Sunday, 12 December 2010

Profesi atau Pekerjaan


Mengajar atau teach dalam Bahasa Inggris, itulah salah satu aktivitas saya akhir-akhir ini. Sebenarnya, mengajar bukanlah hal yang sempat terpikir akan menjadi salah satu aktivitas atau bisa juga disebut profesi saya. Pada awal saya masuk kuliah, satu-satunya profesi yang terpikir adalah menjadi programmer atau software developer. Namun seiring dengan berlalunya waktu dan seiring dengan bertambahnya wawasan atau pengetahuan saya, saya menemukan sejumlah profesi lain yang ternyata juga menarik, menantang, dan bermanfaat bagi setiap orang yang berhubungan dengan profesi tersebut maupun bagi saya sendiri. Beberapa profesi yang saya temukan seiring dengan perjalanan saya selama kuliah dan hingga sekarang antara lain pembicara motivasional, pembicara teknologi informasi dan komputer, penulis buku maupun artikel, pengajar, programmer, konsultan teknologi informasi, pebisnis, pelatih pengembangan kepribadian, serta manajer sumber daya manusia. Itulah semua profesi yang telah saya ketahui sampai sejauh ini dan yang menarik bagi saya pribadi.
Pengetahuan yang saya peroleh mengenai sejumlah profesi yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya tersebut adalah manfaat lain yang berhasil saya dapatkan selama saya kuliah. Suatu manfaat atau pengetahuan lain yang saya berhasil saya peroleh selain pengetahuan tentang ilmu komputer dan pemrograman. Memang pengetahuan tersebut tidaklah diajarkan di kampus, tetapi saya pelajari sendiri dari hasil membaca buku maupun informasi yang ada di media cetak atau media online. Namun, tetap harus saya akui bahwa saya tidak akan mungkin mendapatkan sejumlah pengetahuan tambahan tersebut jika saya tidak menempuh pendidikan hingga bangku kuliah. Selama dalam perjalanan saya di bangku kuliah itulah saya belajar banyak hal baru yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya.
Pengetahuan tentang beragam profesi yang baru ketahui selama saya kuliah sekaligus membuka pandangan saya bahwa ternyata ragam atau macam profesi yang dapat setiap jalani dalam kehidupannya itu banyak sekali. Selama ini, selama saya menempuh pendidikan mulai dari taman kanak-kanak hingga menginjak bangku kuliah, sangat sedikit sekali ragam profesi yang berhasil saya ketahui. Ragam profesi yang selama ini mungkin telah umum kita dengar atau ucapkan, seperti dokter, pilot, insinyur, tentara, polisi, guru, profesor, nelayan, dan petani. Namun ternyata ragam profesi tidak hanya itu, sekarang ini hampir semua hal dapat kita jadikan profesi, seperti sales, akuntan, pengacara, penulis skenario, penulis buku, penulis artikel, pembuat mainan, desainer pakaian, arsitek, hakim, polisi, politisi, penyanyi, bintang film, desainer web, software developer, tukang bangunan, tukang ledeng, reparator televisi, reparator kulkas, reparator AC, penulis lagu, pemain musik, sutradara film, produser film, manajer artis, konsultan psikologi, konsultan teknologi informasi, konsultan pengembangan sumber daya manusia, konsultan hukum, konsultan pernikahan, konsultan pajak, tukang kebun, juru masak, juru minuman, penari, wedding organizer, fotografer, konsultan keuangan, konsultan pendidikan, pengajar (guru maupun dosen), motivator, konsultan atau ahli gizi, personal trainer, atlet, komikus, desainer interior, ahli geologi, ahli bahasa, penerjemah, dan sejumlah profesi lain yang akan terlalu banyak jika harus saya sebutkan semuanya.
Sekarang kita telah mengetahui bahwa ragam profesi begitu banyak, seperti yang saya sebutkan di atas. Tantangan bagi kita sekarang adalah mencari tahu bakat kita yang sekiranya sesuai dengan suatu atau sejumlah profesi tertentu, menemukan passion kita untuk bekerja di bidang tertentu, dan kemudian memaksimalkan diri kita pada bidang pekerjaan yang telah kita pilih. Tantangan terlihat mudah, namun sebenarnya juga tidak terlalu mudah (paling tidak itulah yang saya rasakan). Untuk menemukan bakat kita misalnya, terkadang ada orang yang sejak semula sudah menyadari atau menemukan di bidang apa dia paling ahli atau mampu, namun tidak jarang juga ada sejumlah orang lain yang memerlukan bantuan dari orang-orang disekitarnya untuk membantu mengenali bakat atau kemampuan atau kelebihan yang dia miliki. Hal yang saya juga berlaku untuk passion atau hasrat kita, tampak mudah untuk dikenali, tetapi juga tidak selamanya begitu. Salah satu petunjuk yang berhasil saya temukan mengenai cara menemukan passion adalah mencari atau merasakan hal-hal dimana kita paling betah atau tahan saat harus melakukannya, dan kita bersedia melakukannya tanpa harus dipaksa dan bahkan saat tidak menerima apapun darinya, disitulah passion kita. Tantangan kita dalam mengenali bakat serta menemukan passion kita juga berlaku untuk kemampuan kita dalam memaksimalkan diri kita sendiri pada suatu atau sejumlah bidang yang telah kita pilih, tidak semua orang mampu melakukannya sendiri. Ketidakmampuan seseorang untuk memaksimalkan dirinya sendiri itulah yang pada akhirnya melahirkan sejumlah profesi seperti motivator, personal trainer, dan sejenisnya. Memang ketiga tantangan yang saya sebutkan di atas mungkin saja tidaklah mudah bagi kita, tapi marilah kita belajar untuk mencoba menjawab serta menuntaskan tantangan tersebut untuk kebaikan diri kita sendiri. Sekian tulisan saya dan maaf jika ternyata menjadi panjang lebar seperti ini. Semoga berguna.

Tickerbar

KumpulBlogger