Tuesday, 1 March 2016

Pelajaran dan Pengalaman Dari Batam - Singapore Trip 2015 (Bagian II)

Melanjutkan dari tulisan sebelumnya mengenai perjalanan wisata saya dan keluarga ke Singapore pada liburan Natal Desember 2015 yang lalu. Semoga masih semangat dan antusias dalam membacanya dan semoga juga benar-benar ada sesuatu yang berharga yang bisa diambil dari tulisan ini. Selamat melanjutkan membaca...
Nasi Ayam Hainan Budi Siang Malam
Nasi Ayam Hainan Budi Siang Malam (sumber: google)
Karena masih cukup lelah setelah menempuh perjalanan cukup panjang dari Tuban hingga Batam dan setelah berjalan-jalan di Mall Nagoya Center Batam dan ditambah lagi tidur yang agak malam setelah nonton televisi, keesokan harinya sekitar pukul 07.00 barulah masing-masing dari kami semua terbangun dari tidur lelapnya. Dengan segera kami bergegas mandi dan bersiap untuk memulai perjalanan panjang menelusuri beberapa tempat di kota Batam pada hari ini (24 Desember 2015). Kami meninggalkan rumah sekitar pukul 08.20. Tujuan pertama adalah komplek Pasar Penuin untuk sarapan. Pagi itu kami memilih sarapan di sebuah rumah makan yang bernama Budi Siang Malam, sebuah nama yang unik menurut saya. Menurut info dari adik saya, rumah makan tersebut memiliki menu andalan atau yang paling terkenal yaitu Nasi Ayam Hainan. Kami sekeluarga memutuskan memesan dan mencicipi menu yang sama. Sekitar pukul 09.15 kami telah selesai menyantap seluruh sarapan pagi kami dan bergegas meninggalkan rumah makan untuk menuju lokasi berikutnya.
Setelah sarapan pagi di komplek Pasar Penuin, kami mengantarkan dahulu adik ipar saya ke gereja, sebab dia harus melakukan gladi bersih sebagai persiapan untuk acara malam Natal sore hari nanti. Setelah itu, kami menuju ke lokasi berikutnya yaitu sebuah komplek pusat perbelanjaan yang bernama Top 100 (Top Cepek). Lokasi pusat perbelanjaan tersebut tidak terlalu jauh dari lokasi tempat kami menyantap sarapan pagi, masih berada di daerah Penuin juga. Karena lokasi yang cukup dekat itu, hanya dalam waktu sekitar 10 menit atau sekitar pukul 09.30 kami telah sampai disana. Ketika kami sampai disana pusat perbelanjaan tersebut belum sepenuhnya dibuka, sebagian besar para pedagang masih bersiap-siap, namun ada pula beberapa yang telah membuka tempat usahanya. Kami tidak lama berada di supermarket tersebut, sebab money changer yang ada disana tidak memberikan nilai tukar yang baik menurut kami.
Tampak Depan Nagoya City Walk Mall Batam
Tampak Depan Nagoya City Walk Mall Batam (sumber: google)
Berikutnya kami berpindah menuju ke pusat perbelanjaan lain yaitu Nagoya Citywalk Mall. Karena masih cukup pagi kami sampai disana, mall masih sangat sepi dan masih banyak toko yang tutup. Saya dan ayah saya menunggu ibu serta kedua adik saya berbelanja dan melihat-lihat pakaian. Ketika berada disana cuaca tampak mendung dan sempat gerimis walau hanya sebentar. Karena harus menunggu cukup lama serta untuk mencegah bosan, maka saya putuskan untuk melihat-lihat disekitar kawasan mall. Ketika melihat depot yang menjual aneka menu serta camilan, saya putuskan untuk masuk kesana serta memesan satu cangkir Kopi-O (kopi hangat). Saya menunggu cukup lama (sekitar hampir 10 menit) sebelum secangkir Kopi-O hadir di meja saya. Ternyata Kopi-O yang disajikan bukan sekedar hangat, tetapi cenderung panas, oleh karena itu saya menunggu sejenak sampai lebih dingin sebelum menikmatinya. Setelah secangkir Kopi-O telah habis saya nikmati, segera saya membayar ke kasir, harganya 6000 Rupiah, cukup mahal untuk kopi biasa di tempat sekelas depot, tetapi tetap saya bayar. Selesai membayar, saya bergegas kembali ke lokasi mall karena khawatir telah ditunggu. Ternyata benar, dalam perjalanan kembali ke mall, saya mendapat pesan melalui aplikasi chatting yang menanyakan keberadaan saya dan memberi info kalau adik-adik saya serta ibu saya telah selesai berbelanja. Sambil menuju langsung ke lokasi parkir mobil, saya membalas pesan yang memberikan info bahwa saya sudah menuju ke parkir mobil. Saya menunggu beberapa saat disana dan tak lama gerimis kembali turun dan bahkan cenderung lebih lebat dibandingkan sebelumnya. Tak lama kemudian seluruh anggota keluarga saya yang lain telah sampai di lokasi parkir mobil dan bergegas meninggalkan mall. Tujuan berikutnya adalah menjemput adik ipar saya yang telah menyelesaikan kegiatan gladi bersih di gereja. Selesai menjemput adik ipar saya di gereja, berikutnya kami menuju ke komplek Penuin sekali lagi (namun kali ini berada di sisi yang berbeda dengan tempat kami membeli sarapan pagi) untuk mencari money changer.
Di komplek Penuin, akhirnya bisa menemukan money changer yang setelah kami bandingkan harganya kami yakini sebagai yang terbaik. Sekitar 10-15 menit waktu kami habiskan untuk menukar mata uang dari Rupiah ke Dollar Singapore. Urusan menukar mata uang selesai, namun kami tak segera meninggalkan lokasi tersebut, tetapi sejenak kami berjalan-jalan sebentar di komplek tersebut dengan tujuan untuk melihat tablet PC, sebab ibu saya semalam sempat mengutarakan ingin memiliki barang tersebut dan berhubung anaknya (yaitu saya) dulunya kuliah di bidang IT, ya makanya sekalian mencari supaya bisa minta pertimbangan dan tanya-tanya. Oya buat yang belum tahu, rata-rata orang yang tinggal di Batam, khususnya yang keturunan Tionghoa apabila bertemu dengan orang keturunan Tionghoa lainnya akan selalu menggunakan bahasa Mandarin atau Hokkien bila bercakap-cakap, hanya sesekali saja diselipkan kata bahasa Indonesia. Hal ini memang bisa sedikit menjadi halangan bagi yang tak bisa bahasa Mandarin. Setelah melihat-lihat sejenak, sekitar pukul 12.15 kami bergegas meninggalkan lokasi dan segera meluncur ke tujuan berikutnya yaitu ke kawasan Jembatan Barelang yang merupakan ikon dari kota Batam.
Jembatan Barelang Ikon Kota Batam
Jembatan Barelang Ikon Kota Batam (sumber: google).
Tujuan utama kami menuju ke kawasan Jembatan Barelang (Batam-Rempang-Galang adalah kepanjangan dari nama jembatan tersebut yang sekaligus merupakan pulau-pulau yang dihubungkan oleh jembatan-jembatan yang ada disana) adalah menikmati santap siang di suatu restoran terapung diatas tepian laut yang terletak setelah jembatan kedua dari sekumpulan jembatan yang ada disana. Sajian istimewa di restoran tersebut adalah menu-menu laut seperti ikan laut, udang, dan lain-lain. Perlu diketahui pula, setiap menu yang akan kita pesan disediakan fresh sebab masih hidup sebelum dimasak dan kita dapat memilih sendiri sesuai dengan yang diinginkan. Adapun perjalanan menuju kawasan Jembatan Barelang dari komplek Penuin memerlukan waktu sekitar 30 menit. Ditengah perjalanan menuju kearah restoran, kami sempat berhenti sejenak untuk berfoto. Sekitar pukul 12.45 kami telah sampai di kawasan restoran. Ternyata disekitar sana banyak sekali restoran atau rumah makan yang menyediakan menu laut segar dengan konsep sejenis yaitu makan diatas laut. Namun menurut adik saya restoran yang kami pilih ini dianggap dan diyakini sebagai yang paling enak dan memang sepertinya benar karena disana banyak kendaraan yang telah terparkir.
Begitu sampai di lokasi restoran dan setelah mendapat tempat duduk, kami bergegas memilih menu laut yang hendak kami jadikan santap siang kami. Santap siang kami berlangsung sekitar 1,5 jam dari sejak memilih ikan dan selesai menyantap habis semua hidangan yang ada. Saya agak lupa menu apa saja yang kami pesan untuk santap siang saat itu, tapi seingat saya ada udang, ikan kakap, dan beberapa sayur. Di perjalanan pulang, kami semua sempatkan berhenti sejenak untuk berfoto sekali lagi dengan latar Jembatan Barelang sebagai kenang-kenangan sekaligus bukti bahwa kami memang pernah kesana. Jalur pulang yang kami gunakan sedikit berbeda dengan jalur keberangkatan kami, sebab kami ingin ditunjukkan beberapa kawasan lain dari kota Batam oleh adik saya. Sekitar pukul 3 sore kami telah sampai di rumah dan langsung berganti pakaian serta beristirahat sejenak sebelum bersiap berangkat ke acara ibadah malam Natal.
Menjelang pukul 4 sore kami semua mulai bersiap untuk berangkat ke acara ibadah malam Natal. Sekitar pukul 16.15 adik ipar saya harus berangkat dulu karena dia harus bersiap terlebih dahulu sebelum menjalankan tugas sebagai bagian dari panitia pelaksanaan ibadah malam Natal. Sekitar pukul 16.45 baru kami sekeluarga menyusul berangkat ke gereja. Gereja yang kami gunakan untuk acara ibadah malam Natal menggunakan suatu ruangan di sebuah hotel yang terdapat di kota Batam, tepatnya di Planet Holiday Hotel. Ibadah dimulai sekitar pukul 17.00. Ibadah perayaan malam Natal berlangsung dengan khidmat dan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Sekitar pukul 19.00 ibadah telah selesai dan setiap jemaat yang mengikuti ibadah satu per satu mulai meninggalkan ruang ibadah dan saling bersalaman. Kami sekeluarga keluar ruang ibadah dan menunggu adik ipar saya menyelesaikan tugasnya di depan pintu ruang ibadah. Tak lama kami menunggu, adik ipar telah keluar ruangan dan siap untuk meluncur pulang ke rumah. Di perjalanan pulang, kami mampir dahulu untuk makan malam sebelum benar-benar sampai di rumah dan juga mampir untuk membeli camilan untuk persiapan jalan-jalan serta berpetualang ke Singapore keesokan harinya. Sekitar pukul 20.30 kami semua telah sampai di rumah dan segera berganti pakaian santai lalu kemudian mulai persiapan segala kebutuhan yang akan kami bawa serta gunakan selama petualangan di Singapore. Rencananya kami akan berada di Singapore selama 3 hari dan 2 malam. Sekitar pukul 22.00 seluruh persiapan berkemas telah selesai kami lakukan dan kami mulai bersiap untuk tidur karena keesokan harinya kami harus bangun sangat pagi sekitar pukul 03.00 sebab kami harus berangkat sepagi mungkin menuju ke pelabuhan agar tidak tertinggal kapal pertama yang berangkat menuju Singapore. Nantikan kisah lanjutan keseruan dan pengalaman wisata kami di Singapore pada tulisan selanjutnya...

Tickerbar