![]() |
| Ilustrasi Hebat, Dahsyat, Selamanya ! (sumber: www.google.com) |
Friday, 1 May 2015
Hebat, Dahsyat, Selamanya !
Saturday, 26 October 2013
Chief Executive Officer
Wednesday, 23 January 2013
Senantiasa Mengawasi Diri Sendiri
Thursday, 17 January 2013
Membuktikannya Sekali Lagi !
Friday, 27 January 2012
Tidak Bergantung Pada Orang Lain
Wednesday, 29 June 2011
Seorang Pemimpin Tidak Harus Selalu Hadir ?
Monday, 23 May 2011
Kualifikasi Tim Para Bintang
Sunday, 10 October 2010
Ketua Pekan Kampus 2009, sebuah pengalaman memimpin yang nyata dan akan sangat kuhargai
| Seorang pemimpin selalu ditopang oleh timnya |
Saturday, 2 October 2010
SEPERTI APA PARTNER YANG SEHARUSNYA DIPILIH ?
Friday, 9 July 2010
SEPERTI APAKAH POLA KEPEMIMPINAN DI GOOGLE DAN APAKAH ITU COCOK UNTUK DIPAKAI DI UNIVERSITAS ?
Monday, 28 June 2010
MASAKU SUDAH HABIS, SEKARANG SAATNYA YANG MUDA
Tuesday, 11 May 2010
PELAJARAN #4 DARI PEKAN KAMPUS 2009: BEING CREATIVE, PLEASE !
Masih banyak pelajaran-pelajaran yang aku dapatkan selama aku menjadi ketua Pekan Kampus untuk yang pertama kalinya sekaligus yang terakhir kalinya. Pelajaran-pelajaran yang berharga bagiku dan yang aku harapkan juga berharga bagi semua orang yang membaca tulisan-tulisanku mengenai pelajaran-pelajaran tersebut. Semoga !
Pelajaran kali ini adalah tentang kreativitas. Awalnya aku terinspirasi oleh cerita yang dituturkan oleh kedua pendiri Google, Inc. melalui buku yang berjudul Kisah Sukses Google. Dari penuturan mereka berdua yang menceritakan budaya perusahaan yang ada dalam Google yang begitu luar biasa menurut mereka, karyawan mereka, dan juga menurutku, aku terinspirasi untuk menciptakan budaya yang serupa dengan budaya yang ada dalam Google. Budaya seperti apakah yang kumaksud ? Jawabannya adalah budaya senang-senang selama bekerja keras.
Aku sendiri mengetahui dan menyadari berdasarkan pengalamanku selama 3 kali menjadi panitia Pekan Kampus (sebelum tahun 2009) bahwa bekerja sebagai panitia Pekan Kampus itu bukanlah pekerjaan yang ringan. Sungguh merupakan pekerjaan yang berat, bahkan lebih berat daripada beberapa kepanitiaan lain yang ada di kampus. Kami semua bertanggung jawab untuk mengenalkan kampus kepada sebagian besar mahasiswa baru yang menjadi peserta Pekan Kampus. Selain itu kami juga bertanggung untuk mendidik mereka menjadi generasi-generasi baru yang tangguh yang hebat, paling tidak bagi diri mereka sendiri. Dari Pekan Kampus juga aku merasakan bahwa mendidik serta menyiapkan orang lain untuk menjadi orang yang hebat itu tidak mudah, butuh perjuangan yang luar biasa sebab seringkali kita ditentang ketika kita ingin menyampaikan sesuatu yang lebih baik kepada orang lain.
Atas dasar pengetahuan serta pengalaman tersebut, aku ingin membawa suatu budaya yang sedikit berbeda ke Pekan Kampus 2009. Aku ingin menimbulkan suasana yang sedikit lebih relaks serta membawa variasi-variasi dalam setiap rapat yang diadakan oleh panitia.Variasi-variasi yang aku harapkan tidak membuat kami semua bosan dan dapat lebih happy menjadi Pekan Kampus. Sebuah upaya yang aku coba lakukan untuk menghilangkan stigma bahwa menjadi panitia Pekan Kampus itu membosankan, melelahkan, dan tidak ada enaknya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah keikutsertaanku sebagai panitia, rapat panitia beberapa kali menggunakan LCD projector untuk menampilkan materi rapat serta menampilkan teks lagu yang kami nyanyikan bersama-sama, untuk pertama kalinya kami rapat dengan diiringi lagu-lagu yang mengalun pelan untuk mencegah kebosanan, untuk pertama kalinya kami mengadakan acara rujakan dan game untuk seluruh panitia yang dirancang oleh tim kreatif BPH Pekan Kampus 2009 (Aileen, Aretta, Grace O, dan Suhendro), untuk pertama kalinya pula aku menghadirkan acara pijat-pijatan untuk meredakan kelelahan di punggung karena lamanya rapat, serta ada beberapa kreasi lain yang aku maupun BPH lain buat.
Sungguh sesuatu yang sangat menarik bagi kami semua. Sesuatu yang juga aku syukuri selama Pekan Kampus 2009 berlangsung adalah kami semua dapat saling memahami dan mengenal satu sama lain meskipun masih belum terlalu dalam mengenal. Yang juga tidak kalah syukuri adalah kami semua masih mampu bangkit dan berdiri dengan teguh setelah menerima teguran yang cukup keras dari Pak Ferdi selaku pengawas utama kegiatan Pekan Kampus 2009. Bahkan teguran dan peringatan keras tersebut sempat aku jadikan ide untuk acara puncak Pekan Kampus 2009, yang akhirnya tidak jadi dijalankan sebab Pak Ferdi tidak ingin dilibatkan sebagai bagian dari acara puncak Pekan Kampus 2009. But it doesn’t matter, overall I still feel happy and complacence with all we do in Pekan Kampus 2009.
So the lesson is that being creative, always try to make something different in our daily life and never let problem make us down. Problem can be our inspiration to make something new that we never thinked it before. This is happen in Pekan Kampus 2009, I get an inspiration to our top agenda while in campus from the problem we’re all get. So don’t limiting ourself to being creative people, find any inspirations we can get from our environment and people around us. Being creative !
PELAJARAN #3 DARI PEKAN KAMPUS 2009: JANGAN PERNAH MENURUNKAN STANDAR !
Mungkin ada yang bertanya-tanya, apa hubungannya antara Pekan Kampus yang merupakan acara pengenalan kampus dan semua sistem yang ada di dalamnya kepada mahasiswa baru dengan penurunan standar ? Saya katakana tetap ada hubungannya. Hubungannya dalam urusan kerja yang kami, khususnya saya, lakukan selama menjadi panitia penyelenggara acara tersebut. Pertanyaan penting yang perlu diajukan kepada setiap kami adalah, apakah kami tetap mampu menjaga standar kerja kami tetap prima selama kami menjadi panitia penyelenggara acara ?
Ya, inilah kesalahan paling utama dan mungkin terbesar yang aku lakukan selama aku menjadi ketua Pekan Kampus 2009, yaitu aku menurunkan standar kerjaku sendiri sebagai seorang pemimpin. Penurunan standar tersebut awalnya kelihatan sepele, tapi pada saat Pekan Kampus 2009 sudah mulai berjalan ternyata hal tersebut berdampak besar dan bahkan bisa dibilang sangat besar. Dampak itu tidak hanya pada diriku sendiri, tapi juga pada diri seluruh orang-orangku di kepanitiaan. Mereka semua tidak bekerja maksimal, sebab pemimpinnya juga tidak maksimal bekerja. Mereka semua tidak bekerja secara maksimal sebab pemimpinnya tidak memberi contoh cara bekerja yang maksimal sebagai seorang panitia Pekan Kampus.
Awalnya aku berpikir bahwa aku turunkan standar kerjaku agar yang lain memiliki kesempatan untuk bekerja serta mengembangkan diri dengan maksimal, tapi ternyata itu salah besar. Yang terjadi justru mereka semua ikut menurun. Kesadaran ini agak terlambat memang, sebab aku baru menyadari ini setelah aku merenungkannya semua yang terjadi selama Pekan Kampus 2009 setelah acara tersebut berakhir. Namun bagaimanapun aku tetap bersyukur sebab aku masih bisa menyadari kesalahan tersebut dan menjadikannya pelajaran yang berharga bagi diriku sendiri. Sebuah pelajaran yang aku yakin akan sangat berguna untuk menumbuhkan kembali diriku menjadi seorang pemimpin yang berkarakter. Sebuah pelajaran yang akan menjadikanku seorang pribadi dan pemimpin yang lebih baik dan lebih baik di masa depan. Sebuah pelajaran yang sungguh-sungguh berharga dalam membentuk karakterku.
Finally, I would say thanks to all people who have support me while Pekan Kampus 2009 still going on and after Pekan Kampus 2009 have done. Without you all I can do nothing. My very special thanks to Suhendro for becoming my partner in strategical thinking, to Aileen and Aretta for becoming my balancer, so that I not only care about jobs that I and my people do but also but also about their feeling. Thanks also for all people who have join with me on Pekan Kampus 2009. Love you all !
Monday, 10 May 2010
PELAJARAN #2 DARI PEKAN KAMPUS 2009: LOVING OTHERS
Pelajaran kedua dari Pekan Kampus 2009 yang juga sungguh berharga, tidak kalah berharganya dibanding pelajaran pertama tentang mendelegasikan tugas. Pelajaran tentang mencintai orang lain.
Akhir-akhir ini aku sadar bahwa di satu sisi kepribadian bawaanku yaitu koleris sangat membantuku dalam melakukan setiap pekerjaan atau tanggung jawab yang aku pegang atau jalani dengan sangat baik dan menjadikanku orang yang tidak menggantungkan nasib pada orang lain melainkan hanya pada kerja keras yang aku lakukan. Namun di sisi lain ternyata kepribadian tersebut juga membawa masalah tersendiri bagiku, yaitu seringkali karena kemampuan bawaan yang besar yang ada dalam diriku, aku seringkali menjadi egois serta kurang peduli pada orang lain. Hal ini baru aku sadari setelah aku membaca sekilas sebuah buku yang membahas mengenai empat kepribadian manusia. Buku tersebut menyadarkanku akan hal ini. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa setiap kepribadian memiliki sisi baik dan sisi buruk, termasuk kepribadian koleris.
Ciri-ciri kepribadian ini adalah orang yang selalu optimis, bergairah, diberi kemampuan memimpin sejak dari lahir, tidak suka bergantung pada orang lain, suka melakukan pekerjaan yang menantang, dan beberapa sisi positif atau baik lainnya. Namun selain dari sisi baik atau positif tersebut, orang koleris juga memiliki kelemahan antara lain keras kepala, semaunya sendiri, suka memaksa orang lain mengikuti caranya, egois, kurang peduli dengan orang lain, dan beberapa hal lainnya. Setelah aku renungkan beberapa saat, aku sadar bahwa aku sebagai orang yang memiliki kepribadian koleris juga memiliki kelemahan tersebut. Aku terkadang cukup egois dan ingin memaksakan apa yang aku inginkan serta kurang dapat mencintai atau mengasihi orang-orangku.
Aku merasa beruntung aku memiliki beberapa orang yang akhirnya membantu menyadarkanku tentang salah satu kelemahanku tersebut. Aku merasa beruntung, bahwa ada orang yang dengan senyumnya yang ramah dan juga dengan muka imutnya itu yang membantu mengingatkanku akan kasih terhadap orang-orang yang ada dibawahku. Aku sampai sekarang masih terus belajar untuk pada saat tertentu ketika dibutuhkan untuk membatasi kepribadian kolerisku yang keras agar aku dapat mengasihi orang-orangku.
Sekian pelajaran singkat kedua yang aku dapatkan dari Pekan Kampus 2009. Semoga aku mampu untuk menyeimbangkan kepribadianku dengan orang lain dan aku dapat mulai belajar mengasihi mereka. Semoga aku juga dapat benar-benar peduli pada mereka, tidak hanya peduli pada pekerjaan mereka yang mereka lakukan bagiku. Aku tahu hal ini cukup susah bagiku, namun aku akan belajar agar tahu saat yang tepat untuk marah kepada mereka dan juga saat yang tepat untuk dapat memberikan senyum yang indah serta mengasihi mereka. Semoga bisa ! Semoga pelajaran ini juga berguna, tidak hanya bagiku, tapi juga bagi kalian semua yang membacanya. Thanks !
Tuesday, 27 April 2010
PELAJARAN #1 DARI PEKAN KAMPUS 2009: DELEGATES YOUR JOBS

Pelajaran pertama yang kudapat dari Pekan Kampus 2009, bagaimana cara untuk mendelegasikan tugas. Sungguh ini pelajaran yang berharga serta penting untuk dimiliki oleh setiap orang yang memiliki posisi manajerial atau kepemimpinan. Mendelegasikan itu penting untuk dipelajari oleh setiap orang yang menduduki posisi tersebut, sebab itulah gunanya memiliki partner yang bekerja bersama kita.
Mendelegasikan tugas juga penting agar setiap manajer atau pemimpin tidak sibuk sendiri mengerjakan semua tugas atau pekerjaan. Tugas seorang manajer atau pemimpin hanyalah mengarahkan atau membimbing setiap orang-orangnya bukan untuk mengerjakan semuanya sendiri. Jika seorang manajer atau pemimpin sibuk mengerjakan sendiri sebagian besar tugas-tugas atau pekerjaan-pekerjaan yang ada, untuk ada dia memiliki partner atau orang-orang yang bekerja bersama dia. Pelajaran sederhana namun bermakna itu, yang ternyata justru merupakan pelajaran yang kurang aku pelajari selama persiapan menjadi seorang Ketua Pekan Kampus 2009. Aku lebih banyak belajar tentang prinsip-prinsip kepemimpinan, tapi kurang belajar mengenai cara membagi tugas atau pekerjaan dengan orang-orangku. Beruntung aku memiliki leader diatasku serta beberapa partner yang mengingatkanku mengenai hal ini, sehingga aku dapat memperoleh suatu pelajaran baru yang berharga. Seorang manajer atau pemimpin perlu tahu pekerjaan apa yang boleh atau dapat didelegasikan serta pekerjaan apa yang tidak boleh atau tidak dapat didelegasikan ke para bawahannya. Umumnya pekerjaan yang tidak boleh didelegasikan adalah pekerjaan yang menyangkut pengambilan keputusan yang penting yang menyangkut jalannya organisasi yang mereka pimpin.
Ke depan, aku akan selalu mengingat-ingat pelajaran yang tampak sederhana namun sangat berharga ini, agar aku dapat menjadi seorang pemimpin organisasi apapun yang lebih baik. Sebab kepemimpinan adalah hal yang menarik perhatianku sekitar dua tahun terakhir, dan aku akan terus belajar agar dapat menjadi seorang pemimpin dalam bidang apapun yang lebih baik dan lebih baik dari hari ke hari. Aku harus belajar untuk mengalahkan diriku sendiri yang kemarin untuk dapat menjadi lebih baik lagi hari ini. Sekian pelajaran singkat kali ini. Jangan lupa, delegates your jobs !
Sunday, 29 March 2009
PEMIMPIN YANG TERUS BELAJAR
Malam ini saya tergerak untuk menuliskan konsep yang telah saya pelajari dari sebuah buku berjudul: The 21 Irrefutable Laws of Leadership (21 hukum kepemimpinan sejati) karya John C. Maxwell. Buku ini saya peroleh dari meminjamnya dari salah seorang teman. Sebenarnya buku ini sudah selesai saya baca sejak sekitar 2 bulan yang lalu.
Buku karangan Maxwell ini benar-benar mengajariku banyak hal tentang kepemimpinan. Satu pelajaran yang sangat penting untuk diingat adalah bahwa seorang pemimpin itu harus terus belajar. Setiap hari seorang pemimpin harus menjadi lebih baik dari hari kemarin. Seorang pemimpin harus terus belajar dan memperbaiki diri sendiri setiap saat.
Dalam buku tersebut diberikan suatu kisah ilustrasi tentang kehidupan Presiden Amerika Serikat, Theodore Roosevelt. Roosevelt, seperti diceritakan dalam buku itu adalah seorang pemimpin yang menerapkan hukum proses dalam hidupnya. Roosevelt setia memproses hidupnya dan tidak mengijinkan apapun menghalangi langkahnya untuk terus maju dalam kehidupan. Kalimat berikut merupakan kutipan dari Roosevelt yang menyatakan tentang hukum proses: “bukannya kritikus yang penting, bukannya orang yang menunjukkan bagaimana orang kuat itu tersandung, atau di mana pelaku itu dapat melakukannya dengan lebih baik. Kreditnya adalah kepunyaan orang yang benar-benar dalam arena, yang wajahnya memar, penuh keringat serta darah, yang berjuang dengan berani, yang berulang-ulang membuat kekeliruan, yang mengenal antusiasme serta berdedikasi dalam mengejar tujuan yang layak; yang dengan kemungkinan terbaik akhirnya meraih kemenangan; dan yang, dengan kemungkinan terburuk, jika gagal, setidaknya gagal setelah mencoba dengan berani, sehingga tempatnya takkan pernah bersamaan dengan jiwa-jiwa dingin serta pengecut yang tidak mengenal kemenangan maupun kekalahan.”
Dari kalimat kutipan Roosevelt tersebut dapat diambil kesimpulan, ketika kamu ingin mencoba sesuatu, cobalah, jangan pernah takut gagal. Ketika kamu harus gagal, hadapilah kegagalan itu dengan penuh keberanian, sebab kamu boleh bangga karena kamu telah berani mencoba meskipun gagal. Secara tidak langsung melalui ucapannya tersebut, Roosevelt, ingin mengatakan, “cobalah, gagallah, dan teruslah belajar, sampai suatu saat kamu menjadi pemenang.” Dalam buku 21 hukum kepemimpinan sejati, dikatakan pula bahwa Presiden Roosevelt merupakan orang yang memiliki kelemahan secara fisik pada masa kecilnya. Sampai ayahnya pernah berkata, “kamu punya otak, tapi tubuhmu payah, dan tanpa tubuh yang kuat, otakmu takkan mencapai potensi maksimalnya. Jadi kamu harus menguatkan tubuhmu.” Mendengar omongan seperti itu tidak membuat Roosevelt patah semangat, justru dia berhasil membuktikan bahwa dia dapat membuat tubuhnya jauh lebih kuat dibanding sebelumnya.
Sepanjang sisa kehidupannya sejak mendengar kata-kata dari ayahnya, Roosevelt senantiasa memproses dirinya sendiri. Setiap hari dia melatih tubuh dan otaknya, dan ia terus melakukannya seumur hidup. Ia berolahraga setiap hari dengan barbel, mendaki gunung, main ice-skating, berburu, mendayung, berkuda, dan bertinju. Akibat dari kegiatan olahraga yang dilakukannya tubuh Roosevelt menjadi lebih kuat dari hari ke hari. Sejak saat itu pula, Roosevelt menjadi pribadi yang tidak hanya kuat secara otak, tapi juga tubuh.
Bagi kita orang-orang yang sedang ingin belajar menjadi pemimpin yang lebih baik, ada baiknya kita meniru yang dilakukan oleh Roosevelt. Sebaiknya kita senantiasa memproses diri kita sendiri melalui belajar terus-menerus tentang bagaimana cara menjadi seorang pemimpin yang baik. Belajar bagaimana menjadi seorang pemimpin yang dapat menginspirasi orang lain, pemimpin yang lebih efektif, dan pemimpin yang penuh vitalitas serta gairah kepemimpinan yang tinggi. Jika kita sebagai pribadi benar-benar ingin menjadi seorang pemimpin yang handal, sekaranglah saatnya untuk memproses diri kita. Jangan pernah menunggu dan menunda kesempatan untuk memproses diri, sebab pemimpin yang luar biasa itu tidak lahir dalam semalam. Pemimpin yang luar biasa terus berkembang dari hari ke hari. Jadi bersiaplah dari sekarang, jangan sampai ketika waktunya tiba atau ketika waktunya sudah dekat kita baru bersiap-siap. Ketika tiba saatnya bagi kita untuk pemimpin, saat itu juga harus sudah siap. Kesempatan atau momentum yang ada belum tentu datang untuk yang kedua kalinya. Selamat berproses menjadi pemimpin yang lebih baik !
Wednesday, 18 March 2009
Be a World Class Leader
Baru-baru ini aku terpikir tentang konsep pemimpin kelas dunia. Konsep ini merasuk ke dalam benakku, perlahan-lahan semakin dalam. Dalam upaya pembelajaran diri menjadi seorang pemimpin yang lebih baik dan efektif, konsep ini muncul dalam pikiranku. Perlahan-lahan aku menyadari bahwa menjadi seorang pemimpin kelas dunia adalah impian dari setiap pemimpin yang ada di dunia ini.
Definisi pemimpin kelas dunia adalah seorang pemimpin yang memiliki kualifikasi untuk membuat seluruh dunia segan, hormat, dan kagum pada kemampuan kepemimpinannya. Suatu kesalahan besar jika kita menilai pemimpin kelas dunia hanya dari segi popularitas saja, memang popularitas itu penting, karena kita tidak mungkin bisa menjadi pemimpin kelas dunia jika kita sendiri tidak dikenal oleh orang-orang dari berbagai negara lain yang ada di dunia ini. Namun yang benar-benar seseorang layak diberi gelar sebagai pemimpin kelas dunia adalah karena dia memang memiliki kemampuan memimpin yang luar biasa, suatu kemampuan memimpin yang mampu menghasilkan perubahan dan perbedaan ke arah yang lebih baik di dunia ini.
Seorang pemimpin kelas dunia adalah pemimpin yang mampu menjadi teladan atau panutan tidak hanya di daerah, organisasi, atau negara dimana dia bertindak sebagai pemimpin, namun dia juga harus dapat menjadi teladan diseluruh dunia. Pemimpin kelas dunia harus mampu memberikan teladan terbaik kepada setiap orang yang ada di dunia ini. Dia harus mampu menerangi setiap kehidupan yang ada di dunia ini melalui perbuatan dan ucapannya. Intinya dia harus mampu menjadikan dirinya serta kehidupannya sebagai teladan dan contoh bagi orang lain untuk menghasilkan kebaikan-kebaikan dalam setiap aspek kehidupan.
Menjadi seorang pemimpin kelas dunia itu sepertinya memang tidak akan mudah, namun bagi setiap pemimpin hal itu tetap akan menjadi tantangan tersendiri dalam hidupnya. Bagi setiap pemimpin dengan menjadi pemimpin kelas dunia akan memampukan dirinya untuk memberikan pengaruh-pengaruh yang baik serta membuat perbedaan dalam hidup lebih banyak orang. Pemimpin kelas dunia itu memiliki tanggung jawab untuk memberikan terang yang bercahaya diseluruh dunia melalui tingkah lakunya. Bagi kalian para pemimpin yang tertarik menjadi pemimpin kelas dunia, tetaplah belajar lebih baik lagi dalam segala hal, sehingga kalian benar-benar siap untuk menjadikan diri kalian pemimpin kelas dunia.

