Tuesday, 21 June 2011

Agama: Sebuah Bisnis ?

Saya adalah manusia beragama, seperti semua warga negara Indonesia lainnya. Saya mengerti tentang ajaran agama serta mempercayai bahwa Tuhan itu ada. Saya juga berusaha sebaik mungkin mentaati ajaran agama yang saya anut. Namun, setelah sekian lama beragama dan mengamati praktek kegiatan beragama, saya menemukan adanya kemiripan antara lembaga agama atau agama itu sendiri dengan lembaga bisnis atau bisnis.
Saya akan mulai dari ulasan saya mengenai lembaga agama sebelum masuk ke topik yang lebih besar yaitu agama. Lembaga agama yang berasal atau menyebarkan ajaran agama yang saya, sebut saja agama A, saat ini seolah bersaing satu dengan yang lain untuk memperoleh sebanyak mungkin umat untuk beribadah di lembaga agama atau lokasi milik lembaga agama tersebut. Mereka berlomba-lomba dengan menggunakan beragam trik atau strategi untuk menjaring sebanyak mungkin umat agar beribadah di tempatnya. Mereka adakan acara-acara yang meriah, mengundang tokoh-tokoh agama terkemuka, mengundang orang-orang terkenal (baik dari kalangan artis, bisnis, maupun politik), mereka mengkonsep cara penyambutan umat yang datang beribadah di tempatnya, dan berbagai cara lain, semata hanya untuk satu tujuan utama, yaitu menjaring sebanyak mungkin umat untuk mau beribadah di tempatnya.
Cara-cara diatas dimanfaatkan untuk tetap dapat mempertahankan umat yang telah beribadah di tempatnya agar selalu senantiasa tetap beribadah disana. Setiap lembaga berlomba untuk menarik sebanyak mungkin minat umat agar beribadah di tempatnya dengan beragam iming-iming serta strategi. Walaupun beragam cara serta strategi telah digunakan untuk memperoleh sebanyak mungkin umat baru serta mempertahankan umat lama, masih terdapat beberapa umat lama yang berpindah beribadah di lembaga agama yang lain. Umat berpindah lembaga agama, karena mungkin setelah beberapa waktu beribadah di lembaga agama tersebut, mereka menemukan atau merasakan adanya ketidakcocokan dalam hal apapun. Umat yang berpindah agama tersebut kemudian (seperti halnya manusia normal) dapat menceritakan ke beberapa orang, baik orang yang dekat dengannya maupun orang-orang yang dijumpainya, mengenai alasan kepindahannya, apa yang kurang dari lembaga agamanya yang lama, apa yang hebat atau menarik dari lembaga agamanya yang baru, dan sebagainya. Kemudian ada kemungkinan orang yang mendengar cerita dari mantan umat suatu lembaga agama menceritakannya kepada orang lain, sekalipun dia sendiri belum pernah beribadah di lembaga agama yang disebutkan oleh si mantan umat. Bukankah hal ini sudah seperti salah satu konsep pemasaran modern, yaitu word of mouth (pemasaran dari mulut ke mulut) ? Mantan umat yang telah berpindah dari lembaga agama lamanya ke lembaga agama baru, berupaya menceritakan apa yang kurang dari lembaga agama lamanya, apa yang menarik dari lembaga agama barunya, dan sebagainya. Secara tidak langsung si umat telah memasarkan dengan gratis lembaga agama barunya ke orang-orang yang dijumpainya, serta menjatuhkan citra lembaga agama lamanya. Si umat secara tidak langsung telah menjadi juru bicara atau marketer dari lembaga agama barunya dengan mempromosikannya ke orang lain.
Itulah kenyataan yang saya sadari setelah berpuluh tahun menjadi makhluk beragama. Kesadaran yang baru saya peroleh setelah saya sendiri sempat berkecimpung sebentar sebagai salah satu aktivis dari lembaga agama. Saya menyadari praktek setiap lembaga agama yang ada di negara, mungkin juga diseluruh dunia, telah menyerupai praktek yang dilakukan oleh setiap lembaga bisnis. Mereka menggunakan beragam cara untuk menarik perhatian orang lain agar beribadah atau menjadi umatnya. Dan umat yang merasa dipuaskan akan dengan sukarela mempromosikan kemana-mana mengenai lembaga agama tersebut.
Hal yang sama juga telah terjadi pada agama. Saya menemukan cukup banyak orang yang berpindah dari satu agama ke agama lain. Orang tersebut berpindah agama atau keyakinan karena mungkin mereka menemukan suatu konsep mengenai Tuhan dan agama yang lebih baik di agama barunya. Sesuatu yang mengejutkan terjadi, secara tidak sadar orang tersebut pada akhirnya juga akan menjadi juru bicara agama barunya. Mereka mempromosikan agama barunya sebagai agama yang baik dan benar. Mereka menceritakan alasan-alasan yang melatarbelakangi kepindahan agamanya, seperti misal adanya janji-janji atau konsep yang menarik mengenai Tuhan, kehidupan, serta beragama janji atau konsep lainnya. Tidak lupa pula, mereka menceritakan kejelekan atau kekurangan dari agama lamanya. Dia akan sering menceritakan ke orang-orang terdekatnya mengenai keunggulan agama barunya dibanding agama lamanya, padahal secara tidak dia sadari, jika seandainya dia berpindah agama lagi, dia juga melakukan hal yang sama dengan agama barunya yang sekarang.
Itulah sedikit ulasan saya setelah selama lebih dari dua puluh tahun menjadi umat beragama. Saya tetap percaya Tuhan dan saya tetaplah makhluk beragama serta taat beribadah pada waktu-waktu yang seharusnya saya beribadah. Namun setelah selama rentang waktu tertentu menjadi manusia beragama serta sempat terlibat aktif dalam suatu lembaga agama (meskipun dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama), saya menyadari bahwa ternyata ada kemiripan antara praktek-praktek yang dilakukan lembaga agama dengan praktek-praktek yang dilakukan oleh lembaga bisnis. Itulah mungkin alasan salah satu penulis buku terkenal Indonesia untuk menerbitkan sebuah buku yang mengaitkan konsep bisnis dengan lembaga agama.
Sekian dahulu tulisan saya kali ini. Semua yang saya tuliskan disini adalah semua yang saya ketahui serta rasakan selama saya menjadi manusia beragama. Setiap orang boleh memiliki pendapat yang berbeda-beda, namun inilah pendapat saya berdasarkan apa yang saya ketahui dan rasakan. Jika ada yang memiliki sudut pandang serta pendapat yang berbeda, boleh disampaikan melalui komentar pada tulisan ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua !

Tickerbar

KumpulBlogger