Monday, 27 June 2016

Chile Sekali Lagi Menjuarai Copa America

Pemain Chile Menempel Ketat Lionel Messi pada partai final Copa America Centenario 2016
Pemain Chile Menempel Ketat Lionel Messi pada partai final
Copa America Centenario 2016
(sumber: www.detik.com).

Umat Muslim di seluruh dunia dapat memanfaatkan berbagai turnamen akbar sepak bola yang diselenggarakan bertepatan dengan bulan Ramadhan untuk menemani sambil menunggu saat untuk berbuka puasa atau sahur. Ada dua turnamen sepak bola akbar yang digelar dan salah satunya adalah Copa America Centenario 2016. Gelaran Copa America pada tahun ini dapat dianggap spesial sebab bertepatan dengan 100 tahun terbentuknya CONMEBOL yang merupakan asosiasi sepak bola yang menaungi seluruh negara yang berada di kawasan Amerika Latin (Amerika Selatan). Mengingat gelaran turnamen pada tahun ini adalah gelaran spesial untuk turnamen yang biasanya digelar empat tahun sekali pada setiap tahun ganjil (terakhir digelar pada tahun 2015), maka untuk pertama kalinya pula tuan rumah dari turnamen terbesar di Amerika Latin ini adalah negara diluar negara-negara kawasan Amerika Latin. Tuan rumah turnamen ini adalah Amerika Serikat. Turnamen digelar atas kerja sama antara CONMEBOL dan CONCACAF sehingga total tim yang bertanding menjadi 16 tim dari semula 12 tim. Itu saja sekilas tentang turnamen ini sebab itu bukan akan jadi bahasan utama artikel kali ini.
Selain gelaran turnamen yang termasuk unik dan tidak biasa karena digelar pada tahun genap dan untuk pertama kalinya digelar diluar zona CONMEBOL, turnamen ini kali ini juga sekali lagi menghadirkan sebuah kejutan Chile sekali lagi mampu menjuarai Copa America. Ya benar, Chile yang notabene adalah juara dari turnamen yang digelar pada tahun 2015 yang lalu sekali lagi mampu sampai ke babak final dan sekali lagi pula bertemu lawan yang sama Argentina serta sekali lagi mampu mengalahkan mereka. Chile lolos ke partai final setelah terlebih dahulu menghempaskan perlawanan Kolombia dengan skor 2-0 pada babak semifinal. Sedangkan Argentina mampu lolos ke final setelah mengalahkan Amerika Serikat dengan skor telak 4-0.
Partai final kali ini mengulangi partai final yang persis sama seperti pada edisi turnamen tahun 2015. Argentina melawan Chile. Argentina yang dalam tiga turnamen besar terakhir yang diikutinya (Piala Dunia 2014 Brazil, Copa America 2015, dan Copa America Centenario 2016) tentu saja sangat berambisi untuk dapat meraih gelar juara pada pertandingan final yang digelar pagi tadi dan disiarkan langsung oleh Kompas TV. Namun yang terjadi justru sebaliknya, Chile mampu mengontrol jalannya pertandingan yang dapat dengan mudah dilihat dari keunggulan penguasaan bola yang ada yakni 54% untuk Chile berbanding 46% untuk Argentina.
Pemain Chile protes keputusan wasit karena berikan kartu merah  kepada Marcelo Diaz
Pemain Chile protes keputusan wasit karena berikan kartu merah
kepada Marcelo Diaz
 (sumber: www.detik.com).
Seperti halnya pada partai final Copa America 2015 yang lalu, pertandingan kali ini juga berlangsung seru dan ketat. Hal itu ditunjukkan juga dengan dikeluarkannya dua kartu merah, satu untuk Argentina, dan satu untuk Chile ketika pertandingan baru memasuki menit ke-43. Pemain Chile Marcelo Diaz memperoleh kartu merah pada menit ke-28 setelah sebelumnya memperoleh dua kartu kuning dari wasit. Kehilangan satu pemain tampaknya akan memperberat peluang Chile untuk dapat kembali menjadi juara pada turnamen ini, namun ternyata mereka tak panik sama sekali menghadapi kondisi yang ada. Chile berupaya tetap dalam menggalang pertahanan demi menghadapi serbuan dan gempuran dari Argentina. Mungkin karena frustasi menghadapi ketatnya pertahanan yang digalang Chile, Lionel Messi melakukan diving pada menit ke-40 yang akhirnya berbuah kartu kuning. 3 menit kemudian, tepatnya pada menit ke-43, giliran Argentina yang mendapat kartu merah. Marcos Rojo dikeluarkan wasit karena melakukan tekel dari belakang terhadap Arturo Vidal.
Pemain Chile, Arturo Vidal, berjibaku memperebutkan bola dengan pemain Argentina
Pemain Chile, Arturo Vidal, berjibaku memperebutkan bola dengan
pemain Argentina
(sumber: detik.com)
Babak pertama pertandingan yang digelar di MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey ini berlangsung ketat dan berakhir dengan skor imbang 0-0. Terdapat beberapa peluang tercipta pada babak pertama ini khususnya yang diciptakan oleh Argentina yang langsung berupaya menekan sejak babak ini dimulai. Pada menit pertama, Ever Banega melakukan tendangan keras dari 25 yard yang masih menyamping tipis di sisi gawang Chile. Pada menit ke-23 Gonzalo Higuain masih belum berhasil memanfaatkan kesalahan bek Chile Gary Medel untuk mencetak gol, bola hasil chip nya masih melayang sedikit diatas mistar gawang.

Memasuki babak kedua, Argentina masih tetap mendominasi serangan dan tak membiarkan Chile “bernapas”, walaupun demikian Chile tetap mampu mendominasi penguasaan bola 65% berbanding 35% di akhir babak kedua ini. Chile memperoleh kesempatan pertama untuk mencetak gol pada menit ke-56 ketika tembakan Eduardo Vargas masih melebar dari sasaran. Pada babak ini pula, Chile mulai berani untuk tampil lebih menekan pertahanan Argentina dengan memanfaatkan serangan balik. Argentina justru yang kesulitan untuk menciptakan peluang pada babak ini. Pertandingan babak kedua masih berakhir dengan skor imbang yang memaksa pertandingan dilanjutkan ke babak extra time 2x15 menit.
Pada babak extra time, kedua kubu, Argentina dan Chile tetap berusaha untuk tampil menyerang demi mengejar gol yang diharapkan dapat memberikan mereka kemenangan. Kedua tim saling balas menyerang dan melepas ancaman ke gawang lawan walaupun secara fisik mereka mulai terkuras. Pertandingan 2x15 menit masih berakhir dengan skor imbang, itu artinya pertandingan harus dilanjutkan ke adu tendangan penalti.
Chile mengambil posisi sebagai penendang terlebih dahulu pada babak adu penalti. Penendang pertama Chile, Arturo Vidal, gagal menuntaskan tugasnya dengan baik. Tendangannya mampu ditepis dengan baik oleh Kiper Argentina, Sergio Romero. Memang Vidal tampak wajah dengan ekspresi ragu-ragu serta mulut komat-kamit sebelum melakukan tendangan penalti sehingga akhirnya mungkin itu berdampak ke tendangannya yang dapat ditebak dengan baik oleh Romero. Kegagalan penendang pertama Chile tampaknya akan menguntungkan Argentina, namun ternyata penendang pertama Argentina yang sekaligus sang kapten Lionel Messi juga gagal menceploskan bola ke gawang. Bola tendangan penaltinya melambung diatas mistar gawang.
Pemain Chile merayakan kemenangan atas Argentina di partai final Copa America Centenario 2016
Pemain Chile merayakan kemenangan atas Argentina
di partai final Copa America Centenario 2016
(sumber: www.google.com)
Kepastian Chile meraih titel Copa America Centenario 2016 terjadi ketika penendang penalti kelima mereka mampu untuk mengecoh kiper Argentina. Dengan kemenangan pada adu penalti ini, Chile mampu menjuarai Copa America dua tahun berturut-turut dan ini menjadi rekor serta sejarah tersendiri bagi mereka. Kemenangan Chile juga sekaligus semakin mempertegas ketidakmampuan Argentina meraih gelar bergengsi setelah terakhir meraih gelar Copa America pada tahun 1993 atau sekitar 23 tahun yang lampau. Akhir kata, Selamat untuk Chile yang berhasil Menjuarai Copa America Centenario 2016.

Tickerbar

KumpulBlogger