Sabtu, 08 Maret 2008

Renungan Delapan Tahun Millenium Ketiga

Tahun berlalu semakin cepat. Rasanya baru saja tahun 2000 datang, eh tidak disangka sudah mencapai tahun 2008. Delapan tahun sejak millenium ketiga mulai bergulir. Saya ingat dan benar-benar ingat saat menjelang pergantian dari tahun 1999 ke tahun 2000 ada isu yang bisa dibilang cukup heboh yaitu mengenai 'millenium bug', suatu isu yang menggemparkan yang mengatakan bahwa sistem komputer akan kacau begitu memasuki tahun 2000. Sebab tahun 2000 memiliki 2 digit yang sama dengan tahun 1900 yaitu '00'. Dan hal ini dikhawatirkan akan membuat semua uang yang ada di semua rekening bank menjadi hangus karena komputer diperkirakan tidak akan mampu bekerja dengan benar, sebab komputer berpikir bahwa saat itu adalah tahun 1900 bukan tahun 2000 dan tentu saja semua uang di rekening bank-bank yang ditabung setelah tahun 1900 dianggap tidak ada. Tetapi ternyata berita atau isu tersebut tidak tepat atau tidak benar adanya. Nyatanya sampai saat ini semua sistem komputer tetap bekerja dengan baik dan bahkan telah mengendalikan hampir seluruh aspek kehidupan manusia.
Namun komputer bisa memilik kinerja seperti sekarang bukan datang dengan tiba-tiba, melainkan hasil dari kerja keras para ilmuwan komputer yang ada di seluruh dunia. Selain itu setelah saya terjun sendiri ke bidang komputer saya baru mengetahui bahwa komputer tidak diciptakan secara sembarangan atau sebodoh itu oleh para penemu awalnya. Ternyata sistem bilangan biner yang dipakai atau dikenali oleh komputer mampu membedakan serta mengenali berbagai macam karakter (termasuk huruf dan angka yang menjadi penyusun angka-angka tahun). Sebab setiap angka atau huruf serta karakter-karakter lainnya memiliki representasi dalam kode biner yang berbeda-beda. Pada tahun sebagai contoh. Tahun 1900 memiliki kode biner 00000111 01000100. Sedangkan tahun 2000 memiliki kode biner 00000111 11010000. Dari kedua kode tersebut kita bisa melihat bahwa kedua tahun memiliki representasi kode biner yang berbeda dan tentu saja komputer dapat mengenalinya dengan cara yang berbeda pula. Begitulah penjelasan singkat yang dapat saya berikan, sekiranya penjelasan ini dapat menjawab bahwa rumor 'millenium bug' itu tidak mungkin terjadi. Karena sistem komputer yang ada memiliki cara atau kode yang berbeda untuk setiap angka atau karakter lainnya yang berbeda.
Sekian dulu renungan delapan tahun millenium ketiga ini. Satu hal yang saya sayangkan yaitu saya terlambat mengetahui teknik yang digunakan komputer dalam mengenali setiap karakter maupun bilangan, andaikan sejak dari dulu-dulu saya mengetahuinya setidaknya saya dapat membuat orang-orang disekitar saya tidak khawatir mengenai masalah tersebut atau ya minimal membuat orang tua saya sendiri tidak ikut-ikutan bingung mendengar rumor yang tidak jelas asal-usulnya tersebut.
Sekali lagi terima kasih untuk yang sudah membaca tulisan ini.

Ditulis Rabu 13 Februari 2008, namun baru sempat dipublikasikan sekarang.

Selasa, 04 Maret 2008

Standar Satuan Kilogram Akan Didefinisi Ulang

Sejumlah ilmuwan dari berbagai institusi keilmuan sepakat untuk menyiapkan definisi baru bagi standar satuan kilogram. Para ilmuwan berharap dapat menetapkan standar berdasarkan konstanta universal daripada sebuah benda semata.

"Idenya mengganti satu-satunya acuan kilogram dengan sesuatu berdasarkan konstanta fisika, daripada sebuah artefak yang bisa rusak sewaktu-waktu," ujar Hy Tran, ketua proyek di Laboratorium Standar Primer di Sandia, beberapa waktu lalu.

Selama ini, standar massa satu kilogram ditentukan berdasarkan sebuah batang campuran platina dan iridium yang disimpan di sebuah museum dekat Paris. Batang logam yang disebut International Prototype Kilogram (IPK) atau Le Grande K ini dibuat tahun 1880-an.

Dari tujuh satuan primer dalam sistem internasional atau SI, kilogram merupakan satu-satunya satuan yang masih ditetapkan berdasarkan acuan benda. Akibatnya, duplikat benda yang dibuat setiap kali akan digunakan sebagai acuan tidak mustahil sedikit berkurang atau lebih daripada acuannya.

Dengan mengganti standar satuan dengan konstanta yang pasti, para ilmuwan di seluruh dunia dapat menentukan standar acuan yang akurat. Kilogram sebagai satuan massa tidak akan diubah. Proses perubahan definisi diharapkan dapat diselesaikan pada tahun 2011.

Sumber :PHYSORG

Sabtu, 01 Maret 2008

Permata Di Ruang Angkasa

JAKARTA - Siapa menyangka jika nun jauh di ruang angkasa mungkin tersimpan tambang permata yang sangat banyak. Teleskop ruang angkasa Spitzer milik badan antriksa AS, NASA, cocok untuk menangkap jejak batu mulia tersebut di sekitar bintang yang sangat panas.

Namun, jangan berpikir batu permata yang ada di ruang angkasa berupa bongkahan batu yang dapat dibentuk. Para astronom tidak berburu harta karun, namun mencari jejak kehidupan dengan mencari permata meski hanya seukuran beberapa nanometer (sepermiliar meter) sekalipun.

Dengan mempelajari partikel-partikel permata, mereka berharap dapat mempelajari lebih dalam bagaimana pembentukan molekul-molekul karbon yang kompleks sebagai pembentuk kehidupan di Bumi mulai berkembang di ruang angkasa.

Perburuan permata di ruang angkasa telah dilakukan sejak tahun 1980-an saat para astronom menemukan partikel-partikel permata dari meteorit yang jatuh ke Bumi. Diyakini, 3 persen kandungan permata dalam meteorit tersebut berasal dari butir-butir permata di ruang angkasa. Jika meteorit merupakan gambaran debu di ruang angkasa, hasil perhitungan menunjukkan bahwa dalam setiap gram debu dan gas di ruang angkasa mungkin mengandung 10.000 triliun partikel permata berukuran nanometer.

"Permata ruang angkasa terbentuk pada kondisi yang sangat berbeda dengan permata yang terbentuk di Bumi," ujar Louis Allamandola, peneliti lain dari Ames. Jika permata di Bumi terbentuk karena tekanan dan panas tinggi, permata di luar angkasa terbentuk pada lingkungan dengan suhu maupun tekanan rendah.

Charles Bauschlicher dan timnya dari Ames Research Center, milik NASA, telah melakukan simulasi komputer untuk memperkirakan komposisi ruang antarbintang jika mengandung partikel-partikel permata. Hasilnya, arae tersebut akan menyala jika terkena pnacaran sinat inframerah pada panjang gelombang antara 3,4-3,5 mikron dan 6-10 mikron.

Spitzer cocok dipakai untuk mencari permata karena sensitif pada kedua panjang gelombang. Selama ini, permata tak ditemukan di ruang angkasa karena para astronom belum menggunakan alat maupun lokasi pencarian yang tepat.

"Sekarang kami tahu ke mana harus mencari untuk melihat permata-permata kecil menyala, teleskop inframerah Spitzer dapat membantu kami mempelajari lebih banyak mengenai keberadaannya di ruang angkasa," ujar Allamandola. Usulan Bauschlicher, Allamandola, dan tim peneliti lainnya dipublikasikan dalam Astrophysical Journal edisi terbaru.

Sumber :PHYSORG

Ponsel Evolusi Jadi Robot

TOKYO - Orang Jepang memang gila robot, sampai-sampai ponsel pun dibuat agar bisa berevolusi menjadi robot. Tentu tak secanggih robot-robot Transformers.

Sebuah ponsel yang segera dirilis Softbank Mobile Corp ini mungkin akan membangkitkan kembali memori Anda mengenai robot-robot mainan yang bisa diubah dari bentuk pesawat tempur, tank, atau mobil menjadi robot.

Ponsel Softbank 815TB (PhoneBraver) yang dibuat di pabrik Toshiba ini bentuknya seperti ponsel pada umumnya, bentuk flip dengan layar LCD di satu sisi dan tombol di sisi lainnya. Bedanya, di sisi kanan dan kirinya dapat ditarik menjadi dua tangan dan kaki.

Ponsel robot tersebut telah dilengkapi software kecerdasan buatan untuk mempelajari kebiasaan pemiliknya. Ponsel tersebut juga seolah-olah dapat berbiacra dengan pemiliknya.

"Jika penggunanya menelepon satu nomor berulang kali, maka akan muncul suara 'Anda menelepon beberapa kali hari ini, benarkah?" kata Katsuhida Furuya, jurubicara Softphone. Pemilknya bisa berkomunikasi terbatas dengan jawaban ya dan tidak.

Ponsel tersebut belum bisa berjalan sendiri seperti robot-robot humanoid yang tekenal di Jepang. Namun, kaki dan tangannya bergoyang-goyang dan sendinya menekuk sehingga seolah-olah hidup. Ponsel tersebut baru akan dirilis April 2008.

Sumber : kompas