Wednesday, 30 November 2016

Mengenal Lebih Dekat Anthony Tan Sang Founder Grab

Mengenal lebih dekat Anthony Tan sang founder Grab
Mengenal lebih dekat Anthony Tan
sang founder Grab
(sumber foto: www.google.com)
Di kota-kota besar di Indonesia, aplikasi atau layanan ride sharing maupun ojek atau taksi online sudah jamak dijumpai dimana-mana. Persaingan sengit yang ada di bisnis tersebut melibatkan antara perusahaan lokal maupun internasional. Salah satu perusahaan yang terlibat dalam persaingan tersebut adalah Grab asal Malaysia. Nah, kali ini, kita akan mencoba mengenal lebih dekat Anthony Tan sang founder Grab.
Anthony Tan merupakan seorang warga negara Malaysia yang dilahirkan di kalangan keluarga berada. Anthony menyelesaikan pendidikan universitas dari Harvard Business School di Harvard University Amerika Serikat. Keluarga besarnya merupakan pemilik bisnis perakitan mobil dan jaringan distribusi mobil Jepang di Malaysia dengan nama Tan Chong Motor Holdings Bhd. Perusahaan tersebut merupakan produsen dan distributor utama mobil Nissan di Malaysia.
Mengenal lebih dekat Anthony Tan sang founder Grab, tentu saja kita juga harus dan perlu mengenal lebih dekat pula mengenai keluarganya. Kisah ini berawal dari kakek buyutnya. Kakek buyut Anthony merupakan seorang sopir taksi di Malaysia. Kemudian kakeknya, Tan Yuet Foh, merintis bisnis perakitan mobil dan distributor mobil Jepang dari nol. “Beliau hanya mampu berbicara bahasa Hokkien. Ia tidak mempunyai teman, tidak ada dukungan keluarga, namun ia mampu menghasilkan perusahaan yang hebat. Jadi apa alasan saya ?”, begitulah ucapan Anthony tentang kakeknya yang mungkin juga sekaligus ditujukan untuk memotivasi dirinya sendiri agar tidak kalah hebat dari sang kakek. Ucapan Anthony tersebut juga sekaligus mengingatkan saya sendiri untuk berani berjuang lebih dan lebih lagi dalam menjalankan bisnis saya di bidang IT dengan produk utama adalah software akuntansi. Kalimat tersebut juga sekaligus menjadi pengingat dan kritik bagi diri saya pribadi, jika mereka yang memulai dari kondisi serba terbatas saja bisa sukses, saya yang memulai dengan kondisi lebih beruntung dari mereka juga harus bisa sukses dan melebihi mereka.

Kini perusahaan keluarga tersebut dijalankan dan dipimpin oleh ayah Anthony yang bernama Tan Heng Chew. Perlu diketahui pula bahwa ayah Anthony merupakan salah seorang terkaya di Malaysia tahun 2015. Tan Heng Chew merupakan seorang lulusan teknik sipil. Sementara ayahnya mengurus perusahaan keluarga, ibu Anthony merupakan seorang pialang saham di Malaysia. Jadi dapat dikatakan bahwa keluarga Anthony memang merupakan keluarga pebisnis di Malaysia dan darah bisnis itu pun menurun ke Anthony.
Dengan melihat latar belakang keluarga besarnya, kita pun jadi tahu bahwa Anthony yang kini berusia 34 tahun telah dekat dengan dunia bisnis sejak usia dini. Hampir setiap hari Anthony kecil mendengar berbagai cerita mengenai perjuangan berat yang harus dilalui kakek buyut dan kakeknya. Keluarga besar Tan juga memiliki motto, “tidak pernah mengatakan tidak”, motto yang tampaknya telah tertanam dengan erat di benak Anthony sejak dia masih kecil.
Cita-cita menjadi pengusaha pun tampaknya sudah dimiliki Anthony sejak saat dia masih kecil. Hal ini dibuktikan ketika dia masih berusia 6 tahun dan ditanya mengenai cita-citanya nanti ketika dia dewasa, dengan penuh percaya diri Anthony menjawab, “Aku ingin menjadi pengusaha sukses !”. Dari hal itulah, bermulanya usaha pertama Anthony ketika dia masih berusia 11 tahun yaitu berjualan komik.
Usaha pertama Anthony saat dia berusia 11 tahun sebenarnya muncul dari sesuatu yang tidak disengaja. Saat itu, orang tua Anthony mengajaknya ke suatu konvensi komik internasional di Singapura. Anthony kecil sangat menyukai komik X-Men dan karena saking sukanya, pada acara tersebut, Anthony memborong banyak sekali komik dengan tema super hero tersebut. Begitu kembali ke Malaysia, banyak diantara teman-temannya ternyata juga ingin memiliki komik seperti yang dimilikinya. Dari sana, Anthony memiliki ide untuk bertukar koleksi buku komik sehingga semua anak punya kesempatan yang sama untuk membacanya. Namun tak lama setelah pertukaran komik dimulai, Anthony menyadari bahwa tak semua temannya memiliki komik atau barang sepadan lainnya yang dapat saling dipertukarkan, maka dari itu teman-temannya memutuskan untuk menggantinya dengan uang. Dari kejadian yang tak disengaja itulah, Anthony kecil belajar untuk menjadi pengusaha yang sesungguhnya yaitu dengan menggunakan uang untuk menambah stok barang dan mengubah stok barang menjadi uang yang lebih banyak, begitu seterusnya.
Sekarang kita maju cepat ke masa depan. Kisah dan petualangan bisnis Anthony ternyata masih terus berlanjut ketika dia dewasa. Anthony dan seorang rekannya Tan Hooi Ling mendirikan perusahaan teknologi yang menawarkan layanan logistik dan ride-sharing (berbagi tumpangan) yang bernama Grab. Grab awalnya bernama MyTeksi, kemudian berganti nama menjadi GrabTaxi, dan akhirnya berganti nama lagi menjadi Grab saja karena semakin luasnya jenis layanan yang disediakan oleh perusahaan tersebut.
Ide awal Grab muncul saat Anthony masih duduk di bangku kuliah di Harvard Business School, Harvard University, Amerika Serikat. Ide tersebut berawal dari ‘curhatan’ salah seorang teman dekatnya. “Ia datang ke rumah saya dan ketika liburan musim dingin dari sekolah bisnis. Ia menggunakan taksi, ditipu supir taksi, dan marah-marah. Ia mengeluh kepada saya dan bertanya, ‘mengapa kamu tidak melakukan sesuatu terhadap industri ini ?’ Hal tersebut seketika memicu saya untuk bertindak”, kata Anthony Tan dalam suatu acara yang diadakan di Jakarta tahun 2014 yang lalu. Berbekal ide yang berasal dari ‘curhatan’ temannya tersebut, Anthony akhirnya membangun layanan pemesanan taksi online berbasis aplikasi yang bernama MyTeksi dan kemudian berganti nama menjadi GrabTaxi pada tahun 2012. Aplikasi tersebut kemudian berganti nama lagi menjadi Grab.
Merasa mantap dan yakin dengan aplikasi yang dibuatnya, Anthony Tan akhirnya memilih meninggalkan bisnis keluarganya. Padahal saat itu, posisi Anthony sudah cukup bagus di perusahaan dengan menyandang jabatan kepala marketing Tan Chong Motor Holdings Bhd. yang dipimpin oleh ayahnya. Anthony berpendapat, “membangun sesuatu dari bawah dengan hanya bermodal PowerPoint dan menyaksikan bagaimana hidup orang terkena pengaruhnya itu jauh lebih memuaskan.”
Ternyata pilihan Anthony tidak salah. Grab semakin populer dan banyak digunakan oleh orang-orang di kawasan Asia Tenggara. Grab juga mendapat suntikan dana besar dari beberapa investor. Raksasa telekomunikasi Temasek dan Softbank termasuk yang menjadi investor Grab. Menurut informasi, tahun 2015 yang lalu, Grab sukses mengumpulkan pendanaan dari investor dengan nilai total mencapai USD 350 Juta atau sekitar Rp. 4,8 Triliun. Dengan investasi tersebut, Grab telah memperoleh total pendanaan USD 700 Juta sejak pertama kali dirilis pada tahun 2012.
Kini Grab telah berhasil mengekor kesuksesan Uber dengan fokus utama di pasar Asia Tenggara. Cukup berbekal smartphone, orang dapat memesan taksi dengan mudah dan dapat melacak dimana lokasinya. Grab kini beroperasi di Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Indonesia, dan Filipina. Hingga bulan Juli 2016 yang lalu, total driver yang dimiliki oleh Grab berjumlah lebih dari 350 ribu driver. Anthony memiliki rencana ke depan untuk membawa Grab melantai di bursa saham jika jumlah pesanan yang diperoleh Grab sudah mencapai 2 juta pesanan setiap harinya.
Anthony Tan pernah berkata, “aku hidup di bawah bayang-bayang kakekku. Namanya cukup terkenal di sini dan itu cukup melelahkan.” Mendirikan Grab juga merupakan salah satu upayanya untuk dapat lepas dari bayang-bayang kakeknya, keluarga besarnya, dan mencoba untuk mandiri. Seiring semakin bagusnya pertumbuhan bisnis Grab, maka bukan tidak mungkin nama Anthony Tan akan lebih dikenal dan populer dibandingkan nama kakeknya. Itulah sekilas biografi Anthony Tan. Semoga artikel ini dapat membuat kita mengenal lebih dekat Anthony Tan sang founder Grab. (diolah dari berbagai sumber di internet).

Tickerbar