Tuesday, 13 June 2017

Penyakit Kanker Serviks Pada Wanita

Penyakit Kanker Serviks Pada Wanita
Penyakit Kanker Serviks Pada Wanita
Belum lama ini, dua artis ternama di negeri ini meninggal dunia karena penyakit kanker. Salah satu penyakit kanker yang menyebabkan meninggalnya salah satu artis tersebut adalah penyakit kanker serviks yang diderita oleh artis dan sekaligus penyanyi dangdut Julia Perez. Julia Perez diketahui meninggal akibat penyakit kanker serviks stadium empat yang diderita sejak sekitar tahun 2014 dan semakin parah menjelang akhir tahun 2016 yang lalu sehingga membuat dia harus terbaring selama hampir lima bulan di rumah sakit.

Pada tulisan kali ini saya akan membahas mengenai penyakit kanker serviks pada wanita. Tulisan ini hanya bersifat informasi yang saya sarikan dari berbagai sumber dan tidak untuk menggantikan deteksi penyakit oleh dokter maupun tujuan lainnya. Semoga bermanfaat.

Penyakit kanker serviks pada wanita adalah penyakit kanker yang muncul atau menyerang leher rahim wanita. Leher rahim (serviks) merupakan jalan masuk atau pintu masuk menuju rahim dari vagina. Penyakit ini umumnya menyerang wanita yang aktif secara seksual. Namun pada dasarnya semua wanita dari berbagai usia tetap berpotensi terserang penyakit mematikan ini.

Pada tahap awal, penyakit kanker serviks pada wanita tidak memiliki gejala yang mencolok. Gejala penyakit kanker serviks pada wanita yang paling umum diketahui adalah pendarahan pada vagina yang terjadi setelah berhubungan seksual, dimana pendarahan tersebut terjadi di luar masa menstruasi atau setelah menopause. Akan tetapi, tidak semua pendarahan yang terjadi juga merupakan gejala bahwa seorang wanita terserang penyakit kanker serviks. Diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui dengan pasti apa yang dialaminya. Untuk itu, jika memang gejala awal tersebut muncul, tidak ada salahnya setiap wanita menemui dokter untuk mengetahui apakah memang dia terserang penyakit kanker serviks atau bukan.


Menurut data WHO, pada tahun 2014 terdapat sekitar 92 ribu kasus kematian akibat kanker pada wanita, dimana sekitar 10,3 persen disebabkan oleh kanker serviks pada wanita. Sedangkan jumlah kasus baru penyakit kanker serviks pada wanita diperkirakan sekitar 21 ribu kasus.

Diketahui pula, sejak tahun 2000 hingga 2012 penyakit kanker serviks pada wanita menyerang wanita dengan usia yang semakin muda antara 21-22 tahun (tahun 2000) dan dibawah 20 tahun (tahun 2012). Penelitian WHO juga mengungkapkan kurangnya pemeriksaan awal terhadap penyakit kanker di Indonesia, khususnya pemeriksaan awal terhadap penyakit kanker serviks pada wanita, yaitu sitologi serviks dan ulasan asam asetat yang secara umum belum tersedia di pusat kesehatan primer hingga tahun 2014 yang lalu. Hal tersebut turut berpengaruh terhadap meningkatnya jumlah kematian disebabkan penyakit kanker serviks pada wanita di Indonesia yang tergolong tinggi akibatnya kurang pemeriksaan tahap awal. Biasanya, penyakit kanker serviks pada wanita baru diketahui ketika sel kanker sudah menyebar ke organ lain di dalam tubuh ketika seseorang memeriksakan kondisinya dan itulah penyebab pengobatan menjadi lebih sulit untuk dilakukan.

Apakah yang menyebabkan penyakit kanker serviks pada wanita ? Ternyata penyebabnya adalah human papillomavirus atau HPV. HPV diketahui menjadi penyebab dari hampir semua kasus penyakit kanker serviks pada wanita. HPV merupakan kumpulan jenis virus yang menyebabkan kutil di tangan, kaki, dan alat kelamin. HPV memiliki banyak varian, dimana sebagian besarnya tidak berbahaya. Namun terdapat pula varian tertentu yang mengganggu sel-sel leher rahim untuk bisa berfungsi secara normal sehingga akhirnya menyebabkan penyakit kanker. HPV umumnya ditularkan melalui hubungan seksual dan akhirnya menjadi penyebab muncul penyakit kanker serviks pada wanita.

Dua varian virus HPV yang paling banyak menyebabkan kanker serviks pada wanita adalah HPV 16 dan HPV 18 dengan persentase hingga 70 persen. Sayangnya, banyak sekali wanita yang tidak menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi HPV karena virus tersebut tidak menimbulkan gejala. Penting pula untuk disadari bahwa tidak semua wanita yang terserang atau terinfeksi HPV akan terkena penyakit kanker serviks.

Kondom diketahui dapat mencegah terjangkitnya HPV pada saat berhubungan badan, namun tidak selalu efektif dalam mencegah terjadinya infeksi. Saat terinfeksi HPV, kekebalan tubuh wanita akan membantu mencegah atau memerangi HPV agar tidak melukai rahim. Namun pada sebagian wanita, virus ini dapat bertahan hingga bertahun-tahun. Hal ini menyebabkan sel-sel yang berada di permukaan leher rahim berubah menjadi sel kanker.

Beruntungnya, saat ini vaksin untuk mencegah terjangkitnya virus HPV yang menjadi penyebab penyakit kanker serviks pada wanita sudah tersedia. Vaksin-vaksin yang tersedia saat ini adalah vaksin bivalen untuk HPV 16 dan HPV 18; vaksin kuadrivalen untuk HPV 6, 11, 16, 18; atau vaksin nonavalen untuk 9 jenis HPV yaitu 4 jenis ditambah 31, 33, 45, 52, dan 58.

Selain melalui vaksinasi, penyakit kanker serviks pada wanita juga bisa dicegah melalui pemeriksaan dini atau yang dikenal dengan istilah pap smear. Tujuan dari pap smear atau tes smear adalah untuk mendeteksi apakah terdapat sel-sel leher rahim yang mengalami perubahan atau bersifat abnormal, karena sel-sel yang bersifat abnormal tersebut dapat menjadi gejala awal terjadinya kanker serviks pada wanita. Jadi disarankan untuk setiap wanita yang telah aktif secara seksual dan berusia 25-49 tahun menjalani pemeriksaan setiap tiga tahun sekali. Sedangkan bagi wanita yang berusia 50-64 tahun disarankan untuk menjalani pemeriksaan setiap lima tahun sekali. Dengan demikian penyakit kanker serviks pada wanita dapat diketahui dan dicegah sedini mungkin.

Tickerbar

KumpulBlogger