Wednesday, 26 December 2012

Entrepreneur Tak Ragu Bekerja 24 Jam

Saya sampaikan dalam Kuliah Umum Prasetiya Mulya kemarin betapa menjadi entrepreneur yang sukses membutuhkan perjuangan yang tidak sedikit, dan mereka harus bersiap untuk banyak berkorban. Kehidupan seorang entrepreneur tidak melulu menyenangkan, tetapi juga penuh dengan pengrobanan dalam berbagai bentuk. Kenyataan ini perlu disadari oleh generasi muda kita agar secara mental dan psikologis mereka sudah siap.

Misalnya saja Anda memiliki usaha tambak. Saat cuaca hujan deras di malam hari, Anda harus bangun dan pergi ke tambak Anda untuk memeriksa apakah ikan yang Anda sudah kembangbiakkan dengan susah payah selama ini masih aman atau terbawa arus banjir dari sungai di sekitarnya. Nah, saya yakin tidak semua orang apalagi para pemuda mau bekerja keras seperti itu.

Yang saya ketahui, hampir semua pengusaha sukses yang saya pernah temui memiliki komitmen yang sangat tinggi untuk mau dan bersedia bekerja kapanpun demi usaha mereka. Pengusaha-pengusaha besar seperti Lim Sioe Liong, Eka Tjipta, termasuk saya tidak mengeluh saat dihubungi di waktu-waktu istirahat kami untuk membicarakan urusan bisnis yang urgent. Karena memang bisnis inilah penghidupan kami.

Saat bawahan saya baru menelpon 1 kali, saya setidaknya menelpon lebih banyak karena saya entrepreneur, saya harus menjadi kekuatan pendorong atau driving force untuk bawahan saya. Mereka masih profesional.

Karena itu, saya kembali lontarkan pertanyaan ini pada mereka yang hendak menjadi entrepreneur: "Apakah Anda mau mati-matian berpikir dan bekerja, tidak cuma dengan keras tetapi cerdas?" Bukan 'clever', tetapi 'smart', cerdas!


Tickerbar

KumpulBlogger