Monday, 5 March 2012

Bukan Hanya Euforia Semata !

Pernah tidak, pada suatu kita begitu bersemangat, ‘membara’, bergelora, antusias terhadap sesuatu atau untuk melakukan sesuatu dan beberapa saat kemudian ketika halangan, rintangan, atau tantangan datang, semangat, ‘bara api’ yang menyala di dalam tubuh kita, dan antusiasme kita secara perlahan tetapi pasti mulai meredup ? Saya tidak tahu dengan pasti kondisi setiap orang, tetapi kemungkinannya kita semua pernah mengalaminya. Saya yang ketika kuliah dikenal sebagai seorang yang sangat ‘panas’, antusias, dan semangat sempat pula kehilangan semangat, antusiasme, dan ‘panas’ saya. Saya sempat menurun, sebelum akhirnya tersadar bahwa saya harus melatih diri, memotivasi diri saya, dan kembali bersemangat untuk mengejar segala impian. Tulisan kali ini tidak akan semata-mata membahas mengenai upaya saya untuk kembali bersemangat, namun akan lebih membahas mengenai komitmen.
Pagi ini, ketika saya bangun tidur, secara mendadak dan tiba-tiba saya ‘mendapat’ suatu kalimat yang berbunyi: jangan hanya jadi euforia sementara saja. Kalimat yang tiba-tiba muncul sempat membuat saya ‘tertampar’ dan tersadar untuk merenung sejenak guna memahami makna kalimat tersebut. Setelah merenung sejenak, akhirnya saya dapat menjabarkan secara lebih luas makna kalimat tersebut, sebagai berikut: jangan hanya antusias di awal saja dan kemudian ketika tantangan, kesulitan, rintangan mulai datang semangat kita menyusut, menciut, dan akhirnya hilang. Jangan hanya bersemangat atau antusias ketika segala sesuatunya mudah, tetapi tetaplah bersemangat termasuk ketika segala sesuatunya berjalan tidak sempurna sesuai dengan yang kita rencanakan. Tetaplah berjalan dengan semangat awal yang kita miliki saat kita menginginkan sesuatu atau memutuskan melakukan sesuatu, jangan pernah berhenti di tengah jalan.

Friday, 24 February 2012

Lakukan Saja !


Tulisan kali ini terinspirasi oleh seminar-seminar bisnis yang akhir-akhir ini semakin sering saya hadiri maupun buku-buku bisnis semakin sering saya baca, dan juga yang secara kebetulan sesuai dengan ‘tema’ atau ‘topik’ utama blog ini. Dari sekian banyak seminar bisnis yang saya hadiri maupun buku bisnis yang saya baca, saya menemukan bahwa mayoritas menganjurkan untuk memperbanyak tindakan alias action. Para pengisi seminar maupun penulis buku bisnis bahkan juga ada yang menyatakan bahwa bisnis yang baik itu adalah bisnis yang dibuka atau dijalankan, bukan bisnis yang terus dipikirkan, direncanakan, diimpikan, disiapkan, dan sejenisnya. Bisnis yang baik itu adalah bisnis yang dibuka atau dijalankan.
Saya secara pribadi termasuk golongan orang bertipe pemikir. Saya menyukai berpikir, menganalisa, merencanakan, dan kegiatan lain yang sejenis. Saya mengetahui, menyadari, dan meyakini bahwa hal tersebut juga baik adanya. Namun beberapa bulan lalu akhirnya saya sadar bahwa jika saya hanya berpikir, menganalisa, berencana, tetapi tidak pernah atau kurang bertindak, maka saya juga tidak akan pernah meraih apapun. Didorong oleh kesadaran tersebut, saya mulai belajar untuk lebih memperbanyak tindakan tanpa mengurangi dengan cukup berarti waktu yang saya habiskan untuk berpikir. Motivasi untuk memperbanyak tindakan serta mempercepatnya juga semakin didorong setelah kehadiran saya pada sejumlah seminar maupun workshop bisnis yang saya hadiri. Saya menyadari bahwa mengikuti seminar maupun workshop seperti itu sangat berguna dan bermanfaat. Saya dapat menambah ilmu, memperoleh motivasi, menambah kawan serta memperluas jejaring.

Sebuah Perjalanan Panjang untuk Kembali Menjadi Hebat


Tiga tahun telah berlalu sejak prestasi puncak yang sangat saya impikan terwujudkan. Semua euforia dan kehebatan tersebut kini telah berlalu. Masa-masa ketika saya begitu menikmati ‘sukses’ yang saya raih tersebut, namun sekaligus juga menjadi masa dimana akhirnya saya terlena oleh ‘kesuksesan’ tersebut.
Setelah tiga tahun berlalu, akhirnya saya pun telah tersadarkan bahwa saya tidak boleh berada pada kondisi seperti ini terus-menerus. Saya perlu kembali merangkai seluruh impian hebat untuk menjadi hebat. Kesadaran ini telah tercetus sejak akhir tahun 2011 lalu dan semakin menggelora dan terus digelorakan agar dapat segera terwujud.
Awal tahun 2012 ini, saya mulai melangkah dengan lebih serius untuk menekuni kembali bidang yang menjadi kecintaan utama saya, yaitu pemrograman komputer. Sudah cukup lama saya melupakan kecintaan saya tersebut karena tergoda oleh hal-hal lain yang lebih menarik. Walaupun selama masa-masa ‘tergoda’ tersebut saya tidak sepenuhnya melupakan dunia pemrograman komputer. Saya masih melakukannya dan masih sangat-sangat mencintainya.
Semenjak di awal masa kuliah sekitar enam tahun lalu, saya sudah sangat mencintai dan semakin mencintai dunia tersebut. Saya mulai mengenali serta merangkai impian-impian indah terkait dengan pemrograman komputer, mulai dari menjadi programmer komputer hebat, memperoleh banyak sertifikasi terkait dengan dunia komputer, bekerja di perusahaan komputer besar, hingga akhirnya muncullah impian paling besar dan paling ‘gila’ saya yaitu membangun bisnis komputer yang sukses luar biasa.

Monday, 30 January 2012

Nothing is Free !


Selama ini kita mungkin sering mendengar kalimat atau istilah berikut: ‘no free lunch’, ‘tidak ada yang gratis’, ‘untuk segala sesuatu ada harga yang harus dibayar’, dan ungkapan lain sejenisnya. Saya pertama kali mendengar ungkapan seperti itu sekitar 6 tahun yang lalt dan akhir-akhir ini saya kembali sering mendengar ungkapan tersebut ‘berdengung’ di dalam pikiran saya. Ya, saya kembali teringat (atau diingatkan) bahwa tidak ada sesuatu yang gratis di dunia ini. Kita membayar hari ini dan menikmati hasilnya esok, atau sebaliknya, kita menikmati hasilnya hari ini dan membayarnya esok. Intinya kita harus membayar untuk segala sesuatu yang kita inginkan (walaupun terkadang tetap ada sesuatu yang gratis).
Ungkapan nothing is free yang akan saya bahas dalam tulisan ini bukanlah berhubungan dengan pengembangan diri, motivasi, atau topik lain sejenisnya dimana terkadang ungkapan sejenis juga digunakan. Ungkapan ini saya bahas dalam kaitannya dengan komersialisasi. Selama ini, selama saya sekolah maupun kuliah, saya memang diajarkan banyak sekali ilmu pengetahuan yang saya tahu memang memiliki manfaat dan kegunaan. Selain itu saya juga mendapat pelajaran mengenai cukup banyak hal lain diluar pendidikan formal. Namun ada satu pelajaran lagi yang ternyata masih kurang, pelajaran ini baru saya dapatkan beberapa bulan lalu serta masih berupaya saya selami lebih dalam lagi serta aplikasikan dengan lebih baik. Pelajaran tersebut adalah tentang komersialisasi.

Friday, 27 January 2012

Tidak Bergantung Pada Orang Lain


Kita semua mungkin telah mengetahui bahwa kita semua memerlukan bantuan orang lain untuk meraih sebagian besar hal yang kita inginkan atau perlukan dalam kehidupan ? Saya pun telah dan semakin menyadari hal tersebut, tetapi kita juga harus waspada akan satu hal atau sisi buruk dari kebutuhan kita akan bantuan orang lain. Pengalaman yang pernah saya jalani mengingatkan dan menyadarkan saya bahwa kita memang memerlukan bantuan orang lain, tetapi jika kita tidak waspada, lama-kelamaan kita akan menjadi terlalu bergantung pada orang lain. Kita perlu waspada agar kebutuhan kita akan bantuan atau dukungan orang lain tidak menjadikan kita bergantung semata-mata kepada mereka. Sebab jika kita terlalu bergantung kepada orang lain untuk melakukan sesuatu, maka kemungkinan besar di lain kesempatan, kita akan menjadi takut atau kurang percaya diri untuk memperjuangkan atau meraih sesuatu sendirian.
Kita perlu waspada, sebab ketika telah menjadi terlalu bergantung kepada dukungan orang lain sebelum memutuskan melakukan sesuatu, maka kita secara tidak langsung telah mengijinkan hal tersebut menggerogoti rasa percaya diri kita. Sehingga pada akhirnya kita tidak akan pernah berani lagi ketika harus memperjuangkan sesuatu yang sebenarnya memang kita sadari harus kita perjuangkan. Kita akan menjadi pribadi yang ragu-ragu untuk bertindak mengejar atau mewujudkan segala sesuatu yang perlu kita kejar atau wujudkan, sebab kita mengharapkan adanya dukungan pendapat orang lain sebelum bertindak.

Wednesday, 18 January 2012

Memulai Dari Yang Kita Bisa


Dua hari lalu saya kontak salah seorang teman yang baru saya kenal. Kami bertemu melalui suatu acara yang diadakan di salah satu hotel sekitar satu bulan yang lalu. Saya kontak dia melalui pesan singkat untuk sekedar mengakrabkan diri. Singkat cerita dia membalas pesan singkat yang saya kirim dan saya berkata kepadanya jika ada info mengenai seminar maupun pertemuan bisnis, mohon berikan info agar melalui acara tersebut saya dapat terus menambah wawasan, sebab saya mulai menjalankan usaha saya sendiri di bidang konsultasi teknologi informasi dan pengembangan perangkat lunak. Teman saya tersebut kemudian memberikan info bahwa akan ada acara seminar bisnis gratis di suatu gedung milik pemerintah di daerah Surabaya barat. Saya tertarik hadir untuk menambah wawasan saya sekaligus memperoleh lebih banyak teman baru.
Singkat cerita saya datang, walaupun agak terlambat. Sampai disana saya melihat acara sudah dimulai dan saya bertemu dengan teman baru saya tersebut diluar gedung tempat acara diadakan serta bertegur sapa sebentar sebelum saya memasuki gedung. Saya memasuki gedung, mendengarkan sejenak acara yang sedang berlangsung, dan sejurus memulai pembicaraan dengan seorang bapak di sebelah saya. Dari bapak tersebut saya semakin yakin dan jelas bahwa acara tersebut adalah seminar bisnis multi level marketing salah satu produk kesehatan. Bapak yang berprofesi sebagai pengemudi taksi dari perusahaan taksi besar tersebut sudah bergabung dengan alasan merasakan manfaat dari produknya serta ingin memperoleh penghasilan sampingan. Bapak tersebut juga mengungkapkan impian mulianya kepada saya bahwa jika bisnis sampingan yang dia jalankan melalui multi level marketing tersebut sudah cukup besar, dia akan melepaskan pekerjaan utamanya sebagai pengemudi taksi.

Tuesday, 17 January 2012

Merengkuh Kembali Semua Kendali Kehidupan


Tanpa terlalu saya sadari selama lebih dari dua tahun terakhir saya telah menggantungkan tanggung jawab hidup saya kepada rekan-rekan kerja, sahabat atau teman, saudara, dan orang tua. Saya terlalu bergantung atau ‘mendengarkan’ pendapat mereka sehingga saya tidak atau kurang berani mengambil keputusan bagi diri saya sendiri. Keputusan yang saya tahu baik bagi diri saya dan masa depan saya. Saya memang sadar bahwa saya perlu mendengarkan pendapat orang lain, namun karena terlalu banyak mendengarkan itu pula, saya akhirnya takut atau kurang percaya terhadap suara hati saya sendiri. Saya terlalu bergantung pada pendapat orang lain.
Selama sekitar dua sampai tiga bulan terakhir, saya mulai berupaya kembali untuk mengembalikan jati diri saya yang sesungguhnya. Saya tetap berupaya mendengar pendapat orang lain, namun pada akhirnya saya akan menyesuaikan atau menyelaraskan pendapat mereka dengan apa yang ‘hati’ saya katakan. Saya akan belajar untuk lebih percaya kepada apa yang ‘hati’ maupun intuisi saya katakan, sebab saya telah belajar dan terus meyakini bahwa intuisi kita tidak pernah salah. Orang lain boleh berpendapat apapun tentang kita, tetapi hanya ada dua pribadi yang paling tahu tentang diri kita, yaitu Tuhan kita dan diri kita sendiri. Jadi pelajarannya adalah dengarkan pendapat orang lain, namun pada akhirnya tetaplah percaya kepada intuisi atau suara ‘hati’ kita sendiri. Sebab hampir dapat dipastikan bahwa suara ‘hati’ kita adalah benar dan merupakan bisikan suara Tuhan.
Itulah sekilas cerita saya. Cerita dan pengalaman saya dapat berbeda dengan cerita dan pengalaman Anda. Bagaimana dengan cerita dan pengalaman Anda ? Silakan berbagi dan saya siap mendengar. Selamat belajar untuk merengkuh dan memegang kendali sepenuhnya atas kehidupan kita sendiri.

Sunday, 15 January 2012

Ini Tentang Saya, Bagaimana Tentang Anda ?


Eits…, sebelumnya jangan salah sangka bahwa tulisan ini ada hubungannya dengan iklan salah satu produsen mie instan, sebab saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri untuk sebisa mungkin tidak menyebutkan nama merek produk atau nama perusahaan lain. Tulisan ini adalah sedikit hasil dari perenungan yang berasal dari pengalaman pribadi saya sendiri selama beberapa tahun ini.
Sejak pertama memasuki perkuliahan di salah satu kampus swasta ternama di Surabaya, saya telah begitu aktif, baik dalam aktivitas perkuliahan maupun dalam aktivitas organisasi. Sejumlah aktivitas tersebut membuat saya merasa senang, sibuk, berguna, dan sekaligus merasa bahwa bakat-bakat yang telah saya miliki dapat semakin terasah serta berkembang. Benar semua aktivitas tersebut benar-benar menyenangkan bagi saya. Saya mencintai sekali melakukan aktivitas-aktivitas yang bermanfaat. Saya cinta bekerja, cinta melakukan sesuatu, dan tentu saja menghasilkan sesuatu yang dapat memberi manfaat bagi orang lain maupun bagi diri saya.
Singkat kata, semua aktivitas kuliah maupun aktivitas organisasi berjalan dengan lancar. Saya memperoleh nilai-nilai kuliah yang diatas rata-rata, sehingga membuat saya dan beberapa rekan saya mendapat julukan ‘dewa’. Saya juga menjadi salah satu bintang dalam bidang organisasi di kampus serta menjadi salah satu orang yang selalu diharapkan dapat bergabung pada aktivitas keorganisasian karena kemampuan saya dibutuhkan. Hal ini membuat saya bangga dan senang.

KumpulBlogger