Saturday, 25 June 2016

Tepatkah Keputusan Microsoft Akuisisi LinkedIn ?

Tepatkah Keputusan Microsoft Akuisisi LinkedIn ?
Tepatkah Keputusan Microsoft Akuisisi LinkedIn ? (sumber: www.google.com)
Beberapa waktu lalu saya menulis artikel tentang akuisisi Microsoft terhadap LinkedIn, nah berhubung kali ini saya juga sedang membaca suatu ulasan atau artikel terkait dengan keputusan Microsoft mengakuisisi LinkedIn, maka sekalian saya sharingkan supaya membantu saya untuk lebih dapat memahami juga isi artikel ulasan tersebut karena sekilas saya lihat isinya cukup 'berat' untuk dicerna. Semoga bermanfaat buat kita bersama, khususnya yang tertarik pada informasi atau analisa bisnis.

Microsoft dilaporkan memiliki dana tunai sekitar 100 Miliar Dollar pada kasnya. Microsoft juga dikenal sebagai perusahaan yang cukup berani untuk melakukan akuisisi terhadap perusahaan atau bisnis lain dengan nilai yang fantastis. Namun dengan akuisisi ini, LinkedIn berhasil menjadi akuisisi dengan nilai terbesar yang pernah dilakukan oleh Microsoft. Sebelum ini akuisisi terbesar yang pernah dilakukan adalah terhadap Skype dengan nilai 8,5 Miliar Dollar yang terjadi pada tahun 2011. Namun yang perlu dijadikan perhatian pada setiap akuisisi yang dilakukan Microsoft, khususnya yang bernilai spektakuler, beberapa dari akuisisi tersebut ternyata berakhir dengan kegagalan total. Contoh terkini adalah akuisisi terhadap divisi perangkat mobile Nokia senilai 7,2 Miliar Dollar. Beberapa pihak beranggapan bahwa akuisisi Microsoft terhadap divisi perangkat mobile Nokia adalah sebuah kegagalan. Langkah tersebut dianggap sebagai langkah akuisisi yang didasari oleh keputusasaan akibat rendahnya penjualan smartphone berbasis Windows Phone. Nokia yang sebelumnya untuk secara eksklusif menggunakan sistem operasi Windows Phone untuk perangkat pintarnya, secara mendadak dilaporkan akan segera merilis perangkat cerdas berbasis sistem operasi Android, yang pada akhirnya memang direalisasikan tepat dua bulan sebelum Microsoft mengakuisisi divisi perangkat mobile Nokia. Namun ternyata langkah tergesa-gesa Microsoft tersebut terbukti gagal total, sebab divisi mobile Nokia yang awalnya ditargetkan untuk membantu mengembangkan pasar Windows Phone tak berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Bukannya membesar, pasar Windows Phone justru semakin menyusut.

Nah bagaimana dengan hasil akhir dari akuisisi Microsoft terhadap LinkedIn ? Kita masih belum dapat memastikannya sekarang. Akan tetapi, beberapa analis meyakini ada suatu potensi yang dapat diperoleh Microsoft dari akuisisi terhadap LinkedIn, namun hasil akhir tetap belum dipastikan dan apabila memang nantinya berhasil, keberhasilan itu juga tidak akan diperoleh dengan sebegitu mudahnya. Tetapi apabila nantinya ternyata akuisisi ini juga berakhir sama dengan beberapa akuisisi yang lain yaitu kegagalan, ada beberapa alasan yang melatarbelakanginya. 3 hal di bawah ini yang bisa menjadi dasar atau alasan kegagalan hasil akuisisi Microsoft terhadap LinkedIn, andai memang benar nantinya itu yang terjadi.

Harga Per Lembar Saham Yang Terlalu Tinggi
Microsoft dianggap membayar terlalu tinggi untuk harga per lembar saham LinkedIn. Harga pembelian $196 yang dibayarkan untuk per lembar saham LinkedIn menjadikan valuasi LinkedIn berada pada level 91 kali dari nilai pendapatan sebelum pajak, bunga, depresiasi (EBITDA) pada rentang satu tahun terakhir. Bahkan jika proyeksi pendapatan ke depan yang disumbangkan oleh LinkedIn diikutsertakan dalam perhitungan, Microsoft masih membayar 26 kali EBITDA. Bandingkan dengan Microsoft yang hanya membayar 46,7 kali EBITDA untuk Skype dan 40,7 kali EBITDA untuk aQuantive sebuah perusahaan teknologi periklanan yang dibeli seharga $5,5 Miliar pada tahun 2007 silam.

Nilai transaksi sebesar 26,2 Miliar Dollar itu berarti Microsoft membayar 250 Dollar untuk setiap pengunjung dari rata-rata pengunjung bulanan LinkedIn dan 60 Dollar untuk setiap satu pengguna dari 433 juta pengguna terdaftar. Bahkan Facebook pun tidak membayar semahal itu untuk WhatsApp ketika membelinya senilai 19 Miliar Dollar. Diketahui Facebook hanya membayar $42 untuk setiap satu pengguna dari total 450 juta pengguna saat itu. Bahkan kini WhatsApp telah bertumbuh hingga memiliki satu miliar pengguna, suatu angka yang diyakini tidak bakal mampu diraih oleh LinkedIn, paling tidak dalam waktu dekat ini.

Tingginya nilai akuisisi tersebut diyakini bisa menjadi lebih beresiko bagi Microsoft yang selama ini memang memiliki sejarah yang kurang baik apabila berhubungan dengan akuisisi dengan nilai besar. Semoga saja akuisisi besar pertama CEO Microsoft saat ini, Satya Nadella, bisa menjadi bagian dari langkah Microsoft untuk memperbaiki sejarah atau keberuntungan akuisisi besarnya.

Aset Yang Tidak Menguntungkan
Membayar dengan harga sebesar 26 Miliar Dollar tak akan terlalu menjadi masalah apabila LinkedIn merupakan aset yang menguntungkan. Namun kenyataan yang terjadi adalah LinkedIn menggunakan cukup banyak kompensasi berbasis saham untuk membayar para karyawannya. Memang hal tersebut membuat EBITDA nya tampak bagus, tetapi pendapatan bersihnya menurut prinsip akuntansi yang diterima secara umum menjadi sesuatu hal yang berbeda.

Tahun lalu, dilaporkan bahwa LinkedIn mengalami kerugian sebesar 166 Juta Dollar dengan pendapatan sebesar 2,99 Miliar Dollar. Melihat kondisi tersebut, mungkin banyak yang beranggapan bahwa LinkedIn semakin dengan perolehan keuntungan, namun apabila dilihat dengan lebih seksama hal yang sebaliknya justru yang terjadi. Kerugian tersebut membesar apabila dibandingkan dengan kerugian sebesar 14 Juta Dollar yang terdapat pada tahun 2014. LinkedIn memang sempat meraih keuntungan pada rentang waktu 2011-2013, namun meningkatnya pengeluaran biaya untuk pengembangan produk serta menurunnya margin kotor menjadikan LinkedIn kembali mengalami kerugian.

Sementara produk yang baru selesai dikembangkan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pendapatan perusahaan, namun kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Pendapatan LinkedIn pada tahun 2016 ini diperkirakan akan mengalami perlambatan hingga 10 basis poin ke posisi 24,5% dan bahkan akan menurun lagi ke posisi 19,6% pada tahun depan. Sebaliknya, Facebook yang lebih besar secara ukuran perusahaan maupun jumlah user terus mengalami pertumbuhan pendapatan dengan cepat, dimana para analis memperkirakan akan mencapai level 45,2% pada tahun ini.

CEO Microsoft mengungkapkan, "kunci utama dari akuisisi LinkedIn adalah untuk mempercepat pertumbuhannya".

Masih Belum Jelasnya Rencana Ke Depan
Sebagian besar analis menunjuk ke potensi yang LinkedIn dapat berikan untuk mendorong pertumbuhan bisnis software cloud enterprise Microsoft, begitu pula sebaliknya. Namun masih belum jelas mengenai bagaimana Microsoft dapat melakukan hal tersebut dengan berhasil. Bahkan Satya Nadella pun nampaknya belum memiliki rencana yang jelas akan hal itu.

Walaupun dalam semua pembicaraan yang disampaikan Satya Nadella disebutkan mengenai bagaimana kedua perusahaan akan saling membantu satu sama lain, namun Nadella masih belum dapat memberikan contoh yang konkret dalam memo mengenai akuisisi LinkedIn yang disampaikannya kepada karyawan internal Microsoft. Dia hanya menambahkan, "saya tak sabar untuk melihat bagaimana tim kita dapat memiliki impian yang sama ketika kita telah mulai bekerja sama saat akuisisi ini telah terjadi."

Namun, menemukan cara-cara untuk menjadikan perusahaan yang diakuisisi bisa bermanfaat atau berjalan sesuai dengan tujuan akuisisi tampaknya bukan merupakan kemampuan yang selalu Microsoft miliki. Pembelian aQuantive bisa menjadi contoh yang mempertunjukkan ketidakmampuan Microsoft untuk mengelola bisnis periklanan, walaupun pembelian tersebut mampu mendorong pertumbuhan Bing. Pada akhirnya, Microsoft menjual sebagian aset aQuantive ke Facebook. Hal yang sama juga terjadi perangkat mobile Nokia yang gagal dipadukan dengan bisnis software mobile yang dimilikinya, terlepas dari keputusan Nadella untuk berfokus pada mobile saat akuisisi terjadi.

Tanpa adanya kejelasan mengenai bagaimana kedua perusahaan dapat dipadukan dengan baik, Microsoft hanya akan menyadari bahwa mereka telah membuat suatu kesalahan lagi pada akuisisi dengan nilai yang fantastis. Menarik untuk menanti bagaimana Microsoft dapat menyatukan LinkedIn terhadap struktur bisnis Microsoft yang sudah ada saat ini sehingga dapat menghasilkan keuntungan yang sepadan dengan nilai akuisisi yang fantastis.

[dikutip dengan berbagai penyesuaian dari www.fool.com].

Tickerbar