Sunday, 27 June 2010

APA TANGGUNG JAWAB TERBESAR KITA ?

Sebuah pertanyaan yang patut untuk kita tanyakan kepada diri kita sendiri. Akhir-akhir ini aku belajar banyak hal dan mendapatkan banyak pengetahuan serta kesadaran baru, pengetahuan dan kesadaran yang semakin melengkapi diriku serta pemikiranku. Salah satu dari pengetahuan dan kesadaran yang aku dapatkan adalah mengenai tanggung jawab pribadi kita, dan tulisan yang bisa panjang atau pendek ini akan mencoba membahas hal itu.

Dalam hidup ini, kita memiliki banyak tanggung jawab yang beragam bentuknya. Saat kita masih bersekolah, kita bertanggung jawab untuk belajar sebaik mungkin di sekolah dan meraih prestasi setinggi mungkin pada masa sekolah kita. Hal ini berlanjut ketika mulai memasuki jenjang perkuliahan, kita bertanggung jawab untuk belajar dengan baik agar dapat lulus dengan hasil yang terbaik yang dapat kita peroleh. Dalam masa-masa sekolah itu kita bertanggung jawab terhadap orang tua kita, sebab merekalah yang memberikan sebagian besar atau bahkan semua biaya yang kita butuhkan untuk menyelesaikan pendidikan kita. Jadi seolah-olah mereka adalah ‘bos’ kita, maka dari itu kita harus mempertanggungjawabkan semua yang kita lakukan selama masa pendidikan kita.

Ketika kita sudah memasuki dunia kerja, tanggung jawab kita berubah. Kita tidak lagi bertanggung jawab terhadap orang tua kita dalam hal melaporkan hasil kerja kita, namun kita bertanggung jawab terhadap para pimpinan kita di dunia kerja, baik di kantor maupun tempat kerja yang lain. Kita harus melaporkan semua hasil pekerjaan yang telah dipercayakan kepada kita untuk kita kerjakan.

Dua hal diatas adalah contoh sebagian dari seluruh tanggung jawab yang ada dalam hidup kita. Namun ada satu tanggung jawab terbesar yang dibebankan kepada kita oleh Dia yang menciptakan kita. Tanggung jawab tersebut adalah tanggung jawab untuk terus mengembangkan diri kita sampai kita mencapai potensi terpenuh atau tertinggi sesuai dengan yang telah diberikan-Nya kepada kita. Nah salah satu cara agar dapat terus bertumbuh mencapai potensi maksimal kita adalah dengan terus belajar. Itulah juga yang menjadi alasan mengapa kita harus bersusah payah sejak dari kita lahir untuk belajar tengkurap, belajar berbicara, belajar menulis, belajar merangkak, belajar berdiri, belajar berjalan, belajar berlari, belajar mengutarakan keinginan, belajar naik sepeda, belajar naik mobil, belajar seluruh ilmu pengetahuan dan keahlian yang akan kita butuhkan dalam bidang pekerjaan yang ingin kita geluti, serta banyak macam belajar yang lainnya. Semua pembelajaran itu harus kita tempuh sebagai salah satu bentuk tanggung jawab terbesar kita, baik terhadap diri kita sendiri maupun terhadap Dia yang telah menciptakan kita serta menganugerahkan begitu banyak hal kepada kita.

Hal diatas aku sadari dari seluruh aspek perjalanan hidupku serta dari pelajaran-pelajaran yang aku terima dari orang-orang disekitarku dan dari apa saja yang pernah aku alami dalam kehidupan. Aku mendapatkan kesadaran yang sangat berharga ini setelah aku merenungkan semua hal yang aku alami, baik dalam masa-masa sekolahku maupun ketika aku mencoba beberapa pekerjaan namun belum berhasil. Namun, aku tidak pernah menyesal karena aku percaya bahwa semua yang aku alami termasuk langkah-langkah yang harus aku tempuh agar aku dapat bertumbuh sepenuh potensiku, dan kini hal itulah yang terjadi. Dari semua hal tersebut aku menyadari apa kompetensi utamaku atau aku bisa mengetahui hal-hal apa yang benar-benar menjadi minat terbesar dalam diriku sehingga aku dapat mulai mengarahkan diriku sendiri untuk mempelajari hal-hal yang menjadi minatku serta mengembangkan kompetensi utama dalam diriku. Akhir kata, itu adalah pendapat dariku yang muncul atas dasar perenungan yang aku dapat dari kehidupanku. Hal yang berbeda bisa saja kalian semua dapatkan dari perjalanan kehidupan kalian masing-masing. Namun yang terpenting kita semua tetap harus ingat bahwa salah satu tanggung jawab yang ada dalam hidup kita adalah untuk mengembangkan diri kita sampai mencapai potensi terbaik yang ada dalam diri kita. Selamat berkembang !

MEMANFAATKAN SOCIAL NETWORKING DENGAN TEPAT

Tulisan ini aku buat bukan sekedar meniru apa yang sebagian besar orang sedang bahas saat ini, aku menulisnya dari apa yang aku rasakan selama menggunakan social networking atau jejaring sosial. Awalnya aku mengenal social networking sekitar tahun 2005 awal. Waktu itu aku yang masih siswa kelas 3 SMU dan calon mahasiswa jurusan teknik informatika menemukan suatu pengetahuan baru yang bagus yaitu mengenai email dan social networking. Pada masa itu, aku belajar dari salah seorang teman yang kebetulan sudah mengetahui serta memanfaatkan kedua hal tersebut.
Setelah beberapa tahun menggunakan email dan social networking (waktu itu belajar menggunakan Friendster), aku mulai terbiasa dengan kedua hal tersebut, terlebih dengan statusku sebagai mahasiswa teknik informatika. Namun akhir-akhir ini setelah beberapa tahun menggunakan jejaring sosial mulai dari Friendster, Facebook, Multiply, dan Twitter, aku menemukan suatu kesadaran yang sangat berharga. Dengan adanya jejaring sosial tingkat narsis seseorang semakin bertambah, setiap orang seolah-olah ingin menjadi pusat perhatian bak artis di dunia baru tersebut. Didasari keinginan untuk menarik perhatian tersebut, terkadang atau seringkali setiap orang sering mengubah-ubah statusnya di semua situs jejaring sosial yang diikutinya dengan alasan untuk menunjukkan bahwa dirinya ada. Aku sendiri menganggap bahwa tujuan tersebut tidak salah, sebab setiap kita butuh untuk dikenal oleh orang lain karena dengan jalan itu kemungkinan kita untuk meraih kesuksesan akan lebih besar, sebab untuk sukses kita butuh bantuan orang lain. Hal yang salah adalah bahwa seringkali cara yang digunakan untuk dapat dikenal oleh orang lain itu yang tidak tepat. Ada yang memposting foto-foto dengan gaya yang aneh-aneh, seperti foto sedang merokok, foto bermesraan dengan pacar, bahkan mungkin yang paling parah ada memposting foto atau video yang hampir menyerempet masuk kategori pornografi.

Saturday, 26 June 2010

SUKSES DATANG MELALUI PROSES

Kalimat tersebut aku dengar dan baca beberapa tahun yang lalu dan kalimat tersebut aku jadikan sebagai welcome note di handphoneku. Namun setelah lama jarang membaca kembali kalimat tersebut, aku hampir dan bahkan mungkin bisa dibilang sudah melupakannya. Aku lupa bahwa untuk sukses aku harus melalui proses-proses yang tidak mudah untuk meraih puncak prestasi tertinggi.

Kini, hari ini, 26 Juni 2010, aku mengingat-ingat kembali kalimat tersebut dan akan terus berusaha mengingatnya sambil mengimplementasikannya dalam hidupku. Kalimat singkat yang bagus tersebut diucapkan oleh John C. Maxwell, pakar kepemimpinan dan pelatih sukses kaliber internasional. Kalimat yang benar-benar dahsyat dan jika diterapkan akan membawa efek yang dahsyat dalam kehidupanku.

Aku akui, puncak prestasi tertinggi yang pernah aku raih selama kehidupan di kampus adalah menjadi Ketua Panitia Pekan Kampus 2009. Tampaknya enak, namun akhirnya aku sadar bahwa aku berada di posisi itu melalui proses yang cukup panjang. Segalanya berawal dari posisi yang sangat bawah, posisi yang mungkin diremehkan oleh sebagian besar orang. Namun hal itulah yang justru membentuk dan semakin membangun serta memperkuat mental juangku. Waktu itu, aku mengatakan kepada diriku sendiri, bahwa aku percaya jika aku memberikan yang terbaik yang dapat aku berikan meskipun posisi rendah dalam suatu organisasi, suatu saat nanti aku akan mencapai posisi puncak dalam organisasi tersebut.

Akhirnya setelah sempat gagal pada tahun 2008, kesempatan itu datang juga. Tahun 2009 adalah tahun yang sangat istimewa bagiku, tahun dimana semua proses pembentukkan yang aku alami serta perjuangan yang aku lakukan tidaklah sia-sia. Aku akhirnya juga menjadi sadar bahwa pembentukkan yang keras dan tidak enak, kegagalan demi kegagalan yang kadang datang, serta beberapa peristiwa tidak enak lainnya, justru hal-hal seperti itulah yang semakin memperkuat mental kita dan semakin menunjukkan karakter kita yang sesungguhnya.

Aku sangat beruntung dan berterima kasih kepada kedua orang tuaku sebab mereka telah memberiku nama yang luar biasa. Sebuah yang memiliki arti luar biasa, yang akhirnya tercirikan dalam kepribadianku. Peter memiliki arti bukit batu karang, suatu bangunan bentukan alam yang sangat kokoh dan tangguh menghadapi hempasan gelombang laut yang kuat. Ternyata aku baru sadar bahwa nama itu merupakan cerminan dari harapan orang tua untuk para anaknya. Aku beruntung aku boleh memiliki orang tua yang memberikan harapan yang luar biasa untuk aku. Mereka berharap aku dapat menjadi seorang manusia yang tangguh setangguh bukit batu karang. Manusia yang handal dan memiliki mental sekuat baja dalam menghadapi setiap kesulitan, tantangan, dan beban. Manusia yang tidak mudah menyerah !

Sungguh, aku benar-benar bersyukur bahwa aku boleh mengalami proses demi proses semenjak aku kecil. Sungguh proses demi proses itulah yang membentuk mentalku serta semakin memperkuat karakterku. Aku penakut, namun aku seringkali dipaksa untuk berani. Aku benar-benar ingat bahwa terkadang aku meledak-ledak dan mudah marah, namun sebenarnya itu adalah letupan semangat yang besar yang ada dalam diriku. Aku beruntung bahwa aku boleh semuanya, dari dipukul menggunakan ikat pinggang, sandal, tongkat, dan lain-lain oleh orang tuaku ketika aku berbuat ulah atau kenakalan yang melebihi batas. Namun, aku yakin bahwa mereka ingin jadi individu yang lebih baik. Aku beruntung bahwa aku terjepit ke dalam lubang dan hampir tidak bisa keluar selama beberapa jam, sebelum akhirnya lubang tersebut dibongkar untuk memungkinkan aku keluar.

Aku beruntung bahwa aku boleh dipanggil ke kantor kepala sekolah pada masa sekolah dasar karena bermain petasan di sekolah. Hal tersebut mengajariku bagaimana cara menghadapi orang yang berada pada kedudukan paling tinggi dalam suatu organisasi dan hal itu pula yang semakin memperkuat mental serta keyakinan diriku. Aku juga beruntung pernah dikepung oleh beberapa orang karena pernah menghajar adik dari salah seorang dari mereka, yang justru berawal dari situ aku memperoleh beberapa teman yang tidak aku kenal sebelumnya yang menjadi pembelaku. Aku beruntung aku pernah membuat pusing sebagian guruku di sekolah menengah pertama karena beberapa kenakalan yang aku perbuat, yang bahkan hukuman macam apapun tidak mempan terhadapku. Sungguh orang yang benar-benar seperti batu karang (atau bebal ya ?). Namun dari satu aku boleh mengenal banyak guruku jauh melebihi teman-temanku yang lain, bahkan aku tidak kenal beberapa dari mereka namun mereka mengenal aku (selebriti dalam arti jelek, hahaha…).

Pada masa SMU, aku semakin menjadi. Semakin terkenal sejak dari SMP sampai SMU, dan bahkan sebagian besar murid sekolahku mengenal aku yang bahkan aku tidak mengenal sebagian besar dari mereka (lagi-lagi jadi selebriti gara-gara kenakalan yang aku perbuat hehehe…). Namun, kini semua kenakalan yang pernah aku perbuat tersebut mengajariku satu hal yang sangat berharga, seringkali kenakalan memang akan membuat kita dikenal oleh banyak orang, tetapi ada cara yang jauh lebih bagus untuk dikenal yaitu meraih prestasi dalam bidang-bidang seperti: akademis, olahraga, seni, dan lain-lain. Sebuah bentuk keterkenalan yang jauh lebih baik !

Kini, proses panjang tersebut tidaklah sia-sia, aku benar-benar menikmati hasil dari seluruh proses tersebut. Bahkan kini aku juga terus berusaha mengingatkan diriku sendiri untuk tidak takut menghadapi proses, sebab setiap kali aku diproses maka dapat dipastikan akan selalu ada perbaikan demi perbaikan yang akan terjadi pada diriku. Perbaikan demi perbaikan yang sudah pasti akan berguna untuk masa depanku. My very great thanks to my Jesus, my parent, and all people that shape my character !

PELAJARAN #6 DARI PEKAN KAMPUS 2009: BELAJAR MENJADI PEMBIMBING SERTA ORANG TUA

Seri keenam dari pelajaran yang aku dapatkan setelah selesainya Pekan Kampus 2009, dimana aku diberi tanggung jawab menjadi ketua pelaksana dari seluruh kegiatan yang merupakan acara tahunan yang diadakan di setiap awal tahun ajaran baru di kampusku. Seri pelajaran ini aku dapatkan setelah menelaah kembali semua yang telah aku lakukan selama mengemban jabatan tersebut dan dari semua kejadian yang terjadi selama masa tugasku tersebut.

Aku baru menyadari bahwa peranku yang sesungguhnya sebagai seorang ketua atau pemimpin ternyata tidak berakhir dengan berakhirnya Pekan Kampus 2009. Aku masih terus bertanggung jawab sampai sekarang terhadap seluruh orang-orangku di kepanitiaan tersebut dan terhadap seluruh peserta Pekan Kampus 2009. Tanggung jawab yang akan terus aku bawa seumur hidupku, sebab mereka semua secara tidak langsung tetap akan mengamati kehidupanku dan kemungkinan menjadikan aku acuan atau teladan hidupnya. Atas dasar kesadaran itulah, aku butuh untuk terus memperbaiki diri dalam segala hal, baik dalam sikap, omongan, dan hal-hal lainnya. Aku juga harus tetap menjaga integritas pribadiku dengan tetap tampil seperti ketika saat aku mengemban jabatan sebagai ketua panitia. Aku sadar bahwa sekarang hidupku bukan milikku lagi, sebab aku jadi acuan bagi banyak orang. Oleh karena itu aku butuh untuk terus tampil baik di depan mereka semua. Namun aku tidak hanya sekedar tampil baik saat hanya di depan mereka tetapi buruk di belakang, aku harus memiliki inside-out living yaitu apa yang aku tampilkan di depan mereka sama dengan apa yang aku tampilkan saat aku tidak di depan mereka. Itulah arti integritas atau integrity yang sesungguhnya, dan aku akan terus berupaya yang terbaik untuk dapat menerapkannya !

Aku juga sadar bahwa ternyata peranku bagi mereka semua, baik bagi panitia maupun peserta, bukan hanya sebagai ketua atau pemimpin mereka, melainkan aku juga bertindak seolah-olah aku adalah orang tua kedua mereka. Hal ini aku sadari sebab secara tidak langsung aku menjadi orang kedua yang membimbing mereka tentang apa yang baik dan apa yang kurang baik atau tidak baik. Oleh karena itu aku sadar bahwa peranku benar-benar seperti seorang pembimbing dan orang tua bagi mereka semua. Atas dasar kesadaran tersebut, berarti aku harus benar-benar memposisikan diriku seperti seorang orang tua bagi mereka. Aku tidak hanya harus mendisiplinkan serta memarahi mereka, melainkan juga berkewajiban untuk mengasihi mereka serta menjadi teladan bagi mereka melalui kehidupanku.

Tanggung jawab sebagai panitia Pekan Kampus, khususnya sebagai ketua Pekan Kampus, tidak akan pernah berakhir dengan berakhirnya kegiatan Pekan Kampus itu sendiri. Tanggung tersebut adalah tanggung jawab seumur hidup dan karena itu aku butuh untuk terus melatih diriku sendiri agar dapat terus menjadi teladan bagi mereka semua, khususnya para generasi baru STTS serta generasi baru panitia Pekan Kampus yang akan menggantikan tugas panitia yang lama. Aku juga sadar bahwa mereka semua lebih butuh teladan dalam tindakan, sikap, omongan, pola pikir, lebih daripada sekedar pengajaran lewat omongan. Mereka semua butuh contoh teladan nyata dari hidupku.

Akhir-akhir ini aku juga ingat soal apa yang Ki Hajar Dewantara pernah ucapkan beberapa puluh tahun lalu, yaitu ‘ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani’, yang dalam bahasa Indonesia ‘di depan memberikan teladan atau contoh, di tengah membangun kehendak bersama, dan di belakang memberikan dorongan semangat’. Kalimat tersebut memang diucapkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam kapasitasnya sebagai guru dan memang ditujukan untuk para guru, namun ternyata aku sadar bahwa kalimat tersebut bisa juga diterapkan dalam bidang kepemimpinan. Seorang pemimpin harus memberi teladan di depan orang-orangnya, harus membangun kehendak untuk dapat bekerja bersama orang-orangnya, dan mereka harus memberikan dorongan semangat atau dukungan dari belakang untuk orang-orangnya. Sebuah kesadaran yang sangat berharga bagi diriku sendiri dan hal ini menuntutku untuk belajar lebih lagi serta benar-benar menerapkan prinsip yang bagus tersebut agar aku dapat benar-benar menjadi orang tua kedua bagi mereka semua. Ya, orang tua kedua !

Tuesday, 15 June 2010

KETAHUI IMPIAN KITA SEDINI MUNGKIN

Hari ini aku membaca sebuah majalah terbitan tahun 2008, meskipun majalah tersebut sudah terbit sejak dua tahun lalu namun informasi yang diberikan dalam salah satu artikel yang ada tetap relevan sampai sekarang. Informasi tersebut adalah tentang impian kita dalam hidup. Artikel tersebut menginspirasiku untuk menulis artikel ini.

Impian, setiap kita pasti sering atau bahkan mungkin selalu mendengar kata tersebut. Impian atau dapat disebut juga visi adalah sesuatu yang belum tampak nyata pada masa sekarang dan masih berada di angan-angan atau pikiran kita. Setiap kita bisa memiliki impian, baik besar maupun kecil, tetapi ada juga yang tidak memiliki impian namun bagaimanapun juga impian tetap penting untuk kita semua miliki.

Impian dapat menjadi pemandu kita dalam melangkah mengarungi kehidupan kita, sebab tanpa kita seolah-olah melangkah tanpa arah yang jelas dalam hidup. Tanpa impian, bisa saja kita diombang-ambingkan oleh keadaan disekitar kita, sebab kita tidak tahu arah mana yang mau kita tuju. Aku bisa mengatakan seperti ini sebab aku telah merasakan sendiri betapa impian telah cukup membantuku untuk melaju dalam laju kehidupan ini. Tanpa impian, tidak mungkin aku dapat menjadi pemimpin salah satu organisasi di kampusku.

Aku meraih dapat posisi yang aku inginkan tersebut karena dua hal, yang pertama hal tersebut adalah anugerah Tuhan dan yang kedua karena aku memimpikannya sejak dari awal. Namun kita semua juga perlu tahu bahwa memiliki impian saja tidaklah cukup, kita harus membuat deadline kapan kita harus mewujudkan nyatakan impian tersebut. Pelajaran mengenai pemberian deadline terhadap perwujudan impian ini aku pelajari dari salah seorang motivator terkenal di Indonesia. Aku menyadari betapa pelajaran yang motivator tersebut ajarkan benar adanya, sebab tanpa deadline kita seolah-olah hanya mengetahui setengah arah kehidupan kita. Kita belum tahu setengahnya lagi yaitu batas waktu pencapaian impian tersebut. Batas waktu pencapaian impian tersebut penting untuk kita tetapkan agar kita semua benar-benar punya pengetahuan yang lengkap mengenai impian kita dan kapan impian tersebut harus terwujud. Hal tersebut juga membantu untuk terus mengingatkan kita bahwa masih ada impian yang perlu diwujudkan sebelum batas waktunya habis sekaligus sebagai sarana untuk memotivasi diri sendiri dalam berupaya atau agar tidak menjadi malas yang pada akhirnya membuat kita lupa akan impian.

Sejak beberapa bulan lalu, aku kembali menyadari hal-hal diatas setelah sempat melalaikannya selama beberapa waktu yang cukup lama. Aku beruntung bahwa aku menyadari kembali hal tersebut sebab dengan begitu aku juga diingatkan bahwa masih ada impian-impian yang belum terwujud serta masih ada tanggung jawab yang harus diselesaikan, dimana hal-hal tersebut membutuhkan dedikasi, motivasi, serta upaya yang terbaik. Aku juga beruntung bahwa aku masih belum terlalu terlambat untuk menyadari kembali bahwa aku sudah berada di zona kenyamanan yang membuatku lupa akan impian-impianku yang pada akhirnya membuatku tidak naik level tapi justru turun. Aku beruntung menyadarinya meskipun agak terlambat, jadi ada baiknya kita semua belajar untuk menyadari seluruh impian kita sedini mungkin. Semoga setiap kita semua, aku serta kalian yang membaca tulisan ini, dimotivasi untuk berani bermimpi dan berani menetapkan target untuk impian kita. Kita semua juga perlu belajar untuk mengetahui dengan pasti apa yang menjadi impian kita sedini mungkin sebelum terlalu terlambat, sebab umur kita terus bertambah yang secara otomatis mengurangi waktu yang dapat kita gunakan untuk meraih impian. Semoga berguna.

KEYAKINAN

Jose Mourinho atau yang akrab disapa Mou, salah satu pelatih sepakbola terbaik dunia mencantumkan kata yang saya gunakan sebagai judul tulisan ini sebagai salah satu elemen dari rumusan terbaiknya. Dia meletakkan kata ini sebagai elemen yang pertama dalam rumusannya untuk menjadi yang terbaik.

Pertanyaannya, mengapa dia meletakkan kata ini sebagai yang pertama mengapa bukan yang lain ? Menurut hasil perenungan saya dan ditopang oleh pembacaan terhadap beberapa buku motivasi dan pengembangan diri, saya menemukan suatu pelajaran yang sangat berharga. Tanpa keyakinan atau kepercayaan diri, seolah-olah semua yang kita lakukan tidak ada gunanya atau kurang memiliki arah yang jelas. Mengapa ? Sebab percuma saja kita semua bekerja keras membanting tulang dan memeras keringat jika kita tidak percaya bahwa kita akan berhasil. Percuma saja kita berjuang atau bekerja keras, jika kita tidak yakin akan apa yang kita perjuangkan. Intinya tanpa keyakinan atau kepercayaan yang kuat kita tidak akan pernah meraih hasil yang maksimal dalam setiap yang kita kerjakan.

Oleh karena itu, sebagai seorang pelatih sepakbola Mourinho benar-benar menerapkan prinsip ini dengan baik sebagai salah satu filosofinya dalam melatih. Dalam setiap kesempatan, kita selalu dapat melihat bahwa dia adalah orang yang sangat percaya diri. Dia percaya bahwa dia mampu melakukan pekerjaannya dengan baik serta memberikan yang terbaik bagi setiap tim yang dilatihnya. Dia selalu percaya bahwa dia akan menang, meskipun tidak selalu tim yang dilatihnya akan menang. Tapi bagi dia keyakinan atau kepercayaan diri tetaplah penting untuk dimiliki dan itu selalu ditunjukkannya dalam setiap kesempatan. Mourinho bahkan dengan percaya dirinya menganggap dirinya sendiri sebagai ‘The Special One’, orang yang spesial. Namun julukan itu tidaklah salah, sebab kita semua telah mengetahui bahwa dia memang orang yang memiliki sesuatu yang istimewa dalam dirinya, salah satunya adalah kepercayaan dirinya yang tinggi.

Nah, jika seorang Mourinho saja menganggap keyakinan atau kepercayaan diri sebagai salah satu elemen penting untuk meraih sukses, mengapa kita tidak mencoba untuk menjadikannya juga sebagai salah satu elemen yang dapat membantu kita menjadi sukses. Kita semua diciptakan dengan bakat atau talenta yang unik, yang semuanya itu sudah Dia sediakan secara khusus untuk kita. Maka kita harus memiliki cara pandang yang benar terhadap diri kita sendiri selain terhadap orang lain. Kita harus selalu percaya pada diri kita sendiri, tanpa peduli apapun kondisinya sebab kita memang diciptakan secara unik berbeda satu dengan yang lain. Oleh karena itu, dari sekarang marilah kita semua mencoba menjadikan keyakinan atau kepercayaan diri sebagai salah satu ciri khas kita. Kita harus bahwa kita bisa, maka kita pasti bisa. Kita harus percaya bahwa kita akan berhasil, maka kita pasti berhasil. Intinya adalah percaya dulu, baru kemudian kita mencoba mencari jalan untuk mewujudkan apa yang kita percayai itu. Ya, kita semua harus memiliki kepercayaan diri yang tinggi, meskipun pada akhirnya belum tentu hal tersebut membantu kita untuk berhasil. Namun, intinya adalah tetap percaya. Bagaimana menurut Anda ?

MENGEJAR IMPIAN

Apakah kita semua memiliki impian ? Saya yakin sebagian besar dari kita memiliki impian kita masing-masing. Ada yang memiliki impian yang besar, namun ada yang hanya memiliki impian yang kecil, tetapi itu semua tidak masalah yang penting adalah memiliki impian.

Saya menemukan cukup banyak motivator atau pakar pengembangan diri yang mengajarkan mengenai pentingnya memiliki impian, sebab impian dapat menjadi pemandu kita untuk meraih kesuksesan atau kegemilangan dalam hidup. Salah satu yang baru saya ketahui adalah konsep mengenai manusia yang efektif yang diajarkan oleh Stephen Covey. Salah satu dari tujuh kebiasaan manusia yang efektif adalah ‘memulai dari akhir dari pikiran’ atau dalam bahasa Inggrisnya ‘starting with the end of mind’. Kebiasaan tersebut mengajarkan kepada setiap kita untuk selalu memulai segala sesuatu dengan mengingat-ingat tujuan akhir yang ingin diraih.

Waktu dalam hidup kita terus berjalan dan usia kita semakin lama semakin menua, saya juga menyadari hal tersebut. Saat ini saya mulai membiasakan diri saya untuk selalu mengingatkan kembali diri saya tentang usia saya saat ini dan mengenai kapan saya sudah harus mewujudkan impian-impian besar saya. Saya juga berusaha selalu menghitung selisih antara usia saya sekarang dan usia yang saya harapkan saya sudah dapat meraih impian saya pada usia tersebut. Saya melakukan dengan tujuan untuk mengingatkan diri saya sendiri bahwa saya harus terus bergerak untuk mengejar impian saya, dan saya harap Anda sekalian juga berusaha untuk mengingatkan diri Anda mengenai kapan Anda ingin meraih impian-impian Anda.

Meraih impian tidaklah mudah, sebab terkadang kita harus mengekang diri untuk mengurangi melakukan hal-hal yang menurut kita dan sebagian besar orang menyenangkan untuk dilakukan, namun memang harus ada harga yang dibayar untuk sesuatu dan suatu saat pasti akan ada gilirannya bagi kita semua untuk menikmati indahnya meraih impian-impian kita yang luar biasa yang mungkin sebagian orang lainnya tidak berani atau tidak dapat meraihnya. Saya juga selalu mencoba untuk terus memotivasi diri saya setiap hari dengan terus mengingatkan diri saya akan impian. Ketika saya mulai merasa down atau malas atau ogah-ogahan, saya ingatkan kembali diri saya bahwa impian-impian indah saya menunggu diujung jalan yang sedang saya tempuh jadi saya harus terus melaju. Akhir kata, marilah kita semua memotivasi diri kita setiap hari agar selalu bersemangat dalam setiap langkah atau upaya kita untuk mengejar impian-impian yang indah dan luar biasa. Tuhan memberkati kita semua.

MY GREATEST LOVE

Aku harap bagi kalian yang membacanya jangan terlebih dahulu menyimpulkan atau mengaitkan artikel ini dengan cinta dalam arti pacaran, dsb. Artikel ini berbicara mengenai kecintaan pribadiku terhadap bidang keilmuan dan pekerjaan yang sempat aku lupakan, namun setelah merenungkan beberapa saat akhirnya aku sadari atau temukan kembali.

Sejak awal memasuki dunia perkuliahan di jurusan Teknik Informatika di Sekolah Tinggi Teknik Surabaya (yang kini bernama Institut Sains Terapan dan Teknologi Surabaya), aku menemukan suatu ketertarikan di beberapa bidang antara lain komputer, Fisika, tulis-menulis, bisnis, dan motivasi. Selain bidang-bidang tersebut, selama sekitar dua tahun terakhir aku juga mulai tertarik pada bidang leadership atau kepemimpinan. Aku sungguh-sungguh tergila-gila pada bidang-bidang tersebut.

Namun dalam salah satu bagian dari perjalanan hidupku, pikiran atau fokusku sempat teralihkan dari bidang-bidang tersebut. Aku sempat menjajal profesi sebagai tenaga pemasar atau agen asuransi jiwa. Selama menjalani profesi sebagai tenaga pemasar tersebut aku tetap berusaha melakukannya dengan sungguh-sungguh dan dengan upaya yang terbaik yang dapat aku lakukan. Namun, pada akhirnya aku menemukan bahwa aku kurang maksimal pada bidang tersebut. Selama menjadi agen asuransi, aku justru lebih banyak berbicara mengenai ilmu pengetahuan serta teknologi dengan beberapa orang yang aku temui dalam upayaku menawarkan asuransi.

Pada akhirnya setelah merenungkannya sejenak di akhir minggu lalu, aku menemukan satu kesadaran yang berharga yaitu bahwa ternyata sejak awal memasuki masa kuliah atau bahkan kalau mau ditelusuri lebih jauh lagi sejak masa aku masih sekolah dasar, aku sudah memiliki kecintaan yang besar terhadap dunia tulis-menulis, berbicara, dan ilmu pengetahuan. Aku akhirnya menyadari bahwa ada semacam kebanggaan tersendiri dalam diriku ketika aku dapat menjadi lebih unggul dibanding orang-orang lain dalam hal pengetahuan, baik pengetahuan yang spesifik di suatu bidang tertentu atau pengetahuan umum lainnya. Akhirnya aku juga menyadari bahwa disitulah terletak talenta terhebatku yang sudah Tuhan anugerahkan dalam diriku.

Kini, dengan adanya kesadaran lama yang muncul kembali tersebut aku harus mulai lebih bersungguh-sungguh memenuhi panggilanku tersebut. Aku harus mulai berusaha dengan lebih lagi untuk mengembangkan talenta-talenta yang sudah Dia berikan dengan maksimal agar talenta-talenta tersebut mampu mencapai bentuk terbaiknya sesuai dengan kehendak Tuhan. Kini aku mulai berkomitmen untuk hanya fokus pada bidang-bidang tertentu saja yang sesuai dengan keahlian atau talenta yang telah dianugerahkan dalam diriku.

Kini aku mulai sadar dan menemukan panggilan dan kecintaan terbesarku. Kini aku juga sadar bahwa setiap orang tidak akan pernah dapat menjadi individu yang maksimal jika dia belajar atau bekerja di luar bidang yang menjadi panggilan atau kecintaan terbesarnya. Berdasarkan pemahaman atau kesadaran tersebut, kini aku sedang berusaha mengarahkan sekaligus menempa diriku sendiri agar dapat terus berada pada jalur yang sudah menjadi “panggilan” terbesar dalam hati dan pikiranku tersebut.

Kini aku juga sadar bahwa setiap orang memiliki panggilan yang berbeda-beda dalam hidupnya. Ada orang yang terpanggil untuk menjadi pebisnis, guru, dosen, pengacara, dokter, arsitek, petani, penulis, programmer, desainer, penyanyi, pemain film, tukang pijat, pembicara, motivator, agen asuransi, tenaga pemasar, dan lain-lain. Ya, memang benar bahwa setiap orang memiliki panggilannya sendiri yang bersifat unik untuk orang tersebut dan adalah salah besar kalau ada orang yang mengatakan bahwa pekerjaan tertentu lebih baik dibanding pekerjaan yang lain. Aku juga menyadari bahwa sebenarnya setiap kita harus membuka mata, pikiran, dan hati lebar-lebar terhadap setiap peluang yang ada, namun kita juga harus sadar bekerja tidak sekadar mencari uang atau peluang untuk sukses tetapi juga sebagai sarana untuk memenuhi panggilan terbesar kita dan mengaktualisasikan diri serta bakat kita.

Aku harap setiap orang, tanpa kecuali siapapun dia, dapat menemukan panggilan terbesarnya dalam hidup. Renungkan, ingat-ingat, sadari, dan temukan panggilan hidup terbesar kita masing-masing dan yakinlah jika panggilan tersebut ditekuni dengan sungguh-sungguh tetap akan mampu membawa kita menuju kesuksesan dalam hidup. Semoga menginspirasi.

KumpulBlogger