Monday, 5 January 2015

Untuk Apa Jadi Entrepreneur ?

Sejak sekitar pertengahan bulan Desember 2014 lalu, saya tengah membaca sebuah buku karya Merry Riana yang berjudul A Gift From A Friend. Salah satu bab dalam buku tersebut berjudul Vision, Action, Passion. Tulisan kali ini akan sedikit mengulas mengenai salah satu dari tiga bahasan dalam buku tersebut, yaitu Vision, khususnya dalam kaitannya dengan dunia entrepreneurship (kewirausahaan).
Sejak mendekati masa akhir kuliah (sekitar tahun 2008/2009), saya mulai mengenai lebih banyak mengenai entrepreneurship (kewirausahaan), terutama melalui seminar-seminar yang banyak diadakan oleh berbagai pihak, salah satunya oleh Entrepreneur University (EU). Melalui seminar-seminar tersebut, pikiran dan pandangan saya terbuka tentang suatu dunia baru, sebuah dunia diluar dunia menjadi karyawan atau pegawai, sebuah dunia yang tak banyak yang benar-benar berani terjun ke dalamnya. Secara umum, seminar-seminar yang saya ikuti tersebut memberikan motivasi agar setiap orang berani menjadi pengusaha untuk turut mendorong pertumbuhan dan kemajuan negara kita tercinta Indonesia.
Pada seminar-seminar tersebut, banyak kalimat yang diberikan untuk tujuan memompa semangat serta keberanian setiap peserta seminar yang hadir untuk berani menjadi pengusaha. Salah satu kalimat yang saya ingat berbunyi: “jadi pengusaha itu jangan menunggu kaya, tetapi jadilah pengusaha supaya kaya.” Ya benar, salah satu “iming-iming” yang diberikan oleh para pembicara seminar agar setiap peserta mau, berani, dan segera bertindak menjadi pengusaha adalah tentang kemungkinan untuk menjadi kaya dan bebas secara keuangan, waktu, dan sebagainya.
Lalu apa kaitannya antara sharing dari pembicara dalam seminar-seminar wirausaha tersebut dengan topik Vision yang menjadi salah satu bagian dari judul buku Merry Riana ? Vision bila diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi visi, gagasan, impian, dan sejenisnya. Dalam bab di buku Merry Riana tersebut, ditekankan bahwa sebelum menjadi seorang pengusaha (entrepreneur), kita harus tahu dengan jelas dan pasti visi apa yang kita miliki tentang kewirausahaan dan juga tentang diri serta hidup kita di masa depan. Membaca mengenai hal tersebut, saya jadi kembali “tersadar” tentang visi atau “iming-iming” yang dahulu sering saya dengar maupun baca dari para pembicara seminar wirausaha yang pernah saya ikuti, yaitu ”jangan tunggu kaya untuk jadi pengusaha, jadilah pengusaha supaya kaya.” Jujur saya kalimat tersebut merupakan salah satu visi dan motivasi saya untuk berani memaksa diri menjalankan usaha, yaitu supaya kaya dan memiliki kebebasan dalam aspek hidup saya.
Walaupun saat ini saya belum dapat dikatakan sudah benar-benar kaya, namun saya tetap bercita-cita untuk secepat mungkin menjadi pribadi yang kaya melalui bisnis yang saya jalankan. Karena saya juga meyakini bahwa untuk apa susah payah membangun serta menjalankan bisnis jika tidak meraih sukses, kekayaan, dan kemakmuran dalam segala aspek kehidupan. Memang untuk menuju atau meraih itu semua tidaklah mudah, terlalu banyak godaan dan ujian yang harus dijalani dan dilewati, termasuk godaan atau ujian untuk menyerah saat menghadapi kesulitan dan tantangan dalam bisnis. Namun saya bersyukur bahwa dengan mengingat visi (impian) saya serta dorongan dari para “mentor” dan para sahabat seperjuangan, akhirnya saya tetap dapat terus bertahan dalam upaya meraih kesuksesan seperti yang seharusnya sesuai dengan impian saya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa visi saya pribadi mengenai mengapa saya memilih jalur wirausaha adalah agar saya meraih kebebasan dalam aspek melalui bisnis yang saya jalankan serta dapat memberikan sebanyak mungkin kepada sebanyak mungkin (jutaan) orang atau pihak di seluruh penjuru alam semesta. Demikian visi saya tentang dunia entrepreneurship dan untuk apa (mengapa) jadi entrepreneur. Semoga visi tersebut dapat tercapai dalam waktu dan tempo yang sesingkat-singkatnya. Doakan ya !

Tickerbar