Sunday, 14 February 2010

MENGEMBANGKAN TALENTA: SEBUAH TANGGUNG JAWAB YANG KITA EMBAN DARI TUHAN

Saya yakin cerita perumpamaan tentang talenta yang ada di Alkitab adalah salah satu cerita yang pasti sudah sering kita dengar. Suatu cerita perumpamaan yang bagus di Alkitab. Cerita ini pula yang menginspirasi tulisan ini dibuat. Selamat membaca.

Akhir-akhir ini aku percaya bahwa tidak ada orang yang tidak punya keahlian atau bakat dalam dirinya. Setiap orang sudah diperlengkapi dengan semua kemampuan atau bakat yang sekiranya akan dibutuhkan olehnya untuk meraih prestasi puncak dalam hidup seturut dengan rencana Tuhan untuk setiap kehidupan kita. Seringkali banyak orang berkata bahwa mereka tidak memiliki bakat atau keahlian. Seringkali pula ada orang-orang yang merasa dia tidak sebaik orang lain dalam suatu bidang tertentu. Aku secara pribadi tidak percaya pada pernyataan yang pertama, namun aku percaya pada pernyataan yang kedua. Memang setiap kita diciptakan unik sesuai dengan rencana-Nya dalam hidup kita dan Dia telah melengkapi kita dengan semua talenta yang akan kita butuhkan, dan memang ada orang yang lebih berbakat dalam bidang tertentu dibandingkan kita. Namun yang menjadi masalah utama bukanlah apakah kita lebih berbakat dalam bidang tertentu dibandingkan orang lain atau kita kalah berbakat dibandingkan orang lain dalam bidang yang lain. Masalah yang paling utama yang perlu kita semua renungkan adalah, Sudahkah kita semua mengembangkan atau memaksimalkan semua talenta yang sudah Dia beri ?

Pertanyaan tersebut yang akhir-akhir ini sering mengusik diriku. Aku merasakan (dan mungkin juga melihat) banyak orang-orang yang sebenarnya sudah diberi anugerah bakat atau kemampuan atau talenta yang hebat dalam dirinya, namun seringkali mereka menyia-nyiakannya (mungkin begitu pula dengan diriku). Aku melihat dan merasakan bahwa seharusnya orang tersebut bisa lebih hebat daripada dirinya yang sekarang jika dia mau bersungguh-sungguh mengembangkan serta memanfaatkan seluruh kemampuan yang sudah diberi dalam dirinya. Dia terlalu menyia-nyiakan bakat dan kesempatan yang sudah diberikan kepadanya untuk terus berkembang dan berkembang menjadi seorang individu yang mencapai potensi terpenuhnya. Dia tidak memanfaatkan dengan baik semua anugerah untuk mencapai sesuatu yang terbaik bagi dirinya dan orang disekitarnya.

Perasaan bersalah karena tidak mengembangkan diri dengan maksimal ini pula yang sedang menghinggapi diriku. Aku baru saja menyadari bahwa sebenarnya Tuhan sudah begitu baik kepadaku. Dia sudah berikan kapabilitas dan kepercayaan yang besar kepadaku, namun aku terlalu menyia-nyiakan semua kemampuan dan kepercayaan yang sudah Dia berikan tersebut. Aku terlalu santai-santai dan kurang berusaha dengan keras untuk mencapai potensi terpenuh diriku sesuai dengan yang Dia inginkan dariku. Perumpamaan tentang talenta yang terdapat di kitab Matius inilah yang akhir-akhir ini menginspirasi sekaligus menegurku dengan keras untuk segera memaksimalkan diri sesuai dengan kapasitas yang besar yang ada dalam diriku. Hal ini pula yang akhirnya membuatku semakin rajin dan masih ingin lebih rajin lagi dalam mengembangkan diri mencapai potensi terpenuhku. Hal ini pula yang akhir-akhir ini mendorongku untuk mengingatkan orang lain agar memaksimalkan talenta yang sudah diberikan kepadanya sampai mencapai potensi terpenuh dirinya. Sungguh, akhir-akhir ini hal tersebut semacam menjadi visi tersendiri dalam hidupku. Aku rindu melihat generasi-generasi hebat yang baru dilahirkan di negara Indonesia. Generasi-generasi yang menurut Soe Hok Gie dikatakan sebagai generasi-generasi yang akan memajukan dan memakmurkan Indonesia.

Kini aku benar-benar semakin tergerak dan sekaligus terus diingatkan untuk memotivasi generasi-generasiku serta generasi-generasi dibawahku untuk terus mengembangkan diri. Aku sudah memulainya dengan memotivasi orang-orang terdekat disekitarku yang memang ingin dan bisa dimotivasi. Aku benar-benar ingin melihat mereka mencapai potensi terpenuh yang ada dalam diri mereka. Aku ingin melihat mereka jadi orang-orang hebat di dunia ini. Aku rindu dan sangat rindu untuk dapat melihat orang-orang hebat tumbuh dan kemudian aku dapat bekerja sama dengan mereka untuk mengembangkan orang-orang hebat lain. Suatu kerinduan yang berawal dari kesadaran bahwa mengembangkan talenta adalah suatu tanggung jawab lain yang sudah Tuhan berikan pada kita seperti yang dituliskan dalam kisah perumpamaan tentang talenta itu, “Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua, dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya” (hal ini berbicara tentang rencana atau kehendak Tuhan dalam hidup kita, oleh karena itu setiap orang bisa memiliki talenta yang berbeda-beda), “Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar” (hal ini berbicara tentang kewajiban kita untuk mengembangkan diri mencapai potensi terpenuh kita dan untuk memberikan laba bagi Tuhan berupa orang-orang yang juga kita bantu untuk berkembang mencapai potensi terpenuhnya).

Sekian tulisan ini, semoga berguna bagi kalian semua yang membacanya. Semoga tulisan ini juga memberikan inspirasi bagi kita semua untuk terus dan terus mengingatkan diri kita sendiri untuk tidak pernah berhenti mengembangkan diri sebelum mencapai potensi terpenuh kita. Bagi yang mungkin merasa tidak memiliki talenta, mintalah petunjuk kepada-Nya, bertanyalah talenta apa saja yang sudah Dia berikan dalam hidup kita. Minta pula kepada-Nya untuk memberikan talenta-talenta atau kemampuan-kemampuan baru yang sekiranya kamu inginkan atau kamu perlukan untuk menjadi individu yang lebih baik bagi-Nya, percayalah jika memang Dia akan memberikannya tepat pada waktu-Nya. Selamat berkembang mencapai potensi terpenuh diri kita ! Tuhan memberkati !

Tickerbar

KumpulBlogger