Friday, 15 November 2013

Belajar Ikhlas

Beberapa bulan lalu saya mengikuti seminar pengusaha dimana salah satu pembicaranya adalah Erbe Sentanu, seorang tokoh yang sudah terkenal akan ajarannya tentang ikhlas. Inti penyampaiannya saat itu adalah jika para peserta seminar yang hadir saat itu sudah benar-benar memutuskan untuk menjadi seorang pengusaha, maka tiap-tiap orangnya harus sungguh-sungguh ikhlas dalam menjalaninya. Pelajaran ikhlas ini pula yang selalu saya ingat dan selalu saya jadikan penyadar sekaligus penguat dalam setiap kondisi, khususnya ketika saya sedang malas, tertekan, down, dan sebagainya.
Akhir-akhir ini saya pun kembali menggunakan pelajaran tentang ikhlas tersebut. Saya menggunakan dalam hubungannya dengan pilihan saya maupun pilihan rekan-rekan saya. Saya menyadarkan diri saya sendiri bahwa setiap orang berhak untuk memiliki pilihan dalam hidupnya masing-masing, apapun pilihannya, dan mereka juga harus siap sedia dengan segala konsekuensi maupun hasil yang diperoleh terkait dengan pilihannya tersebut. Berat memang untuk dapat menerapkan pelajaran ikhlas ini dengan sepenuhnya baik. Saya masih cukup sering untuk merasa kecewa, berat, tidak suka, marah, dan beberapa emosi serta pikiran negatif lainnya. Namun seiring berjalannya waktu saya semakin dapat menerima tentang perbedaan pilihan kami dalam menjalani hidup. Mereka memilih yang mereka pilih, saya juga memilih yang saya pilih. Saya mencoba meyakini bahwa setiap pilihan yang kami adalah pilihan terbaik dalam pendapat kami masing-masing.
Salah satu hal yang mendorong untuk semakin sadar dan semakin mau belajar menerapkan prinsip ikhlas adalah karena ketika saya tidak ikhlas, terus-terusan kecewa, selalu marah, kerap tidak suka, serta selalu berperasaan dan berpikiran negatif lainnya yang dirugikan bukanlah mereka, melainkan saya sendiri. Saya jadi tidak berkonsentrasi dan berfokus pada hal-hal yang penting untuk saya jalani dan kerjakan. Fokus saya tersita oleh keinginan saya sendiri untuk menyaksikan atau melihat rekan-rekan saya membuat pilihan yang sama dengan pilihan saya. Oleh karena itu akhirnya saya mendorong serta memaksa diri ini untuk dapat memiliki perasaan ikhlas yang seikhlas-ikhlasnya agar dada menjadi lapang, pikiran menjadi terbuka, dan dapat menjadi ruang untuk perasaan-perasaan serta pikiran-pikiran yang jauh lebih bermanfaat untuk masuk dan berkembang. Perasaan-perasaan serta pikiran-pikiran yang dapat mendorong kehidupan saya menjadi kehidupan lebih penuh, lebih bahagia, lebih sukses, lebih sehat, dan segala kelebihan lainnya. Ikhlas !

Tickerbar

KumpulBlogger