Sunday, 19 December 2010

Kompetisi

Kompetisi berasal dari kata Bahasa Inggris competition. Di era sekarang ini, saya percaya setiap kita sudah sering mendengar kata-kata ini digunakan dalam beragam bidang, mulai dari kompetisi olahraga, kompetisi bisnis, kompetisi menulis, kompetisi robot, serta beragam kompetisi yang lain. Kata kompetisi juga memiliki bentuk lain seperti perlombaan, persaingan, kejuaraan, dan sebagainya, tetapi semuanya tetap merujuk ke kata yang sama yaitu kompetisi.
Hari ini, sekitar dua jam sebelum saya membuat tulisan ini, secara tiba-tiba kata kompetisi ini muncul di pikiran saya. Ketika saya membaca suatu artikel baik di media cetak maupun media online serta ketika saya merenungkan atau mengingat kembali semua artikel yang telah saya baca, saya tersadar bahwa memang kompetisi atau persaingan sudah menjadi bagian hidup kita sehari-hari sejak dahulu kala. Sejak zaman prasejarah hingga zaman modern ini manusia telah mengenal kompetisi, tetapi di era modern ini hal tersebut semakin terlihat jelas atau nyata.
Bagi saya pribadi, kompetisi atau persaingan itu baik selama dilakukan untuk tujuan baik dan dalam kadar atau takaran yang tepat. Bagi saya pribadi, tanpa kompetisi seakan tidak ada sesuatu yang dapat menjadi pemicu atau pendorong atau motivasi di dalam diri untuk menjadi lebih baik sebaik yang kita dapat. Kompetisi atau persaingan dapat kita manfaatkan sebagai salah satu faktor pendorong untuk kita maupun kompetitor atau pesaing kita untuk menjadi lebih baik. Hal ini pula yang pernah disinggung oleh salah seorang penulis motivasi yang bukunya pernah saya baca. Kurang lebih dia menuliskan, ‘setiap orang yang takut untuk menghadapi persaingan atau kompetisi, tidak akan pernah bertumbuh secara pribadi’. Kalimat yang penulis tersebut tuliskan dalam salah satu bukunya semakin menjadi bukti atau fakta penguat bahwa kompetisi dapat juga menjadi sesuatu yang baik bagi setiap individu, secara pribadi maupun secara kelompok.

Saya juga jadi teringat tentang sebuah cerita yang pernah saya dengar sewaktu saya berwisata ke Malaysia pada tahun 2007 lalu. Waktu itu, tour guide atau pemandu wisata rombongan dimana saya serta keluarga saya ikut tergabung di dalamnya menceritakan bahwa menara kembar Petronas yang ada di Kuala Lumpur dibangun oleh dua kontraktor dari dua negara yang berbeda. Dua negara tersebut adalah Jepang dan Korea Selatan yang memang merupakan dua negara yang bersaing dalam hal pertumbuhan perekonomian negaranya. Ide ini merupakan pemikiran cerdik dari Perdana Menteri Malaysia yang menjabat pada waktu pembangunan menara tersebut, yaitu Mahathir Mohammad. Tour guide tersebut mengungkapkan bahwa Perdana Menteri yang menjabat saat itu memang sengaja mempekerjakan kontraktor dari kedua negara tersebut sehingga masing-masing kontraktor memiliki semangat atau motivasi untuk menghasilkan karya atau bangunan yang lebih baik dari pesaingnya. Persaingan dapat menguntungkan Malaysia yang pada akhirnya memiliki salah satu menara atau gedung tertinggi dunia yang megah tersebut.
Dari kedua contoh yang saya sebutkan di atas, maka kita menemukan bahwa tidak selamanya kompetisi atau persaingan itu tidak baik. Kompetisi atau persaingan jika ditujukan untuk mencapai atau meraih tujuan yang baik serta dilakukan dalam kadar yang tepat akan mampu menjadi salah satu faktor pendorong yang baik untuk pertumbuhan atau perkembangan serta perolehan prestasi-prestasi terbaik bagi setiap individu atau organisasi. Sekian sedikit sharing saya, semoga berguna dan saya tunggu pemikiran-pemikiran Anda mengenai apa yang saya ungkapkan di tulisan ini.

Tickerbar

KumpulBlogger