Thursday, 13 December 2012

Selalu Kembali Ke Jalur Yang Benar


Setiap kita di sepanjang perjalanan hidup kita memiliki kemungkinan untuk keluar dari jalur hidup yang benar yang telah kita rancang untuk kehidupan masa sekarang maupun masa depan kita. Kita mungkin telah merancang jalur target maupun jalur impian yang harus kita kejar atau wujudkan, namun di sepanjang perjalanan dengan adanya berbagai macam godaan yang datang dari luar serta adanya sesuatu yang ‘kurang tepat’ di dalam diri maupun pikiran kita, kita dapat teralihkan atau keluar dari jalur rancangan kita sendiri.
Namun, walau sebanyak apapun godaan yang sering membuat kita keluar dari ‘jalur’ tersebut, selalu ada satu hal yang juga harus menyertainya yaitu kesadaran diri. Kesadaran diri bahwa kita telah keluar dari ‘jalur’ yang sudah seharusnya dan semestinya kita lalui. Kesadaran untuk segera kembali ke ‘jalur’ yang benar segera setelah menyadarinya bahwa kita telah keluar ‘jalur’. Kesadaran untuk kembali berada di track yang tepat dalam upaya meraih seluruh target dan mewujudkan impian kita. Saya pikir, tidaklah terlalu menjadi masalah bahwa kita pernah atau sedang keluar ‘jalur’, yang paling menjadi masalah atau fokus utama kita seharusnya adalah memunculkan kesadaran diri agar dapat mengetahui apakah kita sudah berada di ‘jalur’ atau arah yang benar atau tidak. Kesadaran dan kemampuan untuk introspeksi diri pribadi guna terus mengetahui serta mengawasi arah perjalanan hidup yang sedang kita lalui dan tempuh. Kesadaran dan kemampuan untuk mengawal tiap ayunan langkah kehidupan kita serta kemampuan untuk mengembalikannya ke ‘jalur’ yang benar setiap kali kita menyimpang.

Saturday, 10 November 2012

Anda Tidak Harus Kuliah !

Dahulu, saya berpikir bahwa setelah lulus dari masa pendidikan menengah atas saya harus melanjutkan ke bangku kuliah. Itu pula yang sering saya dengar dari orang tua, rekan-rekan sekolah saya, dan beberapa orang lain. Namun, kini saya menyadari dan berani mengatakan bahwa Anda (kita) tidaklah harus melanjutkan pendidikan ke jenjang bangku kuliah (pendidikan tinggi). Benar, Anda tidak harus melanjutkan pendidikan ke jenjang tertinggi tersebut.
Saya mengatakan bahwa Anda tidaklah harus melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah, namun bukan berarti Anda tidak perlu kuliah. Anda dapat saja melanjutkan kuliah jika Anda merasa perlu dan yakin bahwa kalian akan dapat memperoleh ilmu yang benar-benar berharga disana. Ilmu yang kalian yakini dapat membantu kalian untuk meraih masa depan yang lebih cerah atau membantu kalian untuk dapat mewujudkan atau meraih impian masa depan kalian. Kalian dapat saja memutuskan untuk kuliah jika kalian dengan pasti mengetahui bahwa pendidikan universitas akan memberi kalian semua pengetahuan dan keahlian yang pasti dapat kalian gunakan untuk tujuan masa depan kalian. Pengetahuan dan keahlian yang benar-benar dapat digunakan segera setelah kalian menyelesaikan kuliah (lebih baik lagi jika sebelum lulus pun sudah dapat digunakan), bukan sekedar teori-teori yang tidak jelas dimana dapat digunakan atau bahkan yang lebih parah lagi tidak jelas apakah benar-benar dapat dipraktikkan.
Saya berikan satu contoh mengenai argumen saya di atas. Misal, kalian bermimpi menjadi seorang artis peran profesional, maka jika kalian tahu bahwa untuk meraihnya kalian membutuhkan pendidikan universitas, maka pergilah kuliah. Jika tidak, janganlah kuliah, lebih baik mengikuti kursus atau pelatihan yang diadakan oleh artis peran berpengalaman atau belajar langsung dari mereka dengan menjadi rekan mereka dalam suatu film. Meskipun tentu saja untuk dapat menjadi rekan mereka, kalian harus berupaya keras agar dapat diterima melalui audisi agar dapat menjadi seorang pemeran dalam suatu film yang dibintangi mereka, tanpa terlalu apapun peran yang kalian dapat (termasuk figuran sekalipun).

Saturday, 20 October 2012

Pengalaman Apapun Ada Sebagai Pelajaran


Saya sedang membaca sebuah buku pengembangan diri, buku yang ditulis oleh salah seorang pengembangan diri dan juga penulis buku ternama yang telah berhasil mempraktekkan segala sesuatu yang dia tulis dalam bukunya maupun ajarkan dalam setiap pelatihan yang diadakannya. Saya membaca karyanya dengan tujuan untuk membantu membimbing saya agar dapat terus bertumbuh dan bertumbuh ke level berikutnya. Tulisan ini adalah salah satu dari begitu banyak pelajaran hebat yang dia ajarkan. Semoga sharing saya bermanfaat.
Setiap hari dalam hidup yang kita jalani, dapat dipastikan bahwa kita pasti selalu mengalami segala kejadian maupun peristiwa kehidupan. Peristiwa baik maupun peristiwa yang kita anggap kurang baik. Satu hal yang berhasil saya pelajari dari pelatih dan mentor saya tersebut adalah bahwa setiap pengalaman yang kita alami dalam kehidupan kita sehari-hari adalah baik. Pengalaman tersebut adalah baik dan sempurna adanya dan memang diijinkan untuk ada disana untuk kebaikan kita sendiri. Seluruh pengalaman tersebut ada untuk menyempurnakan diri dan kehidupan kita serta memperkaya diri kita.
Kita harus belajar untuk mau menerima seluruh pengalaman yang datang dalam hidup kita, pengalaman baik maupun pengalaman kurang baik. Menerimanya dengan tulus dan mengambil pelajaran dari setiap pengalaman apapun jenisnya akan dapat mendorong serta membantu kita menjadi individu yang lebih baik. Terimalah dan cintailah setiap masalah yang datang dalam hidup kita. Cintailah masalah apapun yang datang dalam hidup kita, namun sertailah dengan suatu kesadaran untuk mengubahnya dan memanfaatkannya untuk membantu kita bertumbuh.

Thursday, 27 September 2012

Knowledge to Survive


“Seseorang dapat bertahan dengan atau tanpa gelar. Tidak ada dampak secara langsung antara gelar dengan survival, tetapi knowledge dengan survival. Tujuan kita ke kampus kan untuk belajar.” – Arief Widhiyasa, CEO of Agate Studio, Drop Out ITB.
Kalimat di atas merupakan sebuah kalimat yang dahsyat bukan ? Saya secara tidak sengaja menemukan kalimat tersebut tahun 2011 lalu kala sedang membaca sebuah artikel berita di salah satu situs berita online ternama. Kalimat tersebut diucapkan oleh seseorang yang masih sangat muda (sekitar usia 24 tahun pada waktu artikel berita tersebut dimuat) yang mengetahui passion serta impiannya dan berani memperjuangkan dengan cara mengambil sebuah keputusan yang berani pula. Kalimat yang sudah selayaknya menyadarkan semua generasi muda mengenai tujuan yang sesungguhnya dari belajar, khususnya belajar di bangku kuliah.
Saya masih ingat benar, sewaktu masa kuliah dulu, beberapa diantara rekan-rekan saya tampaknya berada di bangku kuliah hanya sekadar untuk ‘kuliah’ dan memperoleh gelar, tidak terlihat atau sangat sedikit terlihat bahwa niat mereka kuliah adalah untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan yang akan bermanfaat bagi mereka di masa depan. Beberapa diantara mereka tampaknya kuliah hanya sekadar ‘kuliah’, datang, absen, dan pulang setelah selesai (bahkan beberapa sudah meninggalkan kelas sebelum waktunya). Kala masa ujian pun tiba, mereka sekadar datang dengan harapan mendapatkan contekan jawaban dari rekannya yang lain yang mereka anggap lebih pintar dari mereka.
Kala itu, saya sangat tidak setuju dengan cara mereka. Saya pun selalu memilih tempat duduk pada posisi se-depan mungkin kala ujian agar tidak memberi mereka kesempatan untuk mencontek. Saya tidak merasa sok pintar, sebab saya tahu ada beberapa teman yang lebih pintar dari saya. Namun saya berpikir bahwa saya ada disana untuk belajar dan berjuang untuk mewujudkan impian saya yaitu memperoleh nilai sebaik mungkin dan saya juga bahwa setiap orang harus memperjuangkan nasib mereka sendiri, bukan menggantungkan nasib pada orang lain. Kita dapat meminta tolong pada orang lain, namun pada saat yang tepat dan untuk tujuan yang tepat, serta tidak terkesan menggantungkan nasib pada orang lain.

Wednesday, 26 September 2012

Siapapun Punya Pilihan dan Berhak Memilih !


Selama beberapa bulan terakhir, saya belajar mengenai hal ini, yaitu pilihan. Penulis dari salah satu buku yang saya baca beberapa bulan lalu membuka pikiran saya mengenai pilihan. Suatu gagasan yang merasuk ke dalam pikiran yang membuat saya berubah pikiran tentang pilihan yang dimiliki oleh setiap orang.
Sejauh yang saya akhir-akhir ini sadari dan pahami, saya sering kecewa atau kurang suka ketika ada rekan yang saya tawarkan gagasan untuk bekerja bersama mewujudkan suatu impian tertentu yang menantang, sangat besar, dan sangat menggairahkan untuk dicapai. Impian yang saya tahu dengan pasti akan memberikan imbal balik yang sesuai dan sangat luar biasa. Itulah sekilas tentang sebagian dari pola pikir saya di masa lalu.
Namun selama sekitar tiga bulan terakhir, saya belajar dan terus belajar untuk mampu menerima keadaan dengan menyadari bahwa rekan-rekan yang saya tawari untuk bekerja sama mewujudkan impian juga berhak untuk memilih dengan siapa mereka ingin bekerja sama. Mereka memiliki pilihan yang berhak mereka gunakan dalam hidup mereka. Menyadari hal tersebut, saya dapat semakin menerima ketika ada rekan yang saya tawari tentang gagasan untuk mewujudkan impian-impian besar, namun mereka tidak mau menerima tawaran saya.
Di satu sisi, saya semakin dapat menerima perbedaan pandangan dan pilihan hidup yang saya maupun rekan-rekan saya pilih. Di sisi yang lain, saya juga menyadari serta mengingatkan pada diri saya sendiri bahwa baik saya maupun mereka juga harus bersedia menerima konsekuensi dalam hal apapun terkait pilihan yang kami buat. Kami harus berani bertanggung jawab atas segala hasil maupun akibat yang diperoleh dari pilihan yang telah kami buat, entah itu hasil baik atau hasil kurang baik.

Saturday, 22 September 2012

Tipe-Tipe Database Utama


Sebagai seseorang dengan latar belakang pendidikan komputer dan bidang pekerjaan terkait dengan pengembangan perangkat lunak untuk beragam tujuan, termasuk pengolahan data, maka secara umum tidak dapat lepas pula dari perlunya pengetahuan dan keahlian dalam bidang database. Secara umum banyak sekali database, namun terdapat empat tipe database utama yang akan dijelaskan secara ringkas dalam tulisan kali ini. Sumber tulisan ini berasal dari buku yang berjudul: Oracle 11g for Dummies. Saya kebetulan sedang membaca buku tersebut sebagai bentuk persiapan sebelum memberikan kursus database dan sekaligus untuk mengupgrade pengetahuan dan keahlian. Berikut empat jenis database tersebut.
Online Transactional Processing (OLTP) merupakan tipe atau jenis database yang digunakan untuk mendukung aplikasi yang berorientasi transaksi dimana diperlukan adanya respon yang cepat dan sejumlah besar data baru akan dimasukkan atau diubah secara teratur.
Decision Support System (DSS) merupakan tipe database yang digunakan untuk melakukan pemrosesan data serta melakukan penilaian terhadap data untuk mendukung pengambilan keputusan. Tipe database ini biasanya melibatkan sejumlah besar query yang bersifat sementara saja.
Online Analytical Processing (OLAP) merupakan tipe database yang digunakan untuk melakukan analisa data. Umumnya tipe database ini digunakan untuk intelejen bisnis maupun penggalian informasi dari data, seperti penentuan anggaran atau peramalan (forecasting).
Hybrid merupakan tipe database yang bersifat multifungsi. Sebagian besar database hybrid memuat kemampuan untuk berurusan dengan data transaksional, memproses query sementara, dan melakukan sejumlah pemrosesan lain. Tipe-tipe database dengan ukuran lebih besar yang memiliki kebutuhan pada tingkat layanan pada umumnya terhubung secara langsung dengan basis data yang hendak diolah dengan tujuan untuk kemudahan dalam pengelolaan serta peningkatan performa kerja.
Demikian berbagi pengetahuan kali ini yang membahas secara singkat mengenai empat tipe database utama. Semoga pengetahuan yang saya bagi dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Jika ada komentar, pertanyaan, ingin berbagi pengetahuan, maupun membutuhkan layanan untuk pelatihan bidang komputer, silakan tinggalkan komentar pada tulisan ini. Saya nantikan komentarnya ?

Nasib Kita Di Tangan Siapa ?


Hi, apa kabar semua pengunjung setia blog Action Man ini ? Tulisan terbaru untuk kalian semua dan untuk kita renungkan bersama di pagi hari ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua.
Nasib, kita sering mendengar kata ini dituliskan maupun diucapkan bukan ? Kita sering mendengar banyak hal seputar, mulai nasib baik, nasib buruk, nasib mujur, dan sebagainya. Kita juga seringkali mengaitkan kesuksesan atau kegagalan seseorang atau diri kita sendiri dengan nasib atau keberuntungan. Benar demikian bukan ?
Pertanyaannya, jika memang benar nasib itu ada dan tingkat sukses atau gagal kita dipengaruhi oleh nasib atau kemujuran, siapakah yang bertanggung jawab terhadap nasib kita ? Beberapa waktu lalu, saya membaca sebagian dari buku pengembangan yang diri yang menurut saya luar biasa bagus. Buku tersebut berjudul, Master Your Mind Design Your Destiny yang ditulis oleh seorang motivator dan sekaligus pengusaha asal Singapura, Adam Khoo. Saya menyebutkan judul dan pengarang buku tersebut bukan untuk mempromosikannya dengan alasan apapun, kecuali bahwa buku tersebut memang bagus dan kemungkinan besar dapat memberikan manfaat bagi kalian.
Dalam buku Master Your Mind Design Your Destiny, sang penulis menyebutkan bahwa kita adalah orang yang bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita. Kita bertanggung jawab terhadap pikiran kita, ucapan kita, tindakan kita, kesuksesan maupun kegagalan yang kita raih, tingkat pemahaman orang lain terhadap diri kita maupun ucapan dan tindakan kita. Pada intinya kita semua memegang tanggung jawab penuh terhadap segala yang kita dapatkan, rasakan, pikirkan, maupun yang orang lain rasakan atau pikirkan terhadap diri kita.

‘Menderita’ Untuk Bertumbuh


Zona nyaman, saya percaya kita semua sudah sering mendengarnya bukan ? Seperti kita mungkin sudah sering ketahui dan dengar, para motivator maupun trainer pertumbuhan sering menyebutkan bahwa zona nyaman adalah musuh dari pertumbuhan pribadi. Pada saat kita mulai sesuatu, entah pekerjaan atau aktivitas lainnya, mungkin merasa tidak nyaman. Namun seiring mulai seringnya kita melakukan sesuatu tersebut, maka perlahan tetapi pasti kita mulai merasa nyaman. Benar demikian bukan ?
Tulisan ini saya buat bukan untuk memotivasi siapapun, sebab saya bukanlah seorang motivator, walaupun secara pribadi saya juga senang mendengar para motivator maupun membaca karya-karya mereka. Tulisan ini saya buat secara tiba-tiba ketika membaca sebuah artikel berita yang ditulis oleh seorang CEO dari salah satu BUMN besar di Indonesia. Pada salah satu bagian artikel tersebut, secara gamblang dia menyebutkan bahwa jika perusahaan yang dia pimpin ingin menjadi lebih besar dan bahkan berbicara di tingkat regional, maka setiap orang dalam perusahaan harus terbiasa untuk merasa tidak nyaman. Sebab untuk dapat terus bertumbuh seringkali memang menyakitkan.
Membaca pernyataan tersebut, saya semakin diingatkan kembali tentang kenyamanan. Akhir-akhir ini saya pun sudah sering membaca, mendengar, dan bahkan mengucapkannya sendiri bahwa jika saya ingin terus bertumbuh, menjadi lebih baik, lebih besar, lebih sukses, dan sebagainya, maka saya harus belajar untuk ‘memaksa’ diri saya sendiri untuk melampaui semua batasan yang ada dalam diri saya saat ini. Saya meyakini bahwa hal itu benar adanya, walaupun saya sendiri juga mengetahui bahwa seringkali zona nyaman itu memerangkap diri sendiri untuk dapat bertumbuh melampaui batasan-batasan yang ada dalam diri saya maupun di lingkungan sekitar saya.

KumpulBlogger