Sunday, 10 July 2011

Sudah Efektifkah Hidup Kita ?

Selama beberapa bulan terakhir ini, saya selalu berusaha untuk menanyakan pertanyaan ini kepada diri saya sendiri. Sudah efektifkah hidup saya ? Sudahkah saya memanfaatkan setiap waktu dalam hidup saya dengan optimal ? Sudahkah saya benar-benar menggunakan hidup saya untuk melakukan hal-hal yang benar bermanfaat ? Proses bertanya seperti ini sungguh sangat bermanfaat untuk menganalisa serta menilai lebih dalam mengenai kehidupan yang kita jalani setiap hari.
Jawaban-jawaban yang kita peroleh sebagai jawaban atas semua pertanyaan tersebut dapat membantu untuk mengetahui apakah kehidupan yang kita jalani benar-benar kehidupan yang benar, bermanfaat, dan tentu saja efektif. Semua jawaban atas pertanyaan tersebut dapat memberitahu kita apakah kita telah memanfaatkan waktu yang kita miliki dalam hidup untuk kegiatan yang bermanfaat, untuk meraih kualitas kerja yang terbaik, untuk meraih segala sesuatu yang mungkin kita raih. Pertanyaan yang tepat serta jawaban yang jujur atas pertanyaan dapat membantu kita untuk menjadi individu yang lebih baik.

Monday, 4 July 2011

Kepintaran

Sebuah tulisan yang saya buat pada Sabtu, 27 Januari 2007. Tulisan ini saya ambil dari catatan harian yang saya buat dan telah saya edit sedikit agar dapat lebih rapi dan enak untuk dibaca. Semoga catatan harian ini bermanfaat.
Saya sering mendengar orang berkata, “orang itu pintar”, “orang itu cerdas”, dan sebagainya. Namun saya akhirnya berpikir, apakah mereka yang berpendapat seperti benar-benar mengetahui definisi kata pintar atau cerdas ? Saya juga sempat bertanya apakah sebenarnya kepintaran atau kecerdasan itu ada ? Jika memang kepintaran atau kecerdasan itu ada, syarat apa sajakah yang harus dipenuhi agar seseorang dapat disebut pintar atau cerdas ?
Jika kita melihat ke belakang dalam sejarah hidup para penemu, ilmuwan, dan orang-orang yang dikenal sebagai orang pintar atau cerdas, kita akan dapat benar-benar mengetahui bahwa pada awalnya mereka juga orang biasa. Semangat mereka untuk terus belajar serta mengembangkan pemikiran serta kemampuan mereka, yang pada akhirnya membuat mereka memperoleh julukan sebagai orang-orang pintar. Dari hal tersebut, kita dapat mengetahui bahwa mereka semua menjadi pintar, seperti sebutan atau identitas yang kita berikan untuk mereka, karena mereka memutuskan di dalam diri mereka sendiri untuk terus rajin belajar dan memperluas pemikirannya.

Wednesday, 29 June 2011

Seorang Pemimpin Tidak Harus Selalu Hadir ?

Beberapa tahun lalu, saya pernah berpendapat dan menasihatkan kepada seseorang bahwa seorang pemimpin harus selalu hadir pada setiap kesempatan. Nasihat serta pendapat yang saya ungkapkan saat itu, khususnya berkaitan dengan kehadiran pemimpin untuk memimpin rapat. Nasihat serta pendapat saya saat itu adalah benar adanya, namun tidak selalu benar pada semua kondisi. Nasihat serta pendapat saya tersebut tidak selalu tepat, termasuk untuk kasus kehadiran pemimpin untuk memimpin rapat.
Sekitar lebih dari dua tahun setelah nasihat serta pendapat tersebut saya ungkapkan, saya telah belajar cukup banyak hal baru. Salah satu yang saya berhasil pelajari serta sadari adalah bahwa pemimpin tidak harus selalu hadir pada setiap kesempatan di hadapan bawahannya. Pemimpin tidak harus selalu, tetapi harus mampu membuat setiap orang yang dipimpinnya merasakan seolah-olah dia hadir disana. Seorang pemimpin tidak harus hadir, tetapi dia harus mampu membuat suatu sistem yang mampu membuat seolah-olah dia hadir disana, di setiap kesempatan dimanapun orang-orang yang dipimpinnya berada. Dengan menggunakan bantuan sistem yang diciptakan atau disusun dengan baik, setiap pemimpin dapat membantu mengefektifkan segala sesuatunya. Sistem yang hebat mampu membuat keseluruhan organisasi tetap berjalan dengan baik sesuai dengan yang dimaksudkan oleh pemimpinnya.

Friday, 24 June 2011

Masih Belajar Bagaimana Sebuah Bisnis Dijalankan


Segala sesuatunya berawal ketika saya membaca sebuah buku berjudul Google Success Story beberapa tahun yang lalu. Sejak saat itu hingga sekarang, impian untuk membangun suatu bisnis yang sukses masih terus menjadi bagian impian saya. Sejak saat itu pula, saya belajar bagaimana caranya membangun bisnis dan pernah belajar beberapa kali berbisnis kecil-kecilan (sekarang juga masih kecil). Bisnis yang saya jalani waktu itu gagal total karena kurang matangnya pemikiran serta perencanaan sebelum memutuskan terjun ke suatu bisnis. Saya masuk ke bisnis tersebut hanya karena sekedar ingin mencoba serta didasari oleh suatu hal yang tidak sesuai dengan pemikiran saya terhadap bisnis lain.
Bisnis saya saat itu gagal total dan sampai saat ini barangnya masih ada banyak, sebab saya menjalankannya tanpa memikirkan dengan matang serta asal bergerak saja. Bisnis yang saya jalani kala itu juga tidak benar-benar sesuai dengan impian asal saya untuk membangun bisnis berlandaskan teknologi tinggi. Saya hanya sekedar dan akhirnya hanya mampu berjalan ala kadarnya, sebelum akhirnya kandas.

THERE’S NO COMPROMISE !

Saya masih dan akan selalu belajar, sebab saya tidak pernah puas atas setiap apa yang pernah saya raih dalam hidup. Saya mensyukuri segala sesuatu yang ada, namun saya belajar memaksa diri saya sendiri untuk tak akan pernah puas dan terus berupaya mencapai sesuatu yang lebih dan lebih lagi. Saya telah belajar bahwa kepuasan adalah awal kehancuran serta penurunan kinerja. Kepuasan menjadi awal dari adanya kompromi terhadap segala sesuatu, khususnya terkait dengan kualitas hasil kerja kita.
Saya akui, bahwa beberapa tahun lalu saya pernah berkompromi terhadap terlalu banyak hal dalam hidup saya. Saya mengkompromikan hasil kerja yang tidak bagus. Saya membuat toleransi untuk kualitas yang rendah atau kurang baik. Saya menoleransi segala hal yang tidak benar, segala hal yang tidak baik, dan segala hal yang tidak disiplin, yang pada akhirnya berimbas terhadap beberapa aspek kehidupan saya sendiri. Tapi semua itu sudah berlalu, dan saya tidak akan pernah membiarkan hal tersebut tetap menghantui saya selamanya. Saya telah melupakan semua standar rendah tersebut sejak akhir tahun lalu, dan mulai awal tahun ini saya belajar serta kembali melatih diri untuk dapat terus dan terus menanjak dalam segala hal. Saya berlatih disiplin diri, berlatih kembali untuk memimpikan hal-hal besar, berlatih kembali untuk fokus dan konsentrasi dalam mengejar seluruh impian, berlatih kembali untuk terus menghasilkan kinerja yang meningkat dari hari ke hari, berlatih untuk tidak berkompromi dengan standar yang rendah, berlatih untuk membenci hasil kerja yang tidak maksimal, dan masih banyak latihan demi latihan yang perlu terus saya jalani untuk kembali ke puncak kemenangan.

Tuesday, 21 June 2011

Agama: Sebuah Bisnis ?

Saya adalah manusia beragama, seperti semua warga negara Indonesia lainnya. Saya mengerti tentang ajaran agama serta mempercayai bahwa Tuhan itu ada. Saya juga berusaha sebaik mungkin mentaati ajaran agama yang saya anut. Namun, setelah sekian lama beragama dan mengamati praktek kegiatan beragama, saya menemukan adanya kemiripan antara lembaga agama atau agama itu sendiri dengan lembaga bisnis atau bisnis.
Saya akan mulai dari ulasan saya mengenai lembaga agama sebelum masuk ke topik yang lebih besar yaitu agama. Lembaga agama yang berasal atau menyebarkan ajaran agama yang saya, sebut saja agama A, saat ini seolah bersaing satu dengan yang lain untuk memperoleh sebanyak mungkin umat untuk beribadah di lembaga agama atau lokasi milik lembaga agama tersebut. Mereka berlomba-lomba dengan menggunakan beragam trik atau strategi untuk menjaring sebanyak mungkin umat agar beribadah di tempatnya. Mereka adakan acara-acara yang meriah, mengundang tokoh-tokoh agama terkemuka, mengundang orang-orang terkenal (baik dari kalangan artis, bisnis, maupun politik), mereka mengkonsep cara penyambutan umat yang datang beribadah di tempatnya, dan berbagai cara lain, semata hanya untuk satu tujuan utama, yaitu menjaring sebanyak mungkin umat untuk mau beribadah di tempatnya.

Sunday, 19 June 2011

The Da Vinci Code Dalam Pandangan Saya

Beberapa tahun lalu, saya masih ingat dengan jelas buku karya Dan Brown ini mampu membuat heboh cukup banyak pihak, khususnya pihak gereja Katolik. Isi buku yang sedikit kontroversial menurut sebagian orang dikhawatirkan dapat membuat iman orang-orang Kristiani goyah, sebab buku tersebut menceritakan beberapa hal yang memang bertentangan dengan kitab suci. Kala itu, saya tidak begitu penasaran dan memang tidak tertarik untuk membaca buku kontroversial ini. Namun, beberapa minggu lalu, saya akhirnya memutuskan untuk mencari tahu mengapa buku tersebut mampu menimbulkan kontroversi dan berita yang begitu heboh di kalangan para pemuka agama Kristiani. Saya sendiri adalah pemeluk Kristiani dan saya percaya bahwa isi kitab suci agama saya adalah benar adanya, tidak seperti apa yang diceritakan dalam buku The Da Vinci Code. Namun tulisan saya kali ini tidak akan membahas pertentangan antara apa yang disampaikan oleh kitab suci dengan apa isi buku tersebut, saya membahas segi lain dari isi buku ini yang sanggup menarik perhatian saya untuk tetap bertahan dan menyelesaikan membacanya.

Friday, 17 June 2011

Mengajar Komputer, Menarik Juga !

Saya tidak pernah terpikir atau bermimpi sekalipun bahwa saya akan mengajar komputer dan akhirnya memutuskan hal tersebut sebagai salah satu profesi yang saya jalani saat ini. Saya sendiri tidak begitu mengerti bagaimana hal tersebut bermula, namun sejauh yang saya ingat, saya pernah berkata kepada salah seorang kawan bahwa jika andai saya harus mengajar, maka saya akan lebih menyukai mengajar komputer. Saya memilih mengajar komputer karena saya berpikir bahwa dengan mengajar komputer, saya mau atau tidak akan dipaksa untuk tetap belajar hal-hal baru yang berhubungan dengan komputer. Selain itu, saya juga berpikir bahwa dengan mengajar komputer saya dapat berbagi apa yang saya ketahui dengan orang-orang lain yang belum tahu dan masih ingin tahu.
Sampai saat ini (saat tulisan ini dibuat) saya sudah hampir dua tahun mengajar, meskipun murid yang saya ajar juga belum terlalu banyak, sebab diawal menjalaninya saya kurang fokus dan tidak benar-benar serius menyisihkan waktu untuk menjalani profesi tersebut.

KumpulBlogger