Wednesday, 9 February 2011

Membongkar Mental Block

Saya mendengar istilah ‘Mental Block’ ini dari salah seorang kawan saya, beberapa bulan yang lalu. Awalnya saya menganggap biasa saja istilah ini, namun akhir-akhir ini saya sadar bahwa ternyata mental block (kebuntuan mental) ini bisa menghinggapi diri kita. Mental block menghinggapi diri kita terkadang atau bahkan seringkali tanpa kita sadari. Contohnya, di dalam hati kita yang terdalam terdapat suatu keinginan untuk berprestasi, namun pikiran kita seolah mengatakan kepada diri kita saya tidak ingin berprestasi, saya ingin berprestasi tetapi kelihatannya itu terlalu sulit bagi saya, dan beragam mental block yang lain.
Contoh yang saya berikan di atas sebenarnya pernah dan sempat menghampiri diri saya. Dahulu sekali (beberapa tahun yang lalu) saya sempat menginginkan jabatan pimpinan di salah satu organisasi yang ada di kampus tempat saya menempuh pendidikan. Saya menginginkannya dan karena itu saya membuat target atau rencana untuk mencapai puncak. Di tahun pertama saya anggota biasa, namun saya menargetkan di tahun kedua saya harus naik satu level menjadi koordinator atau supervisor atau manajer. Saya berjuang di tahun kedua agar dapat menduduki posisi yang saya inginkan tersebut, namun ternyata saya belum berhasil. Saya sempat berkata kepada diri saya sendiri, tidak menduduki posisi koordinator juga tidak masalah dan saya sempat istilahnya ‘mutung’ atau ingin berhenti saja dan tidak berpartisipasi lagi di tahun berikutnya. Itulah contoh mental block yang saya alami waktu dan beruntungnya mental block tersebut tidak bertahan lama, sebab saya akhirnya berhasil meyakinkan diri saya sendiri untuk tetap memperjuangkan keinginan atau cita-cita saya.
Mental block ini sangat berbahaya. Dia adalah pola pikir yang menghalangi kita untuk berani berjuang dan meraih sesuatu yang benar-benar kita inginkan di dalam diri dan pikiran terdalam kita. Tiap orang sebenarnya punya kerinduan untuk meraih prestasi, tapi seringkali kebuntuan mental kita yang menghalangi dengan mencoba mengatakan kepada diri kita, ‘tidaklah berprestasi, bukankah orang-orang yang berprestasi (nilai baik) tersebut belumlah tentu lebih hebat dibandingkan kita’. Ya, mungkin saja benar bahwa orang-orang meraih prestasi terbaik, nilai-nilai terbaik, yang berhasil mewujudkan seluruh impian yang hebat belumlah tentu lebih hebat atau lebih baik dibandingkan kita. Tetapi jika kita sudah mengetahui bahwa mereka belumlah tentu benar-benar lebih baik atau lebih hebat dibandingkan kita, kita harus bertanya pada diri kita sendiri mengapa kita tidak mampu meraih sesuatu yang sehebat apa yang mampu raih ?
Saya percaya bahwa hampir sebagian besar dari kita berbohong jika kita berkata kepada diri kita sendiri maupun orang lain bahwa kita tidak ingin berprestasi, tidak ingin menjadi orang sukses, tidak ingin meraih nilai-nilai terbaik. Saya yakin bahwa sebenarnya kita ingin meraih prestasi atau penghargaan yang hebat, meraih nilai-nilai terbaik di sekolah atau kuliah (bagi yang masih kuliah), meraih kesuksesan dalam segala hal yang kita kerjakan, namun seringkali kita terlalu takut akan resiko atau upaya-upaya hebat yang harus kita keluarkan untuk mewujudkan atau meraih hal-hal hebat yang kita impikan. Saya yakin kita takut bahwa pengorbanan kita terlalu banyak untuk meraih semua yang kita inginkan, sehingga pada akhirnya kita berupaya membohongi diri kita sendiri maupun orang lain dengan mengatakan bahwa kita tidak ingin meraih hal-hal hebat yang orang lain mampu raih dan yang diri kita juga mampu raih karena kita memang diberi kemampuan untuk menjadi apapun.
Saya dapat berkata seperti di atas bukan berdasarkan teori atau apa yang pernah saya baca semata, saya berani berkata seperti itu sebab saya merasakan dan mengalaminya sendiri dalam hidup saya. Dalam cukup banyak kesempatan saya memiliki kerinduan atau keinginan untuk dikenal sebagai orang hebat, untuk menjadi orang hebat, untuk meraih prestasi-prestasi hebat, untuk meraih sukses dan menuju puncak tertinggi kehidupan, namun di lain kesempatan saya cukup atau bahkan dapat dikatakan terlalu takut untuk perjuangan-perjuangan atau upaya-upaya yang harus saya keluarkan untuk meraih hasil-hasil terbaik tersebut. Ketakutan saya pada akhirnya mendorong saya untuk membohongi diri saya sendiri maupun orang lain bahwa saya tidak ingin berprestasi, bahwa nilai-nilai yang ada itu tidaklah terlalu penting melainkan pengetahuanlah yang lebih penting, dan beragam dalih (excuse) yang lain.
Ya, seringkali kita semua sebenarnya terlalu takut bahwa upaya-upaya atau perjuangan-perjuangan yang akan kita keluarkan untuk meraih impian atau prestasi atau kesuksesan tidaklah sesuai dengan hasil-hasil yang akan kita raih dan kemudian kita mencoba membuat pembenaran atau dalih atas itu semua. Pemikiran yang menghalangi seperti itulah yang harus kita semua berupaya singkirkan dari diri dan kehidupan kita. Kita tidaklah mungkin meraih prestasi, jika kita tidak percaya bahwa kita berhak meraih prestasi. Kita tidaklah mungkin sukses, jika pikiran kita selalu mengatakan bahwa kita tidak perlu sukses. Kita tidaklah mungkin menjadi kaya, jika kita tidak percaya bahwa kita juga berhak untuk menjadi kaya dan bahwa kaya itu sangat-sangat baik. Kita tidak mungkin menjadi orang hebat, jika kita tidak percaya bahwa kita sangat berhak dan memiliki kemampuan untuk menjadi orang hebat.
Mulai sekarang, kita semua (termasuk saya) harus berupaya sebisa dan sekuat mungkin untuk secara perlahan tetapi pasti untuk menyingkirkan seluruh pemikiran-pemikiran yang akan menghalangi kita menjadi atau meraih yang terbaik yang berhak dan bahkan telah ditentukan untuk kita raih. Kita harus ubah kepercayaan kita bahwa kita berhak untuk super pintar, super hebat, super sukses, super kaya, super terkenal, dan hal-hal super lain yang ingin kita peroleh. Yakinkan diri kita sendiri bahwa kita berhak menjadi apapun yang kita inginkan. We have right to be all we can be !

Tickerbar