Sunday, 25 September 2011

Brand New Name (Selalu Ada Cerita Dibalik Sebuah Nama)

Kita pasti sering mendengar mengenai pentingnya perubahan. Pagi ini, secara tiba-tiba kata perubahan itu muncul dalam pikiran saya, dan didorong oleh kesadaran mengenai pentingnya perubahan serta keinginan diri saya sendiri untuk berubah dan menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya, maka hari ini saya memutuskan untuk menciptakan (baca: mengganti) nama blog saya. Sebuah nama baru yang saya harapkan dapat menjadi ciri baru bagi blog saya maupun bagi diri saya sendiri. Sebuah nama yang akan menjadi sebuah cerita.
Nama lama blog ini, Thinkerman alias Si Tukang Pikir, namun seiring dengan berjalannya waktu saya berpikir dan semakin sadar bahwa berpikir saja tidak akan pernah cukup. Jika saya hanya menjadi tukang pikir, maka kemungkinan besar saya memang akan mampu melahirkan banyak gagasan besar dan hebat, tetapi kemungkinan besar seluruh gagasan hebat tersebut hanya akan menjadi sebuah gagasan yang hebat dan tidak akan memiliki wujudnya yang nyata. Saya sadar bahwa berpikir memang penting, namun sekedar berpikir tidak akan pernah cukup. Berpikir saja tidak akan membantu saya untuk melahirkan karya-karya nyata yang hebat.

Saturday, 24 September 2011

Menang Atas Diri Sendiri

Beberapa bulan yang lalu, saya pernah mendengar kalimat yang menjadi judul tulisan ini. Sejak saat itu hingga sekarang, saya masih sering mendengar atau membaca kalimat tersebut. Kalimat tersebut juga terus terngiang-ngiang di telinga serta terus muncul di pikiran saya.
Saya tidak akan pernah atas orang lain, jika saya tidak dapat menang atas diri saya sendiri. Yang saya maksudkan dengan menang disini bukanlah memenangkan perkelahian, sengketa, cekcok, adu pendapat yang tidak penting, dan segala jenis kemenangan yang negatif lainnya. Namun, kemenangan atas orang lain yang saya maksudkan adalah bagaimana saya dapat memenangkan perasaan mereka, mampu memimpin mereka, mampu mengarahkan cara berpikir dan bertindak, serta mampu berdamai dengan mereka. Saya tidak mungkin menang atas semuanya itu, jika saya tidak menang atas diri saya sendiri dalam semua hal tersebut.
Saya tidak mungkin menang atas orang lain, jika saya belum pernah menang atas diri saya sendiri. Pernyataan terus dan terus terngiang di pikiran saya, hingga akhirnya saya benar-benar menyadarinya. Saya tidak mungkin mampu mendisiplin orang lain, jika saya tidak mampu mendisiplin diri saya sendiri. Saya tidak mungkin mampu memimpin orang lain, jika saya tidak mampu memimpin diri saya sendiri. Saya tidak dapat memahami orang lain, jika saya tidak terlebih dahulu dapat memahami diri saya sendiri. Saya tidak mungkin mampu berdamai dengan orang lain, jika saya tidak mampu berdamai dengan diri saya sendiri. Semua hal tersebut menjadikan saya tersadar dan sekaligus menjadi pemicu awal saya untuk mulai belajar kembali mengenai disiplin diri, kepemimpinan diri, manajemen diri, pengenalan yang mendalam akan diri sendiri, kemampuan untuk berdamai dengan segala masa lalu saya, dan sebagainya.
Saya akhirnya benar-benar percaya bahwa saya tidak akan mampu menang, bersahabat, mengerti atau memahami, memimpin, mendisiplin orang lain, jika saya tidak terlebih dahulu mampu melakukannya terhadap diri saya sendiri. Saya harus berupaya menang atas diri saya sendiri sebelum saya dapat menang atas orang lain. Bagaimana menurut kalian ?

Thursday, 22 September 2011

Belajar dari SpongeBob

Saya sebenarnya tidak terlalu suka (baca: berupaya mengurangi) menonton televisi, khususnya untuk acara yang tidak bermutu dan film kartun, maka dari itu tentu saja saya juga jarang menonton film SpongeBob. Saya sesekali memang menontonnya sambil saya makan, itupun juga karena teman satu kos saya yang gemar menonton film tersebut dan dia sedang menontonnya, jadi saya pun terpaksa ikut menonton. Saya menontonnya hanya sampai acara makan saya usai. Namun dari proses menonton yang hanya sekilas-sekilas tersebut, saya tetap dapat memperoleh suatu hal yang bermakna dari film tersebut. Saya memperoleh suatu hal yang dapat menjadi inspirasi bagi saya dan kemungkinan juga bagi banyak orang.
Tokoh SpongeBob sebenarnya adalah tokoh yang baik, jika kita mau jeli mencermatinya. Dia merupakan tokoh yang setia, loyal, ceria, tekun dan disiplin dalam bekerja, dan juga ceria. Namun kali ini saya lebih menyoroti aspek loyalitas, ketekunan, serta kedisiplinannya dalam bekerja. Saya sempat menonton salah satu episode dimana tokoh SpongeBob diberi cuti kerja oleh majikannya Tuan Crab, tetapi dia tetap memaksa untuk masuk bekerja. Dia ingin tetap bekerja karena dia merasa bosan di rumah dan ingin membantu agar restoran Tuan Crab dapat tetap laris serta menghasilkan banyak keuntungan. Dia tetap ingin bekerja dan tidak ingin libur karena dia tahu bahwa dia lah satu-satunya juru masak di restoran tersebut. Dia tahu jika dia tidak masuk, maka tidak akan ada orang lain yang dapat menggantikan dia untuk memasak menu istimewa di restoran tersebut. Dia tetap memaksa masuk kerja, bahkan secara diam-diam, meskipun bosnya telah mengijinkan dan memaksa dia untuk mengambil cuti sebab dia tidak pernah mengambil cuti.

Monday, 19 September 2011

Rutin Berlatih

Dahulu, pada masa awal saya kuliah, saya mempunyai satu kebiasaan yang selalu jalankan bahkan ketika liburan sekalipun. Kebiasaan tersebut adalah tetap belajar atau tetap berlatih. Setiap kali liburan kuliah saya selalu pulang ke rumah dan sesaat sebelum pulang ke rumah saya biasanya bertanya pada diri saya sendiri beberapa pertanyaan, “liburan kali ini belajar apa ?”, “buku apa yang akan saya baca pada liburan kali ini ?”, dan “bagaimana saya mengisi liburan kali ini ?”. Saya selalu menanyakan pertanyaan-pertanyaan tersebut, bahkan sejak jauh-jauh hari sebelum masa liburan tiba. Kebiasaan tetap belajar tersebut pada akhirnya mampu membawa saya menjadi salah seorang individu yang memiliki semangat serta kualitas yang berbeda.
Namun, selama sekitar tiga tahun terakhir, saya melupakan kebiasaan baik yang saya miliki di awal hingga pertengahan masa kuliah, sehingga kualitas diri saya menurun dan begitu pula dengan kualitas dari setiap hal yang saya kerjakan. Sekitar satu bulan terakhir, saya akhirnya kembali tersadar bahwa saya perlu berupaya keras untuk memulai kembali kebiasaan baik tersebut. Saya perlu berupaya untuk membiasakan diri saya sendiri tetap rutin belajar dan berlatih agar diri saya senantiasa dalam kondisi terbaik serta selalu bertumbuh dan menjadi pemenang dalam setiap situasi.

Monday, 12 September 2011

Siapa Bilang Disiplin Itu Enak ?

Mungkin ada sebagian dari kita yang pernah mendengar kalimat ini, “disiplin itu enak” ? Saya pernah mendengarnya, dan jika saya tidak salah ingat, saya juga pernah mengucapkannya. Namun, akhir-akhir ini saya mencoba membantah sendiri kalimat tersebut. Saya merasakan bahwa disiplin itu tidak enak. Salah besar jika ada yang mengatakan bahwa disiplin itu enak !
Saya harus akui bahwa selama beberapa waktu terakhir (tepatnya hampir dua tahun terakhir), saya telah menjadi kurang disiplin dan bahkan sudah dapat masuk kategori tidak disiplin. Saya terlambat dalam menghadiri beberapa acara yang telah ditentukan, saya terlambat datang pada suatu janji yang telah saya dan orang lain sepakati bersama, saya juga mengingkari serta menunda jadwal yang saya buat untuk diri saya sendiri. Setelah selama beberapa waktu menjalani kehidupan tidak disiplin, saya akhirnya tersadar bahwa saya tidak dapat selamanya seperti. Saya perlu segera kembali hidup disiplin.

Saya Butuh Tetap Bergerak

Setiap kita perlu belajar untuk mengenali diri kita sendiri serta belajar untuk dapat menangani atau memimpin diri kita sendiri. Hal inilah yang selama beberapa waktu terakhir kembali saya sadari. Saya belajar untuk dapat kembali mengenali diri saya yang sepenuhnya. Saya belajar untuk mengenal apakah yang benar-benar memotivasi saya, bagaimana saya dapat tetap termotivasi, apa yang menjadi kecintaan terbesar saya, bagaimana saya dapat menjadikan hari-hari saya berjalan dengan efektif, serta apa yang butuhkan. Pengenalan terhadap diri sendiri adalah sesuatu yang penting, sebab jika kita tidak dapat mengenali diri kita sendiri, maka kemungkinan besar kita tidak akan mampu mengenali orang lain serta berhubungan dengan baik dengan mereka.
Pagi ini, saya belajar sesuatu yang baru mengenai diri saya sendiri. Saya akhirnya menyadari bahwa agar diri saya tetap semangat serta terhindar dari kemalasan, maka saya perlu membuat diri saya tetap aktif dan tetap bergerak. Saya perlu membuat (baca: memaksa) diri saya sendiri untuk selalu aktif, bergerak, dan bergerak. Saya menemukan ketika saya terlalu banyak berpikir, duduk diam dalam waktu lama (bekerja maupun tidak), dan kurang bergerak, saya mengalami suatu kondisi yang disebut “pendinginan” secara fisik dan mental. Kondisi tersebut, jika berlangsung dalam waktu lama, akan menjadikan saya sebagai individu yang mengalami perhentian pertumbuhan secara pribadi.

Tuesday, 6 September 2011

Alasan Orang Menyia-Nyiakan (Membuang-Buang) Waktunya


Don't Sweat the Small Stuff...And It's All Small Stuff: Simple Things To Keep The Little Things From Taking Over Your LifeTulisan ini saya buat berdasarkan perenungan atas pengalaman pribadi saya selama dua tahun terakhir. Sebuah pengalaman yang tidak enak dan baru sekitar satu bulan terakhir saya menyadari dampaknya dalam hidup saya. Saya sia-siakan waktu saya selama dua tahun terakhir untuk hal-hal yang tidak sejalan dengan impian atau tujuan saya serta, hal-hal yang tidak memberikan banyak manfaat dalam hidup saya.
Pagi ini, saya membaca sebentar sebuah buku berjudul “The Don’t Sweat Guide for Graduates” yang jika diterjemahkan kurang lebih memiliki arti: Panduan Mengenai Hal-Hal yang Tidak Perlu Dikhawatirkan oleh Para Lulusan. Satu pelajaran yang saya dapatkan dari membaca singkat buku tersebut adalah orang akan cenderung menyia-nyiakan waktunya karena mereka merasa bahwa memiliki banyak waktu (waktu yang tidak terbatas). Penulis menyampaikan hal ini dalam hubungannya dengan sarannya agar para lulusan sekolah kejuruan, sekolah tinggi, universitas, maupun lembaga pendidikan apapun untuk tetap mempertahankan pekerjaan paruh waktu yang dijalaninya selama menjalani pendidikan sebagai suatu sarana agar mereka tetap memiliki kesibukan setiap harinya dan oleh karena itu mereka akan sadar bahwa tidak boleh atau tidak dapat menyia-nyiakan waktunya sebab esoknya mereka masih memiliki kesibukan yang perlu dilakukan atau dijalani.
Saya menyadari sendiri akan hal ini dalam kehidupan saya. Selama kuliah saya terbiasa aktif sekali di organisasi, selain tentu saja di perkuliahan. Namun di akhir-akhir masa kuliah, ketika secara peraturan, saya sudah tidak diperkenankan mengikuti aktivitas organisasi apapun serta ketika seluruh mata kuliah yang harus saya ambil sudah habis saya lahap, saya akhirnya menyadari bahwa ketiadaan kesibukan membuat saya merasakan seolah saya masih memiliki sangat banyak waktu untuk menyelesaikan tanggung jawab yang perlu saya selesaikan. Perasaan seolah saya masih memiliki sangat banyak waktu tersebut yang pada akhirnya membuat saya mulai menjadi seorang penunda pekerjaan, padahal sebelumnya saya bukanlah tipe orang yang suka menunda-nunda sesuatu. Saya bukanlah tipe orang yang suka melihat suatu pekerjaan dikerjakan dalam waktu yang terlalu lama. Saya adalah penggemar fanatik efektivitas tindakan dan pekerjaan. Namun karena mulai tidak adanya tekanan serta perasaan banyak waktu yang saya miliki membuat saya akhirnya berani sedikit menunda penyelesaian pekerjaan, yang pada akhirnya berdampak pada kebiasaan saya. Saya menjadi gemar menunda-nunda sesuatu, sehingga pada akhirnya tidak banyak hal yang dapat saya selesaikan dalam dua tahun terakhir.

Sunday, 28 August 2011

Indahnya Perbedaan

Inilah indahnya kehidupan kita.Yang tidak kalah indahnya adalah perbedaan dalam kehidupan ini.Yang kaya harus berterima kasih kepada yang miskin dan yang bernasib kurang beruntung.

Karena sangat banyak orang berpenghasilan rendah, mereka yang berpenghasilan dua puluhan juta rupiah atau lebih per bulan di sini dapat julukan kaya dan mampu mempekerjakan pembantu rumah tangga dan sopir. Bayangkan apa yang terjadi jika hampir semua orang di negeri ini kaya seperti di negara maju.

Senada dengan ini, orang yang pintar dan berpendidikan tidak boleh sombong kepada yang bodoh atau kurang berpendidikan. Karena banyak yang kurang pintar, mereka disebut pandai atau berpendidikan sehingga layak memperoleh posisi terhormat di perusahaan dengan gaji besar.

Mereka yang mempunyai pekerjaan tetap harus menghargai belasan hingga puluhan juta orang di negeri ini yang kurang beruntung karena tidak berpenghasilan tetap.Karenanya, mereka mesti menciptakan pekerjaan sendiri agar dapat tetap hidup seperti berdagang kaki lima, buka warung di rumah,dan lainnya.

Tidak adanya tunjangan pengangguran atau bantuan sosial untuk para tunakarya membuat mereka tidak mampu ”menganggur”. Hanya orang yang kaya yaitu yang memiliki banyak aset/tabungan atau memiliki orang tua dan saudara yang bersedia ditumpangi yang mampu menganggur di negara kita. Menganggur adalah sesuatu yang ”mahal”.

Demikian juga dengan mereka yang dikaruniai wajah yang tampan dan cantik.Mereka mesti menghargai orang yang parasnya kurang menarik atau biasa-biasa saja. Yang mayoritas sebaiknya juga tidak memandang rendah minoritas.Karena ada minoritas, kelompok mayoritas mempunyai kepercayaan diri dan bargaining power yang lebih besar. Kesimpulannya, hidup ini sangat indah karena banyaknya perbedaan di antara kita.
(Artikel ini merupakan cuplikan dari artikel lengkap yang terdapat di alamat ini http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/424349/).

KumpulBlogger