Thursday, 6 October 2011

Menjadi Bagian Sejarah Dunia

Pagi ini, ketika saya hendak mengirim ke salah seorang teman, saya tanpa sengaja membuka salah satu email newsletter yang berisi artikel gratis dari salah seorang pembicara terkemuka dunia. Saya membukanya dan membaca beberapa bagian secara singkat dan kemudian saya penasaran untuk mencoba mencari sedikit informasi tambahan mengenai pembicara tersebut. Saat melakukan pencarian, saya menemukan akun Twitternya dan kemudian saya buka halaman Twitter tersebut. Untuk dapat memfollow dia, tentu saja saya harus melakukan login. Singkat cerita, saya login dan setelah menekan follow, saya kembali halaman utama akun saya dan menemukan informasi yang tidak saya duga sebelumnya, Steve Jobs, pendiri Apple meninggal dunia.
Didorong oleh rasa penasaran serta untuk memastikan kebenarannya, maka saya membuka beberapa link yang diberikan oleh rekan-rekan saya di Twitter. Link pertama yang saya buka adalah link yang menuju ke halaman utama website Apple, dan disana tertulis dengan jelas bahwa memang Steve Jobs telah tiada. Beberapa link lain yang saya buka yang mayoritas menuju ke situs berita baik lokal maupun internasional menyatakan informasi yang sama.
Setelah membaca sejumlah informasi tersebut, saya menyadari bahwa betapa banyaknya orang di seluruh dunia yang merasa kehilangan salah satu tokoh teknologi yang terkenal jenius dan kreatif ini. Jobs telah menciptakan banyak karya unik semasa hidupnya, mulai dari komputer Apple, iPod, iPhone, hingga iPad. Semua karya yang telah menginspirasi serta dikagumi banyak orang di dunia ini. Selain itu, saya membaca pula banyak pujian serta rasa kagum yang diungkapkan terhadap Jobs atas karya-karyanya, perjalanan hidupnya, serta banyak hal lain terkait dengan Jobs.

Monday, 3 October 2011

Jangan Terlalu Banyak Teori !

Setiap kita yang pernah sekolah (kuliah) atau yang sedang sekolah, selama kita menjalani pendidikan di bangku sekolah (kuliah) pasti pernah menerima pelajaran-pelajaran (baca: teori-teori) bukan ? Saya pun pernah dan saya menyadari bahwa pelajaran-pelajaran tersebut penting. Namun pengalaman hidup saya selama sekitar dua bulan terakhir menyadarkan saya sisi lain dari pelajaran-pelajaran (teori-teori) tersebut.
Saat ini, saya sedang berupaya menyelesaikan suatu tanggung jawab, dimana untuk menyelesaikan tanggung jawab tersebut mengharuskan saya untuk mempelajari ilmu-ilmu baru maupun ilmu-ilmu lama yang sudah agak terlupakan. Saya mengumpulkan sebanyak mungkin bahan bacaan, baik berupa artikel (paper) maupun buku. Saya membaca setiap artikel maupun buku yang sudah berhasil saya kumpulkan. Saya berupaya membacanya dengan sebaik mungkin agar saya dapat mengerti seluruh teori yang saya harapkan dapat membantu saya menyelesaikan tanggung jawab yang sedang saya tangani. Namun seiring semakin banyaknya saya membaca, saya menyadari satu hal, yaitu perkembangan atau progress saya dalam menyelesaikan tanggung jawab tersebut sangat minim. Saya menemukan bahwa perkembangan pekerjaan yang saya sedang coba selesaikan benar-benar sangat minim.
Menyadari bahwa perkembangan pekerjaan yang saya sedang coba selesaikan sangat minim, saya akhirnya mencoba menganalisa atau mempelajari kembali mengapa saya begitu lambat dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut, sementara waktu tenggatnya semakin mendekat. Proses analisa sederhana yang saya jalankan mengarahkan saya pada satu hal, yaitu terlalu banyak membaca teori, tetapi lupa atau kurang bertindak. Dan semakin saya runut lagi ke belakang, ternyata saya menemukan bahwa dalam rentang waktu sekitar dua tahun terakhir saya telah menjadi terlalu bergantung pada pelajaran atau teori. Dari hasil analisa sederhana tersebut, akhirnya saya mengambil keputusan bahwa saya tidak dapat hanya membaca teori demi teori saja, melainkan saya juga perlu memaksa diri saya sendiri untuk segera bertindak menyelesaikan pekerjaan yang perlu saya selesaikan dengan berdasarkan teori atau pengetahuan yang sudah saya miliki.

Wednesday, 28 September 2011

Sebuah Masa Pencarian

Dalam dua tahun terakhir, saya menyadari bahwa banyak hal yang tertunda saya selesaikan. Saya menyadarinya, bukan tidak menyadarinya. Saya sedikit menyesal, namun pada akhirnya saya tidak sepenuhnya menyesal, sebab akhirnya saya menyadari bahwa masa sekitar dua tahun terakhir sepertinya akan menjadi masa paling penting dalam seluruh perjalanan hidup saya selanjutnya. Saya tidak akan pernah menyesali lagi apa yang telah terjadi dua tahun terakhir, justru saya merasa sangat beruntung.
Saya menyebut dua tahun terakhir yang seperti seolah saya habiskan dengan begitu saja tanpa menciptakan atau menghasilkan sesuatu yang benar-benar bermanfaat sebagai suatu masa pencarian. Dua tahun terakhir saya seolah terombang-ambing dan mencoba banyak sekali hal, namun saya justru bersyukur sebab saya memperoleh banyak sekali yang saya yakin tidak akan pernah saya dapatkan seandainya saya tidak mencobanya. Saya memperoleh banyak pengalaman baru, ilmu baru, serta sejumlah hal baru lain yang tidak pernah akan saya dapatkan dari kuliah. Dua tahun terakhir pula adalah suatu masa dimana akhirnya saya menyadari bahwa kecintaan terbesar saya tetaplah di bidang teknologi informasi, khususnya pemrograman.

Monday, 26 September 2011

Indonesia Harus Punya Jalur Khusus Ini ?

Sore hari ini, saya memutuskan untuk keluar sebentar ke suatu tempat untuk menyegarkan pikiran sekaligus tubuh saya (saya masih mencoba memahami lebih lagi kaitan antara kesegaran pikiran dengan kesegaran jasmani). Pada perjalanan sore hari yang menjelang waktu orang pulang kerja, jalanan mulai ramai. Menjelang suatu belokan, mobil yang berjalan di depan saya tampak berjalan secara perlahan. Saya awalnya tidak mengerti mengapa mobil tersebut berjalan secara perlahan, namun setelah saya agak dekat dengan mobil tersebut, barulah saya mengetahui bahwa ternyata di sisi kiri sedang ada penjual makanan mendorong gerobaknya.
Melihat kejadian sederhana tersebut, secara tiba-tiba suatu gagasan melintas di pikiran saya. Saya terpikir, mengapa pemerintah tidak membuatkan saja suatu jalur khusus untuk dilalui oleh para pedagang makanan keliling ? Suatu jalur khusus yang disediakan secara khusus untuk dilalui oleh para pedagang tersebut agar mereka tidak mengganggu laju kendaraan yang sedang melaju. Saya teringat bahwa seringkali para pedagang makanan keliling yang sedang mendorong gerobak jualannya dapat memperlambat kecepatan kendaraan, belum lagi ada beberapa diantara mereka yang terkadang menyeberang jalan seenaknya. Saya pun terpikir, mengapa tidak ada suatu jalur khusus untuk mereka ? Jalur khusus yang dapat membantu mereka melaju tanpa terganggu maupun mengganggu pengguna jalan lain. Jalur khusus yang juga dapat menjaga atau menjamin keselamatan mereka dari tertabrak oleh kendaraan yang ada di jalan.
Gagasan ini memang hanyalah sekedar gagasan yang tiba-tiba saja terlintas di suatu sore kala saya sedang melintas di jalan raya. Namun saya rasa gagasan ini layak juga untuk dipikirkan lebih lanjut oleh pemerintah dan jika memang layak untuk ditindaklanjuti, mengapa tidak ? Bukankah pemerintah kota Jakarta menyediakan jalur khusus untuk busway dan di kota Surabaya jalur untuk kendaraan roda dua dan roda empat juga dibedakan ? Mengapa tidak pula dibuat suatu jalur lagi untuk para pedagang makanan keliling ? Bagaimana menurut kalian ?

Sunday, 25 September 2011

Brand New Name (Selalu Ada Cerita Dibalik Sebuah Nama)

Kita pasti sering mendengar mengenai pentingnya perubahan. Pagi ini, secara tiba-tiba kata perubahan itu muncul dalam pikiran saya, dan didorong oleh kesadaran mengenai pentingnya perubahan serta keinginan diri saya sendiri untuk berubah dan menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya, maka hari ini saya memutuskan untuk menciptakan (baca: mengganti) nama blog saya. Sebuah nama baru yang saya harapkan dapat menjadi ciri baru bagi blog saya maupun bagi diri saya sendiri. Sebuah nama yang akan menjadi sebuah cerita.
Nama lama blog ini, Thinkerman alias Si Tukang Pikir, namun seiring dengan berjalannya waktu saya berpikir dan semakin sadar bahwa berpikir saja tidak akan pernah cukup. Jika saya hanya menjadi tukang pikir, maka kemungkinan besar saya memang akan mampu melahirkan banyak gagasan besar dan hebat, tetapi kemungkinan besar seluruh gagasan hebat tersebut hanya akan menjadi sebuah gagasan yang hebat dan tidak akan memiliki wujudnya yang nyata. Saya sadar bahwa berpikir memang penting, namun sekedar berpikir tidak akan pernah cukup. Berpikir saja tidak akan membantu saya untuk melahirkan karya-karya nyata yang hebat.

Saturday, 24 September 2011

Menang Atas Diri Sendiri

Beberapa bulan yang lalu, saya pernah mendengar kalimat yang menjadi judul tulisan ini. Sejak saat itu hingga sekarang, saya masih sering mendengar atau membaca kalimat tersebut. Kalimat tersebut juga terus terngiang-ngiang di telinga serta terus muncul di pikiran saya.
Saya tidak akan pernah atas orang lain, jika saya tidak dapat menang atas diri saya sendiri. Yang saya maksudkan dengan menang disini bukanlah memenangkan perkelahian, sengketa, cekcok, adu pendapat yang tidak penting, dan segala jenis kemenangan yang negatif lainnya. Namun, kemenangan atas orang lain yang saya maksudkan adalah bagaimana saya dapat memenangkan perasaan mereka, mampu memimpin mereka, mampu mengarahkan cara berpikir dan bertindak, serta mampu berdamai dengan mereka. Saya tidak mungkin menang atas semuanya itu, jika saya tidak menang atas diri saya sendiri dalam semua hal tersebut.
Saya tidak mungkin menang atas orang lain, jika saya belum pernah menang atas diri saya sendiri. Pernyataan terus dan terus terngiang di pikiran saya, hingga akhirnya saya benar-benar menyadarinya. Saya tidak mungkin mampu mendisiplin orang lain, jika saya tidak mampu mendisiplin diri saya sendiri. Saya tidak mungkin mampu memimpin orang lain, jika saya tidak mampu memimpin diri saya sendiri. Saya tidak dapat memahami orang lain, jika saya tidak terlebih dahulu dapat memahami diri saya sendiri. Saya tidak mungkin mampu berdamai dengan orang lain, jika saya tidak mampu berdamai dengan diri saya sendiri. Semua hal tersebut menjadikan saya tersadar dan sekaligus menjadi pemicu awal saya untuk mulai belajar kembali mengenai disiplin diri, kepemimpinan diri, manajemen diri, pengenalan yang mendalam akan diri sendiri, kemampuan untuk berdamai dengan segala masa lalu saya, dan sebagainya.
Saya akhirnya benar-benar percaya bahwa saya tidak akan mampu menang, bersahabat, mengerti atau memahami, memimpin, mendisiplin orang lain, jika saya tidak terlebih dahulu mampu melakukannya terhadap diri saya sendiri. Saya harus berupaya menang atas diri saya sendiri sebelum saya dapat menang atas orang lain. Bagaimana menurut kalian ?

Thursday, 22 September 2011

Belajar dari SpongeBob

Saya sebenarnya tidak terlalu suka (baca: berupaya mengurangi) menonton televisi, khususnya untuk acara yang tidak bermutu dan film kartun, maka dari itu tentu saja saya juga jarang menonton film SpongeBob. Saya sesekali memang menontonnya sambil saya makan, itupun juga karena teman satu kos saya yang gemar menonton film tersebut dan dia sedang menontonnya, jadi saya pun terpaksa ikut menonton. Saya menontonnya hanya sampai acara makan saya usai. Namun dari proses menonton yang hanya sekilas-sekilas tersebut, saya tetap dapat memperoleh suatu hal yang bermakna dari film tersebut. Saya memperoleh suatu hal yang dapat menjadi inspirasi bagi saya dan kemungkinan juga bagi banyak orang.
Tokoh SpongeBob sebenarnya adalah tokoh yang baik, jika kita mau jeli mencermatinya. Dia merupakan tokoh yang setia, loyal, ceria, tekun dan disiplin dalam bekerja, dan juga ceria. Namun kali ini saya lebih menyoroti aspek loyalitas, ketekunan, serta kedisiplinannya dalam bekerja. Saya sempat menonton salah satu episode dimana tokoh SpongeBob diberi cuti kerja oleh majikannya Tuan Crab, tetapi dia tetap memaksa untuk masuk bekerja. Dia ingin tetap bekerja karena dia merasa bosan di rumah dan ingin membantu agar restoran Tuan Crab dapat tetap laris serta menghasilkan banyak keuntungan. Dia tetap ingin bekerja dan tidak ingin libur karena dia tahu bahwa dia lah satu-satunya juru masak di restoran tersebut. Dia tahu jika dia tidak masuk, maka tidak akan ada orang lain yang dapat menggantikan dia untuk memasak menu istimewa di restoran tersebut. Dia tetap memaksa masuk kerja, bahkan secara diam-diam, meskipun bosnya telah mengijinkan dan memaksa dia untuk mengambil cuti sebab dia tidak pernah mengambil cuti.

Monday, 19 September 2011

Rutin Berlatih

Dahulu, pada masa awal saya kuliah, saya mempunyai satu kebiasaan yang selalu jalankan bahkan ketika liburan sekalipun. Kebiasaan tersebut adalah tetap belajar atau tetap berlatih. Setiap kali liburan kuliah saya selalu pulang ke rumah dan sesaat sebelum pulang ke rumah saya biasanya bertanya pada diri saya sendiri beberapa pertanyaan, “liburan kali ini belajar apa ?”, “buku apa yang akan saya baca pada liburan kali ini ?”, dan “bagaimana saya mengisi liburan kali ini ?”. Saya selalu menanyakan pertanyaan-pertanyaan tersebut, bahkan sejak jauh-jauh hari sebelum masa liburan tiba. Kebiasaan tetap belajar tersebut pada akhirnya mampu membawa saya menjadi salah seorang individu yang memiliki semangat serta kualitas yang berbeda.
Namun, selama sekitar tiga tahun terakhir, saya melupakan kebiasaan baik yang saya miliki di awal hingga pertengahan masa kuliah, sehingga kualitas diri saya menurun dan begitu pula dengan kualitas dari setiap hal yang saya kerjakan. Sekitar satu bulan terakhir, saya akhirnya kembali tersadar bahwa saya perlu berupaya keras untuk memulai kembali kebiasaan baik tersebut. Saya perlu berupaya untuk membiasakan diri saya sendiri tetap rutin belajar dan berlatih agar diri saya senantiasa dalam kondisi terbaik serta selalu bertumbuh dan menjadi pemenang dalam setiap situasi.

KumpulBlogger