Sunday, 29 March 2009

PEMIMPIN YANG TERUS BELAJAR

Malam ini saya tergerak untuk menuliskan konsep yang telah saya pelajari dari sebuah buku berjudul: The 21 Irrefutable Laws of Leadership (21 hukum kepemimpinan sejati) karya John C. Maxwell. Buku ini saya peroleh dari meminjamnya dari salah seorang teman. Sebenarnya buku ini sudah selesai saya baca sejak sekitar 2 bulan yang lalu.

Buku karangan Maxwell ini benar-benar mengajariku banyak hal tentang kepemimpinan. Satu pelajaran yang sangat penting untuk diingat adalah bahwa seorang pemimpin itu harus terus belajar. Setiap hari seorang pemimpin harus menjadi lebih baik dari hari kemarin. Seorang pemimpin harus terus belajar dan memperbaiki diri sendiri setiap saat.

Dalam buku tersebut diberikan suatu kisah ilustrasi tentang kehidupan Presiden Amerika Serikat, Theodore Roosevelt. Roosevelt, seperti diceritakan dalam buku itu adalah seorang pemimpin yang menerapkan hukum proses dalam hidupnya. Roosevelt setia memproses hidupnya dan tidak mengijinkan apapun menghalangi langkahnya untuk terus maju dalam kehidupan. Kalimat berikut merupakan kutipan dari Roosevelt yang menyatakan tentang hukum proses: “bukannya kritikus yang penting, bukannya orang yang menunjukkan bagaimana orang kuat itu tersandung, atau di mana pelaku itu dapat melakukannya dengan lebih baik. Kreditnya adalah kepunyaan orang yang benar-benar dalam arena, yang wajahnya memar, penuh keringat serta darah, yang berjuang dengan berani, yang berulang-ulang membuat kekeliruan, yang mengenal antusiasme serta berdedikasi dalam mengejar tujuan yang layak; yang dengan kemungkinan terbaik akhirnya meraih kemenangan; dan yang, dengan kemungkinan terburuk, jika gagal, setidaknya gagal setelah mencoba dengan berani, sehingga tempatnya takkan pernah bersamaan dengan jiwa-jiwa dingin serta pengecut yang tidak mengenal kemenangan maupun kekalahan.”

Dari kalimat kutipan Roosevelt tersebut dapat diambil kesimpulan, ketika kamu ingin mencoba sesuatu, cobalah, jangan pernah takut gagal. Ketika kamu harus gagal, hadapilah kegagalan itu dengan penuh keberanian, sebab kamu boleh bangga karena kamu telah berani mencoba meskipun gagal. Secara tidak langsung melalui ucapannya tersebut, Roosevelt, ingin mengatakan, “cobalah, gagallah, dan teruslah belajar, sampai suatu saat kamu menjadi pemenang.” Dalam buku 21 hukum kepemimpinan sejati, dikatakan pula bahwa Presiden Roosevelt merupakan orang yang memiliki kelemahan secara fisik pada masa kecilnya. Sampai ayahnya pernah berkata, “kamu punya otak, tapi tubuhmu payah, dan tanpa tubuh yang kuat, otakmu takkan mencapai potensi maksimalnya. Jadi kamu harus menguatkan tubuhmu.” Mendengar omongan seperti itu tidak membuat Roosevelt patah semangat, justru dia berhasil membuktikan bahwa dia dapat membuat tubuhnya jauh lebih kuat dibanding sebelumnya.

Sepanjang sisa kehidupannya sejak mendengar kata-kata dari ayahnya, Roosevelt senantiasa memproses dirinya sendiri. Setiap hari dia melatih tubuh dan otaknya, dan ia terus melakukannya seumur hidup. Ia berolahraga setiap hari dengan barbel, mendaki gunung, main ice-skating, berburu, mendayung, berkuda, dan bertinju. Akibat dari kegiatan olahraga yang dilakukannya tubuh Roosevelt menjadi lebih kuat dari hari ke hari. Sejak saat itu pula, Roosevelt menjadi pribadi yang tidak hanya kuat secara otak, tapi juga tubuh.

Bagi kita orang-orang yang sedang ingin belajar menjadi pemimpin yang lebih baik, ada baiknya kita meniru yang dilakukan oleh Roosevelt. Sebaiknya kita senantiasa memproses diri kita sendiri melalui belajar terus-menerus tentang bagaimana cara menjadi seorang pemimpin yang baik. Belajar bagaimana menjadi seorang pemimpin yang dapat menginspirasi orang lain, pemimpin yang lebih efektif, dan pemimpin yang penuh vitalitas serta gairah kepemimpinan yang tinggi. Jika kita sebagai pribadi benar-benar ingin menjadi seorang pemimpin yang handal, sekaranglah saatnya untuk memproses diri kita. Jangan pernah menunggu dan menunda kesempatan untuk memproses diri, sebab pemimpin yang luar biasa itu tidak lahir dalam semalam. Pemimpin yang luar biasa terus berkembang dari hari ke hari. Jadi bersiaplah dari sekarang, jangan sampai ketika waktunya tiba atau ketika waktunya sudah dekat kita baru bersiap-siap. Ketika tiba saatnya bagi kita untuk pemimpin, saat itu juga harus sudah siap. Kesempatan atau momentum yang ada belum tentu datang untuk yang kedua kalinya. Selamat berproses menjadi pemimpin yang lebih baik !

Tickerbar

KumpulBlogger