Showing posts with label Wisata Kuliner. Show all posts
Showing posts with label Wisata Kuliner. Show all posts

Saturday, 18 June 2016

Pelajaran dan Pengalaman Dari Batam – Singapore Trip 2015 (Bagian XI)


Rangkaian cerita panjang sejak dari seri pertama kisah Pelajaran dan Pengalaman Dari Batam – Singapore Trip 2015 yang kemudian terus berlanjut hingga pada seri kesembilan dan seri kesepuluh. Niat awalnya, pada seri kesepuluh yang lalu saya hendak mengakhiri rangkaian cerita dan kisah perjalanan liburan ini, tetapi sekali lagi saya masih belum dapat untuk mengakhirinya, sehingga akhirnya muncullah lanjutannya pada seri kesebelas ini. Namun kali ini saya akhirnya benar-benar meniatkan serta memutuskan bahwa seri ini harus jadi yang terakhir walaupun mungkin seri ini akan sangat panjang. Selamat membaca.
Kami sampai kembali di Vivo City Mall sekitar pukul 13.00. Hari sudah siang dan mall sudah semakin ramai oleh pengunjung, baik pengunjung lokal maupun wisatawan asing seperti kami. Waktu kami berikutnya lebih banyak kami habiskan untuk melihat-lihat di dalam mall. Ibu dan kedua adik saya melihat-lihat pakaian di beberapa tenant yang terdapat di dalam mall serta kalau tidak salah ingat mereka akhirnya membeli beberapa potong pakaian dengan harga yang cukup murah. Beberapa tenant disana sepertinya sadar bahwa akhir tahun merupakan waktu dimana banyak wisatawan dalam maupun luar negeri yang berkunjung kesana sehingga mereka memutuskan memberikan diskon yang cukup lumayan untuk menarik pembeli dan mendongkrak penjualan, sebuah strategi yang sebenarnya sudah cukup sering digunakan oleh pedagang, khususnya tenant di dalam mall, seperti halnya pula umum dijumpai di Indonesia. Saya sendiri awalnya mencoba untuk membeli suatu jenis makanan yang membuat saya penasaran sejak dari Indonesia yaitu Burger King. Sebenarnya makanan tersebut juga sudah ada di Indonesia, namun tidak ada di Surabaya (dulu sempat ada, tetapi mungkin karena kurang laris, akhirnya ditutup), melainkan hanya ada di Jakarta. Saya sempat melihat harganya dan ternyata cukup mahal, kalau tidak salah untuk satu potong burger sekitar S$ 10 atau sekitar IDR 100.000. Mahal bukan ?
Setelah puas berjalan-jalan serta melihat-lihat di dalam mall dan karena hari sudah semakin siang (mendekati pukul 2 siang), kami akhirnya memutuskan untuk menuju ke lokasi makan semacam food court untuk membeli makan siang kami sebelum kami akan kembali ke Indonesia menggunakan ferry. Kami segera menuju kesana agar supaya dapat mengejar ferry dengan jam keberangkatan sekitar pukul 16.00. Kami hanya memiliki waktu sisa sekitar dua jam untuk santap siang serta menukarkan tiket dan kemudian menunggu jadwal check-in di ruang tunggu keberangkatan. Kami mengejar jam keberangkatan itu agar ketika sampai kembali di Indonesia hari masih belum larut malam, sebab kami juga masih harus singgah ke pusat perbelanjaan untuk belanja oleh-oleh untuk beberapa kerabat serta teman dari kedua orang tua saya yang ada di Tuban.
Makan Siang Terakhir Di Singapore
Makan Siang Terakhir Di Singapore (sumber: dok. pribadi)
Ketika kami sampai disana, keadaan food court tersebut ternyata sangat ramai sekali. Banyak sekali orang yang berada disana untuk makan. Bahkan karena terlalu banyaknya orang, cukup banyak pula orang yang belum mendapat tempat duduk, begitu juga dengan kami. Kami harus menunggu beberapa saat sebelum akhirnya kami memperoleh tempat duduk, itupun kami tidak bisa duduk semeja, sebab jumlah kursi yang ada tidak memadai. Sambil menunggu adanya meja dan kursi yang dapat ditempati, beberapa dari kami memutuskan untuk berkeliling dulu untuk melihat-lihat jenis makanan apa saja yang dijual disana. Saya sendiri berkeliling serta melihat-lihat dulu berbagai macam kedai penjual makanan untuk mengetahui makanan apa saja yang ada disana. Saya mencari makanan yang terlihat enak dan unik yang kemungkinan belum ada di Indonesia.

Friday, 20 May 2016

Pecel Salah Satu Makanan Favorit Saya

Negara kita, Indonesia, selain terkenal akan ragam budaya serta keindahan alamnya, juga terkenal memiliki beraneka ragam makanan khas daerah yang begitu lezat dan menggoda. Sebagai orang yang lahir dan besar di Jawa Timur, maka sepertinya wajar jika pecel menjadi salah satu makanan favorit saya. Pecel adalah satu makanan yang cukup terkenal di seantero wilayah negeri ini, begitu pula di Jawa Timur dimana makanan tersebut berasal.
Bagi yang mungkin belum tahu, pecel adalah makanan yang merupakan perpaduan antara berbagai macam sayuran seperti tauge, daun singkong, daun pepaya, bunga turi, kubis, dll serta saus (bumbu) yang terbuat dari kacang tanah yang dihaluskan dan dipadu dengan berbagai macam rempah atau bahan masakan yang lain. Setiap daerah atau pedagang pecel biasanya memiliki variasi yang berbeda dalam isian (sayuran) yang digunakan dalam makanan tersebut.
Sayuran Pecel
Pecel (sumber: google.com)
Kenapa saya menyukai pecel ? Sederhana saja, karena di dalam makanan tersebut terdapat banyak sayuran yang berserat yang tentu saja baik bagi pencernaan dan yang terutama adalah rasa bumbu kacangnya yang enak. Meskipun tidak setiap hari memakan pecel, namun makanan tersebut tetap adalah satu makanan kegemaran saya.
Daerah di Jawa Timur yang terkenal sebagai daerah asal penghasil (pencipta) pecel adalah Madiun, oleh karena itu cukup banyak kita jumpai dimana-mana setiap pedagang pecel rata-rata mencantumkan embel-embel ‘Madiun’ di belakang nama menu atau nama rumah makan atau tempat berdagangnya. Ya, Madiun memang sudah menjadi kiblat dan acuan jika berbicara mengenai pecel. Saya sendiri tidak tahu pasti apakah benar pecel itu awalnya berasal dari sana atau bisa jadi berasal dari daerah lain, tetapi biarlah apa yang sudah menjadi kebenaran umum tetap berlangsung sebagaimana adanya.
Nah, tanpa sengaja, saya menemukan suatu artikel menarik mengenai pecel. Seorang juru masak atau chef dari salah satu hotel di Madiun ingin mempopulerkan pecel dengan cara baru. Untuk memenuhi tujuan itu, dia membuat suatu inovasi dalam resep masakan pecel. Untuk mengetahui seperti apa keunikan resepnya, ada baiknya disimak langsung saja artikel lengkapnya di Inovasi Resep Baru Pecel Madiun. Bagi yang suka memasak atau yang suka mencoba makanan yang unik, layak dibaca itu artikel. Sekian dan semoga bermanfaat.

Thursday, 10 March 2016

Pelajaran dan Pengalaman Dari Batam - Singapore Trip 2015 (Bagian IV)

Saatnya balik lagi ke tulisan tentang perjalanan wisata ke Batam dan Singapore menjelang akhir tahun 2015 yang lalu setelah sempat diselingi tulisan tentang Gerhana Matahari. Pada bagian ini saya akan lanjutkan cerita mengenai petualangan dan pengalaman yang saya dapatkan dari perjalanan wisata Singapore 2015 yang saya dan keluarga jalani. Tetap disimak ya...
Albert Centre Difoto Dari Arah Bugis Street Market
Albert Centre difoto dari arah Bugis Street Market
Petualangan hari kedua kami di Singapore dimulai sekitar pukul 08.00 WBS dengan tujuan pertama adalah Albert Centre untuk membeli serta menyantap sarapan pagi. Untuk menuju ke Albert Centre Market & Food Centre yang terletak di 270 Queen Street kami perlu melewati Bugis Street Market. Albert Centre Market & Food Centre menjadi tempat jujugan yang cocok untuk dapat menikmati makanan dengan banyak varian dan harga yang lebih terjangkau. Aneka ragam makanan dijual disini, termasuk beberapa makanan khas nusantara juga tersedia disini, seperti Rujak, Tauwa, Bubur Kacang Ijo, Nasi Padang, Nasi Sambal Penyet, dan lain sebagainya. Bagian depan (dari arah Bugis Street Market) Albert Centre difungsikan sebagai food court, sementara di bagian belakangnya difungsikan sebagai pasar, sesuai yang tertera dalam namanya. Sekitar hampir satu jam kami duduk menyantap sarapan pagi kami. Kami mencoba beberapa macam menu atau makanan disini.
Suasana Di Dalam Albert Centre
Suasana Di Dalam Albert Centre
Puas menyantap sarapan pagi kami, kami segera beranjak dari Albert Centre dan segera menuju ke arah stasiun MRT untuk memulai perjalanan wisata kami yang sesungguhnya. Pagi itu, saya menyantap semangkuk Laksa yang hangat dan sedap seharga S$3.40. Harga yang saya tahu lebih murah dibandingkan dengan harga yang saya beli pada sore hari sebelumnya di China Town dengan rasa yang tidak jauh berbeda. Sebelum sampai di stasiun MRT yang kali ini kami tempuh melalui Bugis Junction Mall, saya berhenti sejenak di Bugis Street Market untuk membeli minuman jus buah seharga S$1. Tujuan kami pagi itu adalah Mustafa Center yang terletak di kawasan Little India.
Santap Pagi Saya, Semangkuk Laksa Panas Seharga S$3.60
Santap Pagi Saya, Semangkuk Laksa Panas Seharga S$3.60.
Kawasan Little India terkenal sebagai kawasan yang menarik dikunjungi, sebab kawasan ini memperpadukan antara budaya dan tradisi kehidupan keseharian dan spiritual masyarakat etnis India Singapore yang terletak di pusat kota Singapore. Untuk sampai di kawasan ini, kami turun di stasiun MRT Farrer Park, mengingat tujuan utama kami adalah pusat perbelanjaan Mustafa Center. Sesampainya di kawasan tersebut, kami langsung menuju ke pusat perbelanjaan yang ternama di kawasan tersebut dan di Singapore serta terkenal sebagai lokasi belanja murah, yaitu Mustafa Center. Mustafa Center adalah pusat perbelanjaan (mall) yang sangat besar, terdiri dua gedung bangunan yang saling berhadapan dan hanya dipisahkan jalan raya. Masing-masing gedungnya pun terdiri dari beberapa lantai yang cukup tinggi.

Saturday, 5 March 2016

Pelajaran dan Pengalaman Dari Batam - Singapore Trip 2015 (Bagian III)

Tulisan kali ini masih merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya. Seperti yang pernah saya sebutkan pada bagian pertama rangkaian tulisan ini bahwa tulisan mengenai perjalanan wisata ke Singapore ini akan saya bagi menjadi beberapa bagian agar setiap bagiannya tidak terlalu panjang dan tidak membosankan untuk dibaca sekaligus. Semoga masih antusias menikmati bagian ketiga dari rangkaian tulisan ini...
Keesokan harinya, beberapa dari kami telah bangun pada pukul 03.00. Saya sendiri bangun sekitar pukul 03.30 dan tidak lama kemudian segera bersiap untuk mandi serta beberapa persiapan lainnya. Sekitar pukul 04.20 seluruh persiapan kami sekeluarga pada pagi itu telah selesai dan kami segera bersiap berangkat menuju pelabuhan. Tidak lupa sebelum berangkat ke pelabuhan kami semua berdoa bersama agar seluruh rencana yang telah kami susun untuk petualangan dan perjalanan wisata kami di Singapore dapat berjalan dengan lancar. Tepat pukul 04.30 kami telah berada dalam mobil serta siap menuju ke pelabuhan. Jarak pelabuhan dengan rumah adik saya tidak terlalu jauh.
Pelabuhan Penyeberangan Ferry Internasional, Batam Centre
Pelabuhan Ferry Internasional, Batam Centre (sumber: google)
Sebelum pukul 05.00 pagi kami telah sampai di kawasan pelabuhan Batam Centre dan telah menunggu di depan pintu masuk ruangan utama pelabuhan. Ternyata sudah ada beberapa orang juga yang telah berada di komplek pelabuhan pada jam sepagi itu, kemungkinan besar mereka juga akan berangkat menggunakan kapal pertama seperti halnya kami. Sekitar pukul 05.00 pintu ruangan utama pelabuhan telah dibuka dan semua orang yang telah berada disana segera masuk. Kami hanya diperbolehkan menunggu di lantai bawah terlebih dahulu, sebab masih banyak petugas yang belum datang dan petugas yang sudah datang pun belum semua siap, ya kami semua maklum karena memang hari masih dapat dikatakan sangat pagi.
Singapore Cruise Center, HarbourFront, Singapore (sumber: google)
Sekitar pukul 05.15 petugas yang ada memperbolehkan kami naik ke lantai dua. Di lantai dua kami masih menunggu sebentar lagi petugas bagian imigrasi menyiapkan seluruh sistem komputer yang hendak digunakan untuk mencatat serta memvalidasi setiap data orang yang hendak ke luar negeri. Sekitar pukul 05.30 seluruh data kami sekeluarga telah disahkan dan divalidasi oleh petugas imigrasi dan kami telah berada di ruang tunggu keberangkatan. Kami menunggu sekitar 10 menit sebelum dipersilahkan menuju ke kapal penyeberangan yang kami tumpangi. Sekitar pukul 05.40 kapal telah disiapkan untuk berangkat menuju Singapore. Perjalanan menggunakan kapal menuju Singapore dapat ditempuh dalam waktu sekitar satu jam. Sekitar pukul 06.50 kapal telah bersandar di pelabuhan Singapore (Singapore Cruise Centre di Harbour Front)  dan masing-masing penumpang telah bersiap turun dari kapal. Masing-masing penumpang yang telah turun bergegas berjalan menuju ke bagian imigrasi Singapore untuk memperoleh pengesahan ijin masuk ke Negeri Singa tersebut. Tidak lupa pula setiap barang bawaan harus melewati mesin pemeriksaan barang. Setiap orang yang hendak masuk ke Singapore dicek paspor serta identitas lain yang diperlukan dan tak lupa pula ditanya berapa lama mereka akan berada di negara tersebut. Setelah memperoleh stempel pengesahan masuk dari petugas imigrasi, sah pula kami berada di negara Singapore. Hari masih sangat pagi ketika kami sekeluarga memasuki negara Singapore yaitu sekitar pukul 07.00 waktu Batam atau pukul 08.00 waktu Singapore.
Hal pertama yang kami lakukan begitu menginjak bagian tanah negara Singapore adalah dengan segera keluar dari bagian kedatangan pelabuhan serta menuju ke komplek mall yang masih menjadi satu bagian dalam komplek pelabuhan. Seingat saya komplek mall nya masih sama seperti sekitar delapan tahun lalu ketika saya pertama kali menginjak negara Singapore dan masih tetap bersih pula. Segera masing-masing dari kami bergantian menuju toilet karena sudah sekitar satu jam lebih kami menahannya ketika dalam perjalanan maupun ketika antre di bagian imigrasi (custom). Begitu kami semua telah selesai ke toilet, kami tidak berlama-lama, dengan segera kami menuju ke tujuan kami berikutnya. Tujuan kami berikutnya adalah menuju ke stasiun MRT yang juga masih menjadi satu bagian atau komplek besar dari pelabuhan.
Begini bentuk tiket atau kartu MRT. Orang dewasa atau anak-anak diatas usia tertentu wajib memiliki kartu ini supaya dapat bepergian.
Hal pertama yang kami lakukan ketika telah berada di stasiun MRT adalah membeli tiket yang dapat digunakan untuk menempuh perjalanan menggunakan MRT. Kami membeli tiga buah tiket MRT masing-masing satu untuk ayah saya, saya, dan adik terkecil saya. Sementara ibu, adik pertama, dan adik ipar saya masih memiliki tiket MRT yang masih berlaku sebab baru setahun sebelumnya mereka mengunjungi Singapore. Tiket MRT memiliki masa berlaku lima tahun sejak penggunaan terakhirnya. Harga satu buah tiket MRT adalah SGD 20, harga itu sudah termasuk pulsa senilai SGD 12. Kartu atau tiket MRT ini dapat diisi ulang secara mandiri melalui mesin yang ada di dalam stasiun. Kartu ini juga tidak dapat digunakan untuk bepergian jika nilai pulsanya dibawah atau mendekati nilai tertentu dibawah nilai minimal (termurah) suatu perjalanan menggunakan MRT.

Thursday, 5 February 2015

Tahu Campur Pacar Keling

Tampak Samping (Foto 1)
Satu lagi kuliner khas nusantara yang saya cicipi dalam perjalanan wisata kuliner saya. Sebenarnya, kuliner ini saya cicipi sudah sejak tahun lalu (beberapa bulan lalu tepatnya), namun baru sekarang terpikir untuk saya share dan post di blog ini.
Tahu Campur adalah salah satu kuliner khas Surabaya, Jawa Timur. Kuliner ini merupakan perpaduan antara tahu, mie, lontong, selada hijau, tauge, daging sapi, dan diberi topping berupa krupuk. Kuliner ini sudah terkenal di beberapa wilayah nusantara, khususnya di Jawa Timur dan sekitarnya.
Salah satu tempat menikmati kuliner ini yang terkenal di kota Surabaya terletak di jalan Pacar Keling. Saya mengetahui lokasi ini dari cerita beberapa kawan dan juga dari browsing di internet. Oleh karena itu, saat kebetulan sedang lewat daerah situ, saya teringat cerita serta info yang saya peroleh tersebut dan akhirnya memutuskan untuk mencoba mencari penjualnya. Memasuki sekitar pertengahan jalan tersebut, akhirnya saya menemukan seorang penjual Tahu Campur di pinggir jalan. Tempatnya berupa sebuah warung kecil yang terletak di pinggir jalan dan sebagian dari bagian depan sebuah rumah.
Tampak Atas (Foto 2)
Karena kebetulan lewat dan menemukan, tanpa berlama-lama lagi langsung saja saya mampir ke warung tersebut dan segera memesan seporsi Tahu Campur. Saat saya datang kesana, si penjual baru saja membuka warungnya dan belum selesai menata seluruh dagangan dan perabot lain yang dipakai berjualan, jadinya saya perlu sedikit bersabar menunggu. Namun tak sampai terlalu lama, bapak penjualnya segera menghidangkan sepiring Tahu Campur yang segera pula saya santap dengan lahap.
Berhubung saya membeli kuliner ini sudah lumayan lama, jadinya saya tak bisa cerita terlalu detail tentang rasa dan macam-macamnya. Yang saya ingat hanya rasanya cukup enak dan sesuai dengan harganya. Seporsi Tahu Campur ini dihargai Rp. 10.000,00 dan ditambah segelas air mineral total yang harus saya bayarkan hanya Rp. 11.000,00 saja. Murah bukan ? Jadi jika kebetulan lewat di jalan tersebut, bisa mampir untuk mencoba. Lokasi berada di seberang dari dealer motor Yamaha. Tampilan luar dari tempatnya standar warung yang memiliki petunjuk nama di depannya. Silakan mencoba.

Wednesday, 4 February 2015

Tahu Gejrot

Tahu Gejrot
Tahu gejrot, makanan khas daerah Jawa Barat ini sudah cukup banyak dikenal di berbagai wilayah lain di Indonesia. Namun buat saya pribadi, saya masih merasa asing dan penasaran akan makanan ini, sebab saya hanya pernah mendengar namanya saja dan belum pernah melihat secara tidak langsung maupun langsung rupa makanan ringan ini.
Akhirnya pada suatu waktu di tahun 2014 yang lalu, kesempatan untuk melihat dan mencicipi secara langsung kudapan ini tiba juga. Pada suatu event pesta kuliner tradisional yang diadakan oleh Pakuwon Group yang merupakan salah satu pengembang properti terkemuka di Indonesia, terdapat salah satu pedagang yang menjajakan makanan tradisional ini. Tanpa pikir panjang dan karena didorong oleh rasa penasaran untuk dapat segera mencicipi makanan yang berbahan dasar tahu ini, maka segera saja saya memesan satu porsi.
Setelah menunggu sekitar kurang lebih 10 menit (lumayan lama karena memang banyak orang yang turut memesan), akhirnya pesanan saya selesai juga dibuat. Seporsi Tahu Gejrot seharga 10 ribu Rupiah siap untuk disantap. Walaupun secara tampilan makanan ini sederhana saja, hanya berisi potongan-potongan tahu dan kuah bening yang terdiri dari campuran bahan-bahan seperti bawang putih, bawang merah, cabai, gula, serta berbagai bahan lainnya, namun makanan ringan ini cukup memberikan sensasi dan kesan pertama yang begitu menggoda. Kesan pertama yang mendorong saya untuk mencicipi lagi makanan apabila menjumpai kembali penjaja makanan ini di kesempatan lain.
Pada intinya, yang membuat makanan terasa nikmat untuk disantap adalah kuahnya yang bening, khususnya perpaduan aroma bawang putih dan bumbu lainnya. Demikian review ringkas saya tentang salah satu kuliner khas nusantara yang begitu nikmat disantap.

KumpulBlogger