Showing posts with label Pengalaman Jalan-Jalan Saya. Show all posts
Showing posts with label Pengalaman Jalan-Jalan Saya. Show all posts

Saturday, 18 June 2016

Pelajaran dan Pengalaman Dari Batam – Singapore Trip 2015 (Bagian XI)


Rangkaian cerita panjang sejak dari seri pertama kisah Pelajaran dan Pengalaman Dari Batam – Singapore Trip 2015 yang kemudian terus berlanjut hingga pada seri kesembilan dan seri kesepuluh. Niat awalnya, pada seri kesepuluh yang lalu saya hendak mengakhiri rangkaian cerita dan kisah perjalanan liburan ini, tetapi sekali lagi saya masih belum dapat untuk mengakhirinya, sehingga akhirnya muncullah lanjutannya pada seri kesebelas ini. Namun kali ini saya akhirnya benar-benar meniatkan serta memutuskan bahwa seri ini harus jadi yang terakhir walaupun mungkin seri ini akan sangat panjang. Selamat membaca.
Kami sampai kembali di Vivo City Mall sekitar pukul 13.00. Hari sudah siang dan mall sudah semakin ramai oleh pengunjung, baik pengunjung lokal maupun wisatawan asing seperti kami. Waktu kami berikutnya lebih banyak kami habiskan untuk melihat-lihat di dalam mall. Ibu dan kedua adik saya melihat-lihat pakaian di beberapa tenant yang terdapat di dalam mall serta kalau tidak salah ingat mereka akhirnya membeli beberapa potong pakaian dengan harga yang cukup murah. Beberapa tenant disana sepertinya sadar bahwa akhir tahun merupakan waktu dimana banyak wisatawan dalam maupun luar negeri yang berkunjung kesana sehingga mereka memutuskan memberikan diskon yang cukup lumayan untuk menarik pembeli dan mendongkrak penjualan, sebuah strategi yang sebenarnya sudah cukup sering digunakan oleh pedagang, khususnya tenant di dalam mall, seperti halnya pula umum dijumpai di Indonesia. Saya sendiri awalnya mencoba untuk membeli suatu jenis makanan yang membuat saya penasaran sejak dari Indonesia yaitu Burger King. Sebenarnya makanan tersebut juga sudah ada di Indonesia, namun tidak ada di Surabaya (dulu sempat ada, tetapi mungkin karena kurang laris, akhirnya ditutup), melainkan hanya ada di Jakarta. Saya sempat melihat harganya dan ternyata cukup mahal, kalau tidak salah untuk satu potong burger sekitar S$ 10 atau sekitar IDR 100.000. Mahal bukan ?
Setelah puas berjalan-jalan serta melihat-lihat di dalam mall dan karena hari sudah semakin siang (mendekati pukul 2 siang), kami akhirnya memutuskan untuk menuju ke lokasi makan semacam food court untuk membeli makan siang kami sebelum kami akan kembali ke Indonesia menggunakan ferry. Kami segera menuju kesana agar supaya dapat mengejar ferry dengan jam keberangkatan sekitar pukul 16.00. Kami hanya memiliki waktu sisa sekitar dua jam untuk santap siang serta menukarkan tiket dan kemudian menunggu jadwal check-in di ruang tunggu keberangkatan. Kami mengejar jam keberangkatan itu agar ketika sampai kembali di Indonesia hari masih belum larut malam, sebab kami juga masih harus singgah ke pusat perbelanjaan untuk belanja oleh-oleh untuk beberapa kerabat serta teman dari kedua orang tua saya yang ada di Tuban.
Makan Siang Terakhir Di Singapore
Makan Siang Terakhir Di Singapore (sumber: dok. pribadi)
Ketika kami sampai disana, keadaan food court tersebut ternyata sangat ramai sekali. Banyak sekali orang yang berada disana untuk makan. Bahkan karena terlalu banyaknya orang, cukup banyak pula orang yang belum mendapat tempat duduk, begitu juga dengan kami. Kami harus menunggu beberapa saat sebelum akhirnya kami memperoleh tempat duduk, itupun kami tidak bisa duduk semeja, sebab jumlah kursi yang ada tidak memadai. Sambil menunggu adanya meja dan kursi yang dapat ditempati, beberapa dari kami memutuskan untuk berkeliling dulu untuk melihat-lihat jenis makanan apa saja yang dijual disana. Saya sendiri berkeliling serta melihat-lihat dulu berbagai macam kedai penjual makanan untuk mengetahui makanan apa saja yang ada disana. Saya mencari makanan yang terlihat enak dan unik yang kemungkinan belum ada di Indonesia.

Sunday, 22 May 2016

Pelajaran dan Pengalaman Dari Batam – Singapore Trip 2015 (Bagian X)

Setelah serangkaian cerita dan perjalanan panjang dari sejak seri pertama kisah Pelajaran dan Pengalaman Dari Batam – Singapore Trip 2015, maka akhirnya kali ini saya benar-benar telah sampai pada penghujung perjalanan wisata kami sekeluarga di akhir tahun 2015 yang lalu. Saya hanya menyisakan dua seri tulisan lagi untuk mengakhiri rangkaian panjang cerita yang telah saya sampaikan yaitu seri kesepuluh serta seri kesebelas. Awalnya saya hendak menjadikan seri kesepuluh ini sebagai seri yang terakhir dari seluruh rangkaian cerita tersebut, namun sekali lagi seperti halnya yang terjadi pada cerita seri kesembilan, saya masih gagal akibat masih panjangnya cerita yang harus dituliskan. Tetap semangat membaca ya.
Tujuan kami selanjutnya setelah dari Singapore Botanic Garden adalah ikon lain dari Negeri Singa yaitu Sentosa Island. Sentosa Island merupakan suatu pulau yang terpisah dari pulau utama Negeri Singa dan tampaknya merupakan pulau yang dikhususkan sebagai suatu obyek wisata oleh pemerintah Singapura. Pulau ini terletak sangat dekat dengan Pulau Batam di Indonesia. Itulah pula mengapa kami menjadikan Sentosa Island sebagai tujuan wisata terakhir kami, sebab jalur penyeberangan ferry yang akan kami gunakan untuk kembali ke Indonesia berada di dekat pulau tersebut, tepatnya di Harbour Front. Untuk dapat sampai ke Sentosa Island, kita perlu naik MRT dengan tujuan stasiun Harbour Front. Kemudian setelah sampai di stasiun Harbour Front, kita menuju ke Vivo City Mall untuk kemudian naik Sentosa Express menuju ke Sentosa Island. Sentosa Express sendiri pada dasarnya adalah MRT, namun MRT yang ini memiliki sopir (masinis) dan berukuran lebih kecil serta berjalan pada satu rel tunggal (monorel). Tarif (tiket) Sentosa Express adalah S$4 (pulang pergi) untuk semua orang yang berumur diatas tiga tahun. Tiket dapat dibeli dengan menggunakan cara pembayaran biasa atau dapat juga dengan menggunakan kartu yang juga digunakan untuk naik MRT biasa.
Sentosa Station Vivo City Mall
Sentosa Station (Vivo City Mall) Gerbang Keberangkatan
Menuju Sentosa Island
(sumber: www.google.com)

Perjalanan dengan menggunakan Sentosa Express dari Vivo City Mall ke Sentosa Island tidaklah terlalu lama. Kalau tidak salah hanya sekitar 20 menit saja. Mengingat sedang musim liburan, maka sudah dapat dipastikan antrean untuk naik Sentosa Express begitu padat, sehingga akhirnya berdampak pada ‘pemaksaan’ jumlah penumpang Sentosa Express. Setiap gerbong yang ada dipaksakan agar dapat memuat sebanyak mungkin penumpang sehingga di dalam angkutan massal tersebut tampak penuh sesak dan berhimpitan, namun secara keseluruhan tetap cukup nyaman untuk menaiki transportasi massal ini. Sentosa Express memiliki empat tempat perhentian, satu tempat di Vivo City Mall yang berada di daratan utama Singapura, tiga tempat perhentian lainnya terletak di Sentosa Island. Setiap lokasi perhentian terdapat di suatu bagian tertentu dari Sentosa Island. Dalam sudut pandang saya, setiap lokasi perhentian dengan sengaja di desain sedemikian rupa sehingga mayoritas wisatawan dapat menikmati seluruh bagian atau spot wisata yang ada di Sentosa Island dengan lebih mudah.
Water Front Station Sentosa Island
Water Front Station lokasi pemberhentian pertama di Sentosa Island
(sumber: www.google.com)
Lokasi perhentian pertama adalah Water Front Station. Water Front ini terletak tepat diatas lokasi Resort World Sentosa yang terkenal itu. Dengan turun pada stasiun ini, kita dapat berjalan-jalan serta menikmati berbagai area yang terdapat dalam komplek Resort World Sentosa. Salah satu yang paling terkenal tentu saja adalah Universal Studios Singapore. Namun kami semua memutuskan untuk tidak masuk ke dalam Universal Studios karena dua pertimbangan, pertama waktu tersisa yang kami miliki untuk berada di Singapore tidak terlalu lama sebab kami harus mengejar jadwal keberangkatan ferry siang atau sore dari Singapore, kedua harga tiket masuk yang cukup lumayan S$75 untuk satu orang dewasa (3 tahun keatas) jadi cukup sayang membuang harga tiket segitu hanya untuk mungkin sekitar maksimal dua jam saja menikmati seluruh hiburan yang ada. Next time mungkin jika kami kesana lagi dan waktu kami cukup luang, kami akan masuk dan menikmati obyek wisata yang telah terkenal di seantero jagat raya tersebut.
Resort World Sentosa
Resort World Sentosa (sumber: www.google.com)
Selain Universal Studios, lokasi lain yang cukup terkenal di komplek Resort World Sentosa (RWS) adalah kasino. Saya dan ayah saya memutuskan untuk masuk kesana dengan tujuan hanya melihat-lihat serta tentu saja tidak lupa menikmati minuman gratis yang disediakan. Saya sendiri tidak terlalu mengerti atau paham mengenai berbagai macam permainan judi yang terdapat disana, hanya sekedar melihat-lihat dan pura-pura mengerti. Sebenarnya di komplek RWS masih terdapat banyak sarana hiburan seperti wisata air (oceanorium raksasa), museum, dan lain-lain. Namun sekali lagi karena waktu cukup singkat yang tersisa, akhirnya kami hanya menyempatkan diri untuk berfoto di depan lambang Universal Studios dan melihat-lihat sejenak di dalam kasino. Dari seluruh total waktu yang kami habiskan di Sentosa Island, waktu terlama kami adalah di komplek Resort World Sentosa, khususnya di kasino. Saya dan ayah saya berada di dalam kasino selama lebih dari 30 menit. Kami baru beranjak keluar setelah kedua adik saya menyusul serta mencari kami di dalam kasino. Setelah kami keluar dari kasino, kami duduk-duduk sebentar selama sekitar 10 menit, baru kemudian kami memutuskan untuk lanjut ke tujuan berikutnya. Kami segera beranjak kembali menuju ke stasiun monorel untuk menuju ke perhentian berikutnya di Sentosa Island.
Imbiah Station Sentosa Island
Imbiah Station Sentosa Island (sumber: www.google.com)
Lokasi perhentian kedua adalah Imbiah Station. Kami tiba disana sekitar tengah hari atau kurang lebih pukul 12.00. Imbiah Station merupakan perhentian yang terletak di bagian tengah dari Sentosa Island serta berada di dekat komplek Imbiah Lookout. Imbiah Lookout merupakan suatu komplek atau kawasan wisata yang berada di Gunung Imbiah (Mount Imbiah), oleh karena itu beberapa tawaran utama wisata yang ada berupa pemandangan, salah satu yang terkenal adalah Tiger Sky Tower yang merupakan menara setinggi sekitar 110 meter dari permukaan tanah yang menawarkan pengunjung pemandangan secara menyeluruh ke berbagai sisi Sentosa Island, bahkan jika cuaca cerah kita juga dapat melihat Indonesia dan Malaysia dari menara ini. Dua obyek lain yang terkenal di komplek ini adalah Patung Raksasa Merlion dan Images of Singapore.
Patung Merlion di Sentosa Island
Patung Merlion di Sentosa Island (sumber: www.google.com)
Di komplek ini, kami hanya berfoto-foto sebentar di dekat Patung Raksasa Merlion dan setelah itu duduk-duduk sejenak di sekitar obyek tersebut. Seingat saya, komplek Imbiah Lookout ini terkesan lebih sejuk dibandingkan di RWS, mungkin saja karena letaknya yang lebih tinggi dibandingkan RWS. Kami tidak terlalu lama berada disini, mungkin hanya sekitar 30 menit saja dan setelah itu kami segera kembali menuju ke Imbiah Station. Kami juga memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke perhentian terakhir yaitu Beach Station sebab memang kami tidak ada rencana untuk berenang maupun menikmati berbagai fasilitas atau wahana yang ada di pantai, selain tentu saja waktu yang sudah semakin siang. Waktu telah menunjukkan sekitar pukul 12.30 siang waktu Singapore ketika kembali menuju ke Imbiah Station. Sebelum kami naik ke station, kami menyempatkan diri untuk ke toilet dan mencoba air minum yang dapat diminum langsung dari keran tanpa harus dimasak terlebih dahulu. Air minum dari keran ini bersih serta disediakan di beberapa lokasi tertentu oleh pemerintah Singapura yang mungkin saja untuk mengakomodasi kebutuhan wisatawan asing, mengingat harga air mineral disana memang cukup mahal sekitar S$ 1.2 per botol 600ml dan sekitar S$ 2 untuk botol 1500ml.
Sekian dulu kisah untuk seri kesepuluh ini. Nantikan bagian paling akhir pada seri kesebelas dan semoga kali ini saya akan benar-benar dapat mengakhiri rangkaian panjang cerita perjalanan wisata saya dan keluarga. Tetap nantikan kelanjutannya.

Wednesday, 18 May 2016

Pelajaran dan Pengalaman Dari Batam – Singapore Trip 2015 (Bagian IX)

Setelah serangkaian cerita dan perjalanan panjang dari sejak seri pertama kisah Pelajaran dan Pengalaman Dari Batam – Singapore Trip 2015, maka akhirnya sampailah juga saya pada sebuah keputusan untuk segera mengakhiri rangkaian panjang cerita ini. Seri kesembilan ini awalnya saya rancang sebagai seri terakhir dari rangkaian kisah tersebut, namun ternyata setelah saya tulis, rangkaian kalimat demi kalimat yang ada menjadi sangat panjang, oleh karena itu akhirnya saya putuskan untuk menambah satu seri lagi yaitu seri kesepuluh yang akan tayang setelah seri ini. But anyway, selamat membaca.
Jujur, awalnya saya tak pernah mengira jika rangkaian tulisan ini bakal sampai sepanjang ini, tetapi karena memang rangkaian tulisan ini merupakan rangkaian kisah dari perjalanan sejak hari pertama hingga terakhir dari wisata keluarga yang mengunjungi cukup banyak lokasi di dua negara serta memiliki banyak kisah, maka sebenarnya wajar juga jika kisahnya menjadi sepanjang ini. Saya rasa cukup pengantar dan basa-basinya, langsung saja kita masuk ke bagian akhir dari rangkaian cerita ini.
Pada hari terakhir kami di Negeri Singa, kami masih memiliki sejumlah agenda kunjungan ke obyek wisata yang harus kami jalani. Mengingat ini merupakan hari terakhir, maka kami putuskan untuk bangun serta memulai seluruh rangkaian kegiatan sedikit lebih pagi. Hari itu pula kami juga check out dari hotel tempat kami menginap selama tiga hari terakhir. Segera setelah seluruh persiapan mulai dari bangun tidur hingga mandi serta beres-beres seluruh barang bawaan telah selesai, maka kami bergegas menuju lobby hotel dan menyerahkan seluruh kunci kamar hotel yang kami gunakan. Kami keluar dari hotel sekitar pukul 08.30 pagi waktu Singapore.
Tujuan pertama kami pada pagi hari itu adalah Albert Centre (masih ingatkan dengan tempat ini ? Jika lupa, bisa cek infonya disini) untuk sarapan pagi. Seperti biasa, untuk dapat sampai kesana, kami harus melalui Bugis Street Market. Segera setelah sampai disana, kami segera dan bergegas untuk memilih menu sarapan pagi kami masing-masing. Jika tidak salah ingat, pagi itu saya memilih menu yang ringan saja yaitu Bubur Kacang Hijau. Setelah seluruh santapan kami telah habis dimakan, kami bergegas meninggalkan lokasi Albert Centre untuk menuju ke stasiun MRT.
Singapore Botanic Garden Gate
Singapore Botanic Garden (jika tak salah ingat, gate di belakang itu merupakan
pintu masuk dan pintu keluar kami dari Botanic Garden) [sumber: google]
Tujuan pertama kami pada hari itu adalah Singapore Botanic Garden, lokasi yang awalnya kami rencanakan untuk kunjungi pada dua hari sebelumnya, namun akhirnya kami putuskan untuk ubah pada hari terakhir. Mengapa demikian ? Sebab lokasi ini memang kurang menawarkan pilihan untuk dinikmati sebagai obyek wisata, kecuali bagi mereka yang memang mencintai lokasi wisata alam terbuka nan hijau dan sejuk. Singapore Botanic Garden memang merupakan kebun atau taman bunga atau tumbuh-tumbuhan hijau yang dibuat oleh pemerintah Singapura untuk memberikan kesan kesejukan, asri, serta hijau di Singapura yang dikenal sebagai negara dengan banyak gedung tinggi serta pusat perbelanjaan. Pemerintah Singapura agar negeri itu juga dapat dikenal sebagai negara yang hijau, selain sebagai pusat perbelanjaan. Detail mengenai Singapore Botanic Garden mungkin akan saya bahas di lain waktu pada tulisan yang terpisah.
Suasana Keramaian Singapore Botanic Garden
Kurang lebih seramai inilah suasana saat kami berada di Botanic Garden
(sumber: google).
Singapore Botanic Garden merupakan suatu taman yang sangat luas sekitar 85 hektar luasnya. Taman ini bagaikan surga ditengah himpitan gedung-gedung bertingkat serta pusat perbelanjaan yang ada di lokasi sekitarnya. Taman ini jika tidak salah terletak tidak terlalu jauh dari Orchard Road yang merupakan surga belanja di Singapore. Ketika kami berada disana, kami menyaksikan banyak orang melakukan beragam aktivitas di dalam taman tersebut, ada yang berolahraga, ada yang sekedar jalan-jalan menikmati hijaunya padang rumput serta berbagai ragam tanaman lainnya, piknik bersama keluarga maupun rekan kerja, serta beragam aktivitas lainnya.

Tuesday, 17 May 2016

Pelajaran dan Pengalaman Dari Batam – Singapore Trip 2015 (Bagian VIII)

Yuk lanjut lagi ke bagian VIII dari rangkaian tulisan mengenai Pelajaran dan Pengalaman Dari Batam – Singapore Trip 2015. Selamat membaca dan semoga masih senantiasa ada manfaat yang dipetik. Semakin dekat pula dengan ending rangkaian tulisan ini.
Perjalanan pulang menuju hotel saya lalui dengan lancar berbekal peta petunjuk jalur MRT yang sudah saya miliki sebelumnya. Saya pulang sudah cukup larut malam sekitar pukul 23.00. Sekitar pukul 23.30 saya sudah sampai kembali di hotel dan langsung menuju ke kamar. Belum seberapa lama saya berada di kamar, saya kemudian mengaktifkan akses internet menggunakan wifi yang disediakan oleh hotel. Segera, tak seberapa lama setelah handphone saya berhasil tersambung ke internet, salah satu aplikasi chatting yang ada di handphone berbunyi, ternyata ada pesan dari adik saya yang isinya saya diminta datang ke kamarnya kalau sudah sampai di hotel karena ada makanan yang sudah dibelikan. Segera setelah membaca pesan tersebut saya langsung membalasnya dan sesaat kemudian beranjak menuju ke kamar adik saya. Hanya butuh sekitar satu menit untuk sampai ke kamar adik saya. Begitu sampai disana, saya langsung diberikan satu makanan berupa sepotong roti dengan isi ayam dengan tulisan Subway di kemasannya.
Berhubung saya sudah agak lapar, maka segera saja saya terima makanan yang telah dibelikan tersebut. Setelah menerima makanan tersebut, saya baru paham, ternyata yang dimaksud Subway oleh adik saya itu makanan, sebab awalnya saya sempat mengira kalau Subway yang dimaksud itu kendaraan atau angkutan umum yang ada di Singapura. Roti yang saya makan itu secara cara penyajian mirip dengan burger, bedanya rotinya berbentuk memanjang seperti roti untuk hotdog, selain itu isinya juga lebih bervariasi dan cara memasak daging isiannya juga berbeda. Daging ayam yang menjadi isi roti tersebut bukan berbentuk bulat, melainkan berupa potongan atau suwiran daging ayam, yang sepertinya juga tidak digoreng, melainkan direbus. Daging ayam yang menjadi isian roti tersebut cukup banyak dan melimpah dibandingkan burger biasa. Hal yang wajar sebenarnya, sebab setelah saya cek harganya setara dengan harga seporsi nasi dengan lauknya di Singapura, yaitu sekitar S$ 4,50. Secara rasa juga enak menurut saya, hal itu pula yang kemudian mendorong saya untuk mencoba mencari serta membeli lagi roti yang sama. Lokasi kedai Subway disekitar hotel tempat kami menginap hanya ada satu yaitu di dalam mall di sebelah Bugis Street Market (tepatnya berada satu deret dan komplek dengan Bugis Street Market). Berhubung saya juga masih lapar, saya bergegas kesana. Ternyata usaha saya sia-sia, sebab sebagian besar tenant yang terdapat dalam mall sudah tutup. Berhubung banyak tempat disekitar sana sudah tutup, maka saya mencari alternatif tempat makan, dan ketemulah jawabannya McDonald’s.

Sunday, 15 May 2016

Pelajaran dan Pengalaman Dari Batam – Singapore Trip 2015 (Bagian VII)

Mari kita lanjut lagi ke bagian VII dari rangkaian tulisan mengenai Pelajaran dan Pengalaman Dari Batam – Singapore Trip 2015 saya buat menjadi lebih pendek untuk tiap bagiannya supaya lebih enak serta tidak membosankan untuk dibaca. Selamat membaca bagian ini.
Marina Bay Sands dari sisi lain.
Marina Bay Sands difoto dari sudut lain komplek Merlion Park (dok: pribadi)
Akhirnya saya memutuskan dan berkata kepada adik saya untuk menunggu disana saja (kearah pengunjung yang ada di jembatan dialirkan sesuai petunjuk petugas) dan saya akan mencoba mencari ke arah kerumunan orang yang turun dari jembatan penyeberangan, barangkali kedua orang tua serta adik terkecil saya sudah berada disana. Adik saya pun setuju dan mengiyakan. Saya mencoba memperhatikan sekeliling selama beberapa saat dan ternyata kedua orang tua serta adik terkecil saya belum berada disana, itu artinya mereka masih berada di atas. Setelah itu saya bergegas kembali ke tempat adik saya menunggu. Sampai disana saya mendapat info dari adik ipar saya bahwa adik saya akhirnya diperbolehkan naik ke atas untuk mengecek keberadaan kedua orang tua serta adik terkecil saya. Adik saya akhirnya diperbolehkan karena saat itu kondisi jembatan sudah mulai reda dari pengunjung dan karena saat itu tidak ada orang lain lagi disekitar lift selain dua orang adik saya. Tidak seberapa lama, adik kedua saya akhirnya turun bersama kedua orang tua dan adik terkecil saya. Kami berkumpul sejenak tidak jauh dari tangga tempat seluruh pengunjung turun dari jembatan penyeberangan sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke Marina Bay Sands melalui jalur yang persis sama yang kami gunakan untuk bisa berada di Gardens by the Bay. Kami melalui lorong yang sama dengan lorong atau terowongan yang kami lalui waktu menuju ke Gardens by the Bay dan lorong tersebut juga masih padat pengunjung yang hendak menuju ke arah Gardens by the Bay. Kali ini kami mengambil lajur yang mengarah ke Marina Bay Sands.
Marina Bay Sands, Gardens by The Bay.
Marina Bay Sands difoto dari dalam komplek Garden By The Bays (dok: pribadi).
Perjalanan kami menuju ke Marina Bay Sands sedikit lebih rileks, sebab suasana pengunjung yang mengarah kesana sudah lebih lengang. Kami mengira kalau di dalam Marina Bay Sands nanti bakalan padat pengunjung sebab kami mengira lengangnya jalan menandakan sudah banyak pengunjung berada di dalam sana. Ternyata oh ternyata, di dalam Marina Bay Sands juga tidak terlalu ramai. Terus kami bertanya-tanya, apa benar tadi itu jembatan penyeberangan padat oleh pengunjung ? Jika benar, terus pada kemana para pengunjung itu sekarang, kok mall nya sepi ? Tapi sudahlah kami tidak terlalu ambil pusing. Tujuan kami ke Marina Bay Sands adalah untuk melihat-lihat keadaan di dalam mall yang tampak megah dan mewah dari luar ini serta untuk mencari makan malam. Namun setelah berada di dalam, papa saya berpendapat, ‘kok sepertinya biasa saja dan sama dengan mall-mall yang ada di Surabaya’. Akhirnya kami langsung memutuskan hanya mencari makan saja dan kemudian kembali ke hotel, mengingat hari juga sudah cukup malam. Namun info dari adik pertama bahwa harga makanan di dalam sana lebih mahal beberapa kali lipat dibandingkan tempat makan biasa, akhirnya papa saya langsung memutuskan untuk membatalkan rencana makan di dalam Marina Bay Sands serta memutuskan kembali ke arah hotel dan mencari mereka makan disekitar hotel saja.
Awalnya saya pun hendak ikut berbalik bersama mereka, namun setelah saya berpikir kembali sejenak, masa jauh-jauh datang ke Singapore tidak tahu isi Marina Bay Sands secara lebih lengkap. Belum tentu juga di masa yang akan datang akan ada kesempatan untuk bisa datang kesini lagi, begitu pikir saya. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak ikut kembali ke hotel. Saya mencoba melihat-lihat dahulu dan akhirnya mencoba masuk ke kasino yang terdapat disana. Kasino disana luas sekali dan cukup ramai dengan pengunjung yang hendak mencari hiburan dengan bermain judi.
Saya mencoba berkeliling ke berbagai penjuru kasino sambil beberapa kali mengambil serta menikmati minuman gratis yang disediakan disana. Oya, bagi yang ingin sedikit menghemat budget selama berada di Singapore, minuman gratis yang disediakan secara melimpah di dalam kasino bisa menjadi salah satu solusi. Bagi warga asing, untuk masuk ke dalam kasino, cukup menunjukkan paspor dan akses masuk ke dalam kasino diberikan secara gratis. Setelah puas berkeliling di dalam kasino serta menikmati beberapa macam minuman yang disediakan disana, akhirnya saya memutuskan untuk keluar dan mencari makan di restoran yang terdapat di dalam mall. Namun karena sudah agak malam, restoran yang saya tuju sudah tutup dan tidak menerima pembeli lagi. Akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke arah hotel dan mencari makan di sekeliling hotel saja.
Tunggu kelanjutannya di bagian selanjutnya ya. Semoga tetap bermanfaat selalu.

Pelajaran dan Pengalaman Dari Batam – Singapore Trip 2015 (Bagian VI)

Mulai bagian VI ini, tulisan lanjutan mengenai Pelajaran dan Pengalaman Dari Batam – Singapore Trip 2015 saya buat menjadi lebih pendek untuk tiap bagiannya supaya lebih enak serta tidak membosankan untuk dibaca. Selamat membaca bagian ini.
Marina Bay Sands Singapore at afternoon
Marina Bay Sands pada sore hari di foto dari Merlion Park (dok: pribadi)
Marina Bay Sands lokasinya terletak di seberang lokasi Gardens by the Bay sehingga untuk menuju kesana tidak perlu lagi untuk menggunakan MRT. Kami cukup menaiki jembatan penyeberangan yang telah disediakan yang langsung terhubung ke dalam mall di Marina Bay Sands. Saat kami menuju ke arah keluar dari seluruh area Gardens by the Bay, oleh petugas kami diarahkan ke arah yang sama dengan saat kami masuk, bukan ke arah keluar yang tertera pada petunjuk yang sempat kami baca di awal kami hendak masuk. Ternyata berdasarkan info yang kami terima, area keluar yang tertera sesuai petunjuk awal yang kami lihat sedang penuh sesak oleh pengunjung sehingga tidak memungkinkan lagi untuk dilalui atau ditambah lagi oleh pengunjung lain, maka dari itu kami dialihkan ke jalur keluar yang berbeda. Ada beberapa orang yang tetap mencoba serta memaksa untuk menggunakan yang ditutup sementara tersebut, namun petugas tetap tegas melarang dan tetap menyuruh untuk bergerak ke arah yang ditentukan. Mungkin para petugas sudah mengantisipasi jika jumlah pengunjung terlalu banyak menumpuk di suatu area dapat menimbulkan kesesakan, aksi saling dorong, dan bahkan kericuhan. Ini suatu ketegasan dan bentuk antisipasi yang cukup berbeda jauh dengan yang biasa ada di Indonesia. Petugas keamanan atau pihak yang berwenang disana benar-benar strict (patuh atau ketat) terhadap aturan atau sistem yang telah dibuat.
Marina Bay Sands, Merlion Park.
Saya berfoto di Merlion Park dengan latar belakang
Marina Bay Sands (dok: pribadi)
Akhirnya kami pun mau tidak mau menuruti serta mengikuti arahan petugas daripada nanti ada ribut di negeri orang kan bisa menjadi masalah yang lebih ruwet, toh tujuan kami disana juga untuk senang-senang, bukan untuk tujuan yang lain. Setelah mengikuti arah jalan yang ditentukan, kami akhirnya mendekati lift yang akan mengantar kami naik ke jembatan penyeberangan menuju ke Marina Bay Sands. Sekali lagi tumpukan dan antrian pengunjung tampak disana. Akan tetapi petugas juga telah sigap mengantisipasi hal ini. Petugas berdiri tepat di depan pintu lift untuk mengawasi pengunjung serta mengatur antrian pengunjung masuk ke dalam lift. Antrian cukup panjang dan kami mengantri sekitar hampir 20 menit. Saat antrian kami sudah semakin dekat dengan pintu lift, kami mulai mendengar info dari peralatan komunikasi petugas bahwa jembatan penyeberangan hampir penuh dengan antrian pengunjung dan hampir mencapai kapasitas maksimalnya dalam menampung orang. Petugas yang menjaga lift diinfokan untuk menahan dulu orang yang hendak naik keatas sedikit lebih lama supaya antrian atau jumlah tumpukan pengunjung dapat berkurang lebih dahulu.
Petugas penjaga lift mengikuti petunjuk yang diterimanya dari rekan yang ada diatas dan aliran pengunjung yang hendak naik keatas sedikit diperlambat dan ditunda olehnya. Petugas memberi info bahwa sementara yang boleh naik menggunakan lift hanyalah mereka yang menggunakan kursi roda, orang tua, maupun orang yang menggendong atau membawa anak kecil. Pengunjung yang lain diharap bersabar menunggu atau dapat memilih menggunakan tangga biasa untuk naik keatas. Tidak seberapa lama, terdengar kembali info dari peralatan komunikasi petugas bahwa kondisi antrian diatas jembatan sudah mulai berkurang dan petugas di bawah diperbolehkan menaikkan pengunjung ke atas namun tetap dengan interval yang dibuat berjeda agar antrian di atas tidak cepat penuh lagi. Tepat pada saat itulah papa, mama, dan adik terkecil saya ikut masuk ke dalam lift dan naik ke atas. Saya, adik saya, dan adik ipar saya belum dapat ikut masuk ke dalam lift karena lift sudah penuh. Kami menunggu antrian berikutnya untuk naik ke atas. Tapi ada suatu kejadian yang mendadak sekali, petugas di bawah menerima info bahwa jalur penyeberangan ditutup total sementara waktu, sebab keadaan di dalam mall di ujung jembatan penyeberangan terlalu penuh oleh pengunjung. Info itu kami terima langsung dari petugas yang berjaga di depan lift dan dia juga memberikan info bahwa semua orang yang baru saja naik ke atas serta semua pengunjung lain yang telah ada di jembatan akan dipaksa turun serta dialirkan ke jalur yang telah ditentukan.
Mengetahui hal tersebut adik saya sedikit panik sebab kedua orang tua saya dan adik saya yang terkecil, tak ada satupun yang dapat berbahasa Inggris dengan baik. Mereka bertiga juga tidak terlalu mengerti jalur MRT yang harus ditempuh untuk dapat kembali ke hotel. Jadi adik saya khawatir kalau mereka akan tersesat dan kebingungan. Hal itu pun kami utarakan ke petugas yang berjaga disana dan meminta supaya dia mengijinkan adik saya untuk naik ke atas guna mencari kedua orang tua serta adik terkecil saya. Namun petugas tetap bersikukuh bahwa sudah tidak boleh ada lagi pengunjung yang naik ke atas sebab jembatan telah ditutup total sampai waktu yang belum ditentukan dan semua pengunjung yang telah berada di atas akan dipaksa turun serta dialirkan ke lokasi yang telah ditentukan. Namun kami juga tidak mau menyerah begitu saja, kami tetap mencoba menjelaskan keadaannya yang sebenarnya dan meminta keringanan supaya hanya adik saya saja yang diperbolehkan untuk naik ke atas. Namun sekali lagi petugas tetap tidak mengijinkan serta tetap berkata, ‘everyone go over there, the bridge is closed’. Dia juga berargumen bahwa kalau ada satu orang yang diijinkan orang lain yang mengetahui akan iri dan akhirnya minta naik juga. Hal ini juga sesuatu yang berbeda dengan kebiasaan yang ada di Indonesia.
Tunggu kelanjutannya di bagian selanjutnya ya. Semoga masih ada sesuatu yang bermanfaat dari rangkaian tulisan saya ini. Terima kasih sudah membaca sampai sejauh ini.

Sunday, 27 March 2016

Pelajaran dan Pengalaman Dari Batam – Singapore Trip 2015 (Bagian V)

Foto yang saya ambil dari jembatan jalan masuk Gardens by the Bay.
Foto yang saya ambil dari jembatan jalan masuk
Gardens by the Bay (dok. pribadi).
Tujuan kami berikutnya adalah Gardens by the Bay. Agar dapat sampai ke tujuan kami ini, kami perlu menggunakan MRT lagi dan kami pun menuju ke stasiun MRT yang aksesnya tersedia di bagian bawah gedung Esplanade. Oya, sebagai tambahan info, di dalam komplek Esplanade ini juga terdapat mall yang disebut sebagai Esplanade Mall. Baiklah, sekarang kembali lagi ke cerita soal perjalanan menuju ke Gardens by the Bay. Dari bagian bawah gedung Esplanade kami mengarah ke CityLink Mall untuk menuju ke stasiun MRT City Hall. Dari City Hall kami menumpang MRT dengan tujuan stasiun Bayfront yang dapat langsung mengantarkan kami menuju ke Gardens by the Bay. Perjalanan kami tempuh dalam waktu yang tidak terlalu lama. Segera setelah sampai di stasiun Bayfront, kami segera mencari petunjuk arah menuju ke Gardens by the Bay. Gardens by the Bay terletak di komplek Marina Bay di bagian tengah Singapore dan berbatasan dengan Marina Reservoir (Waduk Marina). Untuk dapat mencapai lokasi Gardens by the Bay yang berada di atas tanah, terlebih dahulu kami perlu melewati suatu jalan berupa terowongan atau tunnel yang terdapat dalam komplek bangunan yang menghubungkan bangunan stasiun dengan bangunan-bangunan lain disekitarnya termasuk juga Marina Bay Sands.
Ketika kami telah semakin dekat dengan lokasi terowongan tersebut, ternyata situasi disana sudah sangat ramai sekali dengan kerumunan orang yang hendak menuju ke Marina Bay Sands maupun ke Gardens by the Bay (lihat videonya disini). Orang-orang berjubel sekali dan merangsek perlahan ingin segera sampai ke lokasi yang hendak dituju masing-masing. Banyaknya orang yang berada di terowongan tersebut juga membuat pendingin udara yang dipasang jadi tidak sedingin biasanya, meskipun masih tetap terasa sejuk. Melihat banyaknya orang atau pengunjung yang berjubel, pihak keamanan gedung dan sepertinya juga pihak kepolisian turut dilibatkan untuk mengatur dan mengarahkan orang-orang ke jalur yang benar menuju ke lokasi yang hendak dituju. Kami pun memperhatikan arahan dari petugas yang mengarahkan setiap orang yang hendak menuju ke Gardens by the Bay ke sisi kanan terowongan. Untuk memperjelas juga yang saya maksud sebagai terowongan disini bukan berarti ada pemisah seperti umumnya gambaran terowongan yang biasa kita miliki, tetapi hanya berupa jalan lorong biasa yang memang sedikit lebih menyempit dibandingkan jalan sebelumnya sehingga jika dilihat dari agak jauh akan terliha seperti terowongan atau tunnel. Sebagai tambahan pula, walaupun suasana sangat padat dan berdesakan, tetapi tetap tertib dan rapi serta tidak ada satupun orang-orang yang saling mendorong orang-orang disekitarnya.
Suasana di dalam Gardens by the Bay (dok. pribadi).
Setelah berjuang dan merangsek perlahan selama sekitar 20 menit, akhirnya kami bisa sampai di ujung terowongan berupa eskalator yang akan mengantarkan kami ke permukaan tanah. Dari sana kami masih harus berjalan kaki untuk dapat sampai ke area taman yang berluas total 101 hektar ini. Ketika kami sampai disana hari sudah sore, mungkin sekitar pukul 17.30, namun hari masih cukup terang untuk kami masih dapat menikmati sejenak hijaunya pemandangan rumput dan pepohonan lain yang ada disana. Begitu sampai disana kami juga menyaksikan banyak sekali pengunjung yang hadir di taman tersebut, baik warga lokal Singapura maupun wisatawan asing dari berbagai negara. Saya juga menjumpai cukup banyak warga negara Indonesia yang berwisata kesana. Melihat hijaunya rumput dan pemandangan asri yang terdapat di dalam taman tersebut, saya seolah lupa bahwa ini adalah negara Singapura yang selama ini saya tahu terkenal sebagai negara dengan banyak gedung-gedung bertingkat yang menjulang tinggi dan kotanya yang modern.
Gardens by the Bay yang berluas total 101 hektar memiliki tiga area taman, yaitu Bay South Garden, Bay East Garden, dan Bay Central Garden. Adapun taman yang terluas adalah Bay South Garden dengan luas 54 hektar. Gardens by the Bay digagas oleh Pemerintah Singapura sebagai bagian dari upaya untuk menciptakan kesan bahwa negara Singapura merupakan suatu kota yang terletak di dalam taman, bukan taman di dalam kota. Adapun tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kualitas hidup dengan cara menambah ruang-ruang hijau dan tanaman di dalam kota. Guna membangun taman ini, pada tahun 2006 diadakan kompetisi internasional oleh pemerintah Singapura dengan tujuan mencari dua perusahaan dengan karya rancangan desain taman terbaik. Akhirnya terpilih dua perusahaan asal Inggris sebagai pemenang. Masing-masing perusahaan akan menangani pembangunan satu bagian taman. Secara keseluruhan taman ini selesai dibangun dan dibuka untuk umum pertama kali pada pertengahan tahun 2012.

Thursday, 10 March 2016

Pelajaran dan Pengalaman Dari Batam - Singapore Trip 2015 (Bagian IV)

Saatnya balik lagi ke tulisan tentang perjalanan wisata ke Batam dan Singapore menjelang akhir tahun 2015 yang lalu setelah sempat diselingi tulisan tentang Gerhana Matahari. Pada bagian ini saya akan lanjutkan cerita mengenai petualangan dan pengalaman yang saya dapatkan dari perjalanan wisata Singapore 2015 yang saya dan keluarga jalani. Tetap disimak ya...
Albert Centre Difoto Dari Arah Bugis Street Market
Albert Centre difoto dari arah Bugis Street Market
Petualangan hari kedua kami di Singapore dimulai sekitar pukul 08.00 WBS dengan tujuan pertama adalah Albert Centre untuk membeli serta menyantap sarapan pagi. Untuk menuju ke Albert Centre Market & Food Centre yang terletak di 270 Queen Street kami perlu melewati Bugis Street Market. Albert Centre Market & Food Centre menjadi tempat jujugan yang cocok untuk dapat menikmati makanan dengan banyak varian dan harga yang lebih terjangkau. Aneka ragam makanan dijual disini, termasuk beberapa makanan khas nusantara juga tersedia disini, seperti Rujak, Tauwa, Bubur Kacang Ijo, Nasi Padang, Nasi Sambal Penyet, dan lain sebagainya. Bagian depan (dari arah Bugis Street Market) Albert Centre difungsikan sebagai food court, sementara di bagian belakangnya difungsikan sebagai pasar, sesuai yang tertera dalam namanya. Sekitar hampir satu jam kami duduk menyantap sarapan pagi kami. Kami mencoba beberapa macam menu atau makanan disini.
Suasana Di Dalam Albert Centre
Suasana Di Dalam Albert Centre
Puas menyantap sarapan pagi kami, kami segera beranjak dari Albert Centre dan segera menuju ke arah stasiun MRT untuk memulai perjalanan wisata kami yang sesungguhnya. Pagi itu, saya menyantap semangkuk Laksa yang hangat dan sedap seharga S$3.40. Harga yang saya tahu lebih murah dibandingkan dengan harga yang saya beli pada sore hari sebelumnya di China Town dengan rasa yang tidak jauh berbeda. Sebelum sampai di stasiun MRT yang kali ini kami tempuh melalui Bugis Junction Mall, saya berhenti sejenak di Bugis Street Market untuk membeli minuman jus buah seharga S$1. Tujuan kami pagi itu adalah Mustafa Center yang terletak di kawasan Little India.
Santap Pagi Saya, Semangkuk Laksa Panas Seharga S$3.60
Santap Pagi Saya, Semangkuk Laksa Panas Seharga S$3.60.
Kawasan Little India terkenal sebagai kawasan yang menarik dikunjungi, sebab kawasan ini memperpadukan antara budaya dan tradisi kehidupan keseharian dan spiritual masyarakat etnis India Singapore yang terletak di pusat kota Singapore. Untuk sampai di kawasan ini, kami turun di stasiun MRT Farrer Park, mengingat tujuan utama kami adalah pusat perbelanjaan Mustafa Center. Sesampainya di kawasan tersebut, kami langsung menuju ke pusat perbelanjaan yang ternama di kawasan tersebut dan di Singapore serta terkenal sebagai lokasi belanja murah, yaitu Mustafa Center. Mustafa Center adalah pusat perbelanjaan (mall) yang sangat besar, terdiri dua gedung bangunan yang saling berhadapan dan hanya dipisahkan jalan raya. Masing-masing gedungnya pun terdiri dari beberapa lantai yang cukup tinggi.

Saturday, 5 March 2016

Pelajaran dan Pengalaman Dari Batam - Singapore Trip 2015 (Bagian III)

Tulisan kali ini masih merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya. Seperti yang pernah saya sebutkan pada bagian pertama rangkaian tulisan ini bahwa tulisan mengenai perjalanan wisata ke Singapore ini akan saya bagi menjadi beberapa bagian agar setiap bagiannya tidak terlalu panjang dan tidak membosankan untuk dibaca sekaligus. Semoga masih antusias menikmati bagian ketiga dari rangkaian tulisan ini...
Keesokan harinya, beberapa dari kami telah bangun pada pukul 03.00. Saya sendiri bangun sekitar pukul 03.30 dan tidak lama kemudian segera bersiap untuk mandi serta beberapa persiapan lainnya. Sekitar pukul 04.20 seluruh persiapan kami sekeluarga pada pagi itu telah selesai dan kami segera bersiap berangkat menuju pelabuhan. Tidak lupa sebelum berangkat ke pelabuhan kami semua berdoa bersama agar seluruh rencana yang telah kami susun untuk petualangan dan perjalanan wisata kami di Singapore dapat berjalan dengan lancar. Tepat pukul 04.30 kami telah berada dalam mobil serta siap menuju ke pelabuhan. Jarak pelabuhan dengan rumah adik saya tidak terlalu jauh.
Pelabuhan Penyeberangan Ferry Internasional, Batam Centre
Pelabuhan Ferry Internasional, Batam Centre (sumber: google)
Sebelum pukul 05.00 pagi kami telah sampai di kawasan pelabuhan Batam Centre dan telah menunggu di depan pintu masuk ruangan utama pelabuhan. Ternyata sudah ada beberapa orang juga yang telah berada di komplek pelabuhan pada jam sepagi itu, kemungkinan besar mereka juga akan berangkat menggunakan kapal pertama seperti halnya kami. Sekitar pukul 05.00 pintu ruangan utama pelabuhan telah dibuka dan semua orang yang telah berada disana segera masuk. Kami hanya diperbolehkan menunggu di lantai bawah terlebih dahulu, sebab masih banyak petugas yang belum datang dan petugas yang sudah datang pun belum semua siap, ya kami semua maklum karena memang hari masih dapat dikatakan sangat pagi.
Singapore Cruise Center, HarbourFront, Singapore (sumber: google)
Sekitar pukul 05.15 petugas yang ada memperbolehkan kami naik ke lantai dua. Di lantai dua kami masih menunggu sebentar lagi petugas bagian imigrasi menyiapkan seluruh sistem komputer yang hendak digunakan untuk mencatat serta memvalidasi setiap data orang yang hendak ke luar negeri. Sekitar pukul 05.30 seluruh data kami sekeluarga telah disahkan dan divalidasi oleh petugas imigrasi dan kami telah berada di ruang tunggu keberangkatan. Kami menunggu sekitar 10 menit sebelum dipersilahkan menuju ke kapal penyeberangan yang kami tumpangi. Sekitar pukul 05.40 kapal telah disiapkan untuk berangkat menuju Singapore. Perjalanan menggunakan kapal menuju Singapore dapat ditempuh dalam waktu sekitar satu jam. Sekitar pukul 06.50 kapal telah bersandar di pelabuhan Singapore (Singapore Cruise Centre di Harbour Front)  dan masing-masing penumpang telah bersiap turun dari kapal. Masing-masing penumpang yang telah turun bergegas berjalan menuju ke bagian imigrasi Singapore untuk memperoleh pengesahan ijin masuk ke Negeri Singa tersebut. Tidak lupa pula setiap barang bawaan harus melewati mesin pemeriksaan barang. Setiap orang yang hendak masuk ke Singapore dicek paspor serta identitas lain yang diperlukan dan tak lupa pula ditanya berapa lama mereka akan berada di negara tersebut. Setelah memperoleh stempel pengesahan masuk dari petugas imigrasi, sah pula kami berada di negara Singapore. Hari masih sangat pagi ketika kami sekeluarga memasuki negara Singapore yaitu sekitar pukul 07.00 waktu Batam atau pukul 08.00 waktu Singapore.
Hal pertama yang kami lakukan begitu menginjak bagian tanah negara Singapore adalah dengan segera keluar dari bagian kedatangan pelabuhan serta menuju ke komplek mall yang masih menjadi satu bagian dalam komplek pelabuhan. Seingat saya komplek mall nya masih sama seperti sekitar delapan tahun lalu ketika saya pertama kali menginjak negara Singapore dan masih tetap bersih pula. Segera masing-masing dari kami bergantian menuju toilet karena sudah sekitar satu jam lebih kami menahannya ketika dalam perjalanan maupun ketika antre di bagian imigrasi (custom). Begitu kami semua telah selesai ke toilet, kami tidak berlama-lama, dengan segera kami menuju ke tujuan kami berikutnya. Tujuan kami berikutnya adalah menuju ke stasiun MRT yang juga masih menjadi satu bagian atau komplek besar dari pelabuhan.
Begini bentuk tiket atau kartu MRT. Orang dewasa atau anak-anak diatas usia tertentu wajib memiliki kartu ini supaya dapat bepergian.
Hal pertama yang kami lakukan ketika telah berada di stasiun MRT adalah membeli tiket yang dapat digunakan untuk menempuh perjalanan menggunakan MRT. Kami membeli tiga buah tiket MRT masing-masing satu untuk ayah saya, saya, dan adik terkecil saya. Sementara ibu, adik pertama, dan adik ipar saya masih memiliki tiket MRT yang masih berlaku sebab baru setahun sebelumnya mereka mengunjungi Singapore. Tiket MRT memiliki masa berlaku lima tahun sejak penggunaan terakhirnya. Harga satu buah tiket MRT adalah SGD 20, harga itu sudah termasuk pulsa senilai SGD 12. Kartu atau tiket MRT ini dapat diisi ulang secara mandiri melalui mesin yang ada di dalam stasiun. Kartu ini juga tidak dapat digunakan untuk bepergian jika nilai pulsanya dibawah atau mendekati nilai tertentu dibawah nilai minimal (termurah) suatu perjalanan menggunakan MRT.

Tuesday, 1 March 2016

Pelajaran dan Pengalaman Dari Batam - Singapore Trip 2015 (Bagian II)

Melanjutkan dari tulisan sebelumnya mengenai perjalanan wisata saya dan keluarga ke Singapore pada liburan Natal Desember 2015 yang lalu. Semoga masih semangat dan antusias dalam membacanya dan semoga juga benar-benar ada sesuatu yang berharga yang bisa diambil dari tulisan ini. Selamat melanjutkan membaca...
Nasi Ayam Hainan Budi Siang Malam
Nasi Ayam Hainan Budi Siang Malam (sumber: google)
Karena masih cukup lelah setelah menempuh perjalanan cukup panjang dari Tuban hingga Batam dan setelah berjalan-jalan di Mall Nagoya Center Batam dan ditambah lagi tidur yang agak malam setelah nonton televisi, keesokan harinya sekitar pukul 07.00 barulah masing-masing dari kami semua terbangun dari tidur lelapnya. Dengan segera kami bergegas mandi dan bersiap untuk memulai perjalanan panjang menelusuri beberapa tempat di kota Batam pada hari ini (24 Desember 2015). Kami meninggalkan rumah sekitar pukul 08.20. Tujuan pertama adalah komplek Pasar Penuin untuk sarapan. Pagi itu kami memilih sarapan di sebuah rumah makan yang bernama Budi Siang Malam, sebuah nama yang unik menurut saya. Menurut info dari adik saya, rumah makan tersebut memiliki menu andalan atau yang paling terkenal yaitu Nasi Ayam Hainan. Kami sekeluarga memutuskan memesan dan mencicipi menu yang sama. Sekitar pukul 09.15 kami telah selesai menyantap seluruh sarapan pagi kami dan bergegas meninggalkan rumah makan untuk menuju lokasi berikutnya.
Setelah sarapan pagi di komplek Pasar Penuin, kami mengantarkan dahulu adik ipar saya ke gereja, sebab dia harus melakukan gladi bersih sebagai persiapan untuk acara malam Natal sore hari nanti. Setelah itu, kami menuju ke lokasi berikutnya yaitu sebuah komplek pusat perbelanjaan yang bernama Top 100 (Top Cepek). Lokasi pusat perbelanjaan tersebut tidak terlalu jauh dari lokasi tempat kami menyantap sarapan pagi, masih berada di daerah Penuin juga. Karena lokasi yang cukup dekat itu, hanya dalam waktu sekitar 10 menit atau sekitar pukul 09.30 kami telah sampai disana. Ketika kami sampai disana pusat perbelanjaan tersebut belum sepenuhnya dibuka, sebagian besar para pedagang masih bersiap-siap, namun ada pula beberapa yang telah membuka tempat usahanya. Kami tidak lama berada di supermarket tersebut, sebab money changer yang ada disana tidak memberikan nilai tukar yang baik menurut kami.
Tampak Depan Nagoya City Walk Mall Batam
Tampak Depan Nagoya City Walk Mall Batam (sumber: google)
Berikutnya kami berpindah menuju ke pusat perbelanjaan lain yaitu Nagoya Citywalk Mall. Karena masih cukup pagi kami sampai disana, mall masih sangat sepi dan masih banyak toko yang tutup. Saya dan ayah saya menunggu ibu serta kedua adik saya berbelanja dan melihat-lihat pakaian. Ketika berada disana cuaca tampak mendung dan sempat gerimis walau hanya sebentar. Karena harus menunggu cukup lama serta untuk mencegah bosan, maka saya putuskan untuk melihat-lihat disekitar kawasan mall. Ketika melihat depot yang menjual aneka menu serta camilan, saya putuskan untuk masuk kesana serta memesan satu cangkir Kopi-O (kopi hangat). Saya menunggu cukup lama (sekitar hampir 10 menit) sebelum secangkir Kopi-O hadir di meja saya. Ternyata Kopi-O yang disajikan bukan sekedar hangat, tetapi cenderung panas, oleh karena itu saya menunggu sejenak sampai lebih dingin sebelum menikmatinya. Setelah secangkir Kopi-O telah habis saya nikmati, segera saya membayar ke kasir, harganya 6000 Rupiah, cukup mahal untuk kopi biasa di tempat sekelas depot, tetapi tetap saya bayar. Selesai membayar, saya bergegas kembali ke lokasi mall karena khawatir telah ditunggu. Ternyata benar, dalam perjalanan kembali ke mall, saya mendapat pesan melalui aplikasi chatting yang menanyakan keberadaan saya dan memberi info kalau adik-adik saya serta ibu saya telah selesai berbelanja. Sambil menuju langsung ke lokasi parkir mobil, saya membalas pesan yang memberikan info bahwa saya sudah menuju ke parkir mobil. Saya menunggu beberapa saat disana dan tak lama gerimis kembali turun dan bahkan cenderung lebih lebat dibandingkan sebelumnya. Tak lama kemudian seluruh anggota keluarga saya yang lain telah sampai di lokasi parkir mobil dan bergegas meninggalkan mall. Tujuan berikutnya adalah menjemput adik ipar saya yang telah menyelesaikan kegiatan gladi bersih di gereja. Selesai menjemput adik ipar saya di gereja, berikutnya kami menuju ke komplek Penuin sekali lagi (namun kali ini berada di sisi yang berbeda dengan tempat kami membeli sarapan pagi) untuk mencari money changer.

Pelajaran dan Pengalaman Dari Batam - Singapore Trip 2015 (Bagian I)

Lama sekali saya tak pernah berkunjung atau berwisata ke Negeri Singa ini. Pertama kali saya datang dan berwisata kesana sekitar tahun 2007 yang lampau (kalau tidak salah ingat). Kala itu saya masih kuliah antara semester 4 atau 5. Sebuah rentang waktu yang cukup panjang sebelum akhirnya bisa berkesempatan berwisata kesini lagi. Pada wisata tahun 2007 itu, saya dan keluarga mendapatkan bonus wisata 3 negara (Singapore – Malaysia – Thailand) dari tempat kerja ayah saya. Namun kali ini, kami sekeluarga berwisata ke Singapore atas prakarsa dan biaya sendiri. Pada kesempatan kali ini, saya akan bercerita serta berbagi pelajaran dan pengalaman yang saya dapatkan selama berada di Negeri Singa.
Berhubung cerita pengalaman serta pelajaran yang akan saya bagi kali ini bakal sangat panjang, maka saya putuskan untuk membagi tulisan ini menjadi beberapa bagian agar tidak membosankan yang membacanya maupun saya yang menulisnya. Pada bagian pertama saya akan berbagi terlebih dahulu mengenai awal mula perjalanan wisata ini hingga pengalaman hari pertama di kota Batam (Mengapa Batam ? Karena kami sekeluarga mengunjungi terlebih dahulu kedua adik saya yang tinggal di kota tersebut dan kami bermalam di rumah mereka sebelum melanjutkan perjalanan wisata ke Singapore).
Ikon Kota Surabaya
Ikon Kota Surabaya (lokasi keberangkatan kami ke Batam)
Pada perjalanan wisata yang berlangsung di sekitar libur Natal pada bulan Desember 2015 yang lalu, kami sekeluarga melakukan perjalanan atas prakarsa pribadi dan sekaligus sebagai sarana berkumpul keluarga setelah lumayan lama tak pernah berjalan atau berwisata bersama. Perjalanan wisata kali ini bisa dibilang sedikit menganut konsep ala backpacker. Perjalanan wisata bermula dari kota Tuban menuju ke Surabaya. Kami (saya dan kedua orang tua saya) memutuskan berangkat lebih pagi dari Tuban agar tidak terlalu siang saat tiba di Surabaya. Setelah semalam sebelumnya kami sekeluarga bersiap serta menata semua barang bawaan yang sekiranya bakal dibutuhkan untuk perjalanan wisata selama sekitar hampir satu minggu ke depan dan juga oleh-oleh yang akan dikasih ke adik saya di kota Batam, pagi hari sekitar pukul 07.00 WIB kami mulai meninggalkan rumah dan berangkat menuju Surabaya. Perjalanan berlangsung lancar karena jalanan tidak terlalu ramai. Sekitar pukul 08.10 kami sudah sampai di kota Lamongan dan berhenti sejenak di sebuah tempat makan untuk sarapan pagi. Seperti biasa, saya yang menjalankan diet OCD tidak ikut sarapan, saya hanya mengkonsumsi kopi hitam tawar. Sekitar 10 menit waktu kami habiskan untuk sarapan pagi. Selesai sarapan, kami segera melanjutkan perjalanan menuju Surabaya agar tidak terlalu membuang waktu dan supaya dapat tetap berburu waktu dengan jadwal terbang kami pukul 14.05 WIB.
Berhubung jalanan tidak terlalu ramai, maka perjalanan menuju Surabaya dapat kami tempuh dengan lancar dan cepat. Sekitar pukul 09.40 WIB, kami sudah sampai di seberang tempat kerja adik saya yang terkecil. Kami berhenti di sebuah minimarket untuk membeli obat anti mabuk untuk adik saya serta beberapa minuman dan beristirahat menunggu waktu pulangnya adik saya. Sebelum bersama-sama menuju ke bandara, kami memang harus terlebih dahulu menjemput adik terkecil saya di tempat kerjanya, sebab pada hari itu dia memang masih aktif bekerja dan baru libur keesokan harinya, namun hari itu dia izin untuk hanya masuk setengah hari kerja. Izin keluar kantor (pulang kerja) diberikan untuk adik saya pada pukul 11.00 WIB. Namun ternyata sebelum waktu yang ditentukan, adik saya sudah diberikan kesempatan untuk meninggalkan kantor.

Thursday, 5 February 2015

Tahu Campur Pacar Keling

Tampak Samping (Foto 1)
Satu lagi kuliner khas nusantara yang saya cicipi dalam perjalanan wisata kuliner saya. Sebenarnya, kuliner ini saya cicipi sudah sejak tahun lalu (beberapa bulan lalu tepatnya), namun baru sekarang terpikir untuk saya share dan post di blog ini.
Tahu Campur adalah salah satu kuliner khas Surabaya, Jawa Timur. Kuliner ini merupakan perpaduan antara tahu, mie, lontong, selada hijau, tauge, daging sapi, dan diberi topping berupa krupuk. Kuliner ini sudah terkenal di beberapa wilayah nusantara, khususnya di Jawa Timur dan sekitarnya.
Salah satu tempat menikmati kuliner ini yang terkenal di kota Surabaya terletak di jalan Pacar Keling. Saya mengetahui lokasi ini dari cerita beberapa kawan dan juga dari browsing di internet. Oleh karena itu, saat kebetulan sedang lewat daerah situ, saya teringat cerita serta info yang saya peroleh tersebut dan akhirnya memutuskan untuk mencoba mencari penjualnya. Memasuki sekitar pertengahan jalan tersebut, akhirnya saya menemukan seorang penjual Tahu Campur di pinggir jalan. Tempatnya berupa sebuah warung kecil yang terletak di pinggir jalan dan sebagian dari bagian depan sebuah rumah.
Tampak Atas (Foto 2)
Karena kebetulan lewat dan menemukan, tanpa berlama-lama lagi langsung saja saya mampir ke warung tersebut dan segera memesan seporsi Tahu Campur. Saat saya datang kesana, si penjual baru saja membuka warungnya dan belum selesai menata seluruh dagangan dan perabot lain yang dipakai berjualan, jadinya saya perlu sedikit bersabar menunggu. Namun tak sampai terlalu lama, bapak penjualnya segera menghidangkan sepiring Tahu Campur yang segera pula saya santap dengan lahap.
Berhubung saya membeli kuliner ini sudah lumayan lama, jadinya saya tak bisa cerita terlalu detail tentang rasa dan macam-macamnya. Yang saya ingat hanya rasanya cukup enak dan sesuai dengan harganya. Seporsi Tahu Campur ini dihargai Rp. 10.000,00 dan ditambah segelas air mineral total yang harus saya bayarkan hanya Rp. 11.000,00 saja. Murah bukan ? Jadi jika kebetulan lewat di jalan tersebut, bisa mampir untuk mencoba. Lokasi berada di seberang dari dealer motor Yamaha. Tampilan luar dari tempatnya standar warung yang memiliki petunjuk nama di depannya. Silakan mencoba.

Wednesday, 4 February 2015

Tahu Gejrot

Tahu Gejrot
Tahu gejrot, makanan khas daerah Jawa Barat ini sudah cukup banyak dikenal di berbagai wilayah lain di Indonesia. Namun buat saya pribadi, saya masih merasa asing dan penasaran akan makanan ini, sebab saya hanya pernah mendengar namanya saja dan belum pernah melihat secara tidak langsung maupun langsung rupa makanan ringan ini.
Akhirnya pada suatu waktu di tahun 2014 yang lalu, kesempatan untuk melihat dan mencicipi secara langsung kudapan ini tiba juga. Pada suatu event pesta kuliner tradisional yang diadakan oleh Pakuwon Group yang merupakan salah satu pengembang properti terkemuka di Indonesia, terdapat salah satu pedagang yang menjajakan makanan tradisional ini. Tanpa pikir panjang dan karena didorong oleh rasa penasaran untuk dapat segera mencicipi makanan yang berbahan dasar tahu ini, maka segera saja saya memesan satu porsi.
Setelah menunggu sekitar kurang lebih 10 menit (lumayan lama karena memang banyak orang yang turut memesan), akhirnya pesanan saya selesai juga dibuat. Seporsi Tahu Gejrot seharga 10 ribu Rupiah siap untuk disantap. Walaupun secara tampilan makanan ini sederhana saja, hanya berisi potongan-potongan tahu dan kuah bening yang terdiri dari campuran bahan-bahan seperti bawang putih, bawang merah, cabai, gula, serta berbagai bahan lainnya, namun makanan ringan ini cukup memberikan sensasi dan kesan pertama yang begitu menggoda. Kesan pertama yang mendorong saya untuk mencicipi lagi makanan apabila menjumpai kembali penjaja makanan ini di kesempatan lain.
Pada intinya, yang membuat makanan terasa nikmat untuk disantap adalah kuahnya yang bening, khususnya perpaduan aroma bawang putih dan bumbu lainnya. Demikian review ringkas saya tentang salah satu kuliner khas nusantara yang begitu nikmat disantap.

Saturday, 10 January 2015

Merry Riana: Mimpi Sejuta Dollar

Poster Mimpi Sejuta Dollar
Merry Riana, tokoh pengusaha muda sukses yang dikenal karena perjuangannya yang berhasil membawanya meraih kesuksesan dan penghasilan sebesar 1 Juta Dollar di usia 26 tahun. Hebatnya lagi hal itu dilakukan atau terjadi di negeri orang, Singapura, dan dengan kondisi awal yang bisa dikatakan pas-pasan.

Kisah perjuangannya pernah ditayangkan dalam acara Kick Andy di Metro TV beberapa tahun lalu. Selain itu kisah perjuangannya juga diceritakan dalam sebuah buku yang berjudul Mimpi Sejuta Dollar yang ditulis oleh Alberthiene Endah. Kisah yang dituturkan dalam buku tersebut yang akhirnya diangkat ke dalam bentuk film dengan judul yang sama.

Film yang mulai tayang pada 19 Desember 2014 lalu sudah ditonton lebih dari 500 ribu penonton di seluruh Indonesia. Setelah tayang sekian minggu, akhirnya saya sendiri berkesempatan menontonnya pada hari Rabu yang lalu. Namun pada kesempatan tersebut saya sedikit terlambat datang menontonnya dan karenanya kehilangan beberapa cerita awal film tersebut. Karena hal itu dan juga karena ceritanya yang memang bagus, saya putuskan untuk nonton lagi keesokannya. Jadi film ini menjadi film pertama yang saya tonton dua kali di bioskop. Karena cerita yang bagus pula akhirnya saya putuskan juga untuk segera membeli bukunya, setelah sebelumnya sempat saya tunda.

Cover Buku Mimpi Sejuta Dollar Edisi Poster Film
Untuk singkatnya, berikut saya berikan beberapa kalimat yang saya sarikan dari film tersebut. Semoga menginspirasi dan kalau tertarik bisa nonton langsung sebelum ketinggalan.
  1. Jika ada orang yang memiliki impian meraih sejuta dollar dan bekerja keras untuknya dan akhirnya berhasil, maka dapat dikatakan sebesar apapun impian asal diperjuangkan dengan sepenuh hati dan upaya pasti bisa terwujud.
  2. Jodoh bisa datang dari manapun dan kadang lewat cara yang tak terduga.
  3. Hidup itu berhitung. Dalam setiap berhitung kadang ada setiap kegagalan. Jadikan itu pelajaran.
  4. Hanya dengan jujur pada diri kita sendiri kita bisa sukses.
  5. Hidup ini tidak cuma soal berhemat dan berhitung tapi harus diselesaikan.
  6. Kalau saya bisa melakukannya, begitu juga kamu.
  7. Jadi sepertinya kecerdasan tidak memandang usia.
  8. Aku bisa menjadi orang paling kaya di dunia ini, tapi itu tidak akan ada artinya kalau tidak ada orang yang menyayangi aku.
Tiket Film Merry Riana: Mimpi Sejuta Dollar
Film Merry Riana: Mimpi Sejuta Dollar ini menceritakan kisah perjuangan Merry sejak dari awal peristiwa yang melatarbelakangi kepergian Merry ke Singapura, keputusannya untuk kuliah disana, upaya untuk mendapatkan pinjaman untuk biaya kuliah, hingga perjuangan serta petualangan demi petualangannya di berbagai bisnis yang akhirnya membawa dirinya meraih sukses dan meraih Sejuta Dollar. Dalam film juga terdapat beberapa adegan lucu yang membuat film ini tidak membosankan untuk ditonton.

KumpulBlogger