Sunday, 24 January 2010

SUATU PERJALANAN PANJANG YANG MEMBENTUKKU MENJADI SEPERTI SEKARANG PART 1

Beberapa waktu belakangan, setelah aku renungkan, akhirnya aku menemukan sebuah pemahaman penting dan berharga, aku bisa menjadi seperti sekarang karena adanya suatu perjalanan panjang yang kutempuh untuk dapat menjadi seperti sekarang. Suatu perjalanan yang sudah dimulai sejak 17 tahun yang lalu ketika aku mulai masuk sekolah dasar. Suatu perjalanan panjang yang sangat aku syukuri, karena aku boleh mengalami semua hal yang sangat berharga yang telah mengisi kehidupanku dan membentuk diriku menjadi seperti sekarang.

Aku masuk sekolah dasar pada umur 6,5 tahun (kalau aku tidak salah ingat). Aku selalu diantar oleh seorang pembantu mamaku. Ketika caturwulan pertama berakhir, nilaiku bisa dibilang cukup bagus dan masuk dalam peringkat 10 besar (begitu yang mamaku ceritakan). Namun meskipun aku tidak tahu sendiri atau mungkin sudah lupa, tetapi aku percaya hal itu. Sebab aku percaya pada apa yang mamaku ceritakan, sebab aku yakin tidak ada orang tua yang akan membohongi anaknya sendiri.

Namun peringkat kelasku semakin lama semakin turun seiring dengan bertambahnya tingkat kelasku. Aku makin lama makin malas dan mulai mengenal kenakalan-kenakalan yang bisa dibilang unik dan aneh-aneh. Kelas 3 SD, aku dan beberapa teman bermain-main di dalam kelas ketika pelajaran agama berlangsung, dimana waktu itu kebetulan gurunya berhalangan hadir jadi kita bebas beraktivitas sendiri di kelas. Kami bermain perang-perangan dengan memperagakan tokoh super one (salah satu keluarga dari ksatria baja hitam) dan beberapa monster. Kami melakukan persis seperti kejadian-kejadian yang terdapat pada film tersebut. Hampir setiap ada waktu luang, baik istirahat maupun jam kosong pelajaran, kami selalu memperagakan adegan film itu, hingga suatu ketika sebuah kejadian yang luar biasa terjadi. Saat sedang memperagakan adegan film itu, salah seorang yang tertabrak oleh teman lain yang badannya lebih besar menghantam lemari tempat buku-buku ulangan dan tugas disimpan yang terdapat di dalam kelas. Meskipun teman yang menghantam lemari tersebut berbadan kecil, tapi ternyata hal itu cukup untuk menyebabkan putusnya kunci pintu lemari tersebut. Dan sialnya, saat itu lemari sedang dalam keadaan terkunci, yang pada akhirnya mengakibatkan lemari tidak bisa dibuka. Kejadian tersebut membuat sebagian besar dari kami dihukum oleh guru dan kepala sekolah. Selanjutnya kami dilarang untuk memainkan permainan itu lagi. Begitulah pengalaman kelas 3 SD.

Kelas 4 SD, aku menjadi sedikit lebih nakal dibanding sebelumnya. Semakin sering berbuat ulah aneh-aneh. Kelasku waktu itu berhadapan langsung dengan pintu ruang guru, meskipun begitu kami masih saja berani berbuat ulah di dalam kelas. Kami bermain sentil-sentilan, begitu kami menyebutnya, dengan menggunakan alat berupa karet gelang dan kertas yang dilipat-lipat cukup tebal. Kertas yang sudah dilipat-lipat dipasangkan di karet gelang yang kemudian diregangkan dan akhirnya ketika regangan karet gelang dikendurkan dengan cepat membuat kertas meluncur dengan cukup keras kearah sasaran. Cukup sakit memang, tapi itu seru. Permainan ini terus berlanjut, sampai akhirnya terjadi suatu kejadian yang membuat permainan ini terpaksa dihentikan untuk selamanya. Salah seorang teman wanita kami yang kebetulan tidak suka dan tidak ikut bermain permainan ini terkena “tembakan” yang meleset dari sasaran utama. Sebuah “tembakan” yang cukup keras ini mengakibatkan dia menangis dan melapor ke guru. Akhirnya guru pun bertindak dan sekitar sepertiga kelas dihukum di depan kelas dengan cara berdiri berjajar sampai selesainya hari sekolah saat itu. Hukuman itu masih belum cukup, kami masih diharuskan menuliskan kalimat hukuman yang berbunyi, “Kami dilarang bermain sentil-sentilan lagi di dalam kelas”. Kalimat tersebut harus ditulis sebanyak 200 kali, jumlah yang cukup banyak untuk kami waktu itu. Hukuman tersebut harus diselesaikan dalam waktu satu hari saja dan setiap keterlambatan pengumpulan akan mendapatkan “bonus” tambahan hukuman 50 kali menulis kalimat yang sama.

Berhenti dengan permainan sentil-sentilan, beberapa waktu kemudian muncul permainan baru. Waktu itu di televisi sedang ditayangkan film berjudul Ninja Jiraiya. Film ini menginspirasi kami untuk menciptakan permainan baru. Permainan ini kami sebut ninja kertas. Kami berperan seolah-olah sebagai ninja yang memiliki teman-teman satu kelompok. Antar kelompok biasanya saling bertarung untuk menjadi yang terbaik dan ketika salah satu kelompok yang terlibat pertarungan sudah merasa hampir kalah, kami memanfaatkan kertas sebagai pengabur pandangan musuh agar kami dapat melarikan diri. Setiap menjelang waktu istirahat tiba, kami sudah mulai menyobek kertas yang akan kami jadikan bagian dari permainan tersebut. Begitu lonceng tanda istirahat berbunyi, kami langsung menyimpan kertas yang sudah disobek-sobek dan disiapkan sebelumnya itu pada kantong seragam sekolah yang kami pakai. Setiap kali kami selesai bermain-main, halaman disekitar kelas kami ataupun tempat dimana permainan berlangsung pasti penuh dengan potongan-potongan kertas berserakan dimana-mana. Memang kami benar-benar merepotkan sekali waktu itu. Namun sebagai anak-anak kami tentu saja belum terlalu sadar akan dampak permainan yang kami lakukan setiap kali ada waktu luang tersebut. Permainan ini terus berlangsung sampai kami naik kelas 5.

Di kelas 5 permainan dan kenakalan-kenakalan baru muncul. Kami mulai suka bermain bola di dalam kelas, saat jam kosong pelajaran maupun istirahat. Kami membuat bola dari bahan kertas yang digulung-gulung cukup besar dan membentuk bulatan seperti bentuk bola dan kemudian mengikatnya dengan karet gelang agar gulungan tidak mudah rusak. Biasanya dalam 1 tim terdiri dari 4-5 orang. Permainan ini terus berlanjut sampai akhirnya karena suatu kejadian juga permainan ini kembali dilarang. Ada satu permainan lain yang biasanya juga kami mainkan ketika kami sedang bosan dengan permainan-permainan lain yang sedang ngetrend, yaitu permainan banteng-bantengan. Permainan ini melibatkan kemampuan untuk dapat bekerja sama satu sama lain antar anggota tim. Permainan ini juga mensyaratkan setiap orang untuk dapat berlari secepat mungkin atau selincah mungkin untuk menghindari tangkapan dari musuh. Selain itu anggota tim yang belum tertangkap juga diwajibkan untuk membebaskan temannya yang sudah tertangkap. Sebuah tim dinyatakan kalah ketika anggotanya habis atau ketika musuh berhasil menyentuh tiang yang dijadikan simbol benteng pertahanan. Permainan ini sangat seru namun juga cukup menguras tenaga.

Pada kelas 5 pula, terkadang kami memainkan permainan kuis meniru acara kuis yang saat itu sedang ngetrend di televisi yaitu Kata Berkait atau kuis tebak-tebakan. Untuk kuis kata berkait, permainan ini dimainkan oleh kelompok, persis seperti kuis aslinya di televisi. Sedangkan kuis tebak-tebakan lebih mengandalkan kemampuan individu dalam menjawab pertanyaan yang diberikan. Kuis tebak-tebakan ini sangat menguntungkan bagi orang yang memiliki pengetahuan diatas rata-rata, sebab dia dapat memperoleh banyak uang yang waktu yang diberikan sebagai hadiah oleh penyelenggara yang mana merupakan salah seorang teman kami yang bisa dibilang cukup kaya untuk anak seukuran kami. Namun untuk dapat mengikuti kuis ini setiap orang juga diharuskan membayar biaya pendaftaran, namun tetap saja biaya pendaftaran masih tidak seberapa jika dibandingkan dengan hadiah yang akan diperoleh jika mampu menjawab pertanyaan. Permainan ini akhirnya dihentikan secara sepihak tanpa melalui peringatan atau pemberitahuan terlebih dahulu oleh guru ketika Beliau mengetahui bahwa permainan ini mengandung unsur perjudian. Sejak saat itu berakhirlah era permainan kuis-kuisan ini yang berlangsung selama beberapa bulan.

Pada kelas 5 ini pula, aku dan seorang teman berbuat kenakalan yang lebih dibanding teman-teman yang lain. Aku sempat memukul adik kelasku, yang pada akhirnya membuat aku dan seorang teman dihadang oleh kakaknya serta beberapa temannya. Aku sempat ketakutan, namun beruntung karena sekumpulan orang lain yang tiba-tiba tergerak untuk menolongku. Mungkin karena orang-orang yang menolongku tersebut lebih jago dibanding mereka yang mencoba menghadangku, akhirnya orang-orang yang menghadangku tersebut langsung pergi tidak lama kemudian. Kemudian orang-orang yang menolongku tersebut menjadi temanku selama beberapa waktu. Saat kelas 5 ini pula, aku pernah bermain petasan di sekolah. Meskipun mungkin hanya meledakkan sebuah petasan, aku akhirnya dipanggil menghadap ke ruang kepala sekolah keesokan harinya. Mungkin penjaga sekolah mengetahui ulahku dan seorang teman serta kemudian melaporkannya kepada ibu kepala sekolah. Namun sekali lagi aku beruntung karena aku dan temanku hanya diberi peringatan.

Menginjak kelas 6 SD kenakalanku mulai berkurang. Sudah saatnya mempersiapkan diri lebih baik untuk menghadapi EBTANAS (evaluasi belajar tahap akhir nasional). Aku belajar lebih baik dibandingkan sebelumnya dan ternyata hasilnya tidak mengecewakan, nilai hasil EBTANAS ku bahkan lebih tinggi dibandingkan temanku yang juara satu di kelas. Mama saja sampai tidak percaya kalau bisa meraih total nilai setinggi itu. Waktu itu nilai EBTANAS ku mencapai 41,20 sebuah nilai cukup tinggi untuk sekolah non-negeri di kotaku. Nilai itu yang membuatku akhirnya bisa masuk ke SMP favorit dikotaku, meskipun harus berada di urutan paling bawah.

Di sela-sela kenakalan yang aku perbuat di sekolah dan di luar, aku masih tidak melupakan satu hal yang terus aku lakukan sampai sekarang yaitu membaca. Jadi memang aku ini orang yang agak aneh, di satu sisi dibenci karena aku ini termasuk nakal, namun di sisi lain beberapa teman meminta bantuanku untuk mencarikan buku bacaan yang bagus di perpustakaan. Ya memang begitulah aku.

Di SMP, ketika aku masih di kelas 1, aku sempatkan mengejutkan seluruh teman satu kelasku dengan meraih nilai ulangan harian Bahasa Inggris 100 bulat. Hal ini tentu saja mengejutkan semua teman satu kelasku yang mana memiliki nilai EBTANAS murni (NEM) jauh lebih tinggi dibandingkan nilaiku. Sebuah kejutan yang wajar menurutku, sebab aku sudah belajar Bahasa Inggris sejak aku masih kelas 5 SD. Waktu itu mamaku menunjuk seorang guru untuk menjadi guru les di rumah. Namun sayang kejutan yang aku perbuat hanya sampai disitu, musuh terbesar kembali mendatangiku yaitu kemalasan dan juga pengaruh-pengaruh buruk dari teman-teman disekitarku. Namun aku tetap masih tidak bisa melupakan yang namanya membaca. Sebuah hobi yang juga masih terus bertahan sampai sekarang.

Semakin tinggi tingkat kelasku di SMP, kenakalanku juga semakin bertambah. Aku menjadi suka terlambat dan melanggar peraturan. Aku menjadi musuh besar guru-guru yang mengurusi bidang kedisiplinan dan ketertiban siswa. Hampir setiap hari mereka bosan melihat aku berbuat ulah. Hal ini juga menimpa beberapa orang guru mata pelajaran yang mengajarku di kelas. Namun satu yang aku masih ingat, aku tetap membaca dan membaca. Membaca mungkin bisa dibilang satu-satunya kebiasaan baik yang aku lakukan diantara kebiasaan buruk seperti terlambat, berkata-kata kotor, tidak ikut pelajaran, tidak mengerjakan tugas, membeli makanan di luar gerbang sekolah yang waktu itu dilarang (hal ini pula yang membuatku sempat diguyur air oleh guru bidang kesiswaan), tidak berseragam dengan rapi, mengganggu teman-temanku sampai bahkan ada yang menangis, dan masih banyak lagi. Aku bahkan sempat akan dikeluarkan dari sekolah, namun justru aku berkata ya biar saja kalau mau dikeluarkan, aku akan buktikan bahwa aku masih bisa menjadi pintar meskipun tidak sekolah di sekolah favorit. Aku berani bilang seperti itu ke orang tuaku karena memang aku sadar betul bahwa aku punya kemampuan yang tersimpan rapat di dalam diriku. Kemampuan yang hanya akan aku keluarkan atau keluar dengan sendirinya ketika dibutuhkan atau ketika aku menghadapi tantangan yang luar biasa hebat, tantangan yang memicu adrenalinku untuk mengalir lebih deras disekujur tubuh.

Akhirnya masa sekolah di SMP dapat aku lalui dengan cukup baik. Aku lulus dengan nilai EBTANAS yang masih bagus, 40,83. Nilai itu sekali lagi mengalahkan beberapa teman sekelas yang masuk dalam peringkat 10 besar. Nilai itu juga membuatku diterima di SMU favorit di kotaku. Di SMU kenakalanku semakin menjadi-jadi, pada beberapa kesempatan aku terlibat cekcok dan bahkan membantah guruku sampai membuatnya menangis dan mogok mengajar. Namun lagi-lagi ditengah kenakalan seperti itu membaca masih jadi hobi yang tidak bisa aku lupakan. Selain itu, pernah juga suatu saat ketika aku duduk di kelas 2 SMU, aku berkata dengan santai kepada salah seorang teman untuk menanggapi cara salah seorang guruku mengajar, kalau mengajar hanya dengan duduk-duduk saja dan kemudian membacakan materi dari buku teks atau diktat utama aku juga bisa. Tapi memang aku melihat bahwa guru itu seperti orang yang tidak punya kemampuan mengajar, dia menjelaskan seluruh pelajaran hanya berdasarkan apa yang tertulis di buku diktat yang mana juga bukan merupakan karya dia sendiri melainkan keluaran salah satu penerbit buku terkenal. Aku mungkin masih bisa maklum dan bahkan mungkin akan sangat menghargai dia jika buku tersebut adalah karangan dia sendiri.

Pada masa SMU, beberapa kali aku dan teman-temanku hampir terlibat tawuran dengan sesama siswa satu SMU maupun dengan siswa sekolah lain. Beberapa kali kami sudah bersiap-siap seandainya benar-benar harus berkelahi. Kami sudah berkumpul di markas besar kami yang masih tidak jauh dari sekolah. Semua kenakalan dan pelanggaran yang aku berbuat di SMU seperti tidak memakai seragam yang benar sesuai ketentuan, bolos pelajaran, terlambat, pulang sekolah lebih awal, dan lain-lain sekali lagi membuatku hampir dikeluarkan dari sekolah. Namun kali itu aku cukup beruntung karena beberapa saat setelah “vonis” terhadap diriku pihak sekolah menghadapi masalah yang cukup pelik sampai diekspos di surat kabar. Masalah tersebut membuat pihak sekolah “lupa” akan masalahku dan akhirnya aku masih bisa lulus dari SMU terbaik se-kota Tuban dan yang juga merupakan SMU yang cukup dikenal namanya di propinsi Jawa Timur.

Titik balikku dari kenakalan terjadi saat kelas 3 SMU. Beberapa saat sebelum semester pertama berakhir, tim kesukaanku saat itu dan sampai sekarang, Chelsea FC memperoleh pelatih baru yang sangat luar biasa. Pelatih ini menginspirasiku bahkan sejak jauh-jauh hari dia masih melatih Porto FC dan mampu membawa tim yang tidak memiliki cukup banyak pemain bintang tersebut menjadi juara Eropa serta meraih total tiga gelar dalam satu musim. Sebuah prestasi yang sangat fenomenal untuk klub yang tidak terlalu besar. Porto FC bahkan meraih gelar Piala UEFA dan liga Champion Eropa pada musim yang berurutan. Benar-benar prestasi yang sangat fenomenal. Dari situ aku terinspirasi untuk berbalik menjadi individu yang lebih baik, aku mulai lebih disiplin dan taat terhadap peraturan. Aku mencoba mengatur kehidupanku sebaik mungkin. Aku juga mulai rutin belajar setiap hari pada waktu yang sama. Aku benar-benar menjadi jauh lebih disiplin sejak saat itu, berkat inspirasi dari Porto FC dan seorang Jose Mourinho. Mourinho adalah seorang pelatih yang sangat fenomenal sampai sekarang dan sejak saat itu menjadi salah satu pelatih sepakbola idolaku. Dia merupakan orang pertama yang berhasil menginspirasiku meskipun secara tidak langsung untuk berbalik menjadi individu yang baik dan individu yang mampu meraih prestasi.

Akhirnya dengan usaha keras untuk belajar, aku dapat mengejar ketertinggalan dengan cukup cepat dan bahkan mungkin sangat cepat. Aku segera menjadi salah seorang yang cukup disegani di kelas karena “kepintaran” ku yang meningkat pesat. Aku menjadi semakin sering dimintai atau ditanyai oleh beberapa teman yang tidak bisa mengenai suatu mata pelajaran tertentu. Meskipun aku sudah menjadi lebih baik, waktu itu sesekali aku masih melanggar juga khususnya tidak mengikuti pelajaran, namun pelanggaran itu sudah tidak separah sebelumnya dan sudah sangat jauh berkurang. Aku bahkan terkadang menjadi satu-satunya siswa laki-laki yang masih mengikuti pelajaran dengan serius saat beberapa temanku yang lain tidak mengikuti pelajaran atau ngobrol sendiri saat pelajaran. Aku benar-benar diubahkan dan berhasil menjadi salah satu teladan di kelas.

Semua usaha yang aku perbuat untuk menertibkan dan mendisiplinkan diriku sendiri tidaklah sia-sia. Aku meraih hasil-hasil terbaik semenjak itu. Nilai-nilai tugas maupun ujianku meningkat pesat. Begitu juga dengan nilai-nilai pra ujian akhir nasional yang diselenggarakan oleh pihak sekolah. Aku mulai menjadi kesayangan sebagian guru. Sungguh perubahan luar biasa yang membuat para guru kaget dan yang juga sangat aku banggakan. Aku tidak pernah menyesali semua perbuatan yang pernah aku lakukan di masa lalu, justru aku bersyukur pernah mengalami semua itu dan memperoleh pelajaran berharga darinya. Aku juga sangat bersyukur karena aku masih beroleh kesempatan untuk berubah dan menjadi individu yang lebih baik lagi dalam hidupku.

Akhirnya semua kerja kerasku terbayar. Aku memperoleh nilai UNAS 24,33 atau rata-rata 8,11 untuk tiap mata pelajaran, dengan rincian Ekonomi/Akuntansi 9,00, Bahasa Indonesia 8,33, dan Bahasa Inggris 7,00. Selain itu aku kembali masuk ke dalam peringkat 10 besar kelas setelah lebih dari 10 tahun masa sekolah aku terlempar dari 10 besar. Aku memperoleh rangking 5.6 dari 39 siswa. Sebuah prestasi yang cukup bagus di saat-saat terakhir masa SMU ku. Sebuah prestasi yang dapat aku jadikan kenang-kenangan bagi diriku sendiri setidaknya. Begitulah cerita seputar perjalanan panjang hidupku dan beberapa kejadian yang pernah aku lakukan serta beberapa kejadian yang mengubah diriku menjadi individu yang lebih baik saat ini. Cerita ini belum sepenuhnya berakhir, sebab masih ada masa-masa kuliah yang belum aku ceritakan. Aku akan menyambungnya di lain waktu. Semua cerita yang tertulis disini adalah benar adanya meskipun mungkin tidak semua detail aku ceritakan, sebab aku sudah hampir lupa akan kejadian lengkapnya. Aku memutuskan untuk tidak menuliskannya karena aku tidak ingin menceritakan sesuatu yang tidak tepat kebenarannya. Sekian dan selamat menunggu sambungan dari tulisan ini.

Tickerbar

KumpulBlogger