Wednesday, 18 May 2016

Ucapan Frasa ‘Aku Sayang Kamu’ Dalam Beberapa Bahasa Daerah di Indonesia

Kita semua sudah umum mengetahui bahwa negara kita Indonesia merupakan negara yang terkenal amat kaya akan keanekaragaman budaya, bahasa, agama, dan sebagainya. Hampir dapat dipastikan setiap daerah, bahkan yang satu propinsi sekalipun dapat memiliki budaya, bahasa, maupun hal-hal yang lain yang walaupun serupa tapi tidak seratus persen sama. Nah, tulisan ringkas kali ini akan mencoba membahas atau mungkin menyebutkan suatu frasa yang umum kita gunakan atau akrab terdengar yaitu ‘Aku Sayang Kamu’ dalam beberapa bahasa daerah di negara kita. Yuk disimak !

Aku Tresno Karo Kowe
Merupakan bentuk lain dari frasa ‘Aku Sayang Kamu’ dalam bahasa Jawa yang umum digunakan di berbagai daerah di Jawa Timur maupun Jawa Tengah seperti di Malang, Solo, Yogyakarta, dan daerah-daerah lain.

Loen Galak Ngon Gata
Frasa ini umum digunakan oleh masyarakat atau orang berada di Aceh, Palembang, dan Jambi.

Aku Galak Samo Kamu
Masyarakat Palembang ternyata juga memiliki frasa lain untuk menyatakan ‘Aku Sayang Kamu’. Frasa ini juga digunakan oleh warga masyarakat Padang dan Minang.

Abi Bogoh Ka Anjeun
Frasa ini digunakan di beberapa daerah seperti Tasikmalaya, Banyuwangi, dan Bandung.

Mau tahu frasa-frasa lain yang menyatakan ungkapan serupa ? Masih ada sebelas frasa lain untuk menyatakan ‘Aku Sayang Kamu’ dalam berbagai bahasa daerah. Silakan disimak lebih jauh disini. Barangkali ada yang memiliki pacar yang berasal dari daerah yang berbeda supaya kelihatan lebih keren. Semoga bermanfaat.

Pelajaran dan Pengalaman Dari Batam – Singapore Trip 2015 (Bagian IX)

Setelah serangkaian cerita dan perjalanan panjang dari sejak seri pertama kisah Pelajaran dan Pengalaman Dari Batam – Singapore Trip 2015, maka akhirnya sampailah juga saya pada sebuah keputusan untuk segera mengakhiri rangkaian panjang cerita ini. Seri kesembilan ini awalnya saya rancang sebagai seri terakhir dari rangkaian kisah tersebut, namun ternyata setelah saya tulis, rangkaian kalimat demi kalimat yang ada menjadi sangat panjang, oleh karena itu akhirnya saya putuskan untuk menambah satu seri lagi yaitu seri kesepuluh yang akan tayang setelah seri ini. But anyway, selamat membaca.
Jujur, awalnya saya tak pernah mengira jika rangkaian tulisan ini bakal sampai sepanjang ini, tetapi karena memang rangkaian tulisan ini merupakan rangkaian kisah dari perjalanan sejak hari pertama hingga terakhir dari wisata keluarga yang mengunjungi cukup banyak lokasi di dua negara serta memiliki banyak kisah, maka sebenarnya wajar juga jika kisahnya menjadi sepanjang ini. Saya rasa cukup pengantar dan basa-basinya, langsung saja kita masuk ke bagian akhir dari rangkaian cerita ini.
Pada hari terakhir kami di Negeri Singa, kami masih memiliki sejumlah agenda kunjungan ke obyek wisata yang harus kami jalani. Mengingat ini merupakan hari terakhir, maka kami putuskan untuk bangun serta memulai seluruh rangkaian kegiatan sedikit lebih pagi. Hari itu pula kami juga check out dari hotel tempat kami menginap selama tiga hari terakhir. Segera setelah seluruh persiapan mulai dari bangun tidur hingga mandi serta beres-beres seluruh barang bawaan telah selesai, maka kami bergegas menuju lobby hotel dan menyerahkan seluruh kunci kamar hotel yang kami gunakan. Kami keluar dari hotel sekitar pukul 08.30 pagi waktu Singapore.
Tujuan pertama kami pada pagi hari itu adalah Albert Centre (masih ingatkan dengan tempat ini ? Jika lupa, bisa cek infonya disini) untuk sarapan pagi. Seperti biasa, untuk dapat sampai kesana, kami harus melalui Bugis Street Market. Segera setelah sampai disana, kami segera dan bergegas untuk memilih menu sarapan pagi kami masing-masing. Jika tidak salah ingat, pagi itu saya memilih menu yang ringan saja yaitu Bubur Kacang Hijau. Setelah seluruh santapan kami telah habis dimakan, kami bergegas meninggalkan lokasi Albert Centre untuk menuju ke stasiun MRT.
Singapore Botanic Garden Gate
Singapore Botanic Garden (jika tak salah ingat, gate di belakang itu merupakan
pintu masuk dan pintu keluar kami dari Botanic Garden) [sumber: google]
Tujuan pertama kami pada hari itu adalah Singapore Botanic Garden, lokasi yang awalnya kami rencanakan untuk kunjungi pada dua hari sebelumnya, namun akhirnya kami putuskan untuk ubah pada hari terakhir. Mengapa demikian ? Sebab lokasi ini memang kurang menawarkan pilihan untuk dinikmati sebagai obyek wisata, kecuali bagi mereka yang memang mencintai lokasi wisata alam terbuka nan hijau dan sejuk. Singapore Botanic Garden memang merupakan kebun atau taman bunga atau tumbuh-tumbuhan hijau yang dibuat oleh pemerintah Singapura untuk memberikan kesan kesejukan, asri, serta hijau di Singapura yang dikenal sebagai negara dengan banyak gedung tinggi serta pusat perbelanjaan. Pemerintah Singapura agar negeri itu juga dapat dikenal sebagai negara yang hijau, selain sebagai pusat perbelanjaan. Detail mengenai Singapore Botanic Garden mungkin akan saya bahas di lain waktu pada tulisan yang terpisah.
Suasana Keramaian Singapore Botanic Garden
Kurang lebih seramai inilah suasana saat kami berada di Botanic Garden
(sumber: google).
Singapore Botanic Garden merupakan suatu taman yang sangat luas sekitar 85 hektar luasnya. Taman ini bagaikan surga ditengah himpitan gedung-gedung bertingkat serta pusat perbelanjaan yang ada di lokasi sekitarnya. Taman ini jika tidak salah terletak tidak terlalu jauh dari Orchard Road yang merupakan surga belanja di Singapore. Ketika kami berada disana, kami menyaksikan banyak orang melakukan beragam aktivitas di dalam taman tersebut, ada yang berolahraga, ada yang sekedar jalan-jalan menikmati hijaunya padang rumput serta berbagai ragam tanaman lainnya, piknik bersama keluarga maupun rekan kerja, serta beragam aktivitas lainnya.

Tuesday, 17 May 2016

Pelajaran dan Pengalaman Dari Batam – Singapore Trip 2015 (Bagian VIII)

Yuk lanjut lagi ke bagian VIII dari rangkaian tulisan mengenai Pelajaran dan Pengalaman Dari Batam – Singapore Trip 2015. Selamat membaca dan semoga masih senantiasa ada manfaat yang dipetik. Semakin dekat pula dengan ending rangkaian tulisan ini.
Perjalanan pulang menuju hotel saya lalui dengan lancar berbekal peta petunjuk jalur MRT yang sudah saya miliki sebelumnya. Saya pulang sudah cukup larut malam sekitar pukul 23.00. Sekitar pukul 23.30 saya sudah sampai kembali di hotel dan langsung menuju ke kamar. Belum seberapa lama saya berada di kamar, saya kemudian mengaktifkan akses internet menggunakan wifi yang disediakan oleh hotel. Segera, tak seberapa lama setelah handphone saya berhasil tersambung ke internet, salah satu aplikasi chatting yang ada di handphone berbunyi, ternyata ada pesan dari adik saya yang isinya saya diminta datang ke kamarnya kalau sudah sampai di hotel karena ada makanan yang sudah dibelikan. Segera setelah membaca pesan tersebut saya langsung membalasnya dan sesaat kemudian beranjak menuju ke kamar adik saya. Hanya butuh sekitar satu menit untuk sampai ke kamar adik saya. Begitu sampai disana, saya langsung diberikan satu makanan berupa sepotong roti dengan isi ayam dengan tulisan Subway di kemasannya.
Berhubung saya sudah agak lapar, maka segera saja saya terima makanan yang telah dibelikan tersebut. Setelah menerima makanan tersebut, saya baru paham, ternyata yang dimaksud Subway oleh adik saya itu makanan, sebab awalnya saya sempat mengira kalau Subway yang dimaksud itu kendaraan atau angkutan umum yang ada di Singapura. Roti yang saya makan itu secara cara penyajian mirip dengan burger, bedanya rotinya berbentuk memanjang seperti roti untuk hotdog, selain itu isinya juga lebih bervariasi dan cara memasak daging isiannya juga berbeda. Daging ayam yang menjadi isi roti tersebut bukan berbentuk bulat, melainkan berupa potongan atau suwiran daging ayam, yang sepertinya juga tidak digoreng, melainkan direbus. Daging ayam yang menjadi isian roti tersebut cukup banyak dan melimpah dibandingkan burger biasa. Hal yang wajar sebenarnya, sebab setelah saya cek harganya setara dengan harga seporsi nasi dengan lauknya di Singapura, yaitu sekitar S$ 4,50. Secara rasa juga enak menurut saya, hal itu pula yang kemudian mendorong saya untuk mencoba mencari serta membeli lagi roti yang sama. Lokasi kedai Subway disekitar hotel tempat kami menginap hanya ada satu yaitu di dalam mall di sebelah Bugis Street Market (tepatnya berada satu deret dan komplek dengan Bugis Street Market). Berhubung saya juga masih lapar, saya bergegas kesana. Ternyata usaha saya sia-sia, sebab sebagian besar tenant yang terdapat dalam mall sudah tutup. Berhubung banyak tempat disekitar sana sudah tutup, maka saya mencari alternatif tempat makan, dan ketemulah jawabannya McDonald’s.

Sunday, 15 May 2016

Pelajaran dan Pengalaman Dari Batam – Singapore Trip 2015 (Bagian VII)

Mari kita lanjut lagi ke bagian VII dari rangkaian tulisan mengenai Pelajaran dan Pengalaman Dari Batam – Singapore Trip 2015 saya buat menjadi lebih pendek untuk tiap bagiannya supaya lebih enak serta tidak membosankan untuk dibaca. Selamat membaca bagian ini.
Marina Bay Sands dari sisi lain.
Marina Bay Sands difoto dari sudut lain komplek Merlion Park (dok: pribadi)
Akhirnya saya memutuskan dan berkata kepada adik saya untuk menunggu disana saja (kearah pengunjung yang ada di jembatan dialirkan sesuai petunjuk petugas) dan saya akan mencoba mencari ke arah kerumunan orang yang turun dari jembatan penyeberangan, barangkali kedua orang tua serta adik terkecil saya sudah berada disana. Adik saya pun setuju dan mengiyakan. Saya mencoba memperhatikan sekeliling selama beberapa saat dan ternyata kedua orang tua serta adik terkecil saya belum berada disana, itu artinya mereka masih berada di atas. Setelah itu saya bergegas kembali ke tempat adik saya menunggu. Sampai disana saya mendapat info dari adik ipar saya bahwa adik saya akhirnya diperbolehkan naik ke atas untuk mengecek keberadaan kedua orang tua serta adik terkecil saya. Adik saya akhirnya diperbolehkan karena saat itu kondisi jembatan sudah mulai reda dari pengunjung dan karena saat itu tidak ada orang lain lagi disekitar lift selain dua orang adik saya. Tidak seberapa lama, adik kedua saya akhirnya turun bersama kedua orang tua dan adik terkecil saya. Kami berkumpul sejenak tidak jauh dari tangga tempat seluruh pengunjung turun dari jembatan penyeberangan sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke Marina Bay Sands melalui jalur yang persis sama yang kami gunakan untuk bisa berada di Gardens by the Bay. Kami melalui lorong yang sama dengan lorong atau terowongan yang kami lalui waktu menuju ke Gardens by the Bay dan lorong tersebut juga masih padat pengunjung yang hendak menuju ke arah Gardens by the Bay. Kali ini kami mengambil lajur yang mengarah ke Marina Bay Sands.
Marina Bay Sands, Gardens by The Bay.
Marina Bay Sands difoto dari dalam komplek Garden By The Bays (dok: pribadi).
Perjalanan kami menuju ke Marina Bay Sands sedikit lebih rileks, sebab suasana pengunjung yang mengarah kesana sudah lebih lengang. Kami mengira kalau di dalam Marina Bay Sands nanti bakalan padat pengunjung sebab kami mengira lengangnya jalan menandakan sudah banyak pengunjung berada di dalam sana. Ternyata oh ternyata, di dalam Marina Bay Sands juga tidak terlalu ramai. Terus kami bertanya-tanya, apa benar tadi itu jembatan penyeberangan padat oleh pengunjung ? Jika benar, terus pada kemana para pengunjung itu sekarang, kok mall nya sepi ? Tapi sudahlah kami tidak terlalu ambil pusing. Tujuan kami ke Marina Bay Sands adalah untuk melihat-lihat keadaan di dalam mall yang tampak megah dan mewah dari luar ini serta untuk mencari makan malam. Namun setelah berada di dalam, papa saya berpendapat, ‘kok sepertinya biasa saja dan sama dengan mall-mall yang ada di Surabaya’. Akhirnya kami langsung memutuskan hanya mencari makan saja dan kemudian kembali ke hotel, mengingat hari juga sudah cukup malam. Namun info dari adik pertama bahwa harga makanan di dalam sana lebih mahal beberapa kali lipat dibandingkan tempat makan biasa, akhirnya papa saya langsung memutuskan untuk membatalkan rencana makan di dalam Marina Bay Sands serta memutuskan kembali ke arah hotel dan mencari mereka makan disekitar hotel saja.
Awalnya saya pun hendak ikut berbalik bersama mereka, namun setelah saya berpikir kembali sejenak, masa jauh-jauh datang ke Singapore tidak tahu isi Marina Bay Sands secara lebih lengkap. Belum tentu juga di masa yang akan datang akan ada kesempatan untuk bisa datang kesini lagi, begitu pikir saya. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak ikut kembali ke hotel. Saya mencoba melihat-lihat dahulu dan akhirnya mencoba masuk ke kasino yang terdapat disana. Kasino disana luas sekali dan cukup ramai dengan pengunjung yang hendak mencari hiburan dengan bermain judi.
Saya mencoba berkeliling ke berbagai penjuru kasino sambil beberapa kali mengambil serta menikmati minuman gratis yang disediakan disana. Oya, bagi yang ingin sedikit menghemat budget selama berada di Singapore, minuman gratis yang disediakan secara melimpah di dalam kasino bisa menjadi salah satu solusi. Bagi warga asing, untuk masuk ke dalam kasino, cukup menunjukkan paspor dan akses masuk ke dalam kasino diberikan secara gratis. Setelah puas berkeliling di dalam kasino serta menikmati beberapa macam minuman yang disediakan disana, akhirnya saya memutuskan untuk keluar dan mencari makan di restoran yang terdapat di dalam mall. Namun karena sudah agak malam, restoran yang saya tuju sudah tutup dan tidak menerima pembeli lagi. Akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke arah hotel dan mencari makan di sekeliling hotel saja.
Tunggu kelanjutannya di bagian selanjutnya ya. Semoga tetap bermanfaat selalu.

Pelajaran dan Pengalaman Dari Batam – Singapore Trip 2015 (Bagian VI)

Mulai bagian VI ini, tulisan lanjutan mengenai Pelajaran dan Pengalaman Dari Batam – Singapore Trip 2015 saya buat menjadi lebih pendek untuk tiap bagiannya supaya lebih enak serta tidak membosankan untuk dibaca. Selamat membaca bagian ini.
Marina Bay Sands Singapore at afternoon
Marina Bay Sands pada sore hari di foto dari Merlion Park (dok: pribadi)
Marina Bay Sands lokasinya terletak di seberang lokasi Gardens by the Bay sehingga untuk menuju kesana tidak perlu lagi untuk menggunakan MRT. Kami cukup menaiki jembatan penyeberangan yang telah disediakan yang langsung terhubung ke dalam mall di Marina Bay Sands. Saat kami menuju ke arah keluar dari seluruh area Gardens by the Bay, oleh petugas kami diarahkan ke arah yang sama dengan saat kami masuk, bukan ke arah keluar yang tertera pada petunjuk yang sempat kami baca di awal kami hendak masuk. Ternyata berdasarkan info yang kami terima, area keluar yang tertera sesuai petunjuk awal yang kami lihat sedang penuh sesak oleh pengunjung sehingga tidak memungkinkan lagi untuk dilalui atau ditambah lagi oleh pengunjung lain, maka dari itu kami dialihkan ke jalur keluar yang berbeda. Ada beberapa orang yang tetap mencoba serta memaksa untuk menggunakan yang ditutup sementara tersebut, namun petugas tetap tegas melarang dan tetap menyuruh untuk bergerak ke arah yang ditentukan. Mungkin para petugas sudah mengantisipasi jika jumlah pengunjung terlalu banyak menumpuk di suatu area dapat menimbulkan kesesakan, aksi saling dorong, dan bahkan kericuhan. Ini suatu ketegasan dan bentuk antisipasi yang cukup berbeda jauh dengan yang biasa ada di Indonesia. Petugas keamanan atau pihak yang berwenang disana benar-benar strict (patuh atau ketat) terhadap aturan atau sistem yang telah dibuat.
Marina Bay Sands, Merlion Park.
Saya berfoto di Merlion Park dengan latar belakang
Marina Bay Sands (dok: pribadi)
Akhirnya kami pun mau tidak mau menuruti serta mengikuti arahan petugas daripada nanti ada ribut di negeri orang kan bisa menjadi masalah yang lebih ruwet, toh tujuan kami disana juga untuk senang-senang, bukan untuk tujuan yang lain. Setelah mengikuti arah jalan yang ditentukan, kami akhirnya mendekati lift yang akan mengantar kami naik ke jembatan penyeberangan menuju ke Marina Bay Sands. Sekali lagi tumpukan dan antrian pengunjung tampak disana. Akan tetapi petugas juga telah sigap mengantisipasi hal ini. Petugas berdiri tepat di depan pintu lift untuk mengawasi pengunjung serta mengatur antrian pengunjung masuk ke dalam lift. Antrian cukup panjang dan kami mengantri sekitar hampir 20 menit. Saat antrian kami sudah semakin dekat dengan pintu lift, kami mulai mendengar info dari peralatan komunikasi petugas bahwa jembatan penyeberangan hampir penuh dengan antrian pengunjung dan hampir mencapai kapasitas maksimalnya dalam menampung orang. Petugas yang menjaga lift diinfokan untuk menahan dulu orang yang hendak naik keatas sedikit lebih lama supaya antrian atau jumlah tumpukan pengunjung dapat berkurang lebih dahulu.
Petugas penjaga lift mengikuti petunjuk yang diterimanya dari rekan yang ada diatas dan aliran pengunjung yang hendak naik keatas sedikit diperlambat dan ditunda olehnya. Petugas memberi info bahwa sementara yang boleh naik menggunakan lift hanyalah mereka yang menggunakan kursi roda, orang tua, maupun orang yang menggendong atau membawa anak kecil. Pengunjung yang lain diharap bersabar menunggu atau dapat memilih menggunakan tangga biasa untuk naik keatas. Tidak seberapa lama, terdengar kembali info dari peralatan komunikasi petugas bahwa kondisi antrian diatas jembatan sudah mulai berkurang dan petugas di bawah diperbolehkan menaikkan pengunjung ke atas namun tetap dengan interval yang dibuat berjeda agar antrian di atas tidak cepat penuh lagi. Tepat pada saat itulah papa, mama, dan adik terkecil saya ikut masuk ke dalam lift dan naik ke atas. Saya, adik saya, dan adik ipar saya belum dapat ikut masuk ke dalam lift karena lift sudah penuh. Kami menunggu antrian berikutnya untuk naik ke atas. Tapi ada suatu kejadian yang mendadak sekali, petugas di bawah menerima info bahwa jalur penyeberangan ditutup total sementara waktu, sebab keadaan di dalam mall di ujung jembatan penyeberangan terlalu penuh oleh pengunjung. Info itu kami terima langsung dari petugas yang berjaga di depan lift dan dia juga memberikan info bahwa semua orang yang baru saja naik ke atas serta semua pengunjung lain yang telah ada di jembatan akan dipaksa turun serta dialirkan ke jalur yang telah ditentukan.
Mengetahui hal tersebut adik saya sedikit panik sebab kedua orang tua saya dan adik saya yang terkecil, tak ada satupun yang dapat berbahasa Inggris dengan baik. Mereka bertiga juga tidak terlalu mengerti jalur MRT yang harus ditempuh untuk dapat kembali ke hotel. Jadi adik saya khawatir kalau mereka akan tersesat dan kebingungan. Hal itu pun kami utarakan ke petugas yang berjaga disana dan meminta supaya dia mengijinkan adik saya untuk naik ke atas guna mencari kedua orang tua serta adik terkecil saya. Namun petugas tetap bersikukuh bahwa sudah tidak boleh ada lagi pengunjung yang naik ke atas sebab jembatan telah ditutup total sampai waktu yang belum ditentukan dan semua pengunjung yang telah berada di atas akan dipaksa turun serta dialirkan ke lokasi yang telah ditentukan. Namun kami juga tidak mau menyerah begitu saja, kami tetap mencoba menjelaskan keadaannya yang sebenarnya dan meminta keringanan supaya hanya adik saya saja yang diperbolehkan untuk naik ke atas. Namun sekali lagi petugas tetap tidak mengijinkan serta tetap berkata, ‘everyone go over there, the bridge is closed’. Dia juga berargumen bahwa kalau ada satu orang yang diijinkan orang lain yang mengetahui akan iri dan akhirnya minta naik juga. Hal ini juga sesuatu yang berbeda dengan kebiasaan yang ada di Indonesia.
Tunggu kelanjutannya di bagian selanjutnya ya. Semoga masih ada sesuatu yang bermanfaat dari rangkaian tulisan saya ini. Terima kasih sudah membaca sampai sejauh ini.

Sunday, 27 March 2016

Pelajaran dan Pengalaman Dari Batam – Singapore Trip 2015 (Bagian V)

Foto yang saya ambil dari jembatan jalan masuk Gardens by the Bay.
Foto yang saya ambil dari jembatan jalan masuk
Gardens by the Bay (dok. pribadi).
Tujuan kami berikutnya adalah Gardens by the Bay. Agar dapat sampai ke tujuan kami ini, kami perlu menggunakan MRT lagi dan kami pun menuju ke stasiun MRT yang aksesnya tersedia di bagian bawah gedung Esplanade. Oya, sebagai tambahan info, di dalam komplek Esplanade ini juga terdapat mall yang disebut sebagai Esplanade Mall. Baiklah, sekarang kembali lagi ke cerita soal perjalanan menuju ke Gardens by the Bay. Dari bagian bawah gedung Esplanade kami mengarah ke CityLink Mall untuk menuju ke stasiun MRT City Hall. Dari City Hall kami menumpang MRT dengan tujuan stasiun Bayfront yang dapat langsung mengantarkan kami menuju ke Gardens by the Bay. Perjalanan kami tempuh dalam waktu yang tidak terlalu lama. Segera setelah sampai di stasiun Bayfront, kami segera mencari petunjuk arah menuju ke Gardens by the Bay. Gardens by the Bay terletak di komplek Marina Bay di bagian tengah Singapore dan berbatasan dengan Marina Reservoir (Waduk Marina). Untuk dapat mencapai lokasi Gardens by the Bay yang berada di atas tanah, terlebih dahulu kami perlu melewati suatu jalan berupa terowongan atau tunnel yang terdapat dalam komplek bangunan yang menghubungkan bangunan stasiun dengan bangunan-bangunan lain disekitarnya termasuk juga Marina Bay Sands.
Ketika kami telah semakin dekat dengan lokasi terowongan tersebut, ternyata situasi disana sudah sangat ramai sekali dengan kerumunan orang yang hendak menuju ke Marina Bay Sands maupun ke Gardens by the Bay (lihat videonya disini). Orang-orang berjubel sekali dan merangsek perlahan ingin segera sampai ke lokasi yang hendak dituju masing-masing. Banyaknya orang yang berada di terowongan tersebut juga membuat pendingin udara yang dipasang jadi tidak sedingin biasanya, meskipun masih tetap terasa sejuk. Melihat banyaknya orang atau pengunjung yang berjubel, pihak keamanan gedung dan sepertinya juga pihak kepolisian turut dilibatkan untuk mengatur dan mengarahkan orang-orang ke jalur yang benar menuju ke lokasi yang hendak dituju. Kami pun memperhatikan arahan dari petugas yang mengarahkan setiap orang yang hendak menuju ke Gardens by the Bay ke sisi kanan terowongan. Untuk memperjelas juga yang saya maksud sebagai terowongan disini bukan berarti ada pemisah seperti umumnya gambaran terowongan yang biasa kita miliki, tetapi hanya berupa jalan lorong biasa yang memang sedikit lebih menyempit dibandingkan jalan sebelumnya sehingga jika dilihat dari agak jauh akan terliha seperti terowongan atau tunnel. Sebagai tambahan pula, walaupun suasana sangat padat dan berdesakan, tetapi tetap tertib dan rapi serta tidak ada satupun orang-orang yang saling mendorong orang-orang disekitarnya.
Suasana di dalam Gardens by the Bay (dok. pribadi).
Setelah berjuang dan merangsek perlahan selama sekitar 20 menit, akhirnya kami bisa sampai di ujung terowongan berupa eskalator yang akan mengantarkan kami ke permukaan tanah. Dari sana kami masih harus berjalan kaki untuk dapat sampai ke area taman yang berluas total 101 hektar ini. Ketika kami sampai disana hari sudah sore, mungkin sekitar pukul 17.30, namun hari masih cukup terang untuk kami masih dapat menikmati sejenak hijaunya pemandangan rumput dan pepohonan lain yang ada disana. Begitu sampai disana kami juga menyaksikan banyak sekali pengunjung yang hadir di taman tersebut, baik warga lokal Singapura maupun wisatawan asing dari berbagai negara. Saya juga menjumpai cukup banyak warga negara Indonesia yang berwisata kesana. Melihat hijaunya rumput dan pemandangan asri yang terdapat di dalam taman tersebut, saya seolah lupa bahwa ini adalah negara Singapura yang selama ini saya tahu terkenal sebagai negara dengan banyak gedung-gedung bertingkat yang menjulang tinggi dan kotanya yang modern.
Gardens by the Bay yang berluas total 101 hektar memiliki tiga area taman, yaitu Bay South Garden, Bay East Garden, dan Bay Central Garden. Adapun taman yang terluas adalah Bay South Garden dengan luas 54 hektar. Gardens by the Bay digagas oleh Pemerintah Singapura sebagai bagian dari upaya untuk menciptakan kesan bahwa negara Singapura merupakan suatu kota yang terletak di dalam taman, bukan taman di dalam kota. Adapun tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kualitas hidup dengan cara menambah ruang-ruang hijau dan tanaman di dalam kota. Guna membangun taman ini, pada tahun 2006 diadakan kompetisi internasional oleh pemerintah Singapura dengan tujuan mencari dua perusahaan dengan karya rancangan desain taman terbaik. Akhirnya terpilih dua perusahaan asal Inggris sebagai pemenang. Masing-masing perusahaan akan menangani pembangunan satu bagian taman. Secara keseluruhan taman ini selesai dibangun dan dibuka untuk umum pertama kali pada pertengahan tahun 2012.

Thursday, 10 March 2016

Pelajaran dan Pengalaman Dari Batam - Singapore Trip 2015 (Bagian IV)

Saatnya balik lagi ke tulisan tentang perjalanan wisata ke Batam dan Singapore menjelang akhir tahun 2015 yang lalu setelah sempat diselingi tulisan tentang Gerhana Matahari. Pada bagian ini saya akan lanjutkan cerita mengenai petualangan dan pengalaman yang saya dapatkan dari perjalanan wisata Singapore 2015 yang saya dan keluarga jalani. Tetap disimak ya...
Albert Centre Difoto Dari Arah Bugis Street Market
Albert Centre difoto dari arah Bugis Street Market
Petualangan hari kedua kami di Singapore dimulai sekitar pukul 08.00 WBS dengan tujuan pertama adalah Albert Centre untuk membeli serta menyantap sarapan pagi. Untuk menuju ke Albert Centre Market & Food Centre yang terletak di 270 Queen Street kami perlu melewati Bugis Street Market. Albert Centre Market & Food Centre menjadi tempat jujugan yang cocok untuk dapat menikmati makanan dengan banyak varian dan harga yang lebih terjangkau. Aneka ragam makanan dijual disini, termasuk beberapa makanan khas nusantara juga tersedia disini, seperti Rujak, Tauwa, Bubur Kacang Ijo, Nasi Padang, Nasi Sambal Penyet, dan lain sebagainya. Bagian depan (dari arah Bugis Street Market) Albert Centre difungsikan sebagai food court, sementara di bagian belakangnya difungsikan sebagai pasar, sesuai yang tertera dalam namanya. Sekitar hampir satu jam kami duduk menyantap sarapan pagi kami. Kami mencoba beberapa macam menu atau makanan disini.
Suasana Di Dalam Albert Centre
Suasana Di Dalam Albert Centre
Puas menyantap sarapan pagi kami, kami segera beranjak dari Albert Centre dan segera menuju ke arah stasiun MRT untuk memulai perjalanan wisata kami yang sesungguhnya. Pagi itu, saya menyantap semangkuk Laksa yang hangat dan sedap seharga S$3.40. Harga yang saya tahu lebih murah dibandingkan dengan harga yang saya beli pada sore hari sebelumnya di China Town dengan rasa yang tidak jauh berbeda. Sebelum sampai di stasiun MRT yang kali ini kami tempuh melalui Bugis Junction Mall, saya berhenti sejenak di Bugis Street Market untuk membeli minuman jus buah seharga S$1. Tujuan kami pagi itu adalah Mustafa Center yang terletak di kawasan Little India.
Santap Pagi Saya, Semangkuk Laksa Panas Seharga S$3.60
Santap Pagi Saya, Semangkuk Laksa Panas Seharga S$3.60.
Kawasan Little India terkenal sebagai kawasan yang menarik dikunjungi, sebab kawasan ini memperpadukan antara budaya dan tradisi kehidupan keseharian dan spiritual masyarakat etnis India Singapore yang terletak di pusat kota Singapore. Untuk sampai di kawasan ini, kami turun di stasiun MRT Farrer Park, mengingat tujuan utama kami adalah pusat perbelanjaan Mustafa Center. Sesampainya di kawasan tersebut, kami langsung menuju ke pusat perbelanjaan yang ternama di kawasan tersebut dan di Singapore serta terkenal sebagai lokasi belanja murah, yaitu Mustafa Center. Mustafa Center adalah pusat perbelanjaan (mall) yang sangat besar, terdiri dua gedung bangunan yang saling berhadapan dan hanya dipisahkan jalan raya. Masing-masing gedungnya pun terdiri dari beberapa lantai yang cukup tinggi.

Tuesday, 8 March 2016

Apa Dan Bagaimana Terjadinya Gerhana Matahari Itu ?

Ilustrasi Gerhana Matahari
Ilustrasi Gerhana Matahari (sumber: www.google.com)
Walaupun dalam beberapa hari belakangan ini tidak terlalu banyak menyimak maupun membaca berita dikarenakan sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan serta mengejar deadline, tetapi saya sempat dan bahkan beberapa kali mendengar mengenai kemungkinan terjadinya gerhana matahari total di Indonesia. Awalnya saya juga berpikir itu peristiwa biasa saja, namun setelah mendekati tanggal terjadinya peristiwa tersebut, rasa ingin tahu saya tergelitik juga untuk mencari tahu info mengenai peristiwa yang begitu menghebohkan tersebut. Kenapa bisa disebut begitu menghebohkan ? Sebab semua media massa dalam dan luar negeri meliputnya, orang-orang membicarakannya, dan bahkan ada acara doa yang khusus digelar untuk peristiwa tersebut. Berdasarkan faktor-faktor tersebutlah, maka saya golongkan peristiwa gerhana matahari total tersebut sebagai peristiwa yang menghebohkan. Namun pada tulisan kali ini saya tidak akan membahas mengenai kehebohannya, tetapi lebih akan membahas serta menjelaskan secara singkat apa dan bagaimana terjadinya gerhana matahari total itu. Tulisan ini juga sebagai selingan sejenak untuk rangkaian tulisan saya mengenai liburan saya di Batam dan Singapura tahun 2015 yang lalu. Selamat menyimak...

Apa yang dimaksud dengan gerhana matahari ? Saya yakin banyak dari kita telah mengetahuinya karena telah mempelajarinya sejak dari masa sekolah dasar, namun saya akan tetap mengulasnya supaya memastikan semua orang mengetahuinya. Gerhana matahari adalah suatu peristiwa alam semesta yang bisa dan biasa terjadi di sepanjang sejarah jagat raya ini. Gerhana matahari terjadi ketika Bulan melintas langsung diantara Bumi dan Matahari sehingga menyebabkan bayangan Bulan menimpa atau menutupi daerah tertentu di Bumi. Daerah di Bumi yang tertutup oleh bayangan Bulan inilah yang mengalami gerhana matahari.

Diagram Ilustrasi Gerhana Matahari
Diagram Ilustrasi Gerhana Matahari Total (sumber: www.google.com)
Mungkin ada pula yang bertanya, kenapa atau bagaimana mungkin Bulan yang sekecil itu yang bahkan lebih kecil dari Bumi dapat menutupi Matahari yang demikian besar dengan bayangannya ? Saya jawab bisa karena memang begitulah fakta yang ada. Namun jawaban yang lebih lengkap atau lebih baik saya berikan melalui ilustrasi. Asumsikan di depan mata kita terdapat suatu benda yang sedemikian besar, apapun itu, bisa rumah, mobil, tiang listrik, atau apapun yang berukuran besar. Jika di depan mata kita tidak terdapat suatu benda apapun yang menghalangi, maka dapat dipastikan kita akan bisa melihat benda besar yang terdapat di depan pandangan mata kita. Sekarang asumsikan pula kita menaruh suatu benda yang berukuran jauh lebih kecil dari benda sebelumnya, bisa berupa bola tenis, bola bekel, bola pingpong, atau benda apapun berukuran kecil yang dapat menghalangi pandangan mata kita. Letakkan benda tersebut di depan mata kita dalam jarak yang cukup dekat. Sekarang pertanyaannya, apakah kita masih dapat melihat benda besar yang sebelumnya kita lihat ? Saya yakin tidak. Kenapa ? Karena benda yang berukuran jauh lebih kecil tersebut berada dalam jarak yang lebih dekat dengan mata kita sehingga membatasi lebih memungkinkan untuk membatasi pandangan mata kita dibandingkan benda lain yang lebih besar namun berada pada jarak yang lebih jauh.

Gerhana Matahari Total
Gerhana Matahari Total (sumber: www.google.com)
Berdasarkan ilustrasi di atas, mata kita itu adalah Bumi, benda kecil yang kita letakkan sangat dekat dengan mata kita itu adalah Bulan, dan benda besar yang berada lebih jauh dari mata kita itu adalah Matahari. Jadi kenapa benda kecil atau Bulan dapat menghalangi atau 'menutupi' Matahari dari Bumi ? Karena jarak Bulan jauh lebih dekat ke Bumi daripada ke Matahari.

Sekian tulisan ringkas saya mengenai gerhana matahari. Semoga tulisan ringkas ini dapat membantu siapapun untuk lebih memahami apa itu gerhana matahari dan mengapa hal itu bisa terjadi. Akhir kata, selamat menonton atau menikmati tontonan Gerhana Matahari Total yang terjadi esok hari.

KumpulBlogger