah jika kalian dengan pasti mengetahui bahwa pendidikan universitas akan memberi kalian semua pengetahuan dan keahlian yang pasti dapat kalian gunakan untuk tujuan masa depan kalian. Pengetahuan dan keahlian yang benar-benar dapat digunakan segera setelah kalian menyelesaikan kuliah (lebih baik lagi jika sebelum lulus pun sudah dapat digunakan), bukan sekedar teori-teori yang tidak jelas dimana dapat digunakan atau bahkan yang lebih parah lagi tidak jelas apakah benar-benar dapat dipraktikkan.
Saya berikan satu contoh mengenai argumen saya di atas. Misal, kalian bermimpi menjadi seorang artis peran profesional, maka jika kalian tahu bahwa untuk meraihnya kalian membutuhkan pendidikan universitas, maka pergilah kuliah. Jika tidak, janganlah kuliah, lebih baik mengikuti kursus atau pelatihan yang diadakan oleh artis peran berpengalaman atau belajar langsung dari mereka dengan menjadi rekan mereka dalam suatu film. Meskipun tentu saja untuk dapat menjadi rekan mereka, kalian harus berupaya keras agar dapat diterima melalui audisi agar dapat menjadi seorang pemeran dalam suatu film yang dibintangi mereka, tanpa terlalu apapun peran yang kalian dapat (termasuk figuran sekalipun).

KumpulBlogger