Sunday, 10 April 2011

Awalnya Saya Tidak Menyadarinya


Sejak dari saya masih kecil, sebenarnya saya sudah melakukannya, meskipun tidak terlalu sering. Mengajar, itulah yang maksudkan. Saya teringat bahwa ketika waktu kecil dahulu, saya pernah bermain peran sebagai guru untuk diri saya sendiri. Saya memiliki papan tulis kecil yang dibelikan oleh kedua orang tua saya sebagai sarana belajar. Papan tulis itu pula yang saya gunakan untuk berperan seolah-olah saya adalah guru yang sedang mengajar suatu mata pelajaran tertentu di dalam kelas.
Tanpa saya sadari ternyata aktivitas mengajar juga menjadi salah satu kesukaan saya. Aktivitas bercerita serta berbagi ilmu. Hari ini saya baru mulai menyadari serta benar-benar merasakan bahwa mengajar itu seru juga. Hal tersebut saya ketahui dan sadari setelah pengalaman beberapa kali mengajar komputer melalui suatu lembaga kursus yang dibangun oleh teman saya. Saya memang baru sempat mengajar dua orang sampai sejauh ini, tapi pengalaman singkat tersebut ternyata menyenangkan juga. Melalui aktivitas mengajar tersebut, saya memperoleh kesempatan untuk berbagi ilmu pengetahuan, memperoleh dorongan juga untuk terus belajar dan mengembangkan diri, serta tentu saja juga memperoleh uang dari hasil jerih payah saya.

Apa yang Terjadi pada Saya Selama lebih dari Satu Tahun Terakhir ?

Banyak, mungkin sangat banyak diantara kawan-kawan saya, keluarga saya, dan siapapun yang mengenal saya dengan sangat dekat, cukup dekat, atau sekedar mengenal saya bertanya-tanya dalam dirinya sendiri pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini. Mungkin banyak dari mereka yang bertanya mengapa saya yang dikenal sebagai pribadi yang selalu memberikan kinerja terbaik lebih daripada yang lain, sekarang menjadi pribadi yang jauh menurun kinerjanya. Ya, sendiri juga akhirnya sadar akan hal tersebut dan sedang berusaha serta berlatih sangat keras untuk kembali ke puncak. Berusaha dan berlatih keras untuk berada di tahapan top performers.
Setelah waktu terus berjalan selama satu tahun lebih akhirnya saya menyadari penyebab kemunduran saya. Sejak berhasil mewujudkan impian terbesar saya, memperoleh jabatan Ketua Panitia Pekan Kampus di tahun 2009 lalu, saya seolah merasa sudah meraih segalanya. Keberhasilan tersebut membuat saya lupa bahwa masih ada begitu banyak dan bahkan sangat banyak impian yang membutuhkan perjuangan terbaik saya untuk mewujudkannya. Ya, saya terlena atas keberhasilan kecil tersebut, sehingga saya terlupa untuk tetap belajar dan ‘bertarung’ untuk mewujudkan impian-impian saya lainnya. Euforia keberhasilan tersebut benar-benar membuat saya terlempar dari jalur saya menuju pencapaian impian.

Friday, 25 March 2011

Bukan Tidak Sempat

Salah satu yang kemungkinan besar sering menjadi alasan mengapa kita tidak mengerjakan sesuatu atau mengerjakan sesuatu dengan hasil yang kurang maksimal adalah tidak sempat. Mungkin saja bagi sebagian orang yang memang benar-benar sibuk, hal itu benar adanya. Namun setelah melakukan penelusuran terhadap kehidupan saya sendiri, saya akhirnya menyadari bahwa seringkali alasan yang lebih tepat bukanlah tidak sempat, melainkan tidak menyempatkan diri. Kita bukan tidak sempat, melainkan tidak menyediakan waktu untuk menyempatkan diri untuk mengerjakan segala pekerjaan atau tanggung jawab kita.
Menyadari hal tersebut, akhirnya saya mulai belajar dan mencoba mengatur kembali diri saya serta waktu yang saya miliki untuk menyempatkan diri mengerjakan pekerjaan serta tanggung jawab yang masih tertunda penyelesaiannya hingga saat ini. Saya mulai berusaha untuk menyingkirkan satu per satu aktivitas atau kegiatan yang kurang penting untuk pencapaian impian atau tujuan saya. Saya mulai belajar untuk mengurangi sebanyak mungkin waktu yang saya gunakan untuk kegiatan-kegiatan yang kurang penting tersebut dan mencoba mengalokasikannya untuk kegiatan yang lebih penting, kegiatan yang lebih memberikan hasil atau kegiatan yang lebih mendekatkan diri saya kepada pencapaian seluruh impian serta cita-cita saya.

Manfaat Kuliah

Ilustrasi: Kuliah
Sekitar enam tahun yang lalu, saat saya berada di tingkat akhir masa pendidikan SMU, saya mulai berpikir mengenai jurusan kuliah yang akan saya tempuh di jenjang pendidikan tinggi. Saat itu begitu banyak pilihan yang saya miliki, antara lain jurusan komputer, jurusan bahasa, jurusan ekonomi, jurusan hubungan internasional, dan jurusan teknik industri. Banyaknya pilihan sempat membuat saya bingung. Pilihan-pilihan tersebut muncul karena pada dasarnya saya memiliki ketertarikan pada bidang-bidang tersebut.
Namun setelah memilah-milah dengan berdasarkan beberapa pertimbangan seperti minat terbesar saya dan juga prospek jurusan tersebut untuk memberikan pekerjaan dengan gaji yang besar di masa depan, akhirnya saya memutuskan untuk memilih jurusan komputer atau tepatnya jurusan Teknik Informatika. Satu masalah terselesaikan, tetapi persoalan tidak beres sampai disitu, ada satu masalah berikutnya yang datang menghampiri. Persoalan tersebut adalah menentukan universitas atau kampus yang akan saya gunakan untuk menempuh pendidikan di jurusan yang sudah saya tentukan tersebut. Saya memiliki tiga pilihan universitas, yaitu Universitas Surabaya (UBAYA), Sekolah Tinggi Teknik Surabaya (STTS), dan Sekolah Tinggi Ilmu Komputer (STIKOM).

Saturday, 19 March 2011

Definisi Sukses Terbaik Yang Pernah Saya Ketahui

Sukses, saya yakin setiap orang ingin meraihnya. Sukses pula yang akhir-akhir ini sering topik dalam seminar-seminar motivasi atau pengembangan diri. Pada umumnya, orang mendefinisikan atau menghubungkan sukses dengan keberhasilan memperoleh kekayaan, keberhasilan meraih suatu prestasi tertentu, keberhasilan mewujudkan impian, keberhasilan memperoleh suatu jabatan atau posisi puncak, dan sejenisnya. Namun, beberapa bulan yang lalu saya menemukan sebuah definisi terbaik mengenai sukses. Definisi diucapkan oleh salah seorang pelatih kepemimpinan terbaik dunia asal Amerika Serikat, Dr. John C. Maxwell. Dia memberikan sebuah definisi yang unik mengenai sukses, “first of all, success is knowing our purpose in life”.

Friday, 11 March 2011

Sudah Maksimalkah Kita ?

Judul tulisan ini merupakan pertanyaan yang akhir-akhir ini muncul di pikiran saya. Pertanyaan tersebut saya coba tanyakan kepada diri saya sendiri dan saya menemukan bahwa saya belum memaksimalkan diri. Saya secara pribadi sadar bahwa saya belum mendayagunakan dengan sangat baik seluruh talenta yang telah dianugerahkan kepada saya. Saya belum memaksa diri saya sendiri untuk mendorong pemakaian maksimal seluruh kemampuan yang saya miliki untuk menyelesaikan suatu pekerjaan atau tanggung jawab.
Seperti halnya saya yang menanyakan pertanyaan tersebut ke diri saya sendiri, sudah selayaknya masing-masing diri kita bertanya kepada diri kita sendiri apakah kita juga sudah memaksimalkan diri atau belum. Memaksimalkan diri sudah selayaknya kita lakukan, sebab kita sudah dianugerahi bakat-bakat yang luar biasa yang menunggu untuk kita munculkan dan maksimalkan pemakaiannya. Memaksimalkan diri merupakan salah satu mandat yang Tuhan berikan kepada kita, sebab kita telah diciptakan dengan begitu luar biasa oleh-Nya.

Thursday, 10 March 2011

Percepat Segalanya !

Saya banyak menghabiskan waktu saya akhir-akhir ini untuk kembali belajar mengenai efektivitas dan efisiensi. Dua kata tersebut, efektivitas dan efisiensi, adalah dua kata yang dahulu selalu saya junjung tinggi dalam sebagian besar aktivitas saya, khususnya yang berhubungan dengan pekerjaan atau aktivitas berorganisasi. Saya dapat dikatakan adalah ‘pemuja’ efektivitas. Saya paling tidak suka ada suatu kegiatan yang tidak efektif. Saya tidak suka jika ada pekerjaan yang seharusnya dapat dilakukan dalam waktu singkat, namun karena orang-orang yang melakukan pekerjaan tersebut kurang serius, pada akhirnya tersebut memerlukan waktu lebih lama untuk diselesaikan.
Prinsip-prinsip seperti yang saya sebutkan diatas merupakan prinsip-prinsip yang sempat saya lupakan dan berdampak pada kehidupan saya secara pribadi. Banyak pekerjaan atau tanggung jawab yang seharusnya saya selesaikan, menjadi terbengkalai hingga saat ini. Setelah saya renungkan, saya akhirnya menyadari bahwa penyebab masalah tersebut adalah kurangnya keefektifan pribadi saya dalam menjadi hidup. Banyak kegiatan atau hal yang kurang penting dan bahkan kadang tergolong tidak penting terus saya lakukan atau pikirkan. Menyadari satu kelemahan saya tersebut, maka tentu saja saya harus berbenah untuk menjadi individu yang lebih baik. Saya harus mencari pertolongan baik secara langsung ke orang lain maupun secara tidak langsung melalui membaca buku-buku pengembangan diri.

Hidup: Sebuah Pencapaian !

Akhir-akhir ini saya kembali banyak belajar mengenai topik pengembangan diri. Hal tersebut saya lakukan karena saya merasakan bahwa selama sekitar 1,5 tahun terakhir saya berhenti berkembang dan bahkan dapat dikatakan cenderung menurun.Didorong oleh kesadaran bahwa saya ingin kembali menjadi pribadi yang hebat dan berkualitas serta kebosanan dengan kondisi yang biasa-biasa saja, maka saya memutuskan untuk kembali mengakses seluruh koleksi buku dan bacaan pengembangan diri yang saya miliki.
Salah satu hasil yang saya peroleh dari hasil mempelajari topik-topik pengembangan diri tersebut adalah mengenai pencapaian. Saya disadarkan serta menyadarkan diri saya sendiri bahwa kita hidup bukan hanya sekedar untuk hidup, melainkan kita diberi kesempatan untuk hidup dengan suatu tujuan tertentu. Kita diberi kesempatan hidup salah satunya adalah untuk mengerjakan atau mencapai sesuatu. Kita ada di dunia ini bukan hanya untuk sekedar lahir, bertumbuh menjadi dewasa, tua, dan akhirnya mati, tetapi kita juga diberi tugas yang berbeda-beda untuk diselesaikan. Penuntasan tugas-tugas yang diberikan terhadap kita merupakan pencapaian kita dalam kehidupan ini. Sebuah pencapaian yang akan membawa kita menjadi individu yang hidup sepenuh potensi kita serta menjadi individu yang merangkak naik menuju puncak pencapaian tertinggi kita.

KumpulBlogger