Friday, 27 January 2012

Tidak Bergantung Pada Orang Lain


Kita semua mungkin telah mengetahui bahwa kita semua memerlukan bantuan orang lain untuk meraih sebagian besar hal yang kita inginkan atau perlukan dalam kehidupan ? Saya pun telah dan semakin menyadari hal tersebut, tetapi kita juga harus waspada akan satu hal atau sisi buruk dari kebutuhan kita akan bantuan orang lain. Pengalaman yang pernah saya jalani mengingatkan dan menyadarkan saya bahwa kita memang memerlukan bantuan orang lain, tetapi jika kita tidak waspada, lama-kelamaan kita akan menjadi terlalu bergantung pada orang lain. Kita perlu waspada agar kebutuhan kita akan bantuan atau dukungan orang lain tidak menjadikan kita bergantung semata-mata kepada mereka. Sebab jika kita terlalu bergantung kepada orang lain untuk melakukan sesuatu, maka kemungkinan besar di lain kesempatan, kita akan menjadi takut atau kurang percaya diri untuk memperjuangkan atau meraih sesuatu sendirian.
Kita perlu waspada, sebab ketika telah menjadi terlalu bergantung kepada dukungan orang lain sebelum memutuskan melakukan sesuatu, maka kita secara tidak langsung telah mengijinkan hal tersebut menggerogoti rasa percaya diri kita. Sehingga pada akhirnya kita tidak akan pernah berani lagi ketika harus memperjuangkan sesuatu yang sebenarnya memang kita sadari harus kita perjuangkan. Kita akan menjadi pribadi yang ragu-ragu untuk bertindak mengejar atau mewujudkan segala sesuatu yang perlu kita kejar atau wujudkan, sebab kita mengharapkan adanya dukungan pendapat orang lain sebelum bertindak.

Wednesday, 18 January 2012

Memulai Dari Yang Kita Bisa


Dua hari lalu saya kontak salah seorang teman yang baru saya kenal. Kami bertemu melalui suatu acara yang diadakan di salah satu hotel sekitar satu bulan yang lalu. Saya kontak dia melalui pesan singkat untuk sekedar mengakrabkan diri. Singkat cerita dia membalas pesan singkat yang saya kirim dan saya berkata kepadanya jika ada info mengenai seminar maupun pertemuan bisnis, mohon berikan info agar melalui acara tersebut saya dapat terus menambah wawasan, sebab saya mulai menjalankan usaha saya sendiri di bidang konsultasi teknologi informasi dan pengembangan perangkat lunak. Teman saya tersebut kemudian memberikan info bahwa akan ada acara seminar bisnis gratis di suatu gedung milik pemerintah di daerah Surabaya barat. Saya tertarik hadir untuk menambah wawasan saya sekaligus memperoleh lebih banyak teman baru.
Singkat cerita saya datang, walaupun agak terlambat. Sampai disana saya melihat acara sudah dimulai dan saya bertemu dengan teman baru saya tersebut diluar gedung tempat acara diadakan serta bertegur sapa sebentar sebelum saya memasuki gedung. Saya memasuki gedung, mendengarkan sejenak acara yang sedang berlangsung, dan sejurus memulai pembicaraan dengan seorang bapak di sebelah saya. Dari bapak tersebut saya semakin yakin dan jelas bahwa acara tersebut adalah seminar bisnis multi level marketing salah satu produk kesehatan. Bapak yang berprofesi sebagai pengemudi taksi dari perusahaan taksi besar tersebut sudah bergabung dengan alasan merasakan manfaat dari produknya serta ingin memperoleh penghasilan sampingan. Bapak tersebut juga mengungkapkan impian mulianya kepada saya bahwa jika bisnis sampingan yang dia jalankan melalui multi level marketing tersebut sudah cukup besar, dia akan melepaskan pekerjaan utamanya sebagai pengemudi taksi.

Tuesday, 17 January 2012

Merengkuh Kembali Semua Kendali Kehidupan


Tanpa terlalu saya sadari selama lebih dari dua tahun terakhir saya telah menggantungkan tanggung jawab hidup saya kepada rekan-rekan kerja, sahabat atau teman, saudara, dan orang tua. Saya terlalu bergantung atau ‘mendengarkan’ pendapat mereka sehingga saya tidak atau kurang berani mengambil keputusan bagi diri saya sendiri. Keputusan yang saya tahu baik bagi diri saya dan masa depan saya. Saya memang sadar bahwa saya perlu mendengarkan pendapat orang lain, namun karena terlalu banyak mendengarkan itu pula, saya akhirnya takut atau kurang percaya terhadap suara hati saya sendiri. Saya terlalu bergantung pada pendapat orang lain.
Selama sekitar dua sampai tiga bulan terakhir, saya mulai berupaya kembali untuk mengembalikan jati diri saya yang sesungguhnya. Saya tetap berupaya mendengar pendapat orang lain, namun pada akhirnya saya akan menyesuaikan atau menyelaraskan pendapat mereka dengan apa yang ‘hati’ saya katakan. Saya akan belajar untuk lebih percaya kepada apa yang ‘hati’ maupun intuisi saya katakan, sebab saya telah belajar dan terus meyakini bahwa intuisi kita tidak pernah salah. Orang lain boleh berpendapat apapun tentang kita, tetapi hanya ada dua pribadi yang paling tahu tentang diri kita, yaitu Tuhan kita dan diri kita sendiri. Jadi pelajarannya adalah dengarkan pendapat orang lain, namun pada akhirnya tetaplah percaya kepada intuisi atau suara ‘hati’ kita sendiri. Sebab hampir dapat dipastikan bahwa suara ‘hati’ kita adalah benar dan merupakan bisikan suara Tuhan.
Itulah sekilas cerita saya. Cerita dan pengalaman saya dapat berbeda dengan cerita dan pengalaman Anda. Bagaimana dengan cerita dan pengalaman Anda ? Silakan berbagi dan saya siap mendengar. Selamat belajar untuk merengkuh dan memegang kendali sepenuhnya atas kehidupan kita sendiri.

Sunday, 15 January 2012

Ini Tentang Saya, Bagaimana Tentang Anda ?


Eits…, sebelumnya jangan salah sangka bahwa tulisan ini ada hubungannya dengan iklan salah satu produsen mie instan, sebab saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri untuk sebisa mungkin tidak menyebutkan nama merek produk atau nama perusahaan lain. Tulisan ini adalah sedikit hasil dari perenungan yang berasal dari pengalaman pribadi saya sendiri selama beberapa tahun ini.
Sejak pertama memasuki perkuliahan di salah satu kampus swasta ternama di Surabaya, saya telah begitu aktif, baik dalam aktivitas perkuliahan maupun dalam aktivitas organisasi. Sejumlah aktivitas tersebut membuat saya merasa senang, sibuk, berguna, dan sekaligus merasa bahwa bakat-bakat yang telah saya miliki dapat semakin terasah serta berkembang. Benar semua aktivitas tersebut benar-benar menyenangkan bagi saya. Saya mencintai sekali melakukan aktivitas-aktivitas yang bermanfaat. Saya cinta bekerja, cinta melakukan sesuatu, dan tentu saja menghasilkan sesuatu yang dapat memberi manfaat bagi orang lain maupun bagi diri saya.
Singkat kata, semua aktivitas kuliah maupun aktivitas organisasi berjalan dengan lancar. Saya memperoleh nilai-nilai kuliah yang diatas rata-rata, sehingga membuat saya dan beberapa rekan saya mendapat julukan ‘dewa’. Saya juga menjadi salah satu bintang dalam bidang organisasi di kampus serta menjadi salah satu orang yang selalu diharapkan dapat bergabung pada aktivitas keorganisasian karena kemampuan saya dibutuhkan. Hal ini membuat saya bangga dan senang.

Wednesday, 11 January 2012

Jangan Takut !


Malam ini, untuk menambah motivasi semangat dalam diri saya sendiri, saya memutuskan untuk membuka sebuah website dari seorang motivator yang dijuluki sebagai motivator nomor satu di Indonesia. Di website tersebut saya menemukan sebuah artikel yang berjudul, “Jangan Takut, Jangan Pernah Menyesal”. Tulisan yang tidak terlalu panjang yang begitu menginspirasi dan membangkitkan semangat.
Melalui tulisan tersebut saya dan kita semua diingatkan agar tidak pernah takut untuk mengambil keputusan, tidak pernah memperjuangkan impian-impian kita, tidak pernah takut gagal, tidak pernah takut bekerja keras, tidak pernah takut mencoba sesuatu yang baru, dan tidak pernah ragu-ragu. Tulisan tersebut menyadarkan saya bahwa ternyata selama beberapa waktu terakhir saya sering menjadi ragu ketika akan mengambil keputusan mengerjakan (baca: menerima) sebuah tawaran pekerjaan yang sebenarnya (kemungkinan besar) dapat saya kerjakan dengan baik. Saya tahu saya bisa mengerjakan pekerjaan tersebut, namun terkadang ada pula keraguan dalam diri saya yang berkata, ‘apakah saya benar-benar bisa ?’, ‘apakah keyakinan saya benar ?’, ‘bagaimana jika nanti setelah pekerjaan tersebut diambil dan ternyata tidak mampu menyelesaikan ?’. Begitu banyak pertanyaan-pertanyaan sejenis yang semakin membuat saya ragu dan seringkali membuat saya berpikir ulang dan terus berpikir ulang yang pada akhirnya membuat saya menjadi ragu.

Saturday, 7 January 2012

Surabaya Oh… Surabaya


Surabaya, suatu kota yang dapat dijangkau dengan berkendara selama sekitar 2,5 jam dari kota asal saya. Kota yang dikenal sebagai Kota Pahlawan karena heroisme para rakyatnya di kala zaman penjajahan dahulu kala. Sebuah kota yang cukup sering saya kunjungi bersama adik saya tatkala saya masih duduk di bangku sekolah dasar hingga awal sekolah menengah pertama. Saat itu, hampir dapat dipastikan pada setiap masa liburan panjang sekolah tiba, saya dan adik pertama saya selalu menginap di rumah adik orang tua kami (bibi kami) untuk menikmati masa liburan kami. Selama saya dan adik saya menikmati masa liburan yang hampir rutin kami jalani setiap tahun di kota ini, berbagai tempat telah pernah kami kunjungi, diantaranya Taman Hiburan Rakyat (THR) di jalan Kusuma Bangsa, Pasar Pucang, dan Pasar Atum. Biasanya saya menghabiskan waktu sekitar satu minggu untuk menikmati masa liburan tersebut.
Surabaya, siapa sangka ternyata setelah saya beranjak dewasa, saya akhirnya menempuh pendidikan tinggi di salah satu universitas swasta di kota yang juga menjadi ibukota propinsi Jawa Timur. Bahkan kini saya juga mulai berupaya meretas jalan karir profesional saya sebagai konsultan teknologi informasi dan programmer komputer di kota ini. Secara total, sejak mulai pertama kali kuliah hingga kini, saya telah sekitar tujuh tahun tinggal di kota ini. Walaupun selama rentang waktu tujuh tahun tersebut saya tidak selalu tinggal di kota ini, sebab tatkala libur kuliah biasanya saya melakukan ritual rutin yaitu pulang kampung.

Sekolah (Kuliah) Itu Penting, Tapi…


Pagi hari ini, ketika sedang mencoba belajar untuk bermeditasi, saya mendapat gagasan mengenai beberapa judul tulisan. Salah satunya telah menjadi judul tulisan ini. Tulisan ini terilhami oleh pengalaman saya sendiri dalam menempuh pendidikan maupun pengalaman yang saya himpun dari membaca cerita beberapa orang mengenai pengalaman mereka dalam menempuh pendidikan.
Saya sangat meyakini bahwa pendidikan itu memang penting, sebab pendidikan dapat menjadi bekal bagi setiap kita dalam mengarungi kehidupan di masa depan. Pendidikan dapat memperluas wawasan kita dan menambah pengetahuan kita akan dunia serta kehidupan. Kita semua mungkin telah mengetahui bahwa terdapat banyak cara untuk memperoleh pendidikan, dimana salah satunya adalah melalui sekolah (kuliah). Saya tidak menampik bahwa sekolah (kuliah) itu bukan hanya penting, malahan sangat penting. Namun ada satu hal baru yang akhirnya saya sadari setelah saya sendiri menempuh pendidikan hingga jenjang tertinggi, yaitu sekolah (kuliah) itu penting, tetapi jangan terlalu lama bersekolah (berkuliah).
Pendapat saya ini didasari oleh perenungan saya akan pengalaman saya sendiri dalam menjalani pendidikan maupun membaca cerita pengalaman orang-orang yang saat ini sudah sukses dalam menjalani pendidikannya. Saya menyadari bahwa sekolah (kuliah) memang merupakan salah satu sarana untuk memperoleh pendidikan, namun sayangnya di bangku sekolah (kuliah) kita terlalu banyak diajari teori tanpa pernah (atau kurang) diajari bagaimana memanfaatkan serta menggunakan seluruh teori tersebut dalam bentuk aplikasi yang lebih nyata yang dapat bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang, termasuk bagi diri kita sendiri.

Sunday, 1 January 2012

Tahun Baru: Apakah Diri Kita Juga Berubah Menjadi ‘Baru’ ?


Satu tahun lagi kembali berlalu. Tahun 2011 terasa begitu cepat berlalu, kini tahun 2012 telah tiba. Usia seluruh makhluk juga akan kembali bertambah satu tahun lagi.
Seperti telah menjadi kebiasaan ketika menjelang atau pada tahun baru, setiap orang dari berbagai penjuru dunia seolah berlomba-lomba untuk menghadirkan perayaan tahun baru yang meriah, unik, dan baru. Setiap tahun pula sebagian besar dari kita selalu menuliskan resolusi atau impian atau target yang ingin dicapai di tahun yang baru ini. Setiap memiliki resolusi yang berbeda-beda yang ingin diwujudkannya di tahun yang baru ini.
Tahun baru, hampir dapat dipastikan banyak sekali hal yang baru, seperti resolusi, impian, semangat, baju, pekerjaan, bahkan mungkin juga gadget baru. Namun apakah dengan hadirnya suatu tahun yang baru lagi, diri kita juga benar-benar berubah menjadi diri kita yang ‘baru’ ? Apakah kita benar-benar telah dapat menarik berbagai macam pelajaran dari segala sesuatu yang telah terjadi di tahun yang baru saja berlalu. Apakah kebiasaan lama kita yang kurang baik, sikap yang kurang baik, serta hal-hal lain yang kurang baik telah dapat benar-benar kita lupakan dan gantikan hal-hal baru yang jauh lebih baik ? Saya pun tersadar dan tersentak serta tergugah untuk bertanya pada diri saya sendiri pertanyaan yang serupa. Saya perlu bertanya dan mengecek ke dalam diri saya sendiri apakah di tahun yang baru ini saya telah benar-benar berubah menjadi individu yang ‘baru’. Apakah saya dapat menjadi lebih bijak, lebih disiplin, memiliki kebiasaan serta sikap yang lebih baik ? Apakah saya juga benar-benar telah dapat mengambil pelajaran baik dari segala hal yang terjadi di tahun yang baru saja berlalu dan menerapkannya ke dalam hidup saya untuk dapat benar-benar menjadi individu yang ‘baru’ di tahun yang baru ini ?

KumpulBlogger