Showing posts with label Leadership. Show all posts
Showing posts with label Leadership. Show all posts

Friday, 1 May 2015

Hebat, Dahsyat, Selamanya !

Hebat, Dahsyat, Selamanya !
Ilustrasi Hebat, Dahsyat, Selamanya ! (sumber: www.google.com)
Sebagai pribadi yang sedang kembali membangun, membangun banyak sekali hal, bisnis, keterampilan-keterampilan baru, dan tentu saja yang terpenting adalah membangun diri sendiri. Ya, benar, saya sedang emmbangun kembali diri sendiri menjadi pribadi yang Hebat, Dahsyat, Selamanya !

Dari upaya untuk kembali menjadi pribadi yang lebih hebat ini, saya menyadari satu hal, kita di Indonesia (dan kemungkinan di banyak negara lain di dunia ini) terlalu malu-malu untuk mengakui kepada diri sendiri maupun kepada (di hadapan) orang lain bahwa kita ini hebat, bahwa ini berbakat, bahwa kita ini juga mampu, bertalenta, memiliki keahlian yang sama dengan orang-orang lain, atau bahkan bisa jadi lebih baik. Ini semacam suatu kebiasaan atau 'norma' yang berlaku di masyarakat kita untuk malu-malu mengakui bahwa dirinya sendiri itu hebat. Malu mengakuinya karena takut dianggap sombong, takut dianggap sok jagoan, takut dianggap merendahkan atau meremehkan orang lain, atau ketakutan akan berbagai anggapan atau pikiran skeptis orang-orang disekitar kita.

Namun hari ini, saya ingatkan diri saya sendiri dan mari kalian semua juga ingatkan diri kalian sendiri bahwa kita ini Hebat, Dahsyat, Selamanya ! Kita juga memiliki kehebatan seperti orang lain juga memiliki kehebatan. Kita memiliki bakat dan kemampuan tertentu yang pantas dan bisa kita tonjolkan. Kita memiliki sesuatu yang istimewa dalam diri kita. Benar sekali, kita memiliki dan harus mengakuinya kepada diri sendiri maupun di hadapan orang lain. Kita harus mengakui kepada diri sendiri maupun kepada banyak orang bahwa kita hebat, kita istimewa, kita spesial, apapun yang terjadi atau apapun kondisi kita saat ini. Kita harus bangga pada diri kita sendiri, jika tidak siapa yang akan bangga ? Jika kita tak bangga pada diri kita sendiri, mana mungkin pula orang lain akan bangga pada diri kita sendiri ?

Jangan terlalu peduli akan anggapan orang lain, dengarkan, tapi tak semuanya perlu diambil 'pusing'. Anggapan dan ucapan diri kita terhadap diri kita sendiri lah yang paling penting di dunia ini. Sebab, saya percaya bahwa selain Tuhan, diri kita adalah yang lebih tahu tentang diri kita sendiri. Hebat, Dahsyat, Selamanya !

Saturday, 26 October 2013

Chief Executive Officer

Bagi setiap orang yang pernah bekerja pada suatu perusahaan maupun bagi para pemilik bisnis, istilah Chief Executive Officer atau biasa disingkat CEO ini tentu bukanlah yang asing lagi. Saat ini istilah ini mulai jauh lebih sering digunakan oleh banyak individu maupun organisasi di negeri ini untuk menyebut suatu posisi yang sangat amat penting dalam suatu perusahaan. Posisi yang demikian penting karena akan mempengaruhi seluruh jalannya organisasi bisnis perusahaan.
Chief Executive Officer (CEO) merupakan posisi tertinggi dalam jajaran eksekutif suatu perusahaan atau bisnis. Posisi ini demikian bergengsi, namun juga penuh dengan tuntutan dan tanggung jawab yang amat besar dalam jalannya operasional bisnis suatu perusahaan. Istilah CEO sejumlah variasi disesuaikan dengan bahasa atau negara yang menggunakannya. Pada negara-negara yang menggunakan bahasa Inggris British (British English) istilah ini umumnya disebut dengan MD (Managing Director), sementara dalam bahasa Indonesia istilah ini memiliki kesamaan dengan istilah Direktur Utama atau terkadang cukup Direktur saja.
CEO bertanggung jawab terhadap Dewan Direksi atau Dewan Direktur, sebab pada umumnya tugas atau tanggung jawab seorang CEO ditentukan oleh Dewan Direktur. Secara umum tugas seorang CEO adalah menentukan arah atau visi ke depan perusahaan, pengambilan keputusan-keputusan strategis perusahaan, komunikator atau penghubung dengan pihak di luar perusahaan khususnya dengan pemegang saham maupun pihak-pihak lain yang berkepentingan dengan kesuksesan bisnis dan operasional perusahaan, pemimpin perusahaan, pengelola perusahaan, dan juga sebagai pengawas eksekusi kebijakan maupun strategi bisnis perusahaan. Jadi, ringkasnya dapat dikatakan bahwa seorang CEO adalah penentu utama kehidupan (arah) suatu perusahaan yang dipimpinnya.

Wednesday, 23 January 2013

Senantiasa Mengawasi Diri Sendiri


Sebagai manusia, adalah wajar jika pada suatu waktu kita membuat kesalahan atau kelalaian. Pada suatu waktu tertentu terkadang kita melanggar disiplin yang sudah kita terapkan sebelumnya untuk diri kita sendiri. Terkadang kita melanggar disiplin waktu tidur, disiplin waktu makan, disiplin kerja, dan berbagai macam aturan bermanfaat lain dalam hidup kita. Sebelumnya mungkin kita pernah mengingatkan diri sendiri agar selalu fokus pada impian atau membiasakan diri mengerjakan suatu kebiasaan positif baru yang bermanfaat, namun terkadang pula kita lalai mengerjakan disiplin positif yang telah kita katakan atau tetapkan bagi diri kita sendiri.
Sungguh, mungkin dapat dikatakan wajar jika dalam sejumlah kesempatan kita tidak tertib atau tidak berlaku sesuai dengan aturan positif yang kita tetapkan sendiri. Namun hal tersebut tidak boleh kita abaikan begitu saja, minimal tidak boleh lolos dari pengamatan kita sendiri untuk kemudian dapat diperbaiki dan dapat meningkatkan kualitas diri kita secara pribadi. Kita perlu menjadi pengawas disiplin yang baik untuk diri kita sendiri. Mengamati setiap pelanggaran aturan yang kita lakukan, mengingatkan dan mendisiplinkannya, dan kemudian menerapkan perbaikan diri yang positif untuk dapat kembali berdisiplin. Memang adalah wajar pada beberapa kesempatan kita lalai menjalankan disiplin, namun jika terlalu sering, hal itu menjadi tidak wajar bagi seseorang yang memimpikan dirinya menjadi seorang yang besar. Sering lalai dalam menjalankan disiplin yang positif adalah tidak wajar bagi seseorang yang ditakdirkan menjadi pribadi yang hebat nan sukses luar biasa di masa depan. Oleh karenanya, kita perlu terus dan selalu menjagai serta mengawasi diri kita sendiri. Kita perlu belajar untuk dapat menjadi pelaku disiplin serta pengawas disiplin bagi kebaikan diri kita sendiri.

Thursday, 17 January 2013

Membuktikannya Sekali Lagi !

Beberapa tahun lalu, saya merupakan salah satu orang yang dikenal sebagai salah satu yang terbaik oleh sangat banyak orang berada di sekeliling saya, baik yang menjadi teman pergaulan saya maupun yang menjadi rekan kerja saya dalam berbagai organisasi yang saya ikuti di kehidupan kampus. Namun, beberapa tahun setelah itu, saya mengalami ‘kejatuhan’ yang sebenarnya saya sendiri yang mengakibatkannya. Saya telah menjadi terlalu ‘malas’ untuk melakukan sesuatu dan terlena dengan semua predikat dan prestasi hebat yang pernah saya raih sebelumnya. Hal tersebut membuat saya ‘terpuruk’ dan menjadi kurang dikenal lagi sebagai salah satu yang terbaik di kelasnya, walaupun pada kondisi ‘terpuruk’ tersebut sesungguhnya masih ada pula yang benar-benar mengetahui seberapa baik kualitas yang ada di dalam diri saya secara pribadi.

Setelah sekian lama berada dalam kondisi ‘terpuruk’ tersebut, sekitar hampir satu setengah tahun terakhir saya akhirnya tersadar bahwa saya masih hebat. Saya masih menjadi bagian dari yang terbaik. Seluruh kualitas hebat yang dahulu saya miliki masih ada di dalam diri saya. Satu hal yang perlu saya lakukan adalah membangkitkan kembali seluruh kualitas hebat tersebut dan memanfaatkannya dengan semaksimal mungkin untuk meraih prestasi puncak sekali lagi. Yang saya butuhkan hanyalah mendorong dan selalu memotivasi diri saya sendiri untuk dapat terus memaksimalkan diri serta seluruh kemampuan hebat yang saya miliki untuk meraih prestasi hebat berikutnya dan membuktikan sekali lagi bahwa saya masih berada di dalam jajaran orang-orang yang terbaik.

Memang untuk itu diperlukan perjuangan yang tidak sedikit. Diperlukan upaya yang keras dan konsisten agar dapat kembali berada di dalam kelompok individu yang terbaik di kelasnya. Diperlukan motivasi dan gairah yang sangat besar dan yang selalu menyala-nyala di dalam diri ini agar dapat selalu bergerak dan aktif dalam memperbaiki diri serta meraih prestasi.

Friday, 27 January 2012

Tidak Bergantung Pada Orang Lain


Kita semua mungkin telah mengetahui bahwa kita semua memerlukan bantuan orang lain untuk meraih sebagian besar hal yang kita inginkan atau perlukan dalam kehidupan ? Saya pun telah dan semakin menyadari hal tersebut, tetapi kita juga harus waspada akan satu hal atau sisi buruk dari kebutuhan kita akan bantuan orang lain. Pengalaman yang pernah saya jalani mengingatkan dan menyadarkan saya bahwa kita memang memerlukan bantuan orang lain, tetapi jika kita tidak waspada, lama-kelamaan kita akan menjadi terlalu bergantung pada orang lain. Kita perlu waspada agar kebutuhan kita akan bantuan atau dukungan orang lain tidak menjadikan kita bergantung semata-mata kepada mereka. Sebab jika kita terlalu bergantung kepada orang lain untuk melakukan sesuatu, maka kemungkinan besar di lain kesempatan, kita akan menjadi takut atau kurang percaya diri untuk memperjuangkan atau meraih sesuatu sendirian.
Kita perlu waspada, sebab ketika telah menjadi terlalu bergantung kepada dukungan orang lain sebelum memutuskan melakukan sesuatu, maka kita secara tidak langsung telah mengijinkan hal tersebut menggerogoti rasa percaya diri kita. Sehingga pada akhirnya kita tidak akan pernah berani lagi ketika harus memperjuangkan sesuatu yang sebenarnya memang kita sadari harus kita perjuangkan. Kita akan menjadi pribadi yang ragu-ragu untuk bertindak mengejar atau mewujudkan segala sesuatu yang perlu kita kejar atau wujudkan, sebab kita mengharapkan adanya dukungan pendapat orang lain sebelum bertindak.

Wednesday, 29 June 2011

Seorang Pemimpin Tidak Harus Selalu Hadir ?

Beberapa tahun lalu, saya pernah berpendapat dan menasihatkan kepada seseorang bahwa seorang pemimpin harus selalu hadir pada setiap kesempatan. Nasihat serta pendapat yang saya ungkapkan saat itu, khususnya berkaitan dengan kehadiran pemimpin untuk memimpin rapat. Nasihat serta pendapat saya saat itu adalah benar adanya, namun tidak selalu benar pada semua kondisi. Nasihat serta pendapat saya tersebut tidak selalu tepat, termasuk untuk kasus kehadiran pemimpin untuk memimpin rapat.
Sekitar lebih dari dua tahun setelah nasihat serta pendapat tersebut saya ungkapkan, saya telah belajar cukup banyak hal baru. Salah satu yang saya berhasil pelajari serta sadari adalah bahwa pemimpin tidak harus selalu hadir pada setiap kesempatan di hadapan bawahannya. Pemimpin tidak harus selalu, tetapi harus mampu membuat setiap orang yang dipimpinnya merasakan seolah-olah dia hadir disana. Seorang pemimpin tidak harus hadir, tetapi dia harus mampu membuat suatu sistem yang mampu membuat seolah-olah dia hadir disana, di setiap kesempatan dimanapun orang-orang yang dipimpinnya berada. Dengan menggunakan bantuan sistem yang diciptakan atau disusun dengan baik, setiap pemimpin dapat membantu mengefektifkan segala sesuatunya. Sistem yang hebat mampu membuat keseluruhan organisasi tetap berjalan dengan baik sesuai dengan yang dimaksudkan oleh pemimpinnya.

Monday, 23 May 2011

Kualifikasi Tim Para Bintang

Hampir dapat dipastikan bahwa kita semua selalu terkagum-kagum saat melihat seseorang dengan kualitas individu yang luar biasa. Hampir dapat dipastikan pula bahwa kita semua juga terkagum-kagum melihat suatu tim yang begitu luar biasa dan memenangkan atau meraih banyak prestasi. Namun tahukah kita bahwa baik individu maupun tim tersebut telah menetapkan standar yang berbeda dalam diri mereka sendiri ? Tahukah kita bahwa mereka semua menetapkan standar yang berbeda daripada standar yang biasa digunakan oleh individu maupun tim yang hanya meraih sesuatu yang biasa-biasa saja ? Mereka semua menetapkan sebuah standar yang mampu mengantarkan meraih banyak hal dalam hidup mereka. Sebuah standar yang mereka hidupi setiap hari, bahkan setiap saat.
Terinspirasi oleh para individu dan tim peraih prestasi terbaik yang pernah saya ketahui, maka saya akhirnya kembali belajar untuk menetapkan sebuah standar bagi diri saya sendiri dan juga bagi individu-individu pilihan yang akan menjadi anggota tim saya. Saya menyebutnya Standar Tim Para Bintang. Standar tersebut akan mampu mengantarkan saya dan seluruh anggota tim saya menjadi sebuah Tim Para Bintang. Berikut kualitas yang harus ada dalam diri saya dan juga para anggota tim saya:

Sunday, 10 October 2010

Ketua Pekan Kampus 2009, sebuah pengalaman memimpin yang nyata dan akan sangat kuhargai

Seorang pemimpin selalu ditopang oleh timnya

Jabatan Ketua Pekan Kampus 2009 adalah sebuah posisi yang kuincar sejak tahun 2007, sebuah posisi yang memang kuharapkan akan menjadi puncak dari segala kerja yang kulakukan di keorganisasian mahasiswa di kampus. Persiapan demi persiapan, baik kecil maupun besar, selalu kulakukan sejak impian tersebut muncul di kepala. Semua kulakukan demi membuat impian tersebut menjadi nyata. Semua kulakukan supaya terbukti bahwa aku tidak hanya bisa bermimpi, tetapi juga mau serta berani berkorban untuk suatu hal yang benar-benar aku impikan.
Kini setelah semua itu berlalu, tepatnya setelah lebih dari enam bulan seluruh tanggung jawabku sebagai seorang pemimpin selesai, aku mulai menyadari betapa berharganya jabatan yang pernah aku pegang tersebut. Dari pengalaman selama menjadi ketua, aku mendapatkan kesempatan serta pelajaran yang nyata mengenai kepemimpinan. Ternyata semua hal yang sudah kusiapkan sebelum aku mendaftar sebagai calon ketua dipraktekkan serta diuji selama aku memimpin. Dan ternyata aku juga menemukan bahwa ada hal-hal tertentu yang belum aku praktekkan dengan baik. Selain itu ada pula pelajaran-pelajaran baru yang aku temukan selama dan setelah aku menjabat.

Saturday, 2 October 2010

SEPERTI APA PARTNER YANG SEHARUSNYA DIPILIH ?

Sekitar delapan belas bulan yang lalu, ketika aku menduduki posisi tertinggi di organisasi yang telah aku ikuti selama empat tahun, aku harus melakukan pemilihan terhadap calon orang-orang yang nantinya akan menjadi anggota timku di organisasi tersebut. Karena organisasi yang aku pimpin merupakan organisasi kemahasiswaan di tingkat kampus, maka syarat-syarat yang aku ajukan juga tidak terlalu jauh dengan dunia kampus. Setelah berunding dengan kedua wakilku, akhirnya ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh mereka semua yang mendaftar untuk menjadi bagian dari organisasi tersebut agar diterima, yaitu nilai (indeks prestasi kumulatif/IPK) minimal 2.5, individu tersebut harus memiliki semangat dan motivasi yang tinggi, serta merupakan mahasiswa yang masih aktif berkuliah. Memang itulah syarat yang tertera dan terpasang di papan pengumuman, namun secara pribadi aku lebih menekankan kepada syarat nilai dan semangat.

Friday, 9 July 2010

SEPERTI APAKAH POLA KEPEMIMPINAN DI GOOGLE DAN APAKAH ITU COCOK UNTUK DIPAKAI DI UNIVERSITAS ?

Sejauh ini, bagi saya Google, Inc. masih merupakan salah satu perusahaan raksasa yang memiliki cerita atau latar belakang yang sangat menarik untuk terus dibaca ulang. Sebelumnya saya sudah pernah menulis tentang Google dari segi kisah pertemuan kedua pendirinya, perjuangan kedua pendirinya dalam membangun Google, hingga budaya kerja yang ada disana. Kini ada sedikit cerita yang berbeda yaitu mengenai bagaimana kepemimpinan di Google dijalankan.
Guna membuat tulisan ini, saya akhirnya membuka kembali buku lama saya yang berjudul, The Google Story, buku yang membahas sangat banyak hal tentang Google. Sistem kepemimpinan puncak di Google cukup unik sebab mereka memiliki tidak hanya satu pimpinan puncak melainkan tiga pemimpin tertinggi. Tiga pimpinan puncak tersebut bertanggung jawab untuk hal-hal yang berbeda, Eric Schmidt bertugas sebagai Chairman sekaligus CEO yang mengurusi seluruh operasional perusahaan terkait dengan urusan bisnis dan pengembangan perusahaan, Larry Page sebagai Presiden bidang Produk yang bertugas untuk mengurusi perkembangan produk dari Google, dan Sergey Brin sebagai Presiden bidang Teknologi yang mengurusi semua teknologi yang digunakan dalam operasional perusahaan sehari-hari.

Monday, 28 June 2010

MASAKU SUDAH HABIS, SEKARANG SAATNYA YANG MUDA

Konsep ini sebenarnya adalah konsep yang sudah umum ada dalam organisasi, namun untuk aku pribadi sebagai anggota dari cukup banyak organisasi di kampusku, aku baru menyadari sekitar beberapa bulan terakhir. Yang tua sudah berlalu, dan yang baru sudah datang itulah yang aku sadari. Aku pertama kali masuk kuliah pada tahun 2005 dan sekarang sudah tahun 2010, artinya sudah lima tahun aku berkuliah dan sudah mendekati masa-masa akhir untuk lulus dari kuliah. Hal itulah yang membuatku sadar bahwa sudah saatnya yang muda bertugas.
Aku juga akhirnya sadar bahwa sudah bukan saatnya lagi bagiku untuk terus berjuang di kampus, sudah saatnya adik-adikku yang lebih muda menggantikan aku (dan teman-teman seperjuanganku yang seangkatan). Sudah saatnya mereka yang lebih muda, lebih fresh untuk berjuang bagi kampus. Sudah saatnya mereka semua yang muda berkecimpung di dalam organisasi-organisasi yang ada untuk memajukan setiap organisasi tersebut sekaligus untuk memperoleh pengalaman yang berharga untuk masa depan mereka sendiri. Saranku bagi semua adalah agar mereka semua mencoba semua yang dapat dicoba selagi mereka masih muda dan memperoleh pengalaman sebanyak mungkin yang akan berguna bagi masa depan mereka. Pengalaman baik berbuat salah maupun benar, yang dapat mereka jadikan pelajaran bagi kehidupan mereka sendiri serta dapat mereka bagikan ke yang lain.

Tuesday, 11 May 2010

PELAJARAN #4 DARI PEKAN KAMPUS 2009: BEING CREATIVE, PLEASE !

Masih banyak pelajaran-pelajaran yang aku dapatkan selama aku menjadi ketua Pekan Kampus untuk yang pertama kalinya sekaligus yang terakhir kalinya. Pelajaran-pelajaran yang berharga bagiku dan yang aku harapkan juga berharga bagi semua orang yang membaca tulisan-tulisanku mengenai pelajaran-pelajaran tersebut. Semoga !

Pelajaran kali ini adalah tentang kreativitas. Awalnya aku terinspirasi oleh cerita yang dituturkan oleh kedua pendiri Google, Inc. melalui buku yang berjudul Kisah Sukses Google. Dari penuturan mereka berdua yang menceritakan budaya perusahaan yang ada dalam Google yang begitu luar biasa menurut mereka, karyawan mereka, dan juga menurutku, aku terinspirasi untuk menciptakan budaya yang serupa dengan budaya yang ada dalam Google. Budaya seperti apakah yang kumaksud ? Jawabannya adalah budaya senang-senang selama bekerja keras.

Aku sendiri mengetahui dan menyadari berdasarkan pengalamanku selama 3 kali menjadi panitia Pekan Kampus (sebelum tahun 2009) bahwa bekerja sebagai panitia Pekan Kampus itu bukanlah pekerjaan yang ringan. Sungguh merupakan pekerjaan yang berat, bahkan lebih berat daripada beberapa kepanitiaan lain yang ada di kampus. Kami semua bertanggung jawab untuk mengenalkan kampus kepada sebagian besar mahasiswa baru yang menjadi peserta Pekan Kampus. Selain itu kami juga bertanggung untuk mendidik mereka menjadi generasi-generasi baru yang tangguh yang hebat, paling tidak bagi diri mereka sendiri. Dari Pekan Kampus juga aku merasakan bahwa mendidik serta menyiapkan orang lain untuk menjadi orang yang hebat itu tidak mudah, butuh perjuangan yang luar biasa sebab seringkali kita ditentang ketika kita ingin menyampaikan sesuatu yang lebih baik kepada orang lain.

Atas dasar pengetahuan serta pengalaman tersebut, aku ingin membawa suatu budaya yang sedikit berbeda ke Pekan Kampus 2009. Aku ingin menimbulkan suasana yang sedikit lebih relaks serta membawa variasi-variasi dalam setiap rapat yang diadakan oleh panitia.Variasi-variasi yang aku harapkan tidak membuat kami semua bosan dan dapat lebih happy menjadi Pekan Kampus. Sebuah upaya yang aku coba lakukan untuk menghilangkan stigma bahwa menjadi panitia Pekan Kampus itu membosankan, melelahkan, dan tidak ada enaknya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah keikutsertaanku sebagai panitia, rapat panitia beberapa kali menggunakan LCD projector untuk menampilkan materi rapat serta menampilkan teks lagu yang kami nyanyikan bersama-sama, untuk pertama kalinya kami rapat dengan diiringi lagu-lagu yang mengalun pelan untuk mencegah kebosanan, untuk pertama kalinya kami mengadakan acara rujakan dan game untuk seluruh panitia yang dirancang oleh tim kreatif BPH Pekan Kampus 2009 (Aileen, Aretta, Grace O, dan Suhendro), untuk pertama kalinya pula aku menghadirkan acara pijat-pijatan untuk meredakan kelelahan di punggung karena lamanya rapat, serta ada beberapa kreasi lain yang aku maupun BPH lain buat.

Sungguh sesuatu yang sangat menarik bagi kami semua. Sesuatu yang juga aku syukuri selama Pekan Kampus 2009 berlangsung adalah kami semua dapat saling memahami dan mengenal satu sama lain meskipun masih belum terlalu dalam mengenal. Yang juga tidak kalah syukuri adalah kami semua masih mampu bangkit dan berdiri dengan teguh setelah menerima teguran yang cukup keras dari Pak Ferdi selaku pengawas utama kegiatan Pekan Kampus 2009. Bahkan teguran dan peringatan keras tersebut sempat aku jadikan ide untuk acara puncak Pekan Kampus 2009, yang akhirnya tidak jadi dijalankan sebab Pak Ferdi tidak ingin dilibatkan sebagai bagian dari acara puncak Pekan Kampus 2009. But it doesn’t matter, overall I still feel happy and complacence with all we do in Pekan Kampus 2009.

So the lesson is that being creative, always try to make something different in our daily life and never let problem make us down. Problem can be our inspiration to make something new that we never thinked it before. This is happen in Pekan Kampus 2009, I get an inspiration to our top agenda while in campus from the problem we’re all get. So don’t limiting ourself to being creative people, find any inspirations we can get from our environment and people around us. Being creative !

PELAJARAN #3 DARI PEKAN KAMPUS 2009: JANGAN PERNAH MENURUNKAN STANDAR !

Mungkin ada yang bertanya-tanya, apa hubungannya antara Pekan Kampus yang merupakan acara pengenalan kampus dan semua sistem yang ada di dalamnya kepada mahasiswa baru dengan penurunan standar ? Saya katakana tetap ada hubungannya. Hubungannya dalam urusan kerja yang kami, khususnya saya, lakukan selama menjadi panitia penyelenggara acara tersebut. Pertanyaan penting yang perlu diajukan kepada setiap kami adalah, apakah kami tetap mampu menjaga standar kerja kami tetap prima selama kami menjadi panitia penyelenggara acara ?

Ya, inilah kesalahan paling utama dan mungkin terbesar yang aku lakukan selama aku menjadi ketua Pekan Kampus 2009, yaitu aku menurunkan standar kerjaku sendiri sebagai seorang pemimpin. Penurunan standar tersebut awalnya kelihatan sepele, tapi pada saat Pekan Kampus 2009 sudah mulai berjalan ternyata hal tersebut berdampak besar dan bahkan bisa dibilang sangat besar. Dampak itu tidak hanya pada diriku sendiri, tapi juga pada diri seluruh orang-orangku di kepanitiaan. Mereka semua tidak bekerja maksimal, sebab pemimpinnya juga tidak maksimal bekerja. Mereka semua tidak bekerja secara maksimal sebab pemimpinnya tidak memberi contoh cara bekerja yang maksimal sebagai seorang panitia Pekan Kampus.

Awalnya aku berpikir bahwa aku turunkan standar kerjaku agar yang lain memiliki kesempatan untuk bekerja serta mengembangkan diri dengan maksimal, tapi ternyata itu salah besar. Yang terjadi justru mereka semua ikut menurun. Kesadaran ini agak terlambat memang, sebab aku baru menyadari ini setelah aku merenungkannya semua yang terjadi selama Pekan Kampus 2009 setelah acara tersebut berakhir. Namun bagaimanapun aku tetap bersyukur sebab aku masih bisa menyadari kesalahan tersebut dan menjadikannya pelajaran yang berharga bagi diriku sendiri. Sebuah pelajaran yang aku yakin akan sangat berguna untuk menumbuhkan kembali diriku menjadi seorang pemimpin yang berkarakter. Sebuah pelajaran yang akan menjadikanku seorang pribadi dan pemimpin yang lebih baik dan lebih baik di masa depan. Sebuah pelajaran yang sungguh-sungguh berharga dalam membentuk karakterku.

Finally, I would say thanks to all people who have support me while Pekan Kampus 2009 still going on and after Pekan Kampus 2009 have done. Without you all I can do nothing. My very special thanks to Suhendro for becoming my partner in strategical thinking, to Aileen and Aretta for becoming my balancer, so that I not only care about jobs that I and my people do but also but also about their feeling. Thanks also for all people who have join with me on Pekan Kampus 2009. Love you all !

Monday, 10 May 2010

PELAJARAN #2 DARI PEKAN KAMPUS 2009: LOVING OTHERS

Pelajaran kedua dari Pekan Kampus 2009 yang juga sungguh berharga, tidak kalah berharganya dibanding pelajaran pertama tentang mendelegasikan tugas. Pelajaran tentang mencintai orang lain.

Akhir-akhir ini aku sadar bahwa di satu sisi kepribadian bawaanku yaitu koleris sangat membantuku dalam melakukan setiap pekerjaan atau tanggung jawab yang aku pegang atau jalani dengan sangat baik dan menjadikanku orang yang tidak menggantungkan nasib pada orang lain melainkan hanya pada kerja keras yang aku lakukan. Namun di sisi lain ternyata kepribadian tersebut juga membawa masalah tersendiri bagiku, yaitu seringkali karena kemampuan bawaan yang besar yang ada dalam diriku, aku seringkali menjadi egois serta kurang peduli pada orang lain. Hal ini baru aku sadari setelah aku membaca sekilas sebuah buku yang membahas mengenai empat kepribadian manusia. Buku tersebut menyadarkanku akan hal ini. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa setiap kepribadian memiliki sisi baik dan sisi buruk, termasuk kepribadian koleris.

Ciri-ciri kepribadian ini adalah orang yang selalu optimis, bergairah, diberi kemampuan memimpin sejak dari lahir, tidak suka bergantung pada orang lain, suka melakukan pekerjaan yang menantang, dan beberapa sisi positif atau baik lainnya. Namun selain dari sisi baik atau positif tersebut, orang koleris juga memiliki kelemahan antara lain keras kepala, semaunya sendiri, suka memaksa orang lain mengikuti caranya, egois, kurang peduli dengan orang lain, dan beberapa hal lainnya. Setelah aku renungkan beberapa saat, aku sadar bahwa aku sebagai orang yang memiliki kepribadian koleris juga memiliki kelemahan tersebut. Aku terkadang cukup egois dan ingin memaksakan apa yang aku inginkan serta kurang dapat mencintai atau mengasihi orang-orangku.

Aku merasa beruntung aku memiliki beberapa orang yang akhirnya membantu menyadarkanku tentang salah satu kelemahanku tersebut. Aku merasa beruntung, bahwa ada orang yang dengan senyumnya yang ramah dan juga dengan muka imutnya itu yang membantu mengingatkanku akan kasih terhadap orang-orang yang ada dibawahku. Aku sampai sekarang masih terus belajar untuk pada saat tertentu ketika dibutuhkan untuk membatasi kepribadian kolerisku yang keras agar aku dapat mengasihi orang-orangku.

Sekian pelajaran singkat kedua yang aku dapatkan dari Pekan Kampus 2009. Semoga aku mampu untuk menyeimbangkan kepribadianku dengan orang lain dan aku dapat mulai belajar mengasihi mereka. Semoga aku juga dapat benar-benar peduli pada mereka, tidak hanya peduli pada pekerjaan mereka yang mereka lakukan bagiku. Aku tahu hal ini cukup susah bagiku, namun aku akan belajar agar tahu saat yang tepat untuk marah kepada mereka dan juga saat yang tepat untuk dapat memberikan senyum yang indah serta mengasihi mereka. Semoga bisa ! Semoga pelajaran ini juga berguna, tidak hanya bagiku, tapi juga bagi kalian semua yang membacanya. Thanks !

Tuesday, 27 April 2010

PELAJARAN #1 DARI PEKAN KAMPUS 2009: DELEGATES YOUR JOBS


Pelajaran pertama yang kudapat dari Pekan Kampus 2009, bagaimana cara untuk mendelegasikan tugas. Sungguh ini pelajaran yang berharga serta penting untuk dimiliki oleh setiap orang yang memiliki posisi manajerial atau kepemimpinan. Mendelegasikan itu penting untuk dipelajari oleh setiap orang yang menduduki posisi tersebut, sebab itulah gunanya memiliki partner yang bekerja bersama kita.

Mendelegasikan tugas juga penting agar setiap manajer atau pemimpin tidak sibuk sendiri mengerjakan semua tugas atau pekerjaan. Tugas seorang manajer atau pemimpin hanyalah mengarahkan atau membimbing setiap orang-orangnya bukan untuk mengerjakan semuanya sendiri. Jika seorang manajer atau pemimpin sibuk mengerjakan sendiri sebagian besar tugas-tugas atau pekerjaan-pekerjaan yang ada, untuk ada dia memiliki partner atau orang-orang yang bekerja bersama dia. Pelajaran sederhana namun bermakna itu, yang ternyata justru merupakan pelajaran yang kurang aku pelajari selama persiapan menjadi seorang Ketua Pekan Kampus 2009. Aku lebih banyak belajar tentang prinsip-prinsip kepemimpinan, tapi kurang belajar mengenai cara membagi tugas atau pekerjaan dengan orang-orangku. Beruntung aku memiliki leader diatasku serta beberapa partner yang mengingatkanku mengenai hal ini, sehingga aku dapat memperoleh suatu pelajaran baru yang berharga. Seorang manajer atau pemimpin perlu tahu pekerjaan apa yang boleh atau dapat didelegasikan serta pekerjaan apa yang tidak boleh atau tidak dapat didelegasikan ke para bawahannya. Umumnya pekerjaan yang tidak boleh didelegasikan adalah pekerjaan yang menyangkut pengambilan keputusan yang penting yang menyangkut jalannya organisasi yang mereka pimpin.

Ke depan, aku akan selalu mengingat-ingat pelajaran yang tampak sederhana namun sangat berharga ini, agar aku dapat menjadi seorang pemimpin organisasi apapun yang lebih baik. Sebab kepemimpinan adalah hal yang menarik perhatianku sekitar dua tahun terakhir, dan aku akan terus belajar agar dapat menjadi seorang pemimpin dalam bidang apapun yang lebih baik dan lebih baik dari hari ke hari. Aku harus belajar untuk mengalahkan diriku sendiri yang kemarin untuk dapat menjadi lebih baik lagi hari ini. Sekian pelajaran singkat kali ini. Jangan lupa, delegates your jobs !

Sunday, 29 March 2009

PEMIMPIN YANG TERUS BELAJAR

Malam ini saya tergerak untuk menuliskan konsep yang telah saya pelajari dari sebuah buku berjudul: The 21 Irrefutable Laws of Leadership (21 hukum kepemimpinan sejati) karya John C. Maxwell. Buku ini saya peroleh dari meminjamnya dari salah seorang teman. Sebenarnya buku ini sudah selesai saya baca sejak sekitar 2 bulan yang lalu.

Buku karangan Maxwell ini benar-benar mengajariku banyak hal tentang kepemimpinan. Satu pelajaran yang sangat penting untuk diingat adalah bahwa seorang pemimpin itu harus terus belajar. Setiap hari seorang pemimpin harus menjadi lebih baik dari hari kemarin. Seorang pemimpin harus terus belajar dan memperbaiki diri sendiri setiap saat.

Dalam buku tersebut diberikan suatu kisah ilustrasi tentang kehidupan Presiden Amerika Serikat, Theodore Roosevelt. Roosevelt, seperti diceritakan dalam buku itu adalah seorang pemimpin yang menerapkan hukum proses dalam hidupnya. Roosevelt setia memproses hidupnya dan tidak mengijinkan apapun menghalangi langkahnya untuk terus maju dalam kehidupan. Kalimat berikut merupakan kutipan dari Roosevelt yang menyatakan tentang hukum proses: “bukannya kritikus yang penting, bukannya orang yang menunjukkan bagaimana orang kuat itu tersandung, atau di mana pelaku itu dapat melakukannya dengan lebih baik. Kreditnya adalah kepunyaan orang yang benar-benar dalam arena, yang wajahnya memar, penuh keringat serta darah, yang berjuang dengan berani, yang berulang-ulang membuat kekeliruan, yang mengenal antusiasme serta berdedikasi dalam mengejar tujuan yang layak; yang dengan kemungkinan terbaik akhirnya meraih kemenangan; dan yang, dengan kemungkinan terburuk, jika gagal, setidaknya gagal setelah mencoba dengan berani, sehingga tempatnya takkan pernah bersamaan dengan jiwa-jiwa dingin serta pengecut yang tidak mengenal kemenangan maupun kekalahan.”

Dari kalimat kutipan Roosevelt tersebut dapat diambil kesimpulan, ketika kamu ingin mencoba sesuatu, cobalah, jangan pernah takut gagal. Ketika kamu harus gagal, hadapilah kegagalan itu dengan penuh keberanian, sebab kamu boleh bangga karena kamu telah berani mencoba meskipun gagal. Secara tidak langsung melalui ucapannya tersebut, Roosevelt, ingin mengatakan, “cobalah, gagallah, dan teruslah belajar, sampai suatu saat kamu menjadi pemenang.” Dalam buku 21 hukum kepemimpinan sejati, dikatakan pula bahwa Presiden Roosevelt merupakan orang yang memiliki kelemahan secara fisik pada masa kecilnya. Sampai ayahnya pernah berkata, “kamu punya otak, tapi tubuhmu payah, dan tanpa tubuh yang kuat, otakmu takkan mencapai potensi maksimalnya. Jadi kamu harus menguatkan tubuhmu.” Mendengar omongan seperti itu tidak membuat Roosevelt patah semangat, justru dia berhasil membuktikan bahwa dia dapat membuat tubuhnya jauh lebih kuat dibanding sebelumnya.

Sepanjang sisa kehidupannya sejak mendengar kata-kata dari ayahnya, Roosevelt senantiasa memproses dirinya sendiri. Setiap hari dia melatih tubuh dan otaknya, dan ia terus melakukannya seumur hidup. Ia berolahraga setiap hari dengan barbel, mendaki gunung, main ice-skating, berburu, mendayung, berkuda, dan bertinju. Akibat dari kegiatan olahraga yang dilakukannya tubuh Roosevelt menjadi lebih kuat dari hari ke hari. Sejak saat itu pula, Roosevelt menjadi pribadi yang tidak hanya kuat secara otak, tapi juga tubuh.

Bagi kita orang-orang yang sedang ingin belajar menjadi pemimpin yang lebih baik, ada baiknya kita meniru yang dilakukan oleh Roosevelt. Sebaiknya kita senantiasa memproses diri kita sendiri melalui belajar terus-menerus tentang bagaimana cara menjadi seorang pemimpin yang baik. Belajar bagaimana menjadi seorang pemimpin yang dapat menginspirasi orang lain, pemimpin yang lebih efektif, dan pemimpin yang penuh vitalitas serta gairah kepemimpinan yang tinggi. Jika kita sebagai pribadi benar-benar ingin menjadi seorang pemimpin yang handal, sekaranglah saatnya untuk memproses diri kita. Jangan pernah menunggu dan menunda kesempatan untuk memproses diri, sebab pemimpin yang luar biasa itu tidak lahir dalam semalam. Pemimpin yang luar biasa terus berkembang dari hari ke hari. Jadi bersiaplah dari sekarang, jangan sampai ketika waktunya tiba atau ketika waktunya sudah dekat kita baru bersiap-siap. Ketika tiba saatnya bagi kita untuk pemimpin, saat itu juga harus sudah siap. Kesempatan atau momentum yang ada belum tentu datang untuk yang kedua kalinya. Selamat berproses menjadi pemimpin yang lebih baik !

Wednesday, 18 March 2009

Be a World Class Leader

Baru-baru ini aku terpikir tentang konsep pemimpin kelas dunia. Konsep ini merasuk ke dalam benakku, perlahan-lahan semakin dalam. Dalam upaya pembelajaran diri menjadi seorang pemimpin yang lebih baik dan efektif, konsep ini muncul dalam pikiranku. Perlahan-lahan aku menyadari bahwa menjadi seorang pemimpin kelas dunia adalah impian dari setiap pemimpin yang ada di dunia ini.

Definisi pemimpin kelas dunia adalah seorang pemimpin yang memiliki kualifikasi untuk membuat seluruh dunia segan, hormat, dan kagum pada kemampuan kepemimpinannya. Suatu kesalahan besar jika kita menilai pemimpin kelas dunia hanya dari segi popularitas saja, memang popularitas itu penting, karena kita tidak mungkin bisa menjadi pemimpin kelas dunia jika kita sendiri tidak dikenal oleh orang-orang dari berbagai negara lain yang ada di dunia ini. Namun yang benar-benar seseorang layak diberi gelar sebagai pemimpin kelas dunia adalah karena dia memang memiliki kemampuan memimpin yang luar biasa, suatu kemampuan memimpin yang mampu menghasilkan perubahan dan perbedaan ke arah yang lebih baik di dunia ini.

Seorang pemimpin kelas dunia adalah pemimpin yang mampu menjadi teladan atau panutan tidak hanya di daerah, organisasi, atau negara dimana dia bertindak sebagai pemimpin, namun dia juga harus dapat menjadi teladan diseluruh dunia. Pemimpin kelas dunia harus mampu memberikan teladan terbaik kepada setiap orang yang ada di dunia ini. Dia harus mampu menerangi setiap kehidupan yang ada di dunia ini melalui perbuatan dan ucapannya. Intinya dia harus mampu menjadikan dirinya serta kehidupannya sebagai teladan dan contoh bagi orang lain untuk menghasilkan kebaikan-kebaikan dalam setiap aspek kehidupan.

Menjadi seorang pemimpin kelas dunia itu sepertinya memang tidak akan mudah, namun bagi setiap pemimpin hal itu tetap akan menjadi tantangan tersendiri dalam hidupnya. Bagi setiap pemimpin dengan menjadi pemimpin kelas dunia akan memampukan dirinya untuk memberikan pengaruh-pengaruh yang baik serta membuat perbedaan dalam hidup lebih banyak orang. Pemimpin kelas dunia itu memiliki tanggung jawab untuk memberikan terang yang bercahaya diseluruh dunia melalui tingkah lakunya. Bagi kalian para pemimpin yang tertarik menjadi pemimpin kelas dunia, tetaplah belajar lebih baik lagi dalam segala hal, sehingga kalian benar-benar siap untuk menjadikan diri kalian pemimpin kelas dunia.

KumpulBlogger