Saturday, 26 June 2010

PELAJARAN #6 DARI PEKAN KAMPUS 2009: BELAJAR MENJADI PEMBIMBING SERTA ORANG TUA

Seri keenam dari pelajaran yang aku dapatkan setelah selesainya Pekan Kampus 2009, dimana aku diberi tanggung jawab menjadi ketua pelaksana dari seluruh kegiatan yang merupakan acara tahunan yang diadakan di setiap awal tahun ajaran baru di kampusku. Seri pelajaran ini aku dapatkan setelah menelaah kembali semua yang telah aku lakukan selama mengemban jabatan tersebut dan dari semua kejadian yang terjadi selama masa tugasku tersebut.

Aku baru menyadari bahwa peranku yang sesungguhnya sebagai seorang ketua atau pemimpin ternyata tidak berakhir dengan berakhirnya Pekan Kampus 2009. Aku masih terus bertanggung jawab sampai sekarang terhadap seluruh orang-orangku di kepanitiaan tersebut dan terhadap seluruh peserta Pekan Kampus 2009. Tanggung jawab yang akan terus aku bawa seumur hidupku, sebab mereka semua secara tidak langsung tetap akan mengamati kehidupanku dan kemungkinan menjadikan aku acuan atau teladan hidupnya. Atas dasar kesadaran itulah, aku butuh untuk terus memperbaiki diri dalam segala hal, baik dalam sikap, omongan, dan hal-hal lainnya. Aku juga harus tetap menjaga integritas pribadiku dengan tetap tampil seperti ketika saat aku mengemban jabatan sebagai ketua panitia. Aku sadar bahwa sekarang hidupku bukan milikku lagi, sebab aku jadi acuan bagi banyak orang. Oleh karena itu aku butuh untuk terus tampil baik di depan mereka semua. Namun aku tidak hanya sekedar tampil baik saat hanya di depan mereka tetapi buruk di belakang, aku harus memiliki inside-out living yaitu apa yang aku tampilkan di depan mereka sama dengan apa yang aku tampilkan saat aku tidak di depan mereka. Itulah arti integritas atau integrity yang sesungguhnya, dan aku akan terus berupaya yang terbaik untuk dapat menerapkannya !

Aku juga sadar bahwa ternyata peranku bagi mereka semua, baik bagi panitia maupun peserta, bukan hanya sebagai ketua atau pemimpin mereka, melainkan aku juga bertindak seolah-olah aku adalah orang tua kedua mereka. Hal ini aku sadari sebab secara tidak langsung aku menjadi orang kedua yang membimbing mereka tentang apa yang baik dan apa yang kurang baik atau tidak baik. Oleh karena itu aku sadar bahwa peranku benar-benar seperti seorang pembimbing dan orang tua bagi mereka semua. Atas dasar kesadaran tersebut, berarti aku harus benar-benar memposisikan diriku seperti seorang orang tua bagi mereka. Aku tidak hanya harus mendisiplinkan serta memarahi mereka, melainkan juga berkewajiban untuk mengasihi mereka serta menjadi teladan bagi mereka melalui kehidupanku.

Tanggung jawab sebagai panitia Pekan Kampus, khususnya sebagai ketua Pekan Kampus, tidak akan pernah berakhir dengan berakhirnya kegiatan Pekan Kampus itu sendiri. Tanggung tersebut adalah tanggung jawab seumur hidup dan karena itu aku butuh untuk terus melatih diriku sendiri agar dapat terus menjadi teladan bagi mereka semua, khususnya para generasi baru STTS serta generasi baru panitia Pekan Kampus yang akan menggantikan tugas panitia yang lama. Aku juga sadar bahwa mereka semua lebih butuh teladan dalam tindakan, sikap, omongan, pola pikir, lebih daripada sekedar pengajaran lewat omongan. Mereka semua butuh contoh teladan nyata dari hidupku.

Akhir-akhir ini aku juga ingat soal apa yang Ki Hajar Dewantara pernah ucapkan beberapa puluh tahun lalu, yaitu ‘ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani’, yang dalam bahasa Indonesia ‘di depan memberikan teladan atau contoh, di tengah membangun kehendak bersama, dan di belakang memberikan dorongan semangat’. Kalimat tersebut memang diucapkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam kapasitasnya sebagai guru dan memang ditujukan untuk para guru, namun ternyata aku sadar bahwa kalimat tersebut bisa juga diterapkan dalam bidang kepemimpinan. Seorang pemimpin harus memberi teladan di depan orang-orangnya, harus membangun kehendak untuk dapat bekerja bersama orang-orangnya, dan mereka harus memberikan dorongan semangat atau dukungan dari belakang untuk orang-orangnya. Sebuah kesadaran yang sangat berharga bagi diriku sendiri dan hal ini menuntutku untuk belajar lebih lagi serta benar-benar menerapkan prinsip yang bagus tersebut agar aku dapat benar-benar menjadi orang tua kedua bagi mereka semua. Ya, orang tua kedua !

Tickerbar