Sunday, 14 February 2010

TIDAK PERNAH PUAS, TAPI BERSYUKUR

Beberapa kali aku mendengar bahwa jadi orang harus bisa puas atau harus belajar untuk puas. Namun aku punya pendapat yang sedikit berbeda, itulah inti tulisan ini yang bisa singkat atau panjang isinya. Selamat membaca.

Bagiku jadi orang harus tidak boleh puas, sebab hal itulah yang seringkali jadi sumber masalah buat kita. Orang yang cepat puas tidak akan bisa memperoleh hasil yang lebih tinggi dibandingkan apa yang sudah dia peroleh. Orang yang cepat puas juga akan membuat orang tersebut lupa bahwa dirinya belumlah orang yang terbaik atau dengan kata lainnya selalu masih ada orang yang lebih baik dibandingkan kita pada suatu bidang tertentu. Rasa puas akan membuat kita lupa untuk terus mengembangkan diri menjadi individu yang lebih baik dan lebih baik. Itulah yang sempat aku alami beberapa waktu lalu. Dengan menjadi Ketua Pekan Kampus 2009, aku merasa bahwa aku sudah meraih puncak prestasi keorganisasian. Tidak bisa disangkal bahwa hal itu memang benar, menjadi Ketua Pekan Kampus adalah prestasi puncak bagiku selama “karier” berorganisasi di kampus. Namun aku lupa bahwa jabatan tersebut menuntut diriku untuk berbuat lebih daripada ketika aku menjadi panitia biasa. Aku terlena oleh kesuksesan meraih posisi tersebut, sehingga aku lupa untuk terus mengembangkan diriku untuk bisa mengemban tanggung jawab tersebut dengan jauh lebih baik. Itulah salah satu contoh bahwa rasa puas, khususnya rasa cepat puas, itu tidaklah tepat, kalau tidak mau dibilang tidak baik. Akibat rasa puas kita bisa terlena dan tidak sadar bahwa orang-orang yang dulunya kalah hebat dibandingkan kita ternyata juga terus mengembangkan diri untuk menjadi lebih baik. Rasa puas inilah yang bisa menghancurkan diri kita sendiri dalam setiap langkah-langkah kehidupan kita.

Akibat rasa puas, kita yang awalnya sudah hebat, namun karena terlena dan puas akan kondisi kita saat ini menjadi merasa nyaman dengan kondisi tersebut dan menganggap bahwa kita akan selamanya menikmati posisi puncak yang sudah kita raih. Kita menganggap bahwa diri kita akan selalu jadi yang terhebat dan tak terkalahkan. Kita benar-benar sudah merasa nyaman dengan posisi kita sekarang dan menganggap bahwa itu sudah cukup. Sudah tidak perlu dan bahkan mungkin kita menganggap tidak bisa berkembang lagi. Kita menganggap bahwa kondisi kita di puncak sudah benar-benar mentok, jadi kita tidak perlu mengembangkan diri lagi. Inilah secuil akibat buruk dari rasa puas, yang sebenarnya mungkin masih banyak lagi akibat buruk dari rasa cepat puas.

Untuk rasa puas yang dimaksudkan oleh omongan beberapa orang yang pernah aku dengar tersebut seharusnya lebih tepat bila disebut dengan rasa syukur atau bersyukur. Kita tidak pernah boleh puas, namun harus selalu berusaha untuk bersyukur. Rasa puas membuat kita terlena sehingga lupa untuk terus mengembangkan diri jadi lebih baik, sedangkan rasa syukur akan membuat kita sadar bahwa Tuhan sudah memberikan kita segala sesuatu yang tidak dimiliki oleh sebagian besar orang yang kita jumpai. Rasa syukur akan mengingatkan diri kita sendiri bahwa Dia sudah sangat baik kepada kita sehingga kita tidak kekurangan apapun yang kita perlukan dalam hidup kita sehari-hari. Kita juga harus bersyukur bahwa kita boleh menikmati makan tiga kali sehari berupa makanan yang bergizi. Kita juga harus bersyukur bahwa kita diberi kesehatan yang prima sehingga kita bisa bekerja untuk memperoleh uang untuk mencukupi kebutuhan hidup kita sehari-hari. Kita juga harus bersyukur bahwa meskipun setidak mampu atau setidak beradanya kita, kita masih punya satu harta yang berharga yang tidak terbayarkan, yaitu nafas hidup dan udara disekiling kita. Ini menjadi bukti bahwa memang Dia sungguh teramat baik bagi hidup kita.

Maka jika boleh dibilang kita tidak boleh menjadi individu yang cepat puas dalam hidup ini. Karena dengan rasa puas kita tidak menghargai anugerah berupa kesempatan atau talenta-talenta yang sudah Dia beri dalam hidup kita. Kita lupa untuk mengembangkan diri sampai mencapai potensi terpenuh kita (our fullest capability). Kita diberi beban atau kewajiban untuk terus mengasah dan mengembangkan talenta yang sudah Tuhan berikan. Namun kita juga diingatkan oleh-Nya untuk tetap bersyukur apapun keadaan kita atau bagaimanapun buruknya kejadian yang kita alami dalam hidup. Maka mulai hari ini, kita semua harus berusaha mengingatkan pada diri kita sendiri untuk tidak pernah puas, namun selalu setia untuk bersyukur atas kasih dan karunia-Nya dalam hidup kita. Amin.

Tickerbar

KumpulBlogger