Thursday, 3 June 2010

PENGALAMAN: SESUATU YANG SANGAT BERHARGA part 1

Akhir-akhir ini aku semakin menyadari bahwa pengalaman adalah salah satu aset yang sangat berharga yang akan pernah kita semua miliki dalam hidup. Aku menyadari hal ini sebab dari pengalaman kita dapat belajar banyak hal, sangat banyak bahkan. Pengalaman mengajari kita banyak hal yang sangat berharga yang mungkin tidak akan pernah kita temukan dari sekolah.

Secara pribadi, aku merasa cukup beruntung karena aku boleh mengalami banyak pengalaman berharga, baik pengalaman menyenangkan maupun tidak. Saat masih di bangku sekolah dasar, aku beruntung bahwa aku merasakan pengalaman menjadi anak-anak yang bahagia. Pada masa itu, aku memiliki banyak teman untuk bermain bersama-sama, bermain permainan khas anak kecil. Pada masa sekolah dasar itu pula, aku boleh merasakan pengalaman dipanggil oleh kepala sekolah karena bermain petasan di sekolah. Pengalaman yang sungguh-sungguh berharga, sebab dari situ aku belajar bahwa bermain petasan di sekolah itu dilarang.

Pada masa SMP, aku boleh merasakan pengalaman yang tidak kalah berharganya dibanding saat di bangku sekolah dasar. Pada masa itu, aku mulai mengenal yang namanya geng. Aku mengenal teman-teman satu gengku lewat teman satu kampung. Melalui teman-teman satu geng itu pula, aku merasakan pengalaman melihat secara langsung dari jarak dekat suasana tawuran yang terjadi antar geng. Pada masa itu pula, aku merasakan hampir terlibat dalam tawuran yang batal terjadi karena secara kebetulan ada anggota TNI lewat disekitar area pertarungan. Pada masa SMP pula, aku merasakan beberapa kali di hukum oleh guru, yang lebih parah dibanding masa sekolah dasar. Pada masa itu pula, aku merasakan sebuah pengalaman hampir saja dikeluarkan dari sekolah seandainya aku membuat satu pelanggaran berat lagi saja. Namun aku tetap bersyukur bahwa aku boleh lulus dari SMP terbaik di kotaku.

Pada masa SMA, kenakalanku tidak begitu saja surut. Aku bahkan mengenal lebih banyak teman geng dan semakin menjadi-jadi. Beberapa kenakalan yang pernah aku lakukan antara lain membobol teralis jendela kelas agar dapat lebih memudahkan untuk keluar dari kelas saat guru sedang keluar dari kelas, khususnya ketika mata pelajaran yang diajarkan oleh guru tersebut membosankan atau saat sedang ingin tidak ikut pelajaran. Pada masa itu pula, kebiasaanku berjudi semakin menjadi-jadi dibandingkan pada masa SMP. Setiap ada pertandingan sepakbola, hampir selalu aku bertaruh dengan beberapa orang teman. Kadang kalah, kadang menang. Aku juga menjadi salah satu dari sekian orang berandalan sekolah, yang pada saat-saat tertentu mencari ‘mangsa’ untuk dijadikan ‘tumbal’. Sempat juga antara kelasku dengan kelas sebelah hampir terlibat perkelahian masal. Benar-benar waktu itu aku dan beberapa orang kawan seolah-olah sudah seperti penguasa sekolah, setiap orang yang dianggap sombong, mencari perkara, dan sejenisnya pasti akan segera mendapat ‘hadiah’ secara gratis dari kami. Meskipun begitu, aku masih bersyukur bahwa aku tidak pernah sampai memberi ‘hadiah’ secara langsung, sebab teman-temanku yang lebih banyak berperan sebagai eksekutor. Ujung dari semua kenakalan tersebut adalah aku secara resmi dikeluarkan dari sekolah pada masa awal kelas 3. Namun, justru dari situlah semangatku kembali hidup. Entah kenapa, setiap kali aku menghadapi tantangan, secara tidak disadari adrenalin di dalam tubuhku dengan cepat mendorongku untuk menjawab tantangan tersebut. Aku sadari, meskipun kadang aku takut atau tidak memiliki kemampuan untuk menjawab tantangan tersebut, tetapi anehnya aku hampir selalu berhasil menjawabnya. Akhirnya aku sadar bahwa aku akan jadi ‘beku’ secara mental jika aku tidak menghadapi suatu hal yang menantang.

Tickerbar

KumpulBlogger