Friday, 23 December 2011

Siapa Orang Pertama Yang Harus Kita Bahagiakan ?


Sebagian dari kita, baik yang masih anak-anak, sudah remaja, maupun menginjak usia dewasa, kemungkinan masih ada yang belum mengetahui mengenai salah satu hal penting ini. Hal penting tersebut seperti tertera dalam judul tulisan ini. Siapakah orang pertama yang harus kita bahagiakan ? Setiap orang dapat memiliki jawaban yang berbeda, mungkin ada yang menjawab orang tua, saudara, pacar atau istri, anak-anak (untuk yang sudah menikah atau memiliki anak), teman atau sahabat, atau mungkin diri kita sendiri. Setiap orang berhak mengemukakan jawaban apapun dengan bebas sesuai dengan apa yang dia anggap paling benar atau tepat.
Beberapa bulan lalu, setelah perjalanan cukup panjang hidup saya yang kurang terarah, saya akhirnya mulai belajar untuk mengarahkan hidup saya kembali ke jalur yang saya inginkan. Dalam upaya kembali ke jalur yang saya inginkan tersebut, saya menemukan kebenaran yang berharga ini. Sebenarnya saya tidak menemukannya secara tiba-tiba atau sendirian, saya menemukannya setelah melakukan perenungan serta introspeksi atas kehidupan yang telah saya jalani selama hampir 1,5 tahun sebelumnya dan terinspirasi dari suatu film yang saya tonton. Melalui kedua hal tersebut, saya akhirnya sadar bahwa orang pertama yang harus kita bahagiakan adalah orang yang akan kita lihat wajahnya saat kita sedang berdiri dihadapan cermin. Ya, benar, orang tersebut adalah diri kita sendiri. Sebelum dapat membahagiakan orang lain, kita harus belajar membahagiakan diri kita sendiri.

Wednesday, 21 December 2011

Saya Tidak Ditentukan Oleh Hal-Hal Ini


Saya yakin, banyak orang yang kehidupannya sangat dipengaruhi atau bahkan boleh dikata dikendalikan oleh hal-hal yang ada di sekelilingnya. Mereka merasa seolah tidak berdaya mengelola atau mengendalikan kehidupan mereka sendiri. Mereka begitu terpengaruh dan bergantung kepada segala sesuatu yang ada disekitarnya. Beberapa waktu lalu, saya pun sempat seperti itu. Namun beruntung beberapa hari terakhir ini saya kembali tersadar akan jati diri saya yang sebenarnya serta karakteristik yang sebelumnya ada pada diri saya.
Saya beruntung dapat kembali tersadar akan jati diri saya tersebut, sehingga saya dapat mulai membebaskan diri saya dari pengaruh-pengaruh segala sesuatu yang ada disekitar saya. Saya mulai kembali belajar untuk mengambil segala keputusan berdasarkan pada apa yang saya percayai itu benar. Saya mungkin memang meminta pendapat atau perspektif dari orang lain, tetapi saya harus tetap merupakan orang terakhir yang paling bertanggung jawab untuk membuat sebuah keputusan bagi diri saya sendiri. Sehingga dengan begitu, apapun hasil dari keputusan yang saya buat, entah baik atau buruk, sukses atau gagal, dan beragam kemungkinan hasil yang lain, saya pulalah yang akan dan harus bertanggung jawab penuh. Ketika saya sudah ambil keputusan itu berdasarkan apa yang benar-benar saya yakini sebagai sesuatu yang benar dan baik bagi diri saya, maka saya tidak perlu menyalahkan orang lain, keadaan, maupun lingkungan saya atas dampak atau hasil apapun yang muncul dari keputusan tersebut.

Saya Tidak Mendukung Brand (Merek) Apapun !


Jurusan kuliah yang saya ambil adalah Teknik Informatika, namun saya tidak pernah puas hanya belajar hal-hal yang berhubungan dengan komputer. Semasa kuliah hingga sekarang, saya sangat senang belajar hal-hal lain seperti manajemen, psikologi, ekonomi, motivasi, kepemimpinan, dan lain-lain. Akhir-akhir ini, salah satu hal yang juga sedang saya pelajari adalah mengenai dunia bisnis, khususnya bagaimana membangun bisnis yang berhasil, pemasaran, kepemimpinan bisnis dan segala sesuatu yang terhubung dengan bisnis.
Awal saya mulai menyukai atau terbuka pandangan saya terhadap dunia bisnis adalah ketika saya berada di semester lima masa kuliah saya. Saya tanpa sengaja menemukan sebuah buku yang menceritakan perjuangan dua orang pendiri salah satu perusahaan teknologi informasi besar dunia. Kisah perjuangan mereka dari awal hingga akhirnya meraih sukses besar sangat menginspirasi saya. Sejak saat itu pula saya memiliki satu impian untuk mengembangkan usaha di bidang teknologi informasi yang nantinya juga diharapkan dapat menjadi perusahaan tingkat dunia yang memiliki ribuan atau puluhan ribu karyawan.

Monday, 19 December 2011

Faster !


Selama beberapa waktu terakhir ini, saya benar-benar menyadari bahwa ritme kerja saya jauh lambat daripada sebelumnya. Hal ini dapat ditinjau atau diketahui dari banyaknya proyek atau ambisi pribadi yang hingga kini belum tuntas. Saya merasakan bahwa cukup banyak aktivitas yang saya lakukan kurang atau bahkan tidak efektif sama sekali. Beruntung saya masih dapat menyadarinya.
Berbekal kesadaran tersebut, saya secara perlahan namun pasti mulai berupaya untuk meningkatkan kembali kinerja saya menuju ke puncak tertinggi kinerja yang seharusnya. Berupaya semakin meningkat dan terus meningkat. Berupaya lebih produktif dalam bekerja serta menghasilkan lebih banyak uang.
Saya berlatih mengambil keputusan yang lebih cepat dan tepat, berlatih menyingkirkan pikiran-pikiran yang kurang atau bahkan tidak penting sama sekali, berlatih mengurangi aktivitas yang tidak memberikan manfaat bagi diri saya. Saya berupaya semakin efektif dan semakin efektif. Berupaya semakin produktif dan terus produktif dalam menghasilkan karya, produk, dan tentu saja uang yang melimpah. Dalam banyak atau aspek dalam hidup saya, saya benar-benar terus berupaya mendorongnya agar berjalan lebih cepat, lebih cepat, dan terus semakin cepat. Namun tentu saja tidak hanya sekedar cepat, tetapi mampu menghasilkan sesuatu dengan kualitas yang terbaik.
Faster than anything ! Faster than before ! Increase my productivities ! Generate more money ! Forca !

Sunday, 18 December 2011

Mendayagunakan Waktu Dengan Maksimal


Beberapa bulan yang lalu (hampir satu tahun, jika saya tidak salah ingat), saya pernah menulis tentang manajemen waktu serta penjadwalan kegiatan harian di blog ini. Namun hingga saat ini, saya sendiri ternyata masih belum sepenuhnya dapat menjalankan kembali apa yang saya tuliskan tersebut. Apa yang tuliskan merupakan gambaran dari kebiasaan yang sebelumnya saya jalankan dengan baik, sebelum beberapa cara berpikir yang salah dan sejumlah godaan serta pilihan yang tidak tepat membuat saya menyimpang dari jalur.
Sekitar hampir dua bulan terakhir, saya habiskan untuk melatih diri saya dan memahami kembali seluruh prinsip-prinsip manajemen waktu, manajemen kegiatan harian, manajemen pikiran, dan sebagainya. Perlahan tetapi pasti seluruh upaya untuk mulai menampakkan hasil, meskipun belum sepenuhnya seperti hasil yang saya inginkan, namun saya akan terus belajar untuk menaikkan kembali standar saya serta kinerja saya kembali ke puncak.
Hari ini, saya pun disadarkan kembali tentang pemanfaatan waktu saya setiap hari, khususnya memanfaatkan waktu-waktu luang dengan sangat baik untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, baik bagi diri pribadi maupun orang lain. Beberapa bulan yang lalu, saya mengeluh kepada diri saya sendiri maupun kepada sejumlah kecil teman, bahwa saya seolah kehabisan waktu. Namun hari demi hari sejak saat itu, khususnya hari ini, saya semakin sadar bahwa ternyata tidak memanfaatkan waktu-waktu saya untuk kegiatan yang menghasilkan manfaat dalam segala macam bentuknya. Saya menyadari bahwa ternyata menghabiskan terlalu banyak waktu saya untuk memikirkan pikiran yang kurang bermanfaat, melakukan aktivitas yang tidak bermanfaat, membaca terlalu banyak informasi yang tidak bermanfaat, serta sejumlah kegiatan yang tidak bermanfaat.

Friday, 16 December 2011

Sebuah Puisi Tanpa Makna


Keras, sekeras batuan karang yang tetap tegar diterpa ombak yang ganas ditepi pantai
Mempesona, laksana pesona bintang-bintang di tengah malam yang cerah
Berlari, seperti ombak yang berkejar-kejaran di laut
Memanas, melebihi panas api kompor penjual Nasi Goreng
Menerjang, laksana terjangan lahar Merapi yang menghanguskan segala sesuatu yang dilaluinya
Kuat, sekuat baja yang terkuat sejagat raya
Membara, melebihi bara di tungku tukang sate
Ber-energi, sebesar energi yang dihasilkan oleh reaksi berantai terurainya atom-atom Uranium dan Plutonium
Cepat, secepat kecepatan gerak cahaya di udara bebas
Menghanyutkan, seperti aliran air banjir yang menghanyutkan segala sesuatu
Berkilau, laksana indahnya kilauan berlian terindah di seantero jagat raya
Menarik, sekuat daya tarik magnet terkuat di alam semesta

Tuesday, 13 December 2011

Belajar Ngotot


Tanpa terasa, saya sudah terlalu lama tidak pernah ngotot alias ngeyel alias sangat gigih berjuang sampai semua yang ingin saya raih atau yang saya percaya pasti dapat diraih benar-benar terwujud. Beberapa bulan ini saya belajar dan sampai sekarang masih terus belajar untuk mengembalikan semua kengototan alias ke’ngeyel’an alias semangat juang terbaik saya. Saya merindukan kemenangan dan keberhasilan yang luar biasa. Saya sangat, sangat, merindukan kembali menjadi nomor satu. Saya rindu kembali menguasai atau menjadi yang terhebat dalam bidang yang saya pilih untuk menjadi terhebat.
Terlalu lama memang, namun saya kembali belajar tidak ada kata terlambat dan memang tidak pernah terlambat untuk kembali menjadi nomor satu. Banyak hal memang yang perlu dilakukan agar tujuan yang maha indah ini dapat benar-benar tercapai, seperti kedisiplinan seorang bintang, fokus setajam laser, komitmen seorang juara, mentalitas pejuang sejati seperti para pejuang kemerdekaan, konsistensi seorang juara, kepercayaan diri yang begitu luar biasa, kemauan yang sangat keras untuk belajar seperti kerasnya batu karang di pantai karang, keberanian untuk berjuang sampai menang dan tetap hidup, keberanian untuk terbang tinggi setinggi rajawali. Saya tahu tidak mudah memang, saya harus melawan dan mengalahkan diri saya sendiri agar seluruh ambisi maha dahsyat, yang sedahyat energi yang dihasilkan reaksi berantai terbelahnya atom-atom dalam suatu bom atom. Tidak mudah, tetapi harus belajar memaksa diri, memaksa diri, memaksa diri, untuk menjadi seorang juara sejati, seorang maha bintang dalam hidup saya sendiri, seorang manusia tanpa tanding. Salah individu terbaik dan terhebat sepanjang masa. Berjuang !

Kehilangan ‘Kengototan’ Saya


Selama ini, saya dikenal oleh orang-orang yang mengenal saya maupun oleh rekan-rekan dekat saya sebagai orang yang sangat ngotot berjuang. Tidak pernah mau berhenti sebelum segala yang saya inginkan terwujud. Saya dikenal selalu percaya bahwa segala sesuatu itu mungkin dan dapat diwujudkan, bahkan ketika hampir semua orang yang lain sudah berpikir untuk menyerah atau tidak percaya bahwa sesuatu itu mungkin diwujudkan. Ya, itulah jati diri saya yang sesungguhnya.
Namun, apa yang terjadi saat ini ? Sejauh perenungan saya sendiri serta pengamatan yang saya lakukan terhadap diri saya sendiri, akhir-akhir ini saya tersadar bahwa selama hampir dua tahun ini saya kehilangan ciri khas tersebut. Suatu ciri khas yang menjadikan saya menonjol, dikagumi, dan disegani oleh setiap orang berjumpa dengan saya.

KumpulBlogger