Monday, 27 June 2016

Kutukan Lionel Messi Belum Berakhir

Lionel Messi Meratapi Kegagalan Argentina di Final Copa America Centenario 2016 dari Chile
Lionel Messi Meratapi Kegagalan Argentina di Final Copa America
Centenario 2016 dari Chile
(sumber: www.sidomi.com)
Kutukan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bermakna sumpah (makian, nista, dan sebagainya) atau laknat Tuhan. Kata ‘kutukan’ sendiri merupakan kata benda menurut KBBI.
Nah, melihat atau mengacu pada definisi diatas, mungkin kita ada yang bertanya-tanya, apa hubungannya ‘kutukan’ dengan Lionel Messi ? Apakah ada orang ‘sakti’ tertentu yang iri atau benci dengan Messi sehingga mengutukinya ? Bukan, bukan itu yang dimaksud, tetapi ‘kutukan’ dalam konteks ini lebih bermakna kesialan. Ya bisa dikatakan bahwa Lionel Messi mengalami atau terkena kutukan (baca: kesialan) ketika membeli tim nasional negaranya di berbagai ajang internasional.
Pemain bernama lengkap Lionel Andres Messi atau akrab dipanggil Leo ini selama ini dikenal sebagai salah satu pemain sepak bola yang teramat fenomenal dan memiliki tingkat kemampuan yang jauh melebihi banyak pemain sepak bola lain yang ada di jagat raya ini. Pemain kelahiran Rosario, Argentina pada tanggal 24 Juni 1987 ini dikenal sebagai salah satu “monster” lapangan hijau. Kelincahan, kemampuan olah bola yang diatas rata-rata, serta berbagai atribut istimewa lain membuatnya mendapat julukan pesepakbola dari planet lain.
Karir pemain mungil ini diawali di klub Newell’s Old Boys yang merupakan lokal di kampung halamannya sebelum akhirnya pindah ke Barcelona pada usia 11 tahun. Kepindahannya ke Barcelona salah satunya dipengaruhi oleh faktor dimana pihak Barcelona berjanji untuk mengobatkan dirinya yang diketahui menderita kekurangan hormon pertumbuhan. Sejak saat itu pula, Messi dan ayahnya pindah ke Spanyol, dan Messi memperkuat tim akademi klub. Seiring waktu berkat kemampuan luar biasa yang dimilikinya, karir Messi terus berkembang sehingga akhirnya dia dapat memperkuat tim senior Barcelona dalam usia 16 tahun 145 hari pada sebuah pertandingan persahabatan melawan FC Porto.
Sejak itu pula, Messi terus bertumbuh dan berkembang sebagai seorang pemain bola profesional. Berbagai macam gelar di tingkat klub maupun individu mampu diraihnya. Beberapa gelar tersebut diantaranya adalah juara lima kali La Liga Spanyol, dua kali juara Copa del Rey, lima kali juara Supercopa de Espana, tiga kali juara Liga Champion Eropa, pencetak gol terbanyak Piala Dunia FIFA U20 2005, tiga kali penghargaan Ballon d’Or, dan beberapa gelar bergengsi lainnya. Messi juga diyakini serta telah ditahbiskan sendiri oleh Maradona sebagai penerusnya yang membuatnya dijuluki “Messidona”.

Namun ada satu hal yang kurang dari Messi yaitu dia belum pernah membawa tim nasional negaranya, Argentina, meraih sebuah prestasi tertinggi dalam setiap ajang yang diikutinya. Semua kehebatan yang dia miliki selama bermain di klubnya Barcelona seolah lenyap hampir tanpa bekas. Messi memang masih tampil memukau dengan berbagai keahlian olah bola yang dimilikinya dan kecepatan serta kelincahannya, namun semua itu ternyata belum cukup membawa Argentina menapaki prestasi puncak dalam ajang kompetisi tim sepak bola negara.
Messi seolah terkena “kutukan” kala membela negaranya di berbagai ajang internasional. Messi yang bermain begitu luar biasa dan dapat dengan mudah meraih berbagai prestasi di tingkat klub seolah tak berkutik serta kehilangan sebagian “kesaktian” nya akan kala harus bertarung membela negaranya. Messi yang memulai petualangannya bersama tim nasional pada tahun 2004 pada sebuah pertandingan persahabatan U-20 melawan Paraguay, memang pernah memberikan gelar bagi negaranya yaitu gelar Piala Dunia FIFA U-20 pada tahun 2005. Namun sejak memulai debut awalnya bagi timnas senior pada tahun 2005, sejak itu pula dan sampai sekarang, Messi belum berhasil menggunakan keampuhan “sihir” nya untuk menghadirkan gelar juara bagi negerinya.
Sebelum penampilan pada babak final Copa America Centenario 2016, Argentina telah berhasil mencapai babak final dari dua turnamen akbar lain yaitu partai final Piala Dunia FIFA 2014 Brazil dan Copa America 2015 Chile. Namun sebagai pengaruh “kutukan” Messi, di dua pertandingan final itu pula Argentina selalu menuai kekalahan. Pada tahun 2014, gol Mario Gotze di babak perpanjangan waktu memupuskan harapan Argentina untuk menjadi juara. Pada tahun 2015 yang lalu, giliran Chile menghancurkan harapan Argentina untuk berada di posisi puncak pada suatu turnamen bergengsi dengan menyudahi perlawanan Argentina melalui kemenangan 4-1 di adu tendangan penalti setelah laga berhasil imbang selama 120 menit. Dan sekali lagi pada tahun ini, Chile menghempaskan perjuangan Argentina meraih gelar juara melalui cara yang sama memang adu penalti 4-2. Di adu penalti ini pula, “kutukan” Messi semakin diperkuat, dia gagal memasukkan bola sepakannya dari titik 12 pas yang melambung keatas mistar gawang, walaupun dia telah berhasil mengelabui kiper timnas Chile.
“Kutukan” berupa ketidakmampuan Messi untuk tampil mengkilap serta menghadirkan berbagai gelar juara bagi negaranya seperti yang dia lakukan bagi Barcelona masih terus berlanjut. Menarik untuk menanti akankah “:kutukan” Messi kala tampil membela negaranya akan bisa dipatahkan sehingga dia mampu tampil sebagus kala membela klubnya dan menghadirkan gelar bergengsi bagi negaranya. Apakah dia mampu ? Tak ada yang bisa menjawab dengan pasti, kita tunggu saja pada turnamen besar lainnya yang akan diikuti oleh Argentina.
Sekian dan semoga bermanfaat.


[diolah dari berbagai sumber]

Tickerbar