Thursday, 4 February 2010

MELIHAT SISI LAIN KEHIDUPAN: INDAHNYA PERSAUDARAAN

Cerita yang terdapat dalam tulisan ini adalah bagian dari cerita kehidupanku. Sebuah cerita yang kubuat untuk mengenang masa kecilku dan juga bagian kehidupanku yang sekarang. Semoga saja cerita ini juga dapat menjadi ilham bagi kalian semua yang membaca untuk dapat benar-benar merenungkan dan menikmati setiap langkah atau bagian kehidupan kita yang tidak akan pernah terulang. Selamat membaca.

Entah kenapa, ketika mereka semua ada bersamaku, dimana aku masih bisa bercakap-cakap, menangis, dan tertawa bersama mereka, terkadang aku merasa ada sisi yang menjengkelkan dalam diri mereka. Namun, begitu mereka sudah tidak ada bersamaku lagi, terkadang aku juga merasakan ada suatu rasa yang hilang dalam hatiku. Kadang ada rasa rindu yang cukup dalam hatiku. Rasa ini memang seringkali sudah hilang begitu aku mulai sibuk melakukan segala aktivitas di kampus. Namun rasa ini masih sering datang setiap peristiwa yang sama terjadi lagi padaku.

Untuk menuangkan perasaan itu, akhirnya aku buat tulisan ini. Rasa itu sebenarnya adalah rasa persaudaraan antara aku dan dua orang saudara. Masih terekam jelas dalam ingatanku ketika aku masih kecil, aku adalah anak pertama yang dilahirkan oleh orang tuaku. Hampir 3 tahun setelah aku lahir, adikku atau anak kedua dari orang tuaku lahir. Saat itu aku masih belum tahu begitu banyak hal, aku hanya tahu bahwa aku senang karena aku punya adik. Tiga tahun setelah adik pertamaku lahir, adik keduaku lahir ke dunia. Sekali lagi aku merasa sangat senang memiliki adik lagi. Ketika adik keduaku lahir, aku sudah berumur 6 tahun dan sudah mulai mengerti lebih lagi akan senangnya memiliki adik. Aku masih ingat, aku sangat menyayangi sekali adikku itu. Aku selalu godai dia dan berusaha untuk buatnya tertawa. Begitu melihat tawa lucunya, aku juga ikut senang.

Saat adik keduaku sudah berumur sekitar 3 tahun dan sudah mulai bisa berjalan, aku ingat setiap sore hari aku dan adik pertamaku serta seorang pengasuh atau terkadang mamaku selalu mengajak adik keduaku untuk jalan-jalan di alun-alun kota. Mengajak dia untuk melihat dunia luar dan kehidupan lain diluar rumah. Mengenalkan dia dengan hal-hal yang belum pernah dia lihat ketika masih belum bisa berjalan. Kami berfoto bersama waktu itu, kami difoto oleh seorang tukang foto keliling satu-satunya yang kujumpai dikotaku. Tukang itu sudah lumayan tua, umurnya sekitar 50 tahun waktu itu. Meskipun sudah berumur sekitar 50 tahun, namun dia tetap energik dan setiap hari selalu berkeliling disekitar alun-alun kota untuk menawari orang-orang yang bersedia di foto olehnya. Tukang foto yang semangat itu berkeliling dengan menggunakan sepeda kayuh kepunyaannya. Satu hal lagi yang buat aku bangga akan tukang foto itu selain semangat juangnya adalah karena dia selalu berpakaian rapi dan mengenakan sepatu saat bekerja.

Tahun demi tahun telah berlalu dalam hidupku dan kedua adikku, kini tanpa terasa kami semua sudah besar. Kami sudah mengerti jauh lebih banyak hal dibandingkan waktu kami masih kecil. Tanpa terasa, aku sendiri sudah hampir selesai kuliah dan sudah saatnya untuk siap-siap bekerja. Adik pertamaku sekarang sudah kuliah semester empat dan adik terkecilku sekarang sudah kelas 3 SMU. Tanpa terasa kita semua sudah dewasa sekarang. Tanpa terasa hidup berjalan dengan cepatnya. Saat melihat foto-foto masa kecilku dan adik-adikku, aku terkenang kembali akan masa kecilku dan masa kecil mereka. Terkenang akan saat-saat kami sering bercanda bersama, saat-saat kami bermain bersama. Terkenang akan indahnya persaudaraan diantara kami. Kini, memang kami agak jarang bertemu, sebab aku dan adik pertamaku berada di Surabaya untuk kuliah, sedangkan adik terkecilku masih di Tuban untuk bersekolah. Kami hanya dapat berkumpul kembali bertiga ketika masa-masa liburan tiba. Ketika aku dan adik pertamaku sedang libur kuliah. Ya, hanya saat itulah yang kami bertiga manfaatkan untuk saling bertemu dan bercengkerama kembali. Saling bercakap-cakap dan bergurau sesekali. Terkadang juga kami makan bersama-sama di ruang makan rumah kami. Ternyata meskipun kita bertiga agak jarang bertemu, kami masih tetap saling mengasihi satu sama lain.

Akhirnya, aku sadar satu hal, aku bangga akan kehidupan yang telah Tuhan anugerahkan dan aku juga bangga serta menyayangi kedua saudara yang telah Tuhan berikan kepadaku. Aku sayang akan mereka berdua. Meskipun aku sendiri juga terkadang tersadar secara tidak sengaja bahwa kesibukanku sekarang kadang membuat aku sempat lupa akan mereka berdua. Namun disaat-saat aku sedang tidak ada kegiatan, secara tiba-tiba pula, aku ingat akan semua hubungan persaudaraan yang kita semua jalani sampai sejauh ini. Aku benar-benar sayang pada mereka semua dan juga kepada kedua orang tuaku yang telah membuat kami bisa ada di dunia ini. Aku sayang kepada kedua orang tuaku yang telah membesarkan dan membimbing kami bertiga sejauh ini. I promise to myself, I’ll love them all forever in my life. GBU my mom, father, and sisters.

Tickerbar